Monday, June 4, 2012

Sebuah Pesan dari (almarhumah) Diana Roswita

Saya memang terbilang bukan lagi anak baru di Forum Lingkar Pena Aceh. Tapi saya juga bukan bagian dari mereka yang membangunnya dari nol hingga yang ada di masa kini. Hingga saya lebih banyak tahu tentang banyak sesepuh dari sisa-sisa sesepuh pula yang masih ada di Banda Aceh. Salah satu sesepuh legendarisnya adalah kak Diana Roswita (sedikit ulasan tentang beliau pernah ditulis oleh kak Fardelyn Hacky yang juga sesepuh di Forum Lingkar Pena Aceh, baca di sini) yang sudah kembali ke haribaan Allah sejak 26 Desember 2004 silam, bersama dengan segerombol besar gelombang yang menyapu Aceh dan beberapa bagian lain di dunia ini; Tsunami.

Beliau sangat produktif pada masa itu. Terbukti dari beberapa buku yang pernah beliau tulis yang foto-foto covernya masih disimpan dengan baik. Cerpen-cerpen beliau yang pernah saya pribadi baca di majalah Annida juga sangat menggugah. Singkat cerita, saya selalu menjadikan beliau salah satu tokoh yang "mencambuki" saya tiap kali saya merasa enggan untuk berbagi inspirasi. Karena sungguh, jika sudah pergi dari dunia ini, apalagi yang bisa menyambung usia kita kecuali karya-karya kita misalnya tulisan kita? Seperti beliau. Yang meski tak lagi di sini, tapi masih tetap bisa berkelanjutan rantai-rantai kebaikannya insya Allah, seperti salah satunya yang di bawah ini. Berikut ini adalah tulisan tangan beliau yang diketemukan oleh salah seorang adiknya yang kebetulan adalah kawan saya saat masih Tsanawiyah (SMP). Tulisan itu ditemukan terlipat dan rada lusuh dalam lemari. Berikut tulisan dari penulis yang sudah menelurkan puluhan judul buku, cerpen, puisi dan tulisan lainnya di saat meninggal dalam usia 25 tahun tersebut. Serius, merinding membayangkan apakah nanti jika saya sudah tiada, tulisan-tulisan saya masih bermanfaat bagi orang lain apa tidak seperti kak Diana Roswita..



Diana Roswita (6 Agustus 1979 - 26 Desember 2004)

Tiga Menit Saja untuk Membaca Tulisan Ini

Waktu adalah salah satu milik kita yang paling berharga. Namun, sering kita lalai mempergunakannya. Pdahal satu detik saja waktu yang telah berlalu, tidak mungkin bisa kembali lagi. Nah... supaya waktu tidak lagi terbuang percuma, coba deh ingat-ingat beberapa hal berikut ini:

a. Mengingat tujuan penciptaan kita
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (QS Adz-Dzariyat: 56). Jangan dikira ibadah itu Cuma rukun islam yang lima saja lho... Sebenarnya setiap aktivitas kita bisa bernilai ibadah, apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara Rasulullah SAW (mo’ ke kamar mandi aja ada doanya, kan?).
Rugi sekali kayaknya kalau hidup yang cuma sekali ini tidak dijadikan sebagai wahana ibadah... Cuma seakan rame-ramein jumlah penghuni bumi aja! Jadi, supaya hidup lebih bermakna, waktu pun tidak terbuang pecuma, jangan lupakan ibadah anytime, anywhere ya... 

b. Mengingat jatah usia kita yang amat singkat
Sering kita tenang-tenang aja membuang waktu karena merasa usia kita masih muda, “jalanku masih panjang...!” kata alm. Nike Ardila. Padahal, siapa yang bisa menjamin kalau kita bakalan jadi kakek-nenek? Banyak lho orang-orang yang masih muda dari kita, yang udah duluan ‘say goodbye’ pada dunia... makanya... jangan sok imut ah...! merasa masih belia, padahal udah jengotan, hehehe...
Ingat lho, mati itu nggak kenal usia...! kalau ajal sudah datang, malaikat maut pun sudah menjemput, tidak mungkin kita bisa menghindar. Jadi, biar gak pada shock... siap-siap terusdeh mulai sekarang! Insya Allah kalo’ kita udah siap, yang namanya mati itu malah jadi terasa indah. Iya dong... kan mau jumpa sama Sang Kekasih, di istanaNya lagi...? (amin! 3x)


c. Mengingat waktu yang berlalu begitu cepat
Abdullah Bis Mas’ud R.A. pernah berkata: “Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku atas berlalunya suatu hari, usiaku berkurang, sementara amalku tidak bertambah.”
Nah... siapa yang mau meneladani sahabat mulia ini? Dijamin gak bakalan rugi...!!!

d. Mengingat tipu daya musuh-musuh Islam yang senantiasa melalaikan dan menjauhkan kaum muslimin dari pokok-pokok ajaran Islam.
Bukan rahasia lagi kalo yang namanya film, musik, permainan dan sarana-sarana hiburan lainnya kebanyakan dikuasai oleh orang-orang kafir yang memusuhi Islam... semua itu bukannya tanpa tujuan. Dengan hiburan-hiburan tadi, diharapkan kaum muslimin dapat terlena sehingga melupakan tugas utamanya sebagai khalifatullah di muka bumi. Nah, kalo’ ummat islam udah lupa diri... mudah sekali buat mereka untuk menghancurkan Islam! Makanya kita harus selalu waspada. Jangan mau ah, cuma dibujuk sama sinetron, sampai-sampai tega meninggalkan shalat! Kalau ikut kajian bawaannya ngantuk... melulu, karena semangat untuk menimba ilmu-ilmu keislaman itu tipis sekali. Tapi kalau nonton acara musik atau sepakbola di tipi, rasanya gak bosan-bosan. Nah... kalau kamu-kamu punya perasaan seperti  ini, musti waspada! Jangan-jangan kamu udah terkena racunnya musuh-musuh Islam (ghawzul fikri)... kalo udah kena, susah lho ngobatinnya. Akibatnya selain merugikan diri sendiri karena menyia-nyiakan waktu, juga dapat pelan-pelan bangunan Islam, baik sadar maupun tidak.

Insya Allah sampai di sini udah pada ngerti kan, kenapa waktu yang kita miliki tidak boleh disia-siakan? Alhamdulillah kalo udah. Kalo gitu... fastabiqul khairat yuk, supaya waktu kita yang masih tersisa benar-benar dapat terisi dengan kegiatan-kegiatan positif yang bernilai amal shalih di sisi Allah...



2 comments:

  1. Subhanallah, Tadi juga sempat baca-baca soal Almarhumah, keren. Jadi tambah semangat menulis :)

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah. Nah, Habib, masih alergi "tulisan panjang-panjang"? Ayo menulis! ^^

    ReplyDelete