Thursday, June 7, 2012

? (Tanda Tanya)


Dalam suatu kajian keislaman, saya diberi tahu oleh seorang ustadzah bahwa ada 3 tipe penanya di dunia ini berdasarkan shirah (sejarah) yang dipaparkan oleh Alquran dan hadits. Adapun ketiga jenis pertanyaan tersebut:

1. Pertanyaan versi para sahabat kepada Rasulullah mengenai apapun yang mengganjal dalam dirinya. Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan ada seorang sahabat yang bertanya apa makna dari rusaknya alas kaki yang digunakannya pada hari itu. Pertanyaan jenis ini muncul dari KEINGINTAHUAN YANG MURNI dan bukan didorong oleh KEINGINAN BERETORIKA dan PEMBENARAN terhadap keinginan personalnya.

2. Pertanyaan versi Bani Israil. Silakan telusuri sendiri Surat Al-Baqarah sebagai sampel nyata tentang bagaimana Bani Israil terus-menerus bertanya mengenai detil perintah menyembelih sapi betina yang lalu malah enggan untuk dilaksanakannya. Pertanyaan jenis ini didasari oleh POLITISASI ARGUMEN sehingga memiliki ALASAN untuk tidak melangsungkan perintah Allah.

3. Pertanyaan versi Nabi Ibrahim. Tentang beliau yang meminta ditunjukkan kekuasaan Allah agar LEBIH YAKIN dan bukan dimaksudkan untuk MENJEBAK SECARA RETORIS. Sehingga Allah pun menunjukkan kuasanya lewat empat ekor burung yang dibunuh dan tubuhnya dilumatkan serta disatukan. Kemudian tubuh burung-burung itu dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan di atas puncak bukit yang terpisah satu sama lain. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung tsb. Atas kuasa-Nya, burung yang sudah mati dan tubuhnya tercampur itu kembali hidup.

Nah, apa kaitannya klasifikasi di atas dengan judul catatan ini? Oh, bukan, maafkan saya jika ada yang mengira bahwa saya akan memaparkan opini saya mengenai film baru produksi Hanung Bramantyo yang kontroversial itu. Ingin memberi opini mengenai film tersebut, saya belum punya cukup uang untuk memproseduri sebuah film pembandingnya jadi saya tidak akan membahas hal tersebut dengan panjang lebar.

Yang ingin saya jadikan penekanan di sini adalah klasifikasi diri tentang tipe penanya yang dianut oleh masing-masing kita dan masyarakat hari ini. Ya, di bawah naungan versi yang manakah kita dalam mempertanyakan berbagai hal dalam hidup ini, sebenarnya? Sudahkah kita menempatkan jenis pertanyaan yang benar pada tempat yang benar atau kita hanyalah mutlak pewaris bakat Bani Israil dalam mengeluarkan pertanyaan?

Menyinggung sedikit beberapa aliran yang diklaim sesat oleh para ulama, saya banyak diinformasikan oleh pihak yang bisa dipercaya (insya Allah mereka tidak mengarang-ngarang berita sebab langsung mengalaminya) bahwa salah satu karakteristik utama mereka adalah menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan pemahaman personal dan interpretasi subjektif terhadap ayat-ayat mutasyabihat yang menurut mereka adalah "bahasa metaforis" yang menunggu untuk dipecahkan kodenya. Saat itu saya tertawa kecil mendengar cerita dari teman saya. Saya seperti mencium secebis obsesi menjadi Dr. Langdon-nya Da Vinci Code dan Angels and Demons selanjutnya. Dan ini lucu, sebab bagaimanapun juga kedua film layar lebar terasa "nyata"-nya bagi para penonton, kedua film tersebut tetap saja merupakan science fiction dan bukan documentary. Betapa naifnya, saya kira.

Namun ternyata ajaran itu terus berkembang sejak 2009, pertama kali saya mendengarkan cerita mengenai aliran ini hingga kini baru muncul fatwa mengenai kesesatannya. Dan rata-rata cerita, dilaporkan bahwa yang masuk ke dalam aliran ini bukan orang yang tidak tinggi pencapaian akademiknya. Maksud saya, betapa banyaknya orang-orang terkejut sebab mereka yang kini sudah bersama aliran tersebut (moga Allah menunjukkan lagi jalan-Nya pada mereka) adalah orang-orang yang berasal dari sekolah-sekolah yang dianggap cukup punya prestise di kota Banda Aceh. Sampai-sampai dalam suatu kelas tutorial di kampus saya, seorang dosen iseng bertanya kepada mahasiswanya, "Di antara kalian ada yang ikut aliran sesat, tidak?". Waktu itu semua mahasiswa yang tidak lebih dari 13 orang kesemuanya menggeleng. Lalu secara berseloroh sang dosen menyambung, "Berarti kalian semua bodoh."; lucu namun satiris sekali bukan?

Dan berdasarkan pendapat mereka yang pernah menghadiri kajian-kajian dari aliran tersebut, materi yang dipaparkan tidak akan terasa salah sama sekali jika dipikir-pikir menggunakan akal logika. Ya, logika. Lagi-lagi sebab dua bongkah jaringan lunak yang penuh pembuluh darah serta dihubungkan suatu jaringan yang semi-lunak di tengahnya itulah (baca : otak) manusia bisa binasa. Struktur yang terkait hingga ke ujung setiap kuku manusia ini sungguh menakjubkan hingga bisa menciptakan banyak pemikiran. Benda yang dengan baik sudah dilindungi Allah dengan tulang tengkorak yang tahan terhadap guncangan moderat ini ibarat pisau; potensial untuk memotong semangka namun juga bisa untuk menusuk jantung seseorang.

Mengutip pendapat seorang partner dalam dunia perdebatan, sebuah logika manusia, fitrahnya, adalah bisa dikalahkan dengan logika yang lain. Logika yang lain inipun, nanti pasti akan bisa dikalahkan oleh logika yang lain lagi. Logika yang lain lagi inipun, suatu hari nanti juga pasti akan dikalahkan oleh logika yang lebih baru lagi. Itulah mengapa orang-orang berani membuat lomba debat, dalam berbagai bahasa pula.

Lantas jika ada yang kurang begitu sesuai dengan akal kita dari yang tertera di Alquran dan Hadits, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Berdiam diri dan menerima segalanya dengan mata tertutup buta? Bukankah mengikuti segala sesuatu tanpa pemahaman mengenainya disebut taqlid? Bahwa amal tanpa ilmu justru adalah nol besar, bukan?

Dan di poin inilah manusia mulai berbeda sudut pandang. Ada yang memilih "studi eksplorasi" dan memutuskan untuk mempertanyakan setiap kejanggalan yang ditemuinya atas nama keilmiahan sejati ilmu pengetahuan. Ada yang memilih "studi analitik" dan memutuskan mencari alasan yang logis bagi setiap kejanggalan yang ditemuinya. Ada pula yang menerapkan "studi komparatif" dan membandingkan antara fakta yang dianggapnya ganjil dengan pendapat lain yang dianggapnya lebih logis, lalu mengambil keputusan berdasar pragmatisme keadaan. Dan masih banyak lagi keputusan-keputusan lain yang diciptakan makhluq yang dianugerahi sebungkus otak dan pikiran ini.

"Otak harus tahu diri.", begitu kata ayah saya suatu hari pada saya. Kalimat sederhana namun membuat saya berkontemplasi berhari-hari. Hingga lalu di kampus, salah seorang dokter yang masuk ke kelas kami, seolah menambahkan pendapat ayah saya. Kata beliau, "Hanya karena sesuatu tidak kita mengerti dengan baik, bukan berrati hal itu salah. Mungkin kita yang belum cukup pintar untuk memahaminya."

Ya, betapa naifnya jika ada di antara kita yang tiap kali menemukan hal-hal yang seolah tidak logis dalam agama kita, atau tidak dijelaskan secara gamblang dalam Alquran, langsung memvonis bahwa hal-hal tersebut adalah salah atau tidak valid. Bagaimana jika kitalah yang tidak "sepintar" itu untuk memahaminya! Bagaimana jika kita belum secerdas itu untuk mengerti jawabannya! Maksud saya, tidaklah etis memaksakan pemahaman ilmu biokimia pada seorang anak yang baru masuk TK kemarin yang bahkan belum bisa baca tulis, bukan? Pada orang dewasa saja, biokimia sering dimasukkan ke dalam list hal-hal yang paling sulit dipahami dalam hidup ini!

Contoh kasus yang saya maksudkan misalnya begini: Dalam berwudhu', menurut Imam Syafi'i, bersinggungan kulit dengan lawan jenis non mahram atas niat apapun akan membatalkan wudhu'. Lantas kita harus mengulangi lagi wudhu' kita, apakah kita harus mengulangi segala ritual mulai dari membasuh tangan hingga kaki kesudahannya? Padahal mungkin tadi hanya tangan kita yang terkena lawan jenis yang non mahram tadi. Tanda tanya yang muncul adalah, "Mengapa harus membasuh ulang semuanya, padahal yang "kotor" cuma tangan saja, sebab cuma tangan yang bersinggungan dengan lawan jenis non mahram tadi?"

Yang bisa menjawab soalan di atas dipersilakan untuk mensyarahkannya bagi semua, saya tak akan membahas di sini bagaimana kurang berbobotnya pertanyaan tersebut, pun sebab saya belum punay cukup ilmu untuk menjabarkannya secara hukum fiqh. Namun yang perlu digarisbawahi adalah pertanyaan macam inilah yang biasanya muncul atas nama mempertanyakan kejanggalan dalam beragama. Masih objektif jika nada yang digunakan dalam bertanya-nya adalah benar-benar ingin tahu mengapa. Namun bukan tidak sering, pertanyaan di atas ditanyakan dengan nada mendebat yang mempertanyakan kejanggalan tersebut atas nama logika.

Belum lagi mengenai kepercayaan terhadap hadits yang dianggap tidak ilmiah sebab sangat punya kemungkinan salah riwayat dan atau rusak matan-nya di tengah-tengah masa penyampaiannya kepada kita. Maka dari pada ragu dengan yang penjabaran para ulama yang toh juga manusia, lebih baik percaya pada Alquran saja secara singular, begitu pikir beberapa orang.

Lagi-lagi, penyalahgunaan struktur utama sistem saraf pusat itu terjadi. Ayat-ayat Alquran yang hanya menyuruh shalat namun tanpa penjabaran gerakan shalat yang mendetil membuat beberapa merasa bahwa shalat memang sebenarnya cukup dengan berdoa saja. Adapun gerakan-gerakan shalat ada beragam versinya jika dilihat dari berbagai mazhab, sebab disandarkan pada hadits-hadits yang antah berantah muasalnya. Bahwa berdiri, ruku' dan sujud tanpa benar-benar paham makna shalat yang sebenarnya adalah sia-sia. Menanggapi pendapat ini, saya cuma bisa berdoa, Oh Allah, ampuni kami yang merasa sudah cukup pintar dan berpendapat sesuka-suka kami saja.

Selamat datang ke dalam dunia ini, Kawan. Di mana masing-masing orang punya "Tanda Tanya"-nya masing-masing. Ada yang menjawabnya dengan keputusan prematur. Ada pula yang menunggu hingga pertanyaannya terjawab dengan sendirinya. Masing-masing berbeda, sementara pada akhirnya ada dua jalan di persimpangan; jawaban akan "Tanda Tanya" yang mengantar ke Neraka, sementara yang satunya lagi ke Syurga. Bagi anda yang tidak percaya pada konsep Syurga-Neraka secara hakikatnya, tentu pendapat saya ini terdengar sangat takhayulisme. Tak mengapa, insya Allah nanti setelah mati saja kita lihat, kebenaran mana yang berlaku. Sesederhana itu bukan?

Sebenarnya, kekhawatiran saya cuma satu, penyalahgunaan otak. Sebab kompleksitas kedua hemisfer otak sangat mengagumkan hingga kita tak pernah bisa menebak apa yang bisa melintas-lewati kepala kita ini. Dan selayaknya sebatang mangga yang ditanam di area manapun di Unsyiah, ia butuh pagar. Sebab kambing, sapi, dan kuda poni bisa saja tiba-tiba hadir dan memangkas habis pohon mangga kita, lalu hanya seonggok batang menentang langit sajalah yang tersisa. Ditambah lagi jika kita tak pernah menyiramnya, padahal kemarau sedang puncak-puncaknya dan siap membuat dehidrasi akut bagi siapa saja yang kurang cairannya. Otak, sekali lagi, menurut saya harus cukup sadar diri dalam bertanya. Bukan, bukan untuk berhenti bertanya, tetapi untuk mempertanyakan hal-hal secara bijak dan "berpagar". Sebab jika kita bisa tak percaya pada para alim ulama (semoga Allah melimpahi mereka berkah atas segala ilmu yang diwariskannya) karena mereka adalah manusia, seharusnya kita juga tidak boleh mempercayai diri kita. Anda tahu mengapa? Ya, sebab kita manusia juga.




Lamkeuneung, 11 April 2011, Sebelum Cahaya
"Karena aku manusia dan pikiranku bisa saja dirasuki bisikannya yang engkau kutuk selamanya, kumohon berilah petunjuk dari-Mu selalu dan tegurlah kami jika kami salah tangkap terhadap segala ayat-Mu. Sebab hanya Engkau-lah yang berkuasa penuh atas kebenaran yang hakiki. Kami mohon dengan sangat."

No comments:

Post a Comment