Saturday, June 9, 2012

Ayah; Lelaki Terkasih yang Bukan Kekasih

Sedikit saya berbagi mengenai keluarga saya. Yang selalu menjadi inspirasi besar bagi saya. Yang menjadi tempat kembali di akhir hari. Yang memeluk dengan seluruh cinta meski diri tidak sempurna di sana dan di sini. Keluarga; satu anugerah yang Allah berikan kepada masing-masing kita. Yang ceritanya penuh lika-liku duri. Yang kisahnya menempa arti. Yang mendukung peran dari masing-masing kita di dunia ini.

Kali ini tentang Ayah. Lelaki terkasih yang bukan kekasih. Penggerak kebanyakan mimpi saya sejak kecil hingga kini. Profesi beliau sebagai pendidik (dosen) sedikitnya memberi warna pendidikan yang kental bagi kepribadian saya dan adik-adik. Bahkan mungkin terutama saya. Sebab di antara saya dan 3 orang adik saya, yang paling banyak menghabiskan masa kecil dengan ayah adalah saya. Sebab pada saat saya kecil dulu, saya dan ibu saya diboyong oleh ayah ke Bandung untuk studi S2-nya. Dan sejak kecil, saya rasa pengaruh buku-buku yang ayah saya punya besar sekali kepada cara pandang saya yang sekarang. Mengapa tidak, kerja saya jika sudah bosan adalah menelusuri judul per judul buku yang ayah saya miliki. Psikologi Perkembangan Anak, Reformasi Pendidikan, Psikologi Pendidikan, dan lain-lain. Tak heran jika sekarang saya jadi "schizophrenic" dalam hal tulisan; suka menggali hal-hal terkait pikiran manusia dengan cara yang, menurut teman-teman FLP Aceh, agak sedikit di luar jangkauan kewarasan pikiran. Hehe.

Sejak kecil pula, ayah selalu mengingatkan saya untuk belajar. Meski berkekurangan dan tidak pernah menghadiri bimbingan belajar tambahan apapun, saya selalu dituntun untuk belajar dari software soal-soal pelajaran di rumah. Atau saya juga selalu diarahkan untuk membaca satu set buku Bahasa Inggris untuk anak-anak. Bukannya dibelikan tamagochi atau kertas binder warna-warni (masih ingat kan, gimana nge-trendnya dua hal ini di tahun 90'an?), saya malah dibelikan kamus dwi bahasa (Indonesian-English). Walhasil, saya jadi sering menghabiskan waktu dengan "sok-sok" berbicara Bahasa Inggris dan jika sudah bingung dengan suatu kata, buru-buru mencari kamus. Sering berbicara sendiri di depan cermin sebab tak juga pernah ikut kursus Bahasa Inggris seperti kebanyakan kawan sekolah saya saat itu. Seperti orang gila? Ya! :D

Dan sekarang saya benar-benar berterima kasih dan bersyukur dengan semua hamdalah yang bisa saya tuturkan. Kebiasaan belajar sendiri itu akhirnya membuat saya tidak pernah tahu mengerikannya sebuah kompetisi. Saya selalu fokus pada apa yang bisa saya raih daripada membanding-bandingkan kemampuan saya dengan orang lain. Sehingga pada pertengahan 2005 lalu, ketika ada kesempatan beasiswa belajar di Melbourne, Australia oleh International Baccalaureate Organization dan King Khalid Islamic College of Victoria, yang difasilitasi oleh Forum Bangun Aceh, saya tidak gampang luruh oleh saingan-saingan saya yang pada saat itu sudah kelas 2 atau 3 SMA. Meskipun saya masih kelas 1, yang saya ingat adalah hanya tentang ayah saya. Beliau yang selalu mengajarkan untuk tidak obesesif dengan suatu keinginan. Sebab sekolah di mana saja adalah sama, yang terpenting adalah bagaimana cara kita bersekolah di tempat itu. Maka tujuan saya ikut tes tersebut tak lebih dari sekedar menguji potensi diri. Lalu ketika saya (rupanya) lulus, dan saat saya pikir saya tak akan diizinkan merantau lintas benua di usia yang masih 15 tahun itu, ayah saya malah berkata, "Boleh.", dengan sederet petuah termasuk salah satunya yang paling membekas hingga sekarang adalah,
"Kakak, tiap kali sedih atau rindu rumah, baca Alquran ya."
Betapa ruang duka dan luka segera tutup ketika berjumpa dengan kitab suci kita tersebut. Betapa nasihat itu membuat saya bisa bertahan di Melbourne selama hampir 3 tahun. Betapa justru selama di sana lah, saya jadi lebih akrab dengan Alquran, dan akhirnya memutuskan menyambung lagi tali "tarbiyah" yang sempat putus ketika kelas 1 SMA.

Sedikit mundur lebih jauh. Ketika saya masih SD, saya ingat saya adalah orang yang sangat suka mempertanyakan banyak hal. Sampai-sampai sekarang saya khawatir. Bagaimana jika "karma" berlaku, dan nanti suatu hari ketika saya juga punya anak yang mempertanyakan bahkan lebih banyak hal lagi? Duhai, itu sebabnya saya masih sering mengoleksi pertanyaan khas anak-anak (yang biasanya tingkat KEILMIAHANNYA tinggi sekali, yakinlah) beserta jawaban-jawaban yang mungkin diberikan sesuai dengan tingkat psikologinya. Jaga-jaga. :D

Nah, dulu, saya ingat sering menanyakan dua pertanyaan di bawah ini kepada ayah saya.

"Ayah, pelangi itu datangnya dari mana? Terbuat dari apa? Bisa dipegang?"
"Ayah, angin dari kipas angin itu datangnya dari mana? Kok nggak habis-habis?" 

Dan saya menanyakan pertanyaan di atas pada saat berumur 7 tahun. Masih juga menanyakan pertanyaan itu ketika saya berumur 8 tahun. Dan tahukah anda mengapa sampai setahun saya masih juga menanyakan hal yang sama? Sebab begini jawaban ayah saya terhadap pertanyaan saya,

"Belajar. Nanti kakak tahu sendiri jawabannya apa."

Yes, ladies and gentlemen, itu di atas adalah jawaban yang ayah saya berikan tiap kali saya bertanya ini dan itu tak berkesudahan. Akhirnya? Saya bosan sebab tidak juga mendapatkan jawaban dari beliau dan akhirnya SAYA MALAH MENCARI SENDIRI JAWABANNYA! Dan ternyata, itulah cara ayah saya menstimulasi keinginan saya untuk belajar. Sehingga untuk segala kehausan saya akan banyak hal di sekitar saya, semua koleksi majalah Femina milik ibu saya (tahun 80'an) di rumah habis saya lalap. Masih kurang juga, saya dengan entengnya datang ke tetangga buat minjam majalah-majalah mereka (ada yang tidak dikembalikan malah hihi). Banyak cermin di rumah pecah sebab saya uji coba dengan banyak hal (saya celup dalam ember berisi air hingga rusak, atau saya tembaki dengan pistol pelor mainan). Tiga kali komputer di rumah harus diinstall ulang sebab saya utak-atik dengan seluruh kesombongan. Dan masih banyak "bencana" lain yang saya timbulkan. Semua itu sebab saya ingin belajar. Ingin tahu banyak hal. Dan mengutip sebuah tagline iklan deterjen tertentu, "Belajar kotor itu baik!", agak rada saya paham itu maksudnya bagaimana! Hehe.

Ayah. Lelaki paling ganteng di rumah. Sebab tak ada lain lelaki dalam keluarga kecil kami. Yang lain semuanya adalah perempuan. Jadi tak heran jika ayah tak ada kawan menonton pertandingan bola lewat TV, kami ikut-ikutan terseret dan teriak-teriak (meski kebanyakan dari nonton habis buat ayah menjelaskan tendangan off-side itu apa, penalti itu apa, kartu kuning itu diberikannya atas dasar apa dll. Maklum, kami bukan fans bola hehe). Atau kalau antena TV di atap rumah jadi miring dan tidak bisa menerima resepsi sinyal dengan baik, kami juga ikut terlibat dalam "panjat-memanjat" buat membenarkan posisi antena. Dan sampai sekarang juga, ayah adalah sopir mutlak mobil Kijang di rumah. Kami belum ada yang bisa menyetir mobil. Insya Allah, saya harus bisa segera menyetir! *Target 2012 ini*.

Baiklah, itu dulu tentang keluarga saya, spesifiknya tentang ayah saya. Sekarang kami sedang hidup berjauhan. Ayah masih di Bandung menyelesaikan studi S3-nya sementara kami, yang kali ini tidak bisa diboyong karena sudah besar dan beberapa alasan lain, masih tetap setia di Lamkeuneung. Semoga ayah cepat selesai lalu pulang ya, kami di sini rindu! :)

Lamkeuneung, 9 Juni 2012, 08.46 WIB

No comments:

Post a Comment