Tuesday, June 26, 2012

Lekar (lékar) dan Kematian yang Menyejukkan

Lagi browing-browsing daftar catatan sang pemateri di LKMM PEMA Unsyiah 2012 (Herriy Cahyadi). Sampai akhirnya, di satu tulisan ini, saya terdiam dan berpikir lagi; akan mati dalam keadaan apakah saya nanti? :'(




____________________________________________________________________



Saya punya lekar (lékar), buah idaman yang telah lama dinantikan, yang didapat dari nitip kepada teman yang tinggal di Bogor. Lekar itu terlihat kekar dan sangat menawan—setidaknya saya melihatnya seperti itu—saat menjadi “fondasi” al-Quran besar yang sangat saya cintai itu. Dan yang membuat saya senang, lekar tersebut asli buatan Bogor. Dibuat di Bogor, dijual di Bogor, dan dibeli di Bogor. Lekar yang setiap hari hingga detik ini tetap setia memangku al-Quran terjemahan dengan arti perkata keluaran Syamiil—beli diskon, alhamdulillah, saat IBF dua tahun lalu.

Setiap pagi (insyaallah), sesudah shalat Subuh berjamaah, lekar tersebut selalu saya angkat dan saya letakkan di pangkuan. Entah mengapa, ada perasaan yang membuncah saat meletakkan al-Quran di atasnya. Serasa kembali ke masa-masa terbatah-batah membaca ayat demi ayat. Romantik tradisionalis. Kita tak akan menemukan perasaan yang sama saat ayat yang sama kita baca dari depanlaptop atau layar HP. Bahkan dengan Quran Pocket seukuran lebih kecil dari A5 yang saya punya—hampir seluruh teman-teman saya punya itu. Dan, jreng, lebih lengkap dengan kalam lidi ala stylushkonvensional.

Lekar plus Qurannya selalu saya letakkan di atas tempat tidur, tepat di samping kepala saya. Bahkan, kadang saya peluk dengan mesra. Sering juga kepala terbentur ujung lekar, tapi dengan bijak dan kesabaran tingkat tinggi biasanya saya hanya berkata, “Aduh.”

Di lain tempat, jauh di atas sana—Mau tahu tempat paling dahsyat untuk murajaah? Ada. Di lereng Mahameru, di atas bongkahan batu, dulu diberi nama Cemoro Tunggal (satu-satunya cemara yang bertahan di suhu dan ketinggian yang ekstrim, tapi sekarang sudah menghilang akibat longsor), dengan inklinasi 45 derajat, melewati pepasir dua-langkah-maju-sekali-mundur, ditemani temaram cakrawala, angin berbisik menggelitik, dan kekuatan kaki berpasrah-ria. Sejenak anda berkontemplasi menembus logika yang tak pernah sanggup menjawab mengapa perasaan haru-biru itu hadir serta merta. Kemudian anda mulai berburai air mata, sambil bibir tak henti berucap. Di Subuh, yang matahari pelan-pelan malu mengintip dari balik horizon, merayap tak ragu menyinari pandangan tak berbatas. Di situ, di waktu itu, di momen itu anda akan menemukan aha moment bersama al-Quran.

Di tempat ini atau di mana pun kelak—Saya ingin di setiap aktivitas hidup segalanya tentang al-Quran. Jika saya harus tidur, maka di samping saya ada lekar dan al-Quran. Saat sejenak berhenti menjejak lereng-lereng puncak ketinggian, saya ingin melantunkan al-Quran. Seperti kekasih yang duduk di pinggir danau, lalu membaca surat cinta dari sang pujaan. Kalau perlu saya ingin seperti Narcisus yang tergila-gila dengan dirinya sendiri. Bagaimana dengan saya? Saya tidak punya surat-surat cinta dari siapapun. Yang saya tahu, saya hanya punya hafalan yang sangat sedikit. Namun, yang membuat surat cinta itu pun tak menuntut banyak bukan? Tidak untuk mempersulit.

Teringat kisah—entah nyata atau hanya kisah-berkisah—suatu hari terjadi kecelakaan motor. Seorang mahasiswa sekarat di tempat dengan motor yang ringsek, buku kuliah yang bertaburan, dan gadgetHP plus earphone yang kecipratan darah segar. Mahasiswa tersebut tak tertolong, menghembuskan nafas terakhir di perjalanan, setelah sebuah taksi dan beberapa orang yang iba membawanya segera ke UGD. Kolega dihubungi, ibunya langsung meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, sang Ibu—dengan wajah yang teramat sedih, orang-orang bisa melihatnya, tapi terlihat tegar itu—bergegas mencari sesuatu dari sang anak. Dokter dan orang-orang yang mengantar tadi keheranan. Mengapa si Ibu bukannya menangis dan atau setidaknya mencium kening anaknya yang terbujur kaku malah sibuk mencari-cari sesuatu. 

Si Ibu menemukannya. Sebuah HP touch screen yang masih menyala, lengkap dengan earphone dan Mp3 player built in yang masih on. Bahkan, earphone tersebut masih terpasang di telinga. Rupanya, orang yang mengangkat tubuh sang mahasiswa memasukkan HP yang tergeletak ke dalam saku celana korban—khawatir jatuh atau tercecer, dan lupa melepas earphone-nya.

Si Ibu dengan pelan mengambil HP tersebut dan memeriksanya. Melepas earphone yang masih menempel di telinga anaknya. Tak menghiraukan darah yang masih segar menempel, si ibu dengan tenang segera mendengarkan Mp3 yang masih menyala. Dan, seketika si Ibu tersenyum lalu meneteskan air mata. Terdengar halus si Ibu mengucap, “Alhamdulillah, subhanallah, Allahuakbar.” Orang-orang semuanya termangu. Terheran-heran. Si Ibu segera menatap bangga sang anak, dan seolah telah sangat siap melepas kepergiannya. Ia memeluk hangat dan membisikkan sesuatu ke telinga anaknya. Kemudian menyempurnakan kafan yang telah menutupi tiga perempat badan sang anak. Si Ibu pergi tanpa beban.

Seorang yang mengenakan peci putih—sepertinya sopir taksi—yang hadir di situ memberanikan diri untuk mendengarkan Mp3 yang sedang menyala menggunakan earphone yang masih terpasang. Betapa kagetnya ia, kemudian tersenyum, lalu menitikkan air mata. Ia hafal betul lantunan itu. Yā 'Ayyatuhā An-Nafsu Al-Muţma'innahu. Arji`ī 'Ilá Rabbiki Rāđiyatan Marđīyahan. Fādkhulī Fī `Ibādī, Wa Adkhulī Jannatī. “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”

Itulah yang menyebabkan si Ibu melepas anaknya tanpa beban. 

Saat ini—Sahabat, maukah saat ajal menjemput, ketika kita sedang mengendarai motor, menyetir mobil, berada di depan laptop, bekerja sambil asyik mengenakan iPod atau Mp3 player, dsb, kita mati dengan mendengarkan lagu-lagu roman picisan ala anak-anak band? Lagu-lagu—entah apapun itu—yang menjadikan kita lupa akan kematian?

Segera jadikan kuping kita sebagai “lékar” yang menampung alunan Sang Maha, memanggil-manggil,“Hai, jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Kita jadikan mata kita sebagai “lékar” yang menatap jauh ayat-ayat kauni-Nya, menampung ketidaksanggupan mata menahan rintihan lisozim, menghasilkan air mata kedamaian. Kita jadikan mulut kita otomatis—seperti orang-orang tua itu sering bilang, “Ngucap… ngucap… nyebut....”

Jangan sampai kita melewati seremoni kematian yang menyejukkan—kematian yang didampingi al-Quran.



*Al-Fajr 27-30.

No comments:

Post a Comment