Thursday, June 7, 2012

Jangan Sampai Cinta Tak Berbalas!



Bagi jiwa yang
sedang jatuh cinta,
tidak ada pemandangan
yang lebih melukai hati
dan menyadap kering
sari kehidupan dari hatinya,
kecuali menyaksikan
yang dicintainya
jatuh cinta
kepada orang lain.

Cinta harus memiliki.

Dan tidak ada
kekuatan kemanusiaan
yang lebih besar
daripada cinta.
Itu sebabnya,
tidak ada kepedihan
yang lebih pilu
daripada cinta
yang tak dapat memiliki.

-Mario Teguh-


Saya terhenyak saat melihat kata-kata yang diposting oleh MT di atas saat menelusuri homepage Facebook saya. Bukan, bukan karena saya sedang mencintai seorang pemuda dan lalu ditinggalkannya menangis sendirian dalam kamar merutuki nasib yang tak berpihak pada saya. Sama sekali bukan. Kisah sepicisan itu, semoga tidak pernah singgah di hidup saya dan teman-teman semua.

Saya terhenyak sebab saya terkenang kembali kepada materi kajian rutin khusus perempuan yang diadakan sebuah lembaga dakwah di universitas saya siang tadi. Saya memang selalu menyempatkan diri menghadiri kajian tersebut setiap Jumat, semata-mata sebab saya tak ingin tenggelam dalam dunia kedokteran dan segala biokimianya sementara untuk agama yang saya pilih ini saya nihil terhadap berbagai soal dan fatwanya; hidup yang begini adalah naif menurut saya. Dan hari ini, saya kembali merasa tertampar tepat di jantung hati logika saya sebagai manusia.

Sang Ustadzah hari ini membahas banyak ayat sebagai bahan kajiannya yang tadi membahas tentang berbagai bentuk penyimpangan aqidah Islam. Menurut pemaparan beliau (yang saya yakini berasal dari sumber yang dapat dipercaya), kebanyakan golongan yang menciptakan "berbagai aliran baru" dalam usaha pendangkalan aqidah Islamiyah-nya menargetkan "penyerangan" pada sisi kemanusiaan Muhammad SAW sebagai rasul terakhir penyampai risalah agama terakhir bernama Islam ini. Mengapa pada beliau dan bukan langsung menggugat Alquran? Sebab menyerang Alquran adalah sama dengan menentang Tuhan. Ini sama dengan menawarkan diri untuk dibunuh, sebab konsep Tuhan adalah tak terbantahkan; tak bisa dibantah segala firman-Nya. Satu-satunya yang bisa dibantah adalah sang penyampai risalah. Ya, sebab, iajuga manusia dan pasti punya sisi kemanusiaan yang masih bisa diperdebatkan , bukan?

Betapa malangnya orang yang menganggap mutiara sama dengan kepingan kaca, begitu respon yang muncul dalam kepala saya saat Sang Ustadzah menyampaikan demikian. Maksud saya, dengan membidik "sisi kemanusiaan" Rasulullah SAW dengan menggunakan komparasi pengetahuan yang dimiliki seseorang yang berasal dari masa yang sekarang, ia sama sekali tidak sedang mengaplikasikan salah satu prinsip fisika mengenai frekuensi gelombang. Ya, mana mungkin bisa menelepon seseorang jika tak tahu nomor teleponnya? Gelombang antara kedua pesawat telepon harus pada frekuensi yang sama maka komunikasi dua arah bisa terjadi.

Maksud saya, sebagai contoh, bagaimana mungkin bisa kita menganggap Rasulullah SAW sebagai "manusia biasa" tanpa memberi asumsi pada diri kita sendiri bahwa kita adalah makhluk yang sama persis dengan beliau sehingga kalau kita bisa salah, maka begitu juga beliau? Jika kita bisa membual, maka beliau juga bisa. Jika kita bisa bersendawa, maka beliau juga bisa. Respon saya terhadap pendapat ini adalah kasihan. Kasihan sekali seekor semut membandingkan dirinya dengan tupai. Dalam hal ini, sang semut buat saya hanya sedang menghibur dirinya sendiri sebab meski sama-sama bisa merangkak dan memanjat pohon, tupai jauh lebih lihai dan ahli sehingga cepat bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya. Semut yang sangat patut untuk dikasihani dan patut ditawarkan terapi psikologis bukan?

Rasulullah SAW mustahil adalah "manusia biasa" sebiasa yang kita bisa tunjukkan. Iya. Mana manusia biasa hari ini yang rela memberi seluruh persediaan makanan untuk sadaqah sementara keluarganya sendiri tak mendapat apa-apa? Manusia biasa mana pada zaman sekarang yang bisa menggembalai ternak (yang jelas tidak bisa diberi perintah aba-aba seperti manusia, menggembala butuh kemampuan kepemimpinan yang ekstra) sekaligus menjadi advokat di tengah permasalahan orang-orang penting kenegaraan yang jauh lebih tua usianya dan bisa menghabiskan semalaman untuk berdiri di hadapan Tuhannya membaca berjuz-juz Alquran dan tenggelam dalam masyuknya beribadah sementara beliau sudah dipastikan masuk ke dalam syurga-Nya? Manusia biasakah pula ia yang pada masa kini malah dinobatkan menjadi orang paling berpengaruh nomor satu di seluruh dunia sepanjang masa? Wahai, mari membaca lebih banyak lagi, ini bukan manusia biasa yang bisa dengan mudahnya dibandingkan dengan kebanyakan manusia hari ini yang lebih peduli tentang kekenyangan perutnya sendiri daripada kemeranaan saudara-saudaranya!

Kembali ke pemaparan Sang Ustadzah, beliau menyambung dengan mengatakan bahwa kebanyakan penyimpangan interpretasi terhadap ajaran Muhammad SAW adalah disebabkan oleh degradasi kecintaan terhadap Muhammad SAW itu sendiri!

Saat itu, kami disuruh meletakkan buku dan alat tulis kami dan kembali membayangkan seseorang yang pernah kami "jatuh-cintai" saat masa-masa pubertas dulu. Mengenangkan kembali bagaimana berdegupnya jantung saat ia melintas di hadapan kami, rindu saat ia tidak ada di hadapan kami, dan begitu berdesir saat ada orang yang menyebut-nyebut namanya. Lalu ditanyakan oleh Sang Ustadzah, siapa di antara kami yang pernah merasakan hal yang serupa jika membaca buku sirah nabawiyah (buku sejarah kenabian) atau disebutkan nama Rasulullah SAW oleh orang lain di hadapan kita? Betapa kita masih belum punya cinta yang besar baginya, padahal dalam Surat Al-Hasyr ayat 7 Allah jelas-jelas mencantumkan patuh kepada Rasulullah SAW sebagai hal yang jika tidak dilakukan, akan mengundang azab yang serius.

"Dan apa yang didatangkan kepada kamu oleh Rasul hendaklah kamu ambil dan apa yang dia larang hendak­lah kamu hentikan; dan takwalah kepada Allah. Sesungguhnya adalah Allah itu sangat keras hukumNya." (QS Al-Hasyr : 7)

Ah, entah. Jika hati sudah keras, alasan sekuat apapun hanya akan terasa awan yang berarak; bergerak bersama angin, tapi siapa yang benar-benar merasakan kehadirannya jika kita dalam kesibukan masing-masing di bumi? Maka itu, saya tak akan berpanjang lebar dengan penjelasan ini dan itu terhadap mereka yang meragukan hadits Rasulullah SAW sebagai salah satu komponen pembentuk syariah dalam Islam.

Sang Ustadzah lalu tiba-tiba diam, beliau memutuskan untuk keluar dan berwudhu sebab tiba-tiba dikuasai emosi membicarakan orang-orang yang meragukan Rasulullah SAW dalam beberapa aliran. Sekembalinya beliau dari berwudhu, beliau membacakan ayat berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui." (Q.S. Al Maidah :54)

"Jika memang kita tidak bisa menegakkan agama ini, maka Allah akan menggantikan kita dengan ummat yang lain."

Deg! Digantikan? Digeser posisinya dan digantikan dengan kaum yang lebih baik? Bahwa cinta kepada jalan agama ini masi belum cukup kuat sehingga cinta ini akan diberikan kepada yang lain yang dianggap lebih bisa membuktikan cintanya?

Maka di sini saya jatuh lemas. Tiba-tiba saya sadar bahwa segala hal yang saya lakukan belum maksimal. Masih tertipu gemerlap dunia dan lupa menyelami dalamnya ilmu-Nya yang membuat rongga dada jadi terasa lebih terbuka. Bahwa saya adalah mahasiswi yang kadang hilang konsentrasi untuk kuliah juga adalah penulis yang lebih sering digiring mood buruk serta pengajar Bahasa Inggris yang belum maksimal membagi ilmunya bagi sesama dan masih banyak lagi amanah hidup yang di dalamnya bisa saya gunakan untuk menyebar cahaya iman yang dititipkan-Nya pada saya kepada orang lain. Tiba-tiba saya merasa menjadi muslim yang sangat egois. Hanya menikmati manisnya Islam kebanyakan sendiri dan belum bisa banyak berbagi.

Atau lebih tepatnya, bahkan mungkin memenuhi "tangki diri" sendiri masih sulit. Maka itu, dalam menyebar energi positif kepada orang lain pun ikut- ikutan tidak sepenuhnya! Saya teringat tadi pagi saat Dekan fakultas kami yang kebetulan memberikan kuliah tentang Filsafat Ilmu secara random menanyakan kami apakah tahu apa itu shalat Dhuha, apakah pernah tahajjud dalam sebulan terakhir, apa punya kelompok pertemuan yang bersifat saling mengingatkan secara keagamaan, dan ibadah-ibadah yang bersifat membangun diri sendiri lainnya. Saya teringat saya pun tak bisa menjawab semua pertanyaan kecuali dengan perasaan malu sebab belum maksimal pula dalam menjalani semua itu padahal sudah ada ilmu mengenai ibadah-ibadah tersebut. Lebih malu lagi, saat Pak Dekan menekankan sekali lagi kepada kami semua bahwa kami adalah muslim, dan bahwa kami familiar dengan istilah-istilah yang beliau sebutkan; karena ternyata ada yang hanya merunduk saat ditanya kapan terakhir kali shalat tahajjud!

Ah, Rabb, kami sangat malu. Sangat malu yang tak tahu hendak digambarkan yang bagaimana lagi. Saya tahu, mungkin beberapa yang membaca tulisan ini berpikiran, "Ah, konservatif sekali cara berpikirmu, masih menggantungkan diri kepada Tuhan yang sampai sekarang bahkan tak pernah menunjukkan diri-Nya di muka bumi ini!". Saya sudah siap dengan pendapat seperti itu. Awalnya saya pernah berpikir bahwa konservatif adalah terbelakang, sampai suatu ketika salah satu guru Bahasa Inggris di sekolah saya saat menyelesaikan SMA di Melbourne atas nama beasiswa dulu, Mr. Jackson mengakui terang-terangan bahwa ia penganut agama konservatif (baca : beliau adalah penganut Katolik) dan tak punya masalah dengan yang mengaku "modern". Saya pun lalu berpikir, ya, bukankah kita kadang-kadang bisa kagum pada sekumpulan hieroglyph yang berasal dari berabad lalu, padahal kita kini sudah hidup di masa-masa telepon tak lagi butuh kabel, dan surat bisa dikirimkan ke luar negeri dalam hitungan detik? Ya, sebab tak ada yang salah dengan masa lalu; masa depan tidak selalu berarti "lebih benar" bukan? Maksud saya, bahkan Pluto akhirnya tak lagi diakui sebagai planet setelah sekian dekade. Siapa tahu suatu hari nanti, Pluto dilabeli lagi sebagai entah benda antariksa lain lagi rupa!

Maka saya kembali terpaku saat menatap kata demi kata yang diposting oleh pak MT yang sempat saya jadikan status itu. Ah, pemandangan apa lagi yang lebih melukai hati daripada menyaksikan yang dicintai jatuh cinta kepada yang lain? Betapa sedih membayangkan bahwa Tuhan akan menggantikan generasi muslim yang sekarang sebab hanya bisa saling menyalahkan dan bukan malah menyatukan kekuatan untuk menurunkan tirani seperti yang baru saja berhasil dicapai saudara-saudara kita di Mesir sana? Betapa pedih jika ternyata cinta kita ini kepada-Nya belum pun bisa terbukti dan digantikan oleh kam yang lain. Cinta yang tak terbalas. Sakit sekali bukan?

Dan saya mengajak teman-teman semua untuk turut merasakan kesakitan hati yang saya rasakan sekarang. Sakit akan takut ditinggalkan oleh-Nya. Duhai, jika sudah ditinggalkan oleh-Nya, hendak ke mana lagi semua kaki ini pergi? Neraka tak sanggup, syurga pun masih belum tercium wanginya. Ah, Rabb, berikan kami kesempatan untuk bangkit lagi. Kesempatan untuk membuktikan bahwa kami adalah hamba-Mu yang bisa menyebar sebanyak mungkin kebaikan atas nama-Mu hingga nafas terakhir meninggalkan raga kami! Kabulkan doa ini, wahai Pengabul Doa, kami memohon pada-Mu, memohon dengan sangat!

Ketika ada yang memburuk-burukkan Nabi kita, atau menganggap ajarannya tidak valid (entah uji statistik apa yang digunakannya untuk mengatakan semua hadits yang disampaikan secara mutawatir [disampaikan oleh banyak orang dari generasi ke generasi] itu tidak bisa dipercaya), atau menggambar kartun tentangnya, atau lebih buruk lagi, menciptakan aliran lain dari Islam dengan mendiskreditkan segala ucapan dan perbuatan Rasulllah SAW dalam aplikasinya, kita sudah sepatutnya memberi reaksi yang sesuai kadar cinta kita. Tidak, saya sedang tidak mengajak teman-teman untuk mengadakan forum hujat-sumpah-serapah-berjamaah bagi mereka yang melecehkan nabi kita. Saya mengajak kita semua untuk introspeksi diri kita, seberapa besar sudah cinta kita kepada-Nya, Rasul-Nya, agama-Nya, dan dari pada menunjuk-nunjuki orang lain, lebih baik memperbaiki diri dan mengajak orang lain sama-sama memperbaiki diri dan proteksi diri dari bahaya yang lebih jauh atas fitnah terhadap nabi kita! Hanya sekedar mengumpat tak akan menyalakan lampu di tengah gelapnya malam, bukan?

Seperti kata Pak Dekan fakultas kami (baca : saya berkuliah di FK Unsyiah) saat kuliah yang saya ceritakan tadi, alangkah baiknya jika ilmu dan segala filsafatnya dipagari dengan mind-set Islam, filsafat yang telah terbukti bertahan lebih lama dibanding yang lainnya. Berkumpullah dengan sesama pencari ilmu, dan berdiskusilah dalam jangka waktu tertentu (seminggu sekali misalnya, begitu dicontohkan oleh Pak Dekan kami), kuatkan diri dan mata batin, lalu ajak semua orang untuk turut menguatkan diri dan mata batinnya.

Jika semua orang sudah tajam mata batin dan nuraninya, siapa lagi yang bisa menyesatkan pikiran (dan aqidah) kita? Dan semoga dengan kekuatan itu, Allah tak jadi menggantikan kita dengan kaum yang lainnya. Ah, sedih sekali tiap kali membayangkan cinta yang tak berbalas begitu. Sementara, cinta siapa lagi yang paling bisa memayungi kita selain cinta-Nya? Entah dengan teman-teman, tapi saya sudah "kenyang" dengan masa lalu yang pekat tanpa cahaya-Nya. Dan Allah lebih tahu akan segala ilmu.

I'm walking with my head lowered in shame from my place
I'm walking with my head lowered from my race
Yes it's easy to blame everything on the west
When in fact all focus should be on ourselves
(Maher Zain, Awaken)

Lamkeuneung, Sebelum Cahaya, 12 Februari 2011.

No comments:

Post a Comment