Thursday, June 7, 2012

Cerita Suatu Hari; Ada yang Mengetuk Hati


Entah apa yang ada dalam kepalaku waktu itu. Namun ia terus mengetuk dari dalam. Ingin keluar. Ingin bertemu dengan udara bebas. Terus mengetuk hingga kadang kukira ada yang mengetuk pintu rumahku selalu. Ketukan-ketukan yang sangat mengganggu. Seperti pintu rumah yang terus diketuk padahal tak ada yang ingin membukakan pintu itu. Sekali lagi, sangat mengganggu.

Tapi apa dayaku, sudah kubawa kelana kemana-mana namun belum juga kuketahui apa itu yang terus mengetuk dari dalam kepalaku. Kubawa ke tepi pantai, ia meredam sejenak lalu mengetuk makin runtun dan makin ribut. Kubawa ke tengah pasar, ia hanya tak terdengar sebab para ibu-ibu yang masih dalam pakaian dinasnya menawar-nawar harga barang dengan suara yang sangat memekakkan telinga. Kubawa ke sekitar hutan, ia tetap saja bertalu-talu.

Aku hampir menyerah rasanya. Ingin kututup lubang hidungku selama 5 menit saja, agar otakku mati permanen hingga aku tak lagi bisa mendengar dan terganggu oleh ketukan-ketukan tersebut.

Hingga engkau datang. Berbicara hanya dengan beberapa potong kata. Ya, hanya kata. Sebab tanpa wajah kauhampiriku dan terus berkata-kata. Tanpa suara, hanya kata. Lalu ketukan itu diam. Diam sediam-diamnya, hingga ketika kau pergi, ia mengetuk-ngetuk lagi.


***

Hari terus berlalu. Tiap kali engkau berkunjung dengan segala kata-kata, ketukan-ketukan itu membungkam. Awalnya aku cuma sekedar bersyukur dengan hilangnya ketukan-ketukan itu tiap kali engkau tiba. Namun perlahan, aku mulai lupa dengan ketukan-ketukan itu, dan tiba-tiba kudapati, aku mulai mengeja kembali kata-kata yang kauberi padaku. Senyap-senyap, mulai kukunyah satu-satu kata-katamu. Mulai kucerna, mulai mengalir bersama darah dan limfa.

Kau hanya tiba sekali senada. Bukan sepanjang masa kau tiba lalu bercerita. Logikanya, tiap kali engkau tiada, ketukan-ketukan itu akan kembali mengganggu. Mengetuk sesuka hatinya dan membuatku kembali berkelana.

Namun sekarang berbeda. Ketukan-ketukan itu pelan-pelan transformasi. Ia mulai menjelma nada. Seperti nyanyian. Ketukan-ketukan yang tak henti, tapi tak lagi begitu membuat emosi meninggi. Ketukan-ketukan yang tak lagi mengusik hati.

Wahai, siapakah engkau?

Wahai, mengapa engkau muncul ke mari?

Dan mengapa kini, saat seluruh ketukan-ketukan tidak lagi semengganggu dulu lagi, aku justru was-was dengan kehadiranmu dan kata-katamu lagi?

Dan mengapa, meski was-was dengan semua kata-katamu, aku tak pernah bisa pergi? Mengapa dengan semua keanehan ini, aku tetap tak geming tiap kali kau tiba dengan seluruh cerita?


****

Aneh. Kurasa aku mulai aneh. Ketika semua orang merindukan kesembuhan, aku malah resah ketika sakit tidak lagi meraja.

Sakit. Kurasa pikiranku sakit. Ketika semua orang ceria saat kepalanya dipenuhi nada, aku malah ingin kembali diketuk-ketuki saja seperti sedia kala. 

***

"Kau benci padaku?"

Aku menggeleng.

"Kau tak suka lagi dengan ceritaku?"

Aku, sekali lagi menggeleng.

"Lalu mengapa wajah murung serupa itu?"

Aku menghela nafas panjang, lalu mengangkat bahu.

"Aku membuatmu tidak bahagia?"

Aku sungguh-sungguh tak tahu hendak menjawab apa.

"Sekiranya kau mau aku tak kembali lagi, aku akan pergi."

Mataku mengabur.

"Hanya saja, izinkan aku menyampaikan kata-kata terakhirku padamu."

Mataku tak lagi kabur, isinya tumpah ke wajah. Basah. Aku mengangguk.

"Hidup dalam ketertekanan memang tidak menyenangkan. Namun selalu dalam kebahagian juga bukan jawaban. Kau butuh kedua-duanya saling mengejar, agar kau tahu menghargai kehadiran masing-masing dari keduanya."

Bahuku berderak. Bibirku rapat menahan getar.

"Aku datang untuk mengujimu, aku datang untuk memberi pelajaran bagimu, aku datang untuk menyelamatkanmu, atau apapun, kau sendiri yang memutuskan mengapa aku tiba-tiba hadir dengan segala kata-kataku."

Jemari kananku erat menggenggam telapak tangan kiriku.

"Yang jelas, kau punya hak untuk bahagia. Dan kau bisa bahagia. Panggil aku dalam hatimu ketika kau nanti ingin aku kembali. Dan nanti, jika itu terjadi, aku berjanji, akan hadir dengan seluruh wajah dan nama baru. Berada di sisimu. Selalu."

Sempurnalah aku gagal menahan air mata dan sesenggukan.


***

Dan kini aku masih diam berdiri. Menanti hari diganti hari. Menunggu bila-bila aku memutuskan untuk memanggilmu ke mari. Selama ini, biar saja kepala ini berketuk-ketuk di dalamnya tak henti-henti.

Janjimu aku masukkan ke dalam peti. Kujaga dan kutabur dengan melati. Lalu suatu hari nanti, aku mau kau kembali lagi ke mari. Selamanya di sisi.
"Hadirnya bak hembusan bayu, meniup lembut dan mengusik kalbu.
Dibuai lena hingga terlupa, semuanya ditelan masa."


Limpok, 23 Juni 2011

No comments:

Post a Comment