Saturday, June 30, 2012

[Saya Baca Puisi] "Perempuan Cahaya di Taman Zikir" karya Helvy Tiana Rosa


Nomor satu, saya mungkin adalah orang keseratus enam puluh sekian yang melakukan hal yang sama; mengunggah video membaca salah satu puisi dari buku Mata Ketiga Cinta-nya kak Helvy Tiana Rosa. Yep, ini adalah dalam rangka Lomba Baca Puisi Mata Ketiga Cinta yang deadlinenya adalah 30 Juni 2012 (ya, hari ini!) pukul 23.59 WIB. Alhamdulillah, semalam sudah saya edit video yang baru ditake kemarin. Mengunggahnya membutuhkan sekian lama tapi alhamdulillah berhasil juga.

Nomor dua, pertanyaannya, mengapa puisi "Perempuan Cahaya di Taman Zikir" dan bukan yang lain (yang saya pilih untuk dibaca)? Jawabannya adalah sebab saya punya cerita tersendiri dengan puisi yang satu ini. Suatu hari di pertengahan bulan Juli 2007, ketika saya masih merantau di kota Melbourne, Australia (menyelesaikan SMA di Australian International Academy of Education atas nama beasiswa pasca bencana Tsunami), saya mencari nasyid-nasyid baru untuk didengar. Browsing tambah searching, saya mendarat di blog multiply-nya kak Helvy Tiana Rosa di mana ada sebuah nasyid berjudul yang sama dengan judul puisi di atas. Di sana ada keterangan bahwa nasyid tersebut ternyata memang disadur dari puisi tersebut! Silakan  dengar sendiri nasyid yang dibawakan oleh tim nasyid Faliq (Bandung) ini.

Maka saya pun kemudian mencari naskah puisi aslinya dan lalu ketemu. Coba dibaca di naskah "Perempuan Cahaya di Taman Zikir" langsung dari situs Multiply-nya kak Helvy Tiana Rosa

Deg. Perempuan. Cahaya. Saya kira, saya seperti menemukan filosofi yang menarik dari dua padanan kata tersebut. Sebab nama saya juga terdiri dari dua unsur kata serupa meski dengan urutnn yang sebaliknya; Cahaya (Nuril) dan Perempuan (Annissa). Tentu saja, nama saya mengalami distorsi transliterasi dari Arab ke Indonesia di mana harusnya Nur bertemu dengan Annisa (ya, harusnya huruf "S"-nya satu saja) itu menjadi "Nurunnisa" atau "Nurinnissa". Tapi membiarkannya demikian adalah sebuah keunikan. Identitas "Nuril Annissa" terlanjur sudah menempel. Maka berpegang pada makna namanya sajalah yang saya lakukan selama ini.

Kembali lagi ke "Perempuan Cahaya". Saya menemukan pendar tersendiri membayangkan ada seorang perempuan yang bersinar. Bersinar bagi sekitarnya. Menerangi ruang-ruang gelap bagi sesiapa yang kenal dengannya. Apalagi dalam nasyidnya, ada dialog yang masyhur dikaitkan dengan tokoh Rabi'atul Adawiyah, begini kira-kira bunyinya:

"Tuhan, bila sujudku pada-Mu karena takut neraka, bakar aku dengan apinya.
Bila sujudku pada-Mu karena damba syurga, tutup untukku syurga itu.
Namun bila sujudku demi Kau semata, jangan palingkan wajah-Mu."

Masa itu saya masih remaja. Masih alay dalam berbahasa. Masih labil dalam menghadapi berbagai gejolak perasaan. Dan nasyid ini berhasil membuat saya sadar bahwa semulia-mulia perempuan adalah "yang bercahaya". Yang selalu mengirimkan cinta hanya pada Allah. Yang bergantung pada Allah dan bukan pada makhluk yang fana. Dan begitu seterusnya kontemplasi terus berlangsung. Lalu sejak saat itu, saya bertekad akan kembali menggabungkan diri ke dalam "lingkaran cahaya" bernama tarbiyah (yang pernah saya geluti hampir selama 1 semester di SMA sebelum dapat beasiswa) sekembali dari Australia. Alhamdulillah, saya masih di "lingkaran cahaya" tersebut hingga kini. Dan saya menyesal; menyesal mengapa tidak sejak awal saya kenal nasyid ini dan terketuk kembali untuk bergabung dengan indahnya jalan dakwah ini sejak lebih awal.

Maka demikianlah, saya mulai menyebut diri dengan "perempuan yang bernama Cahaya" dalam prosa-prosa saya. Saya selalu ingin menjadi satu dari "ribuan perempuan cahaya" yang disebutkan dalam larik-larik puisi yang menginspirasi nasyid tersebut. Pun username blog ini saya buat menjadi "Perempuan Bercahaya". Semua itu doa. Sebab teramat sangat saya ingin menjadi sinar yang menerangi. Bukan yang menyilaukan. Bukan yang membutakan. Dan bukan yang melenakan. Amin. Amin. Amin.

"Tuhan, aku rindu menatap keindahan-Mu."

 Lamkeuneung, 30 Juni 2012

No comments:

Post a Comment