Wednesday, June 27, 2012

Adakah Ramadhan Tahun Lalu Membuntutimu?


Alkisah senja Ahad lalu. Adalah sebuah kajian tarhib Ramadhan di Markaz Da'wah Al-Ishlah di Beurawe. Setelah sekian lama menanti sang ustadz, jari saya terus menari di atas tuts keyboad netbook Samsung putih gading saya. Sebentar lagi Ramadhan, maka seperti biasa saya serabutan mencari sesuap berlian agar tak begitu kerenya nanti jika ingin infaq di bulan Ramadhan. Maka dengan setitis kemampuan menerjemahkan bahasa yang Allah berikan (yang sebenarnya sudah mulai berkarat ini), saya terimalah pekerjaan menerjemahkan dokumen demi dokumen dari salah satu NGO internasional yang masih ada di Banda Aceh ini. Masalahnya ketika menerima tugas ini, saya lupa mengalkulasikan besar dokumen dengan deadline dengan baik. Walhasil, the power of kepepet pun terjadi. Di mana saya bisa duduk, dalam agenda apapun (yang memungkinkan multi-tasking, jelas), saya akan terus mengebuti pekerjaan saya sebisa mungkin.

Lalu di pukul 17.30 WIB kurang sedikit, hadirlah sang ustadz. Dan tepat seperti yang diduga kebanyakan peserta, ustadz yang seharusnya mengisi pekan itu berhalangan hadir, maka hadirlah sang "ustadz cadangan" tersebut gesa-gesa menggantikan. Bagaimanapun juga, sekali saya tersentuh oleh kekuatan dakwah Islam ini. Siapa yang rela waktu pribadinya tiba-tiba direnggut untuk menggantikan tanggung jawab orang lain kalau bukan hati, jiwa dan raganya sudah dijualnya pada Sang Pencipta? Siapa yang rela menukar waktu leha-lehanya dengan kewajiban berbicara di depan khalayak ramai mengenai materi yang tak bisa dikarang-karang atas notifikasi super duper singkat jika bukan karena rasa persaudaraan yang kuat mengikat bahkan lebih erat dari hubungan darah; ukhuwwah? Sungguh, segenap doa dan takzim saya haturkan kepada semua "guru spiritual" yang sudah membaktikan dirinya di jalan dakwah ini. Karamallahu wajhahum insya Allah.

Kembali ke pokok permasalahan. Kajian sore itu merupakan bagian dari tarhib Ramadhan, kata sang ustadz. Tarhib, kata beliau, merupakan upaya dari menyambut dengan bahagia. Dengan suka cita. Bukan dengan keluh kesah.

Sementara beliau kembali mengulas ayat paling lazim sedunia untuk urusan Ramadhan dan kewajiban puasa 30 hari di dalamnya, yaitu Al-Baqarah ayat 183, saya terus saja ketak-ketik dokumen. Deadlinenya adalah malam itu juga. Saya akui, ini murni salah saya sendiri. Tapi meninggalkan kajian tersebut untuk fokus pada terjemahan saja akan membuat saya menyesal juga. Bagaimanapun juga, saya ingin hadir dan menyimak sebutir dua butir mutiara hikmah sebagai bekal menuju Ramadhan kali ini. Begitu pun dengan pekerjaan menerjemahkan dokumen tersebut, itu pun bagian dari mempersiapkan bekal menuju Ramadhan, secara finansial. Maka saya pikir, biarlah saya "menghukum" diri saya atas kelalaian saya dengan menjaga fokus ke dua hal sekaligus; mengerjakan dokumen sambil tetap mendengarkan kajian. Dan sungguh itu membuat kepala berdenyut-denyut. Sama sekali bukan pengalaman yang patut diulang.

Hingga ketika beliau mulai tiba di pembahasan akhir dari ayat 183 dari surat Al-Baqarah tersebut, telinga saya mulai sedikit lebih tajam dan tangan saya mulai mengetik dengan pelan. Disebutnya kata "taqwa" dengan sedikit lebih banyak penekanan. Perlahan dalam kepala saya mulai muncul definisi taqwa yang diajarkan Murabbiyah saya suatu hari;tashdiqu bil qalb, taqriru bil lisan, ta'malu bil arkan. Membenarkan dengan hati. Mendeklarasikan dengan lisan. Mengerjakan dengan anggota badan. Saya mulai merasa sembilu menjalar di sepanjang tulang belakang saya.

Hingga akhirnya penjelasan tambahan beliau berhasil membuat saya berhenti mengetik dokumen. Malah menekan tuts Ctrl dan huruf N; lembaran baru. Di sana tangan saya gemetar menulis sesuatu yang baru.

"Ada beberapa ciri-ciri orang-orang yang keluar dari Ramadhan dalam keadaan menyandang gelar taqwa.", tutur sang ustadz sambil menyebutkan maraji' (referensi) bacaannya yang gagal saya catat sempurna sebab kurang saya dengarkan seutuhnya. Sungguh, saya tidak mau mengulangi lagi kegiatan "multi-tasking" di tengah majelis ilmu serupa ini. Janji.

"Yang pertama adalah ia akan mu’ahadah. Artinya secara bebas adalah senantiasa mengingat janjinya."

Lalu membayanglah potong demi potong janji-janji terumbar dalam setiap berdiri di hadapan-Nya. Bahwa sesungguhnya seluruh shalat, ibadah, hidup dan mati, hanya untuk-Nya. Seluruhnya. Setotalnya. Semuanya. Adakah sesungguhnya demikian selama ini?

"Maka seharusnya orang-orang yang sudah tertempa selama Ramadhan dengan baik akan jadi lebih menjaga setiap waktunya dihabiskan di jalan Allah."

Wahai. Berapakah bandingannya segala waktu luang dengan kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan? Atau kita sudah mencap diri kita "sibuk" secara semena-mena? Padahal masih banyak waktu kita untuk tertawa, menarik nafas lega-lega, dan makan siang dengan canda sementara banyak saudara-saudari kita yang memiliki jauh lebih banyak amanah namun masih saja merasa "masih juga ada waktu kosong" dan senantiasa menyibukkan diri dengan agenda-agenda tambahan tanpa banyak bicara. Saya bungkam, luar dalam.

"Ciri-ciri selanjutnya adalah mujahadah. Bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan."

Dan seberapa seriusnyakah sudah kita dalam "menjual jiwa kita" pada-Nya? Atau kita masih berupa penjual yang licik? Yang mengaku sudah menyerahkan semua padahal masih menyembunyikan beberapa? Terus saja mengeluh sudah tak mampu lagi bergerak mengikuti putaran jalan cinta Ilahiyyah yang semakin kencang ini. Sementara bukan tak ada yang terus saja mendobrak setiap batas kungkungan jiwa dengan senyum. Tetap membaca di sela-sela istirahat agenda rapatnya. Tetap menambah hafalan Qurannya dalam sibuknya ia mengevaluasi kegiatan pembinaan agama mahasiswa baru di fakultasnya. Tetap mengisi tiap relung jiwa binaan ruhiyyahnya yang berarti malamnya akan jadi lebih panjang sebab tugasnya dikesampingkan. Mereka, para jiwa penuh cahaya. Yang benderang dengan setiap kesungguhannya bergerak di jalan cinta Ilahiyyah ini. Saya menundukkan wajah. Menahan malu.

"Yang ketiga adalah muhasabah. Selalu mengintrospeksi diri atas semua kegiatan sehari-hari."

Lantas teringat sekian ratus gempa yang warga Banda lalui. Sekian banyak letusan senapan api. Sekian kencang badai meniupi atap seng banyak warga. Sekian deras hujan. Sekian terik matahari sekarang. Dan betapa banyak jiwa-jiwa yang masih meridhakan dirinya jatuh ke dalam cinta penuh angan-angan di tepi semua fenomena-Nya? Betapa banyak yang tetap membelah malam dengan langkah-langkah menjauh dari-Nya padahal sudah di-badai-kan-Nya Banda ini belakangan masa? Betapa diri, cuma bisa bungkam bahkan mungkin seperti segala rasa sudah mati.

Rabb, apakah kami terlalu biasa melihat saudara-saudari kami dalam teluk kesalahannya dengan dalih "daripada ia tak lagi mau diajak mengaji"? Apa kami mulai biasa memanipulasi dosa untuk kepentingan kami sendiri? Apa kami lupa bercermin tiap pagi dan melihat segunung nista milik kami yang kami anggap sebuah "konsekuensi" dari jalan yang kami pilih? Atau kami lebih banyak membuat pembenaran daripada menyebarkan kebenaran?

"Dan yang terakhir, adalah mu’aqabah. Menghukum diri jika melakukan kesalahan."

Bahkan jika ada seorang saudara/i menunjukkan kesalahan kita, kita bisa terima dengan lapang dada? Atau kita malah mengangkat dagu dan bertanya, "Apa kamu sudah lebih baik dari saya hingga bisa menggurui saya?". Atau kita malah berkecak pinggang dan balik menunjuk-nunjuki (atau lebih tepatnya mencari-cari) kesalahannya? Jangankan menghukum diri, dihukum orang saja masih tak sudi. Sombong. Kadang seluruh sombong menggelayut di tiap tulang dan sendi. Lalu kita buta. Kita menganggap lumrah semua salah. Kita mengasihan diri. Kita lupa mengingatkannya tentang komitmen lama sebelum kita lahir ke dunia; sebuah amanah yang ketika dilemparkan-Nya ke semua makhluk lain malah ditolak. Prinsip yang tegaknya kadang kita lupa pastikan. Terlalu memanjakan diri dengan "Ah, biasa manusia melakukan kesalahan. Lupa. Lumrah." hingga noda demi nosa pekatkan hati dengan seluruh jelaga.

Di titik ini, saya berhenti mengetik. Saya diam. Ya. Mengapa berani menyambut Ramadhan yang ini jika sejak awal belum tahu pasti apa yang menjadi modal awal kita ketika ingin memasukinya? Adakah puing-puing sisa perjuangan dari Ramadhan yang lepas? Ataukah sudah hilang semua digerus waktu dan laga duniawi kita? Begitukah setiap tahunnya; atau ada yang berubah dari satu Ramadhan ke yang lainnya?

Adakah nominal infaq kita meningkat?

Adakah raka'at qiyamul lail kita bertambah?

Adakah tilawah-tilawah kita semakin menyentuh jiwa?

Adakah amalan harian lebih dari sekedar pelaporan ke lembar-lembar wajabat belaka?

Adakah hati-hati tergetar lebih hebat setiap tahunnya, ketika melihat banyak pasien yang menghela nafas terakhirnya di hadapan kita yang mungkin berprofesi sebagai petugas medis?

Atau kebas. Atau bebal. Atau sudah lupa rasanya merinding sebab dibacakan ayat-ayat mengenai kebesaran-Nya. Atau sudah tak ingat bagaimana rasanya sendu-sayup dalam rintihan panjang memohon diteguhkan dalam keislaman di sepertiga malam terakhir yang tenang. Atau lebih parah lagi, masih menjalani semua "standar ibadah" seorang muslim di atas rata-rata menggugurkan kewajiban, tapi tak lagi merasakan sungai sejuk mengalir di relung-relung nurani yang makin mengering setiap harinya?

Wahai jiwa-jiwa yang merindu syurga. Pandanglah bulan malam ini. Sabitnya Sya'ban sudah seperempat menuju purnama. Kurang dari sebulan. Lalu jika nafas masih bergerak menelusuri trakea dan paru-parumu, nanti, Ramadhan kali ini, jangan ulangi lagi. Jangan sampai tak ada barang sedikit dari dirimu yang kaukupas tuntas dari legam hitam dosanya.

Pastikan Ramadhan kali ini membuntutimu. Menyisa tegas warnanya dalam kolom jiwa putihmu. Hingga Ramadhan selanjutnya. Hingga Ramadhan selanjutnya. Hingga ke syurga-Nya. Hingga kita reuni di sana. Nostalgia dengan wajah ceria di dalamnya. Amin. Amin. Amin.



Dari Beurawe ke Lamkeuneung, 24 - 27 Juni 2012, seperempat Sya'ban 1433 H.

No comments:

Post a Comment