Saturday, June 30, 2012

[Saya Baca Puisi] "Perempuan Cahaya di Taman Zikir" karya Helvy Tiana Rosa


Nomor satu, saya mungkin adalah orang keseratus enam puluh sekian yang melakukan hal yang sama; mengunggah video membaca salah satu puisi dari buku Mata Ketiga Cinta-nya kak Helvy Tiana Rosa. Yep, ini adalah dalam rangka Lomba Baca Puisi Mata Ketiga Cinta yang deadlinenya adalah 30 Juni 2012 (ya, hari ini!) pukul 23.59 WIB. Alhamdulillah, semalam sudah saya edit video yang baru ditake kemarin. Mengunggahnya membutuhkan sekian lama tapi alhamdulillah berhasil juga.

Nomor dua, pertanyaannya, mengapa puisi "Perempuan Cahaya di Taman Zikir" dan bukan yang lain (yang saya pilih untuk dibaca)? Jawabannya adalah sebab saya punya cerita tersendiri dengan puisi yang satu ini. Suatu hari di pertengahan bulan Juli 2007, ketika saya masih merantau di kota Melbourne, Australia (menyelesaikan SMA di Australian International Academy of Education atas nama beasiswa pasca bencana Tsunami), saya mencari nasyid-nasyid baru untuk didengar. Browsing tambah searching, saya mendarat di blog multiply-nya kak Helvy Tiana Rosa di mana ada sebuah nasyid berjudul yang sama dengan judul puisi di atas. Di sana ada keterangan bahwa nasyid tersebut ternyata memang disadur dari puisi tersebut! Silakan  dengar sendiri nasyid yang dibawakan oleh tim nasyid Faliq (Bandung) ini.

Maka saya pun kemudian mencari naskah puisi aslinya dan lalu ketemu. Coba dibaca di naskah "Perempuan Cahaya di Taman Zikir" langsung dari situs Multiply-nya kak Helvy Tiana Rosa

Deg. Perempuan. Cahaya. Saya kira, saya seperti menemukan filosofi yang menarik dari dua padanan kata tersebut. Sebab nama saya juga terdiri dari dua unsur kata serupa meski dengan urutnn yang sebaliknya; Cahaya (Nuril) dan Perempuan (Annissa). Tentu saja, nama saya mengalami distorsi transliterasi dari Arab ke Indonesia di mana harusnya Nur bertemu dengan Annisa (ya, harusnya huruf "S"-nya satu saja) itu menjadi "Nurunnisa" atau "Nurinnissa". Tapi membiarkannya demikian adalah sebuah keunikan. Identitas "Nuril Annissa" terlanjur sudah menempel. Maka berpegang pada makna namanya sajalah yang saya lakukan selama ini.

Kembali lagi ke "Perempuan Cahaya". Saya menemukan pendar tersendiri membayangkan ada seorang perempuan yang bersinar. Bersinar bagi sekitarnya. Menerangi ruang-ruang gelap bagi sesiapa yang kenal dengannya. Apalagi dalam nasyidnya, ada dialog yang masyhur dikaitkan dengan tokoh Rabi'atul Adawiyah, begini kira-kira bunyinya:

"Tuhan, bila sujudku pada-Mu karena takut neraka, bakar aku dengan apinya.
Bila sujudku pada-Mu karena damba syurga, tutup untukku syurga itu.
Namun bila sujudku demi Kau semata, jangan palingkan wajah-Mu."

Masa itu saya masih remaja. Masih alay dalam berbahasa. Masih labil dalam menghadapi berbagai gejolak perasaan. Dan nasyid ini berhasil membuat saya sadar bahwa semulia-mulia perempuan adalah "yang bercahaya". Yang selalu mengirimkan cinta hanya pada Allah. Yang bergantung pada Allah dan bukan pada makhluk yang fana. Dan begitu seterusnya kontemplasi terus berlangsung. Lalu sejak saat itu, saya bertekad akan kembali menggabungkan diri ke dalam "lingkaran cahaya" bernama tarbiyah (yang pernah saya geluti hampir selama 1 semester di SMA sebelum dapat beasiswa) sekembali dari Australia. Alhamdulillah, saya masih di "lingkaran cahaya" tersebut hingga kini. Dan saya menyesal; menyesal mengapa tidak sejak awal saya kenal nasyid ini dan terketuk kembali untuk bergabung dengan indahnya jalan dakwah ini sejak lebih awal.

Maka demikianlah, saya mulai menyebut diri dengan "perempuan yang bernama Cahaya" dalam prosa-prosa saya. Saya selalu ingin menjadi satu dari "ribuan perempuan cahaya" yang disebutkan dalam larik-larik puisi yang menginspirasi nasyid tersebut. Pun username blog ini saya buat menjadi "Perempuan Bercahaya". Semua itu doa. Sebab teramat sangat saya ingin menjadi sinar yang menerangi. Bukan yang menyilaukan. Bukan yang membutakan. Dan bukan yang melenakan. Amin. Amin. Amin.

"Tuhan, aku rindu menatap keindahan-Mu."

 Lamkeuneung, 30 Juni 2012

Wednesday, June 27, 2012

Adakah Ramadhan Tahun Lalu Membuntutimu?


Alkisah senja Ahad lalu. Adalah sebuah kajian tarhib Ramadhan di Markaz Da'wah Al-Ishlah di Beurawe. Setelah sekian lama menanti sang ustadz, jari saya terus menari di atas tuts keyboad netbook Samsung putih gading saya. Sebentar lagi Ramadhan, maka seperti biasa saya serabutan mencari sesuap berlian agar tak begitu kerenya nanti jika ingin infaq di bulan Ramadhan. Maka dengan setitis kemampuan menerjemahkan bahasa yang Allah berikan (yang sebenarnya sudah mulai berkarat ini), saya terimalah pekerjaan menerjemahkan dokumen demi dokumen dari salah satu NGO internasional yang masih ada di Banda Aceh ini. Masalahnya ketika menerima tugas ini, saya lupa mengalkulasikan besar dokumen dengan deadline dengan baik. Walhasil, the power of kepepet pun terjadi. Di mana saya bisa duduk, dalam agenda apapun (yang memungkinkan multi-tasking, jelas), saya akan terus mengebuti pekerjaan saya sebisa mungkin.

Lalu di pukul 17.30 WIB kurang sedikit, hadirlah sang ustadz. Dan tepat seperti yang diduga kebanyakan peserta, ustadz yang seharusnya mengisi pekan itu berhalangan hadir, maka hadirlah sang "ustadz cadangan" tersebut gesa-gesa menggantikan. Bagaimanapun juga, sekali saya tersentuh oleh kekuatan dakwah Islam ini. Siapa yang rela waktu pribadinya tiba-tiba direnggut untuk menggantikan tanggung jawab orang lain kalau bukan hati, jiwa dan raganya sudah dijualnya pada Sang Pencipta? Siapa yang rela menukar waktu leha-lehanya dengan kewajiban berbicara di depan khalayak ramai mengenai materi yang tak bisa dikarang-karang atas notifikasi super duper singkat jika bukan karena rasa persaudaraan yang kuat mengikat bahkan lebih erat dari hubungan darah; ukhuwwah? Sungguh, segenap doa dan takzim saya haturkan kepada semua "guru spiritual" yang sudah membaktikan dirinya di jalan dakwah ini. Karamallahu wajhahum insya Allah.

Kembali ke pokok permasalahan. Kajian sore itu merupakan bagian dari tarhib Ramadhan, kata sang ustadz. Tarhib, kata beliau, merupakan upaya dari menyambut dengan bahagia. Dengan suka cita. Bukan dengan keluh kesah.

Sementara beliau kembali mengulas ayat paling lazim sedunia untuk urusan Ramadhan dan kewajiban puasa 30 hari di dalamnya, yaitu Al-Baqarah ayat 183, saya terus saja ketak-ketik dokumen. Deadlinenya adalah malam itu juga. Saya akui, ini murni salah saya sendiri. Tapi meninggalkan kajian tersebut untuk fokus pada terjemahan saja akan membuat saya menyesal juga. Bagaimanapun juga, saya ingin hadir dan menyimak sebutir dua butir mutiara hikmah sebagai bekal menuju Ramadhan kali ini. Begitu pun dengan pekerjaan menerjemahkan dokumen tersebut, itu pun bagian dari mempersiapkan bekal menuju Ramadhan, secara finansial. Maka saya pikir, biarlah saya "menghukum" diri saya atas kelalaian saya dengan menjaga fokus ke dua hal sekaligus; mengerjakan dokumen sambil tetap mendengarkan kajian. Dan sungguh itu membuat kepala berdenyut-denyut. Sama sekali bukan pengalaman yang patut diulang.

Hingga ketika beliau mulai tiba di pembahasan akhir dari ayat 183 dari surat Al-Baqarah tersebut, telinga saya mulai sedikit lebih tajam dan tangan saya mulai mengetik dengan pelan. Disebutnya kata "taqwa" dengan sedikit lebih banyak penekanan. Perlahan dalam kepala saya mulai muncul definisi taqwa yang diajarkan Murabbiyah saya suatu hari;tashdiqu bil qalb, taqriru bil lisan, ta'malu bil arkan. Membenarkan dengan hati. Mendeklarasikan dengan lisan. Mengerjakan dengan anggota badan. Saya mulai merasa sembilu menjalar di sepanjang tulang belakang saya.

Hingga akhirnya penjelasan tambahan beliau berhasil membuat saya berhenti mengetik dokumen. Malah menekan tuts Ctrl dan huruf N; lembaran baru. Di sana tangan saya gemetar menulis sesuatu yang baru.

"Ada beberapa ciri-ciri orang-orang yang keluar dari Ramadhan dalam keadaan menyandang gelar taqwa.", tutur sang ustadz sambil menyebutkan maraji' (referensi) bacaannya yang gagal saya catat sempurna sebab kurang saya dengarkan seutuhnya. Sungguh, saya tidak mau mengulangi lagi kegiatan "multi-tasking" di tengah majelis ilmu serupa ini. Janji.

"Yang pertama adalah ia akan mu’ahadah. Artinya secara bebas adalah senantiasa mengingat janjinya."

Lalu membayanglah potong demi potong janji-janji terumbar dalam setiap berdiri di hadapan-Nya. Bahwa sesungguhnya seluruh shalat, ibadah, hidup dan mati, hanya untuk-Nya. Seluruhnya. Setotalnya. Semuanya. Adakah sesungguhnya demikian selama ini?

"Maka seharusnya orang-orang yang sudah tertempa selama Ramadhan dengan baik akan jadi lebih menjaga setiap waktunya dihabiskan di jalan Allah."

Wahai. Berapakah bandingannya segala waktu luang dengan kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan? Atau kita sudah mencap diri kita "sibuk" secara semena-mena? Padahal masih banyak waktu kita untuk tertawa, menarik nafas lega-lega, dan makan siang dengan canda sementara banyak saudara-saudari kita yang memiliki jauh lebih banyak amanah namun masih saja merasa "masih juga ada waktu kosong" dan senantiasa menyibukkan diri dengan agenda-agenda tambahan tanpa banyak bicara. Saya bungkam, luar dalam.

"Ciri-ciri selanjutnya adalah mujahadah. Bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan."

Dan seberapa seriusnyakah sudah kita dalam "menjual jiwa kita" pada-Nya? Atau kita masih berupa penjual yang licik? Yang mengaku sudah menyerahkan semua padahal masih menyembunyikan beberapa? Terus saja mengeluh sudah tak mampu lagi bergerak mengikuti putaran jalan cinta Ilahiyyah yang semakin kencang ini. Sementara bukan tak ada yang terus saja mendobrak setiap batas kungkungan jiwa dengan senyum. Tetap membaca di sela-sela istirahat agenda rapatnya. Tetap menambah hafalan Qurannya dalam sibuknya ia mengevaluasi kegiatan pembinaan agama mahasiswa baru di fakultasnya. Tetap mengisi tiap relung jiwa binaan ruhiyyahnya yang berarti malamnya akan jadi lebih panjang sebab tugasnya dikesampingkan. Mereka, para jiwa penuh cahaya. Yang benderang dengan setiap kesungguhannya bergerak di jalan cinta Ilahiyyah ini. Saya menundukkan wajah. Menahan malu.

"Yang ketiga adalah muhasabah. Selalu mengintrospeksi diri atas semua kegiatan sehari-hari."

Lantas teringat sekian ratus gempa yang warga Banda lalui. Sekian banyak letusan senapan api. Sekian kencang badai meniupi atap seng banyak warga. Sekian deras hujan. Sekian terik matahari sekarang. Dan betapa banyak jiwa-jiwa yang masih meridhakan dirinya jatuh ke dalam cinta penuh angan-angan di tepi semua fenomena-Nya? Betapa banyak yang tetap membelah malam dengan langkah-langkah menjauh dari-Nya padahal sudah di-badai-kan-Nya Banda ini belakangan masa? Betapa diri, cuma bisa bungkam bahkan mungkin seperti segala rasa sudah mati.

Rabb, apakah kami terlalu biasa melihat saudara-saudari kami dalam teluk kesalahannya dengan dalih "daripada ia tak lagi mau diajak mengaji"? Apa kami mulai biasa memanipulasi dosa untuk kepentingan kami sendiri? Apa kami lupa bercermin tiap pagi dan melihat segunung nista milik kami yang kami anggap sebuah "konsekuensi" dari jalan yang kami pilih? Atau kami lebih banyak membuat pembenaran daripada menyebarkan kebenaran?

"Dan yang terakhir, adalah mu’aqabah. Menghukum diri jika melakukan kesalahan."

Bahkan jika ada seorang saudara/i menunjukkan kesalahan kita, kita bisa terima dengan lapang dada? Atau kita malah mengangkat dagu dan bertanya, "Apa kamu sudah lebih baik dari saya hingga bisa menggurui saya?". Atau kita malah berkecak pinggang dan balik menunjuk-nunjuki (atau lebih tepatnya mencari-cari) kesalahannya? Jangankan menghukum diri, dihukum orang saja masih tak sudi. Sombong. Kadang seluruh sombong menggelayut di tiap tulang dan sendi. Lalu kita buta. Kita menganggap lumrah semua salah. Kita mengasihan diri. Kita lupa mengingatkannya tentang komitmen lama sebelum kita lahir ke dunia; sebuah amanah yang ketika dilemparkan-Nya ke semua makhluk lain malah ditolak. Prinsip yang tegaknya kadang kita lupa pastikan. Terlalu memanjakan diri dengan "Ah, biasa manusia melakukan kesalahan. Lupa. Lumrah." hingga noda demi nosa pekatkan hati dengan seluruh jelaga.

Di titik ini, saya berhenti mengetik. Saya diam. Ya. Mengapa berani menyambut Ramadhan yang ini jika sejak awal belum tahu pasti apa yang menjadi modal awal kita ketika ingin memasukinya? Adakah puing-puing sisa perjuangan dari Ramadhan yang lepas? Ataukah sudah hilang semua digerus waktu dan laga duniawi kita? Begitukah setiap tahunnya; atau ada yang berubah dari satu Ramadhan ke yang lainnya?

Adakah nominal infaq kita meningkat?

Adakah raka'at qiyamul lail kita bertambah?

Adakah tilawah-tilawah kita semakin menyentuh jiwa?

Adakah amalan harian lebih dari sekedar pelaporan ke lembar-lembar wajabat belaka?

Adakah hati-hati tergetar lebih hebat setiap tahunnya, ketika melihat banyak pasien yang menghela nafas terakhirnya di hadapan kita yang mungkin berprofesi sebagai petugas medis?

Atau kebas. Atau bebal. Atau sudah lupa rasanya merinding sebab dibacakan ayat-ayat mengenai kebesaran-Nya. Atau sudah tak ingat bagaimana rasanya sendu-sayup dalam rintihan panjang memohon diteguhkan dalam keislaman di sepertiga malam terakhir yang tenang. Atau lebih parah lagi, masih menjalani semua "standar ibadah" seorang muslim di atas rata-rata menggugurkan kewajiban, tapi tak lagi merasakan sungai sejuk mengalir di relung-relung nurani yang makin mengering setiap harinya?

Wahai jiwa-jiwa yang merindu syurga. Pandanglah bulan malam ini. Sabitnya Sya'ban sudah seperempat menuju purnama. Kurang dari sebulan. Lalu jika nafas masih bergerak menelusuri trakea dan paru-parumu, nanti, Ramadhan kali ini, jangan ulangi lagi. Jangan sampai tak ada barang sedikit dari dirimu yang kaukupas tuntas dari legam hitam dosanya.

Pastikan Ramadhan kali ini membuntutimu. Menyisa tegas warnanya dalam kolom jiwa putihmu. Hingga Ramadhan selanjutnya. Hingga Ramadhan selanjutnya. Hingga ke syurga-Nya. Hingga kita reuni di sana. Nostalgia dengan wajah ceria di dalamnya. Amin. Amin. Amin.



Dari Beurawe ke Lamkeuneung, 24 - 27 Juni 2012, seperempat Sya'ban 1433 H.

Olga, Istihza’ dan Pelajaran tentang Etika



Semua bermula Selasa (19/6) malam lalu. Saat Jupe -sapaan akrab Julia Perez-  melalui telepon menyapa Olga, “Assalamu’alaikum”.
Dengan maksud berkelakar dibalas Olga dengan ucapan, “Lu assalamu’alaikum terus, ah kek pengemis, Lu.”

Secara tidak langsung, Olga menyebut kalimat salam umat Islam tersebut sebagai ucapan pengemis. Mungkin dengan prasangka baik kita, maksudnya adalah bergurau agar penonton tertawa. Namun Olga rupanya tidak sadar, jika candaannya itu telah menyinggung SARA, menyinggung umat Islam. Banyak orang yang langsung mengadu ke situs KPI dan mendesak agar Olga segera diberikan tindakan tegas. Sejumlah ormas Islam pun menyatakan protes keras.

Ini sudah ke sekian kalinya Olga membuat sensasi. Kebanyakan menyinggung orang lain, bahkan SARA. Daftar panjang “catatan dosa” artis yang sering nampang di berbagai acara televisi ini dirilis oleh BeritaSatu.com. Berikut petikannya:

1. Tahun 2009, KPI pernah menegur Olga Syahputra lantaran latah mengucapkan kata yang berkonotasi porno, yakni alat kelamin pria. Meski tidak sengaja diucapkan karena latah, pihak KPI meminta Olga untuk mengontrol ucapannya saat memandu acara Dahsyat yang tayang di RCTI.

2. Medio Juni 2010, Olga pernah ‘bermasalah’ dengan para personel Five Minutes. Sebuah insiden ‘pengusiran’ dilakukan Olga saat Richie, sang vokalis hendak menyanyian lagu ‘Happy Birthday’ untuk Sindo. Richie merasa dipermalukan, terlebih saat manggung Olga dan rekan-rekannya malah bercanda di atas panggung dan salah menyebut nama band mereka menjadi The Titans.
“Kita merasa dipermalukan sebagai anak band,” jelas Ricky salah satu personel Five Minutes saat itu. Protes personel Five Minutes dijawab Olga dengan ucapan maaf. ” Gue enggak ada maksud. Gue kalau bercanda memang suka kata-kataan,” jawab Olga saat itu.


3. Menyinggung Yuni Shara
Olga Syahputra sempat menyinggung Yuni Shara saat menjadi bintang tamu Dahsyat. Yuni yang diketahui berpacaran dengan Raffi, salah satu pembawa acara Dahsyat datang memenuhi undangan program tersebut untuk memberikan kejutan bagi Raffi yang sedang berulang tahun.
Namun candaan dan celetukan Olga serta teman-temannya diakui Yuni sempat membuat hatinya miris.


4. Menyinggung korban perkosaan
Banyolan Olga Syahputra tentang korban perkosaan di ulang tahun Trans Corp tahun lalu sempat membuat heboh pemberitaan nasional. Apalagi saat itu tengah marak kejahatan perkosaan di dalam angkutan umum.
Kejadian bermula saat Olga sedang bercanda dengan Sule, Olga mengucapkan kalimat yang dianggap menyinggung korban perkosaan. “Olga, kenapa lu jadi suster ngesot,” pancing Sule. “Sepele, diperkosa supir angkot,” jawab Olga.
Banyolan konyol tersebut membuat organisasi Lentera Merah melaporkan Olga ke KPI. Oleh KPI, Olga kemudian dipanggil dan diberikan arahan untuk tidak melakukan hal serupa. Ia bahkan sempat mendatangi kantor KPI di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Jumat (23/12) tahun lalu.
“Ini buku P3 (Pedoman Perilaku Penyiaran), gue disuruh baca. Tadi gue dijelaskan tentang peraturan-peraturan penyiaran,” ujar Olga saat itu.


5. Pelecehan terhadap simbol umat Hindu di Wayang Bandel
Di program yang ditayangkan Trans TV tersebut, Olga bermain bersama Jessica Iskandar, Ayu Dewi dan Yadi Sembako. Para pemerannya mendapatkan protes dari umat Hindu lantaran dianggap melecehkan simbol agama mereka dengan kata-kata yang kasar dan visualisasi yang jauh dari nilai-nilai kepatutan.
The Hindu Center of Indonesia mengirimkan surat protes kepada pihak lembaga penyiaran yang bersangkutan serta melaporkan hal tersebut ke KPI. Namun KPI tidak memberikan teguran bagi artis termasuk Olga yang hanya mengikuti skenario yang telah ditetapan.

Salah satu yang mengundang ketersinggungan umat Hindu adalah dialog antara Sang Dursasana ingin menawar Dewi Draupadi dengan visualisasi pelecehan secara raga. Lalu ada juga dialog tentang keinginan menawar harga Istana Indraprasta, itu hal yang sangat tidak patut menurut umat Hindu.
Masalah tersebut segera terselesaikan lantaran pihak Trans TV langsung menanggapi somasi tersebut.


6. Dianggap melecehkan dan menghina lawan mainnya di acara sahur
Saat Ramadhan tahun lalu, Olga mengisi program Saatnya Kita Sahur (SKS) yang ditayangkan Trans TV. Saat itu Olga berpasangan dengan Minus.
Minus selalu menjadi bahan candaan Olga yang dianggap diungkapkan dengan kata-kata yang tidak pantas, seperti ‘kayak botol kecap, dodol condet, badan lu bau sangit, celengan ayam, kandang ayam, sarang semut, kulit jengkol’ dan sejumlah kata-kata lainnya.


7. Dianggap menghina dan melecehkan penonton
Belakangan Olga juag disorot lantaran kerap dianggap melecehkan dan menghina orang lain. Seperti yang terjadi saat program Dahsyat, Rabu (20/6). Olga meminta seorang penonton untuk berdiri. ia lalu ‘dicela’ Olga karena bentuk fisiknya. Ia membandingkan dengan salah satu bintang tamu saat itu, penyanyi Giselle. “Kalau dia (Giselle) mah lahir dari rahim ibunya, kalau lo dikebutin kayak bangs*t,” ujar Olga saat itu.
Memang belum ada tuntutan dari ‘korban’ celaan Olga tersebut. Namun aksinya itu mendapatkan banyak protes dari masyarakat melalui situs jejaring sosial dan ramai ditulis media.

Istihza’  Bukan Bercanda
Sebenarnya, apa yang dilakukan Olga -dalam kasus Jupe-, dalam pandangan Islam disebut dengan Istihza’.  Artinya mengolok-olok agama. Menjadikan agama sebagai komoditi tawa-tiwi. Dan tahukah Anda siapa biangnya memperolok dien ini? Ya, siapa lagi kalau bukan kaum Yahudi la’natullah alaihim.

Dulu pernah, ketika ibunda kita Aisyah ra marah ketika seorang Yahudi mempelesetkan salam. Seolah-olah memberi salam, padahal sedang mengolok-olok dengan ucapan “Assamualaikum“. Arti assamu’alaikum adalah kematian untukmu. Jauh berbeda dengan assalamu’alaikum yang bermakna keselamatan bagimu.

Di saat lain, Yahudi memplesetkan Raa’ina menjadi ru’unah.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. [Al Baqarah:104].

Raa’ina, artinya sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Dikala para sahabat menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, orang-orang Yahudipun memakainya pula, akan tetapi mereka pelesetkan. Mereka katakan ru’unah, artinya ketololan yang amat sangat. Ini sebagai ejekan terhadap Rasulullah. Oleh karena itulah, Allah menyuruh para sahabat agar menukar perkataanraa’ina dengan unzhurna, yang juga sama artinya dengan raa’ina.

Dalam keseharian, barangkali kita jumpai, orang-orang yang sadar atau tak sadar, mengolok-olok agama ini, dengan menjadikannya sebagai plesetan.
Misalnya saja:
- Kalimat adzan: Hayya alal falah… mereka plesetkan menjadi Hayalan saja…
- Ketika melihat muslimah bercadar, mereka segera mengolok-olok: Ninja…ninja…
- Ketika seseorang memelihara jenggot: Awas, ada kambing lewat…
- Ketika seseorang memakai celana cingkrang (tidak isbal): Wah, rumahnya kebanjiran yah…


Dan lain macam ejekan.
Mungkin, diantaranya hanya berkilah: Oh, ini hanya main-main saja kok. Sekedar hiburan, dan lain sebagainya.
Cobalah, mereka yang mempunyai motivasi ‘main-main’ itu menyimak, sebuah kisah tentang orang yang ‘main-main’ dengan agama ini.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Muhammad bin Ka’b, Zaid bin Aslam dan Qatadah, hadits dengan rangkuman sebagai berikut:
“Bahwasanya ketika dalam peristiwa perang Tabuk, ada seseorang yang berkata: “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan.” Maksudnya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat yang ahli baca Al-Qur’an itu. Maka berkatalah ‘Auf bin Malik kepadanya: “Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan kuberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.”

Lalu pergilah ‘Auf kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Al-Qur’an kepada beliau.
Dan ketika orang itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah ia kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanyalah bersendau gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh sebagai pengisi waktu saja dalam perjalanan kami.”

Kata Ibnu ‘Umar: “Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata: “Sebenarnya kami hanyalah bersendau-gurau dan bermain-main saja.”
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:
Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok.”

Beliau mengucapkan itu tanpa menengok dan tidak bersabda kepadanya lebih daripada itu.”
Dan masuk dalam ayat Allah;
Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…“.” (Bara’ah/At-Taubah: 65-66)

Belajar tentang Etika

Tak lama setelah diprotes massa dimana-mana, Olga pun akhirnya menyampaikan permohonan maaf sebagaimana dilansir Kompas.com:

Olga merasa menyesal dan tak mau dikenal dengan lawakannya yang buruk. Demi anak yatim yang dihidupinya, Olga meminta agar kesalahannya bisa dimaafkan. “Demi Allah, saya kerja tulus, banyak anak yatim yang membutuhkan saya. Saya ingin berikan kebahagiaan kepada orang lain, saya mohon maaf, mungkin ada pemirsa di rumah yang merasa tersakiti dan tersinggung oleh saya, saya enggak ada niat sakiti siapa pun,” ucapnya.

Tak perlu dikomentari dan diulas secara tajam dan mendalam pun, semua bisa membaca serta menganalisa. Ikhlaskah permintaan maafnya? Kalau iya, mengapa harus membawa-bawa amal shalih menghidupi anak yatim? Memangnya kalau sudah berbuat baik, memberi makan anak yatim kita boleh sekehendak hati menabrak rambu etika? Lantas serta merta kita boleh bermaksiat melanggar ketentuanNya?

Semoga para pemimpin, pemilik media, kapitalis pengiklan, selebritis dan para pemirsa senantiasa terjaga dalam hidayah-Nya..

Tulisan di atas dicopas dari catatan Facebooknya Anugrah Roby Syahputra.

Tuesday, June 26, 2012

Messages in Photography


Beberapa foto dengan berbagai style dan angle dengan model beragam (ada saudari-saudari se-"lingkaran", sahabat terdekat, dan rekan-rekan sejawat organisasi). Lalu, saya tambahkan satu atau dua kalimat ke dalam foto tersebut agar dapat dijadikan wallpaper dengan sedikit pesan untuk dibaca tiap kali dilihat. 
Enjoy dan mohon masukannya. :)


Suatu senja di Pantai Lampuuk, 2011


Suatu Ba'da Zuhr di Pantai Ulee Lheue, 2012


Suatu Senja di Museum Tsunami, Banda Aceh, 2012


(Mantan) Gubernur dan Sekeretaris Umum BEM FK Unsyiah 2010-2011, suatu senja di pantai Lampuuk, 2011





Lekar (lékar) dan Kematian yang Menyejukkan

Lagi browing-browsing daftar catatan sang pemateri di LKMM PEMA Unsyiah 2012 (Herriy Cahyadi). Sampai akhirnya, di satu tulisan ini, saya terdiam dan berpikir lagi; akan mati dalam keadaan apakah saya nanti? :'(




____________________________________________________________________



Saya punya lekar (lékar), buah idaman yang telah lama dinantikan, yang didapat dari nitip kepada teman yang tinggal di Bogor. Lekar itu terlihat kekar dan sangat menawan—setidaknya saya melihatnya seperti itu—saat menjadi “fondasi” al-Quran besar yang sangat saya cintai itu. Dan yang membuat saya senang, lekar tersebut asli buatan Bogor. Dibuat di Bogor, dijual di Bogor, dan dibeli di Bogor. Lekar yang setiap hari hingga detik ini tetap setia memangku al-Quran terjemahan dengan arti perkata keluaran Syamiil—beli diskon, alhamdulillah, saat IBF dua tahun lalu.

Setiap pagi (insyaallah), sesudah shalat Subuh berjamaah, lekar tersebut selalu saya angkat dan saya letakkan di pangkuan. Entah mengapa, ada perasaan yang membuncah saat meletakkan al-Quran di atasnya. Serasa kembali ke masa-masa terbatah-batah membaca ayat demi ayat. Romantik tradisionalis. Kita tak akan menemukan perasaan yang sama saat ayat yang sama kita baca dari depanlaptop atau layar HP. Bahkan dengan Quran Pocket seukuran lebih kecil dari A5 yang saya punya—hampir seluruh teman-teman saya punya itu. Dan, jreng, lebih lengkap dengan kalam lidi ala stylushkonvensional.

Lekar plus Qurannya selalu saya letakkan di atas tempat tidur, tepat di samping kepala saya. Bahkan, kadang saya peluk dengan mesra. Sering juga kepala terbentur ujung lekar, tapi dengan bijak dan kesabaran tingkat tinggi biasanya saya hanya berkata, “Aduh.”

Di lain tempat, jauh di atas sana—Mau tahu tempat paling dahsyat untuk murajaah? Ada. Di lereng Mahameru, di atas bongkahan batu, dulu diberi nama Cemoro Tunggal (satu-satunya cemara yang bertahan di suhu dan ketinggian yang ekstrim, tapi sekarang sudah menghilang akibat longsor), dengan inklinasi 45 derajat, melewati pepasir dua-langkah-maju-sekali-mundur, ditemani temaram cakrawala, angin berbisik menggelitik, dan kekuatan kaki berpasrah-ria. Sejenak anda berkontemplasi menembus logika yang tak pernah sanggup menjawab mengapa perasaan haru-biru itu hadir serta merta. Kemudian anda mulai berburai air mata, sambil bibir tak henti berucap. Di Subuh, yang matahari pelan-pelan malu mengintip dari balik horizon, merayap tak ragu menyinari pandangan tak berbatas. Di situ, di waktu itu, di momen itu anda akan menemukan aha moment bersama al-Quran.

Di tempat ini atau di mana pun kelak—Saya ingin di setiap aktivitas hidup segalanya tentang al-Quran. Jika saya harus tidur, maka di samping saya ada lekar dan al-Quran. Saat sejenak berhenti menjejak lereng-lereng puncak ketinggian, saya ingin melantunkan al-Quran. Seperti kekasih yang duduk di pinggir danau, lalu membaca surat cinta dari sang pujaan. Kalau perlu saya ingin seperti Narcisus yang tergila-gila dengan dirinya sendiri. Bagaimana dengan saya? Saya tidak punya surat-surat cinta dari siapapun. Yang saya tahu, saya hanya punya hafalan yang sangat sedikit. Namun, yang membuat surat cinta itu pun tak menuntut banyak bukan? Tidak untuk mempersulit.

Teringat kisah—entah nyata atau hanya kisah-berkisah—suatu hari terjadi kecelakaan motor. Seorang mahasiswa sekarat di tempat dengan motor yang ringsek, buku kuliah yang bertaburan, dan gadgetHP plus earphone yang kecipratan darah segar. Mahasiswa tersebut tak tertolong, menghembuskan nafas terakhir di perjalanan, setelah sebuah taksi dan beberapa orang yang iba membawanya segera ke UGD. Kolega dihubungi, ibunya langsung meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, sang Ibu—dengan wajah yang teramat sedih, orang-orang bisa melihatnya, tapi terlihat tegar itu—bergegas mencari sesuatu dari sang anak. Dokter dan orang-orang yang mengantar tadi keheranan. Mengapa si Ibu bukannya menangis dan atau setidaknya mencium kening anaknya yang terbujur kaku malah sibuk mencari-cari sesuatu. 

Si Ibu menemukannya. Sebuah HP touch screen yang masih menyala, lengkap dengan earphone dan Mp3 player built in yang masih on. Bahkan, earphone tersebut masih terpasang di telinga. Rupanya, orang yang mengangkat tubuh sang mahasiswa memasukkan HP yang tergeletak ke dalam saku celana korban—khawatir jatuh atau tercecer, dan lupa melepas earphone-nya.

Si Ibu dengan pelan mengambil HP tersebut dan memeriksanya. Melepas earphone yang masih menempel di telinga anaknya. Tak menghiraukan darah yang masih segar menempel, si ibu dengan tenang segera mendengarkan Mp3 yang masih menyala. Dan, seketika si Ibu tersenyum lalu meneteskan air mata. Terdengar halus si Ibu mengucap, “Alhamdulillah, subhanallah, Allahuakbar.” Orang-orang semuanya termangu. Terheran-heran. Si Ibu segera menatap bangga sang anak, dan seolah telah sangat siap melepas kepergiannya. Ia memeluk hangat dan membisikkan sesuatu ke telinga anaknya. Kemudian menyempurnakan kafan yang telah menutupi tiga perempat badan sang anak. Si Ibu pergi tanpa beban.

Seorang yang mengenakan peci putih—sepertinya sopir taksi—yang hadir di situ memberanikan diri untuk mendengarkan Mp3 yang sedang menyala menggunakan earphone yang masih terpasang. Betapa kagetnya ia, kemudian tersenyum, lalu menitikkan air mata. Ia hafal betul lantunan itu. Yā 'Ayyatuhā An-Nafsu Al-Muţma'innahu. Arji`ī 'Ilá Rabbiki Rāđiyatan Marđīyahan. Fādkhulī Fī `Ibādī, Wa Adkhulī Jannatī. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”

Itulah yang menyebabkan si Ibu melepas anaknya tanpa beban. 

Saat ini—Sahabat, maukah saat ajal menjemput, ketika kita sedang mengendarai motor, menyetir mobil, berada di depan laptop, bekerja sambil asyik mengenakan iPod atau Mp3 player, dsb, kita mati dengan mendengarkan lagu-lagu roman picisan ala anak-anak band? Lagu-lagu—entah apapun itu—yang menjadikan kita lupa akan kematian?

Segera jadikan kuping kita sebagai “lékar” yang menampung alunan Sang Maha, memanggil-manggil,“Hai, jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Kita jadikan mata kita sebagai “lékar” yang menatap jauh ayat-ayat kauni-Nya, menampung ketidaksanggupan mata menahan rintihan lisozim, menghasilkan air mata kedamaian. Kita jadikan mulut kita otomatis—seperti orang-orang tua itu sering bilang, “Ngucap… ngucap… nyebut....”

Jangan sampai kita melewati seremoni kematian yang menyejukkan—kematian yang didampingi al-Quran.



*Al-Fajr 27-30.

Thursday, June 21, 2012

Sepotong "Tamparan" dari Kitab Fiqh Al-Awlawiyyat (Fiqh Prioritas)

"Wahai orang yang menjadi budak badan, sampai kapan engkau hendak mempersembahkan perkhidmatan kepadanya?
Apakah engkau hendak memperoleh keuntungan dari sesuatu yang mengandung kerugian?
Berkhidmatlah pula kepada jiwa, dan carilah berbagai keutamaan padanya,
Karena engkau dianggap manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan."

(Abu Al-Fath Al-Bisti)

Bukankah benar, bahwa neraca tawazun itu begitu goyahnya? Kita; manusia dengan badan saja atau masih punya yang namanya jiwa?



Rumah.17 Juli 2010.

Tak Percaya Pada Angin


Aku tak pernah percaya pada angin. Tidak sekalipun. Aku memang lahir bersama riak gelombang yang disebut-sebut dikusiri oleh angin hingga gelombang tersebut sempurna mencium pantai, hingga buih-buih melemah menabrak pepasir di pesisir. Tapi, tetap saja kuanggap itu mitos. Dusta. Aku tetap tak percaya pada angin.

"Mengapa tidak?"

Aku mengangkat bahu.

"Tapi anginlah yang mendorong layar para nelayan. Sehingga mereka bisa pergi ke tengah laut, tangkap ikan, lalu pulang membawa cerita badai ini atau paus itu. Ha, kita pula yang senang dengar ceritanya. Tetap kau tak mau percaya?"

Aku kembali mengangkat bahu. Kali ini kulengkungkan bibirku ke bawah.

"Meski angin pula yang mempermainkan bebiji cemara untuk kita di tengah jenuh menatap angkasa?"

"Dari mana kautahu semua yang sudah kausebutkan itu benar? Mengapa kauyakin bahwa anginlah yang melakukannya untuk kita? Ia tak pernah wujud, kautahu itu."

Kutanyai begitu, wajah yakinmu mulai pudar didesak ragu.

"Aku,..", Kau menggantung bingung. "Tapi para camar yang cerita begitu."

Aku mendengus. Laut kembali menjilati pepasir di bawah kita lalu menyeret sejumput pasir menuju tengahnya bersama. Sering begitu, dan selalu, tentu saja tanpa kita diajak ikut serta.

"Menurutku camar-camar itu berbohong pada kita. Takkah kaukira begitu?"

Kaumenatapku kosong. Kaugeleng-gelengi angin asin di antara kita. "Aku tak pernah menganggap mereka berbohong sama sekali. Aku suka cerita mereka tentang Pesta Ombak saat purnama. Dan masih banyak cerita mereka; tentang manusia yang terjun dari tebing di Selatan, tentang kepiting-kepiting yang birit-birit lari dikejar anak-anak nelayan. Ah, kaupun kulihat suka curi dengar cerita mereka."

Seekor kepiting yang sesungguhnya menggelitik kita lalu pergi terbahak-bahak.

"Kaulihat? Kepiting itu mengejek kita lagi. Suka sekali ia mengerjai kita. Biar dikejar-kejar terus saja oleh anak para nelayan!"

Kaumenggerutu. Aku diam menatap ke depan.

"Aku tetap tidak percaya pada angin."

Kaubungkam. Horizon adalah titik tuju pandang kita bersama sekarang.

"Kaurindu mengapung-apung di sana lagi, bukan?" Tanyaku. Kau mengangguk pelan sementara matamu tak lekang dari garis lurus antara air dan udara itu.

"Itulah mengapa aku tidak percaya pada angin. Setiap hari kita ingin ia membawa kita kembali ke sana, tapi ia tak pernah menampakkan diri dan mendorong kita kembali ke sana."

Tiba-tiba kaumenoleh, "Kau bukan tidak percaya, kurasa. Kau hanya benci padanya."

"Ah, dua-duanya!" Aku gusar. "Aku tidak percaya padanya dan memang aku pun benci padanya!"

Lalu kita diam lagi. Memandangi titik yang makin mendekat ke arah kita. Saat titik itu sudah nyata di hadapan kita, seorang nelayan datang dan mengutip kita lalu membawa kita ke rumahnya. Sebelum bisa berkata apa-apa dan mengutuki sang nelayan, kita sudah dalam keranjang sampah.

"Dasar. Sudah begini zaman canggih, masih ada juga yang mengirim surat dalam botol seperti ini.", ujar sang nelayan.

Aku dan kau, dalam keranjang sampah, saling menatap lalu menghela nafas. Aku teringat beberapa tahun lalu, saat seorang tahanan penjara di tepi laut membuang kita ke laut lepas di luar jendela selnya.




Ujong Batee, Minggu, 04 Juli 2010, saat rihlah bersama Forum Lingkar Pena Aceh. Saat itu mendapat tugas menulis dengan 'arisan tema' di mana jatahku adalah selembar kertas kosong; justru tanpa tema! Maka kosong itu kuartikan angin. Dan jadilah ia seperti di atas.

Sepasang Tanya & Jawab


Salahkah jika memilin sumbu
Untuk membakar rindu
Pelan
Dan bukan untuk hari ini?

Tidak
Hanya saja jangan kauhabiskan hari
Dengan pilinan-pilinan
Yang makin meninggi
Dalam tumpukan
Yang bisa saja usang sebelum kausempat hidupkan perapian

Salahkah jika menyiapkan belanga
Wadah merebus rempah
Mengharumkan serata penjuru rumah impian
Pelan
Dan bukan untuk hari ini?

Tidak
Hanya saja jangan kaulepoti jemari
Dengan legam liat
Yang makin mengkerat
Nodai cincin
Atau gelang
Yang kiranya elok jika tetap binar

Salahkah jika aku duduk menanti
Rinai hujan mengecupi
Kening dan hidung
Dalam sejuk yang membasahi?

Tidak
Hanya saja kasihan jam dan menitmu
Jika kau hanya duduk dan menanti
Sementara ada cendana yang bisa dikutipi
Atau siapkan saja emasnya hikayat
Yang bisa kauukir di pelepah kelapa
Milik kita
Nanti

Lamkeuneung, 10 Mei 2010

Bagaimana Memotretnya Untukmu?

Bagaimana memotretnya untukmu;
Deraknya yang membuat cemburu
Yang terus menyeret biru
Perlahan membuat semua deru - bagiku - bisu?

Bagaimana memotretnya untukmu;
Sosok bermata teduh
Berlatar lazuardi angkuh
Indah namun jauh?

Bagaimana memotretnya untukmu;
Denting
Yang enggan berpaling
Padahal asing?

Bagaimana memotretnya untukmu;
Sementara aku bertangan batu
Tanpa daya berusaha gebu
Sementara kau di situ
Diam dan pandangi aku
Dalam mimpi jelang Subuhku?

Kampus. Zuhur. 12102010

Aku Tak Mau Langit Biru


Sekali lagi; siapa nyana skenario-Nya? Siapa nyana, kutanya? Bahwa tiap duri yang mengiris sukma, ternyata bisa berbuah nirwana. Bahwa gelegak air mata bercampur kecewa mampu jelmakan diri sebagai telaga bahagia. Bahwa ada permata-permata yang hilang dalam pandang tengik manusia; mengkilap bagi yang sudah mengaku dosa. Wahai.






Sebab langit hanya biru jikalau seluruh awan sepakat putihnya bersatu. Hanya bila sekumpul mendung merunduk malu dan enyah dari tetiap penjuru. Dan jika langit sudah biru. Semua lupa badai. Semua hilang buruk perangai. Semua hati bersorak sorai.






Dan ketika masa itu tiba, langit biru tanpa maksud hendak berjenaka. Aku akan di sana. Menggenggam tombak. Menarik busur. Melempar belati. Mengoyak angkasa dari semua birunya. Hingga langit kembali kelabu. 




Baru aku diam.






Lamkeuneung. Juni 2012.

Monday, June 11, 2012

Seduri-duri Pelangi; Aku Ingin Badai

Seduri-duri pelangi
Membelah diorama senja yang bergelayut di tepi dahaga


Namun tetap saja
Basah
Basah setiap kerontang yang menggelepar di serata sudut negara
Basah sebab hujan
Bahkan badai
Bahkan terpaan setiap gelombang gerilya menyembur buih-buih ke udara
Basah
Menitipkan candu-candu baru bagi yang sebelumnya buta akan derai butir-butir cinta

Karena seduri-duri pelangi
Ia hanya bebayang dengan gumpal-gumpal warna
Tanpa daya
Hanya diam bermain mata dengan bimasakti-bimasakti yang fana

Basah
Tak bisa ia cegah basah segala savanna
Basah
Tak sanggup ia menghentikan badai dari maha segala poranda
Basah
Tak mungkin ia menitis dan mengecak pinggang seperti seorang polisi



Seduri-duri pelangi
Ia hanya hiasan sunyi
Bagi mata-mata yang penuh dengan bongkol-bongkol fantasi
Menjelma manis
Bagi kekasih yang baru kehilangan jangkar dan buritan hati
Seduri-duri pelangi
Ia menemani tanpa bisa memeluki

Dan hujan
Badai
Terpaan semesta gelombang
Terus membasahi
Sementara seduri-duri pelangi
Hanya bisa menjadi puisi


"Maka izinkan aku menjadi badai segala terpaan nyana. Hujan seluruh daratan. Basah bagi setiap kekeringan. Karena menjadi sekedar pelangi atau puisi, bukanlah mimpi hidup kami, 
para pengejar cahaya."

Kopelma Darussalam, 11 Juni 2012, 13:59 WIB

Saturday, June 9, 2012

Suatu Senja bersama Kak Helvy Tiana Rosa



Dua hari yang lalu, cut kak Helvy Tiana Rosa datang ke Aceh (lagi). Pada kenal kan dengan beliau? Siapa tidak kenal salah satu pendiri utama Forum Lingkar Pena ini. Kedatangan beliau bukan yang pertama kali. Yang paling saya ingat adalah kehadiran beliau di akhir 2009 lalu di mana bersama kami anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP Aceh), kami mengadakan pementasan teater "Tanah Perempuan".

Nah, kali ini, beliau hadir ke Aceh untuk sosialisasi Sayembara Naskah Teks Pengayaan dari Pusat Kurikulum dan Buku, Dinas Pendidikan. Dalam rangka sosialisasi (plus silaturahim), beliau berkunjung juga ke FLP Aceh. Ceritanya itu Ahad kemarin, dari jam 2 hingga jam 4 sore. Setelah itu, rutinitas "budayawati"-nya kumat hehe. Beliau, dengan seluruh darah Aceh-nya yang bergelegak, beliau ingin membaca puisi di Tugu Ratu Safiatuddin, yang memang secara lokasi tidak jauh dari kesekretariatan FLP Aceh. Sore setelah ashar, meski rintik-rintik merinai lingkungan sekitar, kak Helvy tetap teguh ingin "melampiaskan" hasratnya. Akhirnya, dengan motor Revo hitam saya, kami meluncur ke sana didayang-dayangi oleh beberapa anggota-anggota FLP Aceh yang masih belum puas bercengkaram dengan beliau.

Di sana, kami menemui kendala. Kak Helvy ingin sekali melakukan "ritual"-nya di atas dinding di bagian bawah "Cap Sikureueng". Permasalahannya itu agak tinggi. Kalau berani bisa aja kami naik tanpa peduli keadaan sekitar. Tapi eh tapi, itu tugu letaknya di persimpangan jalan yang sibuk. Jadi pasti malu deh kalau asal naik gitu aja kan ya? Bingung sejenak deh. :|

Terus kak Helvy ada ide. Melihat tukang jualan gorengan yang punya beberapa kursi sebagai aset operasional mereka (duilah bahasanya), beliau berinisiatif untuk "menyuap" tukang jualan gorengan dengan transaksi beli gorengan seharga Rp 10.000 supaya dapat kursi! :D

Setelah bernego sejenak, akhirnya kursinya kami dapat. *TADA!*

Lalu, akhirnya beliau bisa juga naik ke atas panggung itu untuk membaca puisi. Lantang suaranya. Tegas tatapannya. Ah, begitu mencengangkan karakter kuat wanita yang satu ini. Makin saya bangga menjadi bagian dari perempuan Aceh. Beliau yang mengajarkan saya atas kebanggaan itu. 

Tapi sebab hujan dan suara kurang terekam dengan baik oleh handycam, maka kami akhirnya pergi ke Taman Ratu Safiatuddin yang lebih sering dikenal dengan taman Pekan Kebudayaan Aceh. Di sana, kami menuju anjongan Aceh Tengah lalu merekam beberapa puisi lagi. Termasuk saya juga ikut mencoba kebolehan, merekam pembacaan puisi "Cintaku Padamu"-nya kak Helvy Tiana Rosa dari buku Mata Ketiga Cinta. Nanti kalau sempat saya upload videonya. Soalnya ini saya nulis blognya di tengah rapat sih hehe, koneksi internetnya putus-maju plus banyak "lintas-masukan-kritik"-nya jadi agak kurang fokus.

Anyway, intinya, saya jadi belajar banyak. Belajar memaknai lingkungan. Belajar merasakan hujan dan rasa yang ditawarkan tanah Acehku ini bagi karya-karya kita sendiri. Jujur, saya sangat amat malu tiap kali melihat puisi-puisi atau tulisan kak Helvy yang sangat sarat ke-Aceh-an. Beliau, meski tinggal di Jakarta (atau lebih tepatnya Depok sih), masih tetap bisa merekam Aceh dan perempuan-perempuannya dalam berbagai kata dan karyanya. Saya, mulai sekarang berjanji, akan mulai lebih menghargai identitas Aceh yang melekat di diri saya.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata kak Helvy,
"Tiap kali orang bicara atau nyuruh kakak nulis tentang Kartini, yang kakak bayangkan selalu perempuan-perempuan Aceh; mereka lebih terasa kuat dan berkarakter."
Well, kak, we all are - always and have been - proud of you. :)


Kopelma Darussalam, 9 Juni 2012, 15:58 WIB