Thursday, June 21, 2012

Tak Percaya Pada Angin


Aku tak pernah percaya pada angin. Tidak sekalipun. Aku memang lahir bersama riak gelombang yang disebut-sebut dikusiri oleh angin hingga gelombang tersebut sempurna mencium pantai, hingga buih-buih melemah menabrak pepasir di pesisir. Tapi, tetap saja kuanggap itu mitos. Dusta. Aku tetap tak percaya pada angin.

"Mengapa tidak?"

Aku mengangkat bahu.

"Tapi anginlah yang mendorong layar para nelayan. Sehingga mereka bisa pergi ke tengah laut, tangkap ikan, lalu pulang membawa cerita badai ini atau paus itu. Ha, kita pula yang senang dengar ceritanya. Tetap kau tak mau percaya?"

Aku kembali mengangkat bahu. Kali ini kulengkungkan bibirku ke bawah.

"Meski angin pula yang mempermainkan bebiji cemara untuk kita di tengah jenuh menatap angkasa?"

"Dari mana kautahu semua yang sudah kausebutkan itu benar? Mengapa kauyakin bahwa anginlah yang melakukannya untuk kita? Ia tak pernah wujud, kautahu itu."

Kutanyai begitu, wajah yakinmu mulai pudar didesak ragu.

"Aku,..", Kau menggantung bingung. "Tapi para camar yang cerita begitu."

Aku mendengus. Laut kembali menjilati pepasir di bawah kita lalu menyeret sejumput pasir menuju tengahnya bersama. Sering begitu, dan selalu, tentu saja tanpa kita diajak ikut serta.

"Menurutku camar-camar itu berbohong pada kita. Takkah kaukira begitu?"

Kaumenatapku kosong. Kaugeleng-gelengi angin asin di antara kita. "Aku tak pernah menganggap mereka berbohong sama sekali. Aku suka cerita mereka tentang Pesta Ombak saat purnama. Dan masih banyak cerita mereka; tentang manusia yang terjun dari tebing di Selatan, tentang kepiting-kepiting yang birit-birit lari dikejar anak-anak nelayan. Ah, kaupun kulihat suka curi dengar cerita mereka."

Seekor kepiting yang sesungguhnya menggelitik kita lalu pergi terbahak-bahak.

"Kaulihat? Kepiting itu mengejek kita lagi. Suka sekali ia mengerjai kita. Biar dikejar-kejar terus saja oleh anak para nelayan!"

Kaumenggerutu. Aku diam menatap ke depan.

"Aku tetap tidak percaya pada angin."

Kaubungkam. Horizon adalah titik tuju pandang kita bersama sekarang.

"Kaurindu mengapung-apung di sana lagi, bukan?" Tanyaku. Kau mengangguk pelan sementara matamu tak lekang dari garis lurus antara air dan udara itu.

"Itulah mengapa aku tidak percaya pada angin. Setiap hari kita ingin ia membawa kita kembali ke sana, tapi ia tak pernah menampakkan diri dan mendorong kita kembali ke sana."

Tiba-tiba kaumenoleh, "Kau bukan tidak percaya, kurasa. Kau hanya benci padanya."

"Ah, dua-duanya!" Aku gusar. "Aku tidak percaya padanya dan memang aku pun benci padanya!"

Lalu kita diam lagi. Memandangi titik yang makin mendekat ke arah kita. Saat titik itu sudah nyata di hadapan kita, seorang nelayan datang dan mengutip kita lalu membawa kita ke rumahnya. Sebelum bisa berkata apa-apa dan mengutuki sang nelayan, kita sudah dalam keranjang sampah.

"Dasar. Sudah begini zaman canggih, masih ada juga yang mengirim surat dalam botol seperti ini.", ujar sang nelayan.

Aku dan kau, dalam keranjang sampah, saling menatap lalu menghela nafas. Aku teringat beberapa tahun lalu, saat seorang tahanan penjara di tepi laut membuang kita ke laut lepas di luar jendela selnya.




Ujong Batee, Minggu, 04 Juli 2010, saat rihlah bersama Forum Lingkar Pena Aceh. Saat itu mendapat tugas menulis dengan 'arisan tema' di mana jatahku adalah selembar kertas kosong; justru tanpa tema! Maka kosong itu kuartikan angin. Dan jadilah ia seperti di atas.

No comments:

Post a Comment