Saturday, June 9, 2012

Suatu Senja bersama Kak Helvy Tiana Rosa



Dua hari yang lalu, cut kak Helvy Tiana Rosa datang ke Aceh (lagi). Pada kenal kan dengan beliau? Siapa tidak kenal salah satu pendiri utama Forum Lingkar Pena ini. Kedatangan beliau bukan yang pertama kali. Yang paling saya ingat adalah kehadiran beliau di akhir 2009 lalu di mana bersama kami anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP Aceh), kami mengadakan pementasan teater "Tanah Perempuan".

Nah, kali ini, beliau hadir ke Aceh untuk sosialisasi Sayembara Naskah Teks Pengayaan dari Pusat Kurikulum dan Buku, Dinas Pendidikan. Dalam rangka sosialisasi (plus silaturahim), beliau berkunjung juga ke FLP Aceh. Ceritanya itu Ahad kemarin, dari jam 2 hingga jam 4 sore. Setelah itu, rutinitas "budayawati"-nya kumat hehe. Beliau, dengan seluruh darah Aceh-nya yang bergelegak, beliau ingin membaca puisi di Tugu Ratu Safiatuddin, yang memang secara lokasi tidak jauh dari kesekretariatan FLP Aceh. Sore setelah ashar, meski rintik-rintik merinai lingkungan sekitar, kak Helvy tetap teguh ingin "melampiaskan" hasratnya. Akhirnya, dengan motor Revo hitam saya, kami meluncur ke sana didayang-dayangi oleh beberapa anggota-anggota FLP Aceh yang masih belum puas bercengkaram dengan beliau.

Di sana, kami menemui kendala. Kak Helvy ingin sekali melakukan "ritual"-nya di atas dinding di bagian bawah "Cap Sikureueng". Permasalahannya itu agak tinggi. Kalau berani bisa aja kami naik tanpa peduli keadaan sekitar. Tapi eh tapi, itu tugu letaknya di persimpangan jalan yang sibuk. Jadi pasti malu deh kalau asal naik gitu aja kan ya? Bingung sejenak deh. :|

Terus kak Helvy ada ide. Melihat tukang jualan gorengan yang punya beberapa kursi sebagai aset operasional mereka (duilah bahasanya), beliau berinisiatif untuk "menyuap" tukang jualan gorengan dengan transaksi beli gorengan seharga Rp 10.000 supaya dapat kursi! :D

Setelah bernego sejenak, akhirnya kursinya kami dapat. *TADA!*

Lalu, akhirnya beliau bisa juga naik ke atas panggung itu untuk membaca puisi. Lantang suaranya. Tegas tatapannya. Ah, begitu mencengangkan karakter kuat wanita yang satu ini. Makin saya bangga menjadi bagian dari perempuan Aceh. Beliau yang mengajarkan saya atas kebanggaan itu. 

Tapi sebab hujan dan suara kurang terekam dengan baik oleh handycam, maka kami akhirnya pergi ke Taman Ratu Safiatuddin yang lebih sering dikenal dengan taman Pekan Kebudayaan Aceh. Di sana, kami menuju anjongan Aceh Tengah lalu merekam beberapa puisi lagi. Termasuk saya juga ikut mencoba kebolehan, merekam pembacaan puisi "Cintaku Padamu"-nya kak Helvy Tiana Rosa dari buku Mata Ketiga Cinta. Nanti kalau sempat saya upload videonya. Soalnya ini saya nulis blognya di tengah rapat sih hehe, koneksi internetnya putus-maju plus banyak "lintas-masukan-kritik"-nya jadi agak kurang fokus.

Anyway, intinya, saya jadi belajar banyak. Belajar memaknai lingkungan. Belajar merasakan hujan dan rasa yang ditawarkan tanah Acehku ini bagi karya-karya kita sendiri. Jujur, saya sangat amat malu tiap kali melihat puisi-puisi atau tulisan kak Helvy yang sangat sarat ke-Aceh-an. Beliau, meski tinggal di Jakarta (atau lebih tepatnya Depok sih), masih tetap bisa merekam Aceh dan perempuan-perempuannya dalam berbagai kata dan karyanya. Saya, mulai sekarang berjanji, akan mulai lebih menghargai identitas Aceh yang melekat di diri saya.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata kak Helvy,
"Tiap kali orang bicara atau nyuruh kakak nulis tentang Kartini, yang kakak bayangkan selalu perempuan-perempuan Aceh; mereka lebih terasa kuat dan berkarakter."
Well, kak, we all are - always and have been - proud of you. :)


Kopelma Darussalam, 9 Juni 2012, 15:58 WIB

2 comments:

  1. Keren. selalu suka dengan semangat kak Helvy. Cuma pernah ketemu sekali dengan beliau. Semoga suatu saat bisa bertemau beliau lagi :)

    ReplyDelete
  2. Buku Prof. Dr. T Ibrahim Alfian, "Wanita-wanita Perkasa di Nusantara" sudah baca, Rin?

    ReplyDelete