Tuesday, July 24, 2012

"Kebebasan itu, Nyata!" (Plesetan dari Kata-kata Iklan Sebuah Operator Seluler)

Masih ingat iklan salah satu operator seluler yang kontroversial itu? Berikut salah satu cuplikan dari iklan yang memang banyak versi namun tetap mengusung tema "Bebas itu Nyata" sebagai jargon produk internet connection terbarunya.



Nah, berikut PLESETAN  dari iklan di atas (yang harus saya sebut jauh lebih "masuk akal" daripada iklan di atas yang mengedepankan nafsu manusiawi sebagai ukuran kebebasan). Enjoy and contemplate!




Kebebasan itu, ilusi.

Katanya bebas berbusana apa aja. Giliran jilbab lebar dikit, celana di atas mata kaki dikit, dicap sebagai Wahabi.



Kebebasan itu, palsu.

Ini demokrasi bung! Siapapun bebas berpendapat. Tapi pas Islam dan jihad yang diomongin, langsung dibilang ekstrim, mau bikin negara Islam.

...



Kebebasan itu, nggak nyata.

Koar-koar, laki-laki dan perempuan itu harus setara. feminis lah, ke...setaraan gender lah. Tapi giliran benerin genteng ato ngangkat yang berat-berat, "Kok kamu tega sih, ngebiarin cewek ngelakuin kayak gini?"




Kebebasan itu, omong kosong.
katanya, bebas milih mau ibadah kayak apa. Pas teraweh beda rokaat, beda ormas, musuhannya udah kayak 7 turunan.

Kebebasan itu, bullsh*t.
Kita bebas mau jadi kayak apa: cowok, cewek, Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT). Tapi pas milih manjangin jenggot, dahi jadi agak item, eh langsung dicibir, konservatif lah, ekstrim lah, teroris lah, Arab lah, dan seterusnya.

Always On.
Islam itu, Indah.

[Sumber : fimadani.com - ubahan nasehat edisi iklan dari Ustadz Zia-ul Haq]

Sunday, July 22, 2012

Ramadhan Messages (part 3)

Kepikiran pas dalam perjalanan pulang dari mesjid Subuh tadi, 
kenapa ga coba me-Meme-kan Ramadhan Messages hari ini? Enjoy! J





________________________________________________________________




________________________________________________________________





________________________________________________________________



________________________________________________________________


Saturday, July 21, 2012

Ramadhan Messages (part 2)

Dapat inspirasi lagi pas pulang dari mesjid pasca shalat subuh tadi.
Ramadhan kareem, everybody! J




____________________________________________________________



Friday, July 20, 2012

Ramadhan Messages (part 1)


Sambil nunggu adzan Maghrib pertama di Ramadhan 1433 Hijriyyah iseng-iseng design yang di bawah ini.
Menggunakan Photoshop dan hasil browsing beberapa image di Google. Insya Allah bakal saya tambah selama Ramadhan. Pantengin terus ya!
Ramadhan kareem, everybody! J




____________________________________________________________




____________________________________________________________




Dokter Muda; Awal dari Hidup yang Penuh Ekspektasi Masyarakat

Tak terasa, tiba-tiba saja kami (saya dan 80'an mahasiswa kedokteran Unsyiah yang yudicium Mei lalu) sudah mengenakan jas putih lengkap dengan badge nama dengan predikat "DOKTER MUDA" di dada. Memang kami belum seutuhnya sah menjadi seorang dokter muda yang bertugas di rumah sakit pendidikan. Kami masih dalam fase Clinical Skill (tahap awal pemantapan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan selama proses Kepaniteraan Klinik atau dulunya lebih dikenal dengan kata "koas"). 

Mengenakan jas putih ini merupakan sebuah loncatan besar dalam hidup saya secara personal. Maksud saya, lepas dari ilmu yang masih berserak secara tak menentu di dalam setiap girus otak ini, yang masyarakat tahu adalah semua orang yang mengenakan jas putih ini "sudah" menjadi dokter. Tidak sekali dua kali orang tua atau saudara-kerabat-dan-handai taulan baik yang jauh maupun dekat bertanya tentang obat ini itu atau penyakit pulan pulin sementara yang ditanya masih sering menjawab dengan kerutan di keningnya. Sebuah stigma sudah terpasang secara otomatis pada diri mereka bahwa kami ini sudah sarjana. Kami ini sudah pantas mengenakan jas putih ini. Mereka tidak tahu bahwa badge nama kami predikatnya masih "DOKTER MUDA", plus masih dalam fase "orientasi" pula!

Tapi begitulah memang gambaran profesi ini. Ketika jas putih sudah dikenakan, semua asumsi tentang seorang penyelamat kehidupan berwajah teduh nan menenangkan pun tersemat dengan sendirinya. Demikianlah ekspektasi yang kebanyakan masyarakat miliki dalam kepala kita tiap kali mendengar kata "dokter" disebut. 

Padahal, mereka yang berjas putih itu belum tentu sudah jadi dokter beneran. Mungkin ia  masih mahasiswa Kepaniteraan Klinik. Atau ia sudah lulus Kepaniteraan Klinik tapi belum lulus UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Atau ia adalah seorang dokter yang sedang menjalani tahap internship (proses magang selama setahun di area yang ditentukan universitas setelah yudicium dokter & lulus ujian UKDI) dan lain-lain kondisi yang membuat seorang dokter sebenarnya belum "utuh" dan secara hukum belum boleh berinteraksi dengan pasien secara legal. Trust me, perjalanan menuju seorang dokter yang berhak memberikan pelayanan secara independen dari universitas/ institusi yang mendidiknya kini menjadi lebih rumit dan penuh ujian ini itu.

Lantas bagaimana dengan kami para "DOKTER MUDA" ini? Ya, lebih-lebih belum ada apa-apanya dibanding jenis-jenis dokter di paragraf di atas ini. Masih ciut sekali ilmunya. Masih minim sekali pengalamannya. Sekarang saya paham apa pentingnya belajar berkepanjangan (long-life learning) bagi seorang dokter. Sungguh, menjadi seorang dokter itu sama sekali bukan seperti menuang air panas ke dalam segelas mie instant. Seumur-umur, baru di serial House MD saya melihat ada dokter secerdas dr. Gregory House dan timnya; bisa kontan merespon begitu cepat dan tepat dalam masing-masing 1 episode saja tentang pelbagai penyakit mulai dari yang paling umum hingga penyakit paling langka di dunia ini. Padahal, menjadi seorang dokter seperti itu ternyata butuh bertahun-tahun pengalaman dan keinginan untuk belajar yang tak boleh putus; seumur hidup!

Hari pertama mengenakan jas putih ini, tangan saya gemetar, telapaknya dingin. Seperti ada sebuah mantera besar yang mengutuk seluruh kebahagiaan untuk keluar dari diri ini. Bahwa tidak ada lagi turning back. Selesai sudah semua keraguan yang biasanya menjalar di pikiran dan hati ketika masih mahasiswa. Baik pahit maupun kecut, semua jalan ini sudah kadung mengerucut. Harus dijalani.


Mulai sekarang predikat "DOKTER MUDA" ini adalah sebuah sumpah. Sumpah untuk tidak lagi boleh bersembunyi di balik kemalasan, ketidakdisiplinan, dan ketidaksabaran dalam menjalani hidup. Sebab setiap kemalasan, ketidakdisiplinan, dan ketidaksabaran yang terpupuk itu akan mengotori kepribadian luhur yang sedang kita bentuk; dokter. Karena bukankah dokter muda hari adalah dokter masa depan? Dan bukankah masa depan kesehatan negeri ini terletak di genggaman dokter-dokter muda hari ini? Maka adalah sebuah kewajiban untuk berbenah diri mulai sejak kini. Sebab kesemrawutan hari ini adalah chaos di masa depan.

Harus diakui bahwa selama masa pendidikan kedokteran kemarin,  banyak mahasiswa yang lebih sering mengeluhkan padatnya jadwal kegiatan akademik daripada mencoba sedikit saja lebih fokus dan menjalani semuanya dengan ikhlas. 

Memang, ada sekelompok orang yang benar-benar belajar dan menggunakan kesempatan, tapi lebih banyak lagi yang lebih peduli tentang mobil baru dan teman-teman hang out-nya daripada belajar studi kasus yang harus dipresentasikan keesokan harinya. Hasilnya? Bahkan mereka yang sedikitnya jadi "terpaksa" belajar sebab bekerja sebagai asisten laboratorium Anatomi/ Fisiologi/ Histologi saja (seperti saya, hehe) bisa kalang kabut tak karuan dalam mempelajari kembali segunung teori sistem organ manusia dan segala penyakit mengenainya. Kenapa? Karena ternyata ilmu kedokteran itu luas sekali saudara-saudara! Sudah belajar saja masih banyak tak pahamnya, apalagi jika tak pernah belajar sama sekali! 

Karena tidak lucu jika seorang dokter lupa bagaimana darah bersirkulasi di dalam jantung dan ke seluruh tubuh.

Sebab tidak lucu jika seorang dokter lupa tentang bunyi pernapasan normal dan semua mekanismenya.

Tidak lucu pula jika seorang dokter tak tahu apa obat yang harus segera disediakan untuk segala macam kasus keracunan atau alergi.

Masyarakat tidak mau tahu jika seorang dokter itu pintar atau tidak; karena seharusnya memang pintar! Masyarakat tidak mau peduli jika seorang dokter itu terlalu lelah untuk sekedar menyapa atau tidak; sebab memang harus selalu ramah! Dan begitulah terus berlanjut ekspektasi itu sampai kapanpun.

Tak bisa dipungkiri, mahasiswa kedokteran itu identik dengan "bling-bling". Kaya dengan semua rupiah orang tuanya. Mentereng dengan mobil mewahnya. Gaya dengan semua pakaian desainer ternamanya. Saya hampir menemui stereotype ini hampir di mana-mana di Indonesia.

Kenyataannya? Memang tidak sedikit mahasiswa kedokteran itu yang memang berada. Meski tidak sedikit juga yang ekonomi keluarganya pas-pasan. Biaya keperluan kuliahnya yang memang di atas rata-rata pendidikan tertier selevel universitas memang membuat seperti ada prestise tertentu bagi yang kaya untuk "membuang" uang di sini. Meskipun mereka yang tidak sekaya itu juga banyak yang bisa kuliah di kedokteran dengan beasiswa dan buku-buku pinjaman serta trik-trik lain yang memungkinkan hidup ini terus berjalan.

Di sinilah tantangannya. Mereka yang kaya dan terbiasa hidup nyaman sekalipun akan dihadapi ekspektasi yang sama dari masyarakat. Tak peduli berapa banyak pembantu yang kita punya, sekali mengenakan jas putih sebagai "DOKTER MUDA", bersiaplah sesekali dihina-caci oleh pasien yang ragu dengan jarum infus set yang tidak kunjung menemukan venanya padahal berkali-kali sudah kita tusuk. Tak peduli seberapa mengkilapnya mobil yang kita punya, bersiaplah untuk sesekali membersihkan luka penuh belatung milik pasien-pasien Diabetes Mellitus yang kita jumpai. Tak peduli seberapa terkenalnya kita sebagai seorang primadona di luar sana, menjadi "DOKTER MUDA" adalah tentang menjadi pelayan masyarakat yang harus senantiasa melayani mereka. Belajar dari semua pasien kita. Merendahkan hati tanpa keangkuhan di depan semua pasien yang kita sua.

Maka di sinilah kami memulai langkah menuju ke sana; berusaha memenuhi ekspektasi-ekspektasi itu. Berusaha belajar. Berusaha menalar. Mengenyampingkan latar belakang ekonomi dan kesukuan. Mengenyahkan kebanggan akan kebangsawanan dalam darah yang mengalir di dalam raga. Menyeimbangkan antara mimpi menjadi dokter yang baik dengan upaya yang sama beratnya. Berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam bidang ini. Meski tentu saja kami sangat mengharapkan masyarakat ingat satu kalimat saja tentang kami; dokter juga manusia.



Kampus FK Unsyiah, 20 Juli 2012.
Sambil menunggu kehadiran dokter spesialis untuk mengisi kuliah tentang Pemeriksaan Fisik Jantung. 

Sunday, July 15, 2012

Bentō Unik; Ada yang Lapar?

Pada tau apa itu " Bentō " kan? Kalau kata Wikipedia sih, Bentō (弁当 atau べんとう?) atau o-bentō adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik.
Bentō biasanya dikemas untuk porsi satu orang, walaupun dalam arti luas bisa berarti makanan bekal untuk kelompok atau keluarga. Bento dibeli atau disiapkan sendiri di rumah. Ketika dibeli, bentō sudah dilengkapi dengan sumpit sekali pakai, berikut penyedap rasa yang disesuaikan dengan lauk, seperti kecap asin atau saus uster dalam kemasan mini.
Ciri khas bentō adalah pengaturan jenis lauk dan warna agar sedap dipandang serta mengundang selera. Bento dapat pula dihias dan disusun rapi dalam gaya yang disebutkyaraben. Kemasan bento selalu memiliki tutup, dan wadah bentō bisa berupa kotak atau nampan segi empat dari plastik, kotak roti, atau kotak kayu kerajinan tangan yang dipernis. Ibu rumah tangga di Jepang dianggap perlu terampil menyiapkan bentō, walaupun bentō bisa dibeli di mana-mana. 
Nah, belakangan, Bentō ini mulai dilirik para pebisnis dan menjadikannya komoditas yang bisa diolah secara lebih kreatif. Sebut saja www.mymealbox.com, salah satu situs yang jualan Bentō dengan berbagai bentuk dan rupa, terutama karikatur-karikatur favorit anak-anak. Menarik sih, bisa jadi alternatif jika anak sulit makan (duileh gue sok ngerti gini huhu) atau sulit makan jenis makanan tertentu semisal sayuran. Kan, kalau udah lucu dan imut gini, siapa sih yang nggak tergoda? Cekidot deh hasil browsing kreasi Bentō yang menurut saya cukup unik-unik! Yummy, ada nggak yang mau bikinin saya salah satu di bawah? Pake ingredients yang halal thayyiban dan GRATIS, makasih. *mau enaknya aja hehe*



Ayo kita makan "orang yang sedang facial treatment" itu! Absurd banget ga sih?  Serem malah ini (-_-")



Siapa tega makan "Nintendo DS" sebegini imutnya ya? 


Ayo, ayo, "Dinasaurus" buat yang vegetarian =D

 
Awww, look at that "sheep", cutely sleeping. Siapa yang lapar, mari! =p


Ini mah lebih lama design bentonya daripada ngeludesinnya ini. Ada ya orang sesabar itu?!  (._.)a


Ini makanan apa boneka; kawaiiiii! :'D


Itu lukisan! Itu TV! Itu majalah! Bukan, itu BENTO! :O


Saya yang alergi sama kucing aja bakal demen sama yang ini, kalau semua ingredient halal! ;)


Awww, aren't they cute or what? XD


Sesame Street! Yes, who knows! :D


Anyone for a "full cup of BENTO"? :p

Ini, banget deh gue pengen punya yang begini *mata berbinar*


Biasa, demam Angry Birds...


Gue ngegambar yg beginian aja masih belepotan. Lha ini, dibikin dari makanan pula?! :o


Ini bener-bener deh. Ayo, ayo, yang mau makan "stik PS"! :D




Student Camp 2012 (4-7 Juli 2012), presented by Aceh Youth Institute


Para peserta putri Student Camp 2012 (pengurus Rohis yang akhwat se-Aceh)

Spanduk "selamat datang" persembahan bagi para peserta

Seluruh peserta Student Camp 2012 (pengurus Rohis dari berbagai kabupaten se-Aceh) 

Para peserta putri yang sedang jalan pagi melalui benteng Anoi Itam, tempat acara dilangsungkan

Para peserta puteri di atas tebing dekat benteng, agak-agak siluet.

Para peserta sedang mendengarkan materi di perbukitan
(di bawah itu langsung laut lho! Sayang agak mendung jadi warna turqoise -nya agak kurang tertangkap kamera)


Hidup; Belajar dan Mengajar



Hidup adalah BELAJAR. Belajar bersyukur meski tak cukupBelajar ikhlas meski tak relaBelajar taat meski beratBelajar memahami meski tak sehatiBelajar bersabar meski terbebaniBelajar setia meski tergodaBelajar dan terus belajar. Meski keyakinan setegar karang, karena menjadi kodrat bahwa hati seperti air lautbergelombang, pasang surut dan sering terbawa arus.


Dan lebih dari itu. Hidup juga adalah MENGAJAR. Tak lelah mewarnai. Setia menerangi. 
Ada untuk menginspirasi.


   

Suatu SMS dan balasannya, 5 Juli 2010

Thursday, July 5, 2012

Aku Malu Berbahagia



Padamu yang selama ini aku rindu
Dengan seluruh jantung
Dan gegap gempita mimpi
Untuk mengiringimu bernyanyi
Di tengah malam
Di bawah purnama sempurna
Bersama ceria jiwa seceria-ceria tawa

Padamu yang selama ini aku tuju
Dengan seluruh yakin dan ragu
Dan jejak-jejak berdebu
Untuk melayari sendu
Deru
Yang mendayu
Dipandangi purnama yang sendiri
Menatap iri jauh ke bumi

Padamu yang terus saja kutitipi cerita biru
Aku dan seluruh bongkah yang kunamai perasaan
Sunyi
Menderak
Yang paling melati
Dalam janji
Janji
Berkubang pasir
Dan
Ombak termesra yang pernah
Dikirimkan untukku

Ya, padamu
Padamu aku menyurut ulur
Untuk kisah yang paling langit
Yang paling mengemis duka

Sementara
Aku
Dan semua syahdu yang Maha
Maka aku
Masih menangis
Sebab sekian banyak
Jantung-jantung hatiku yang serak di serata dunia
Tak
Bebas
Tak
Lepas

Dan aku cuma bisa
Memandang
Membagi cerita
Tanpa bisa menyajikan
Barang sepotong
Purnama
Ombak
Lembutnya malam dalam selimut kelamnya
Bagimu
Di sana

Aku
Sebenarnya
Malu



Anoi Itam, Pulau Weh, 4 Juli 2012, 11:45 WIB
Ya, 15 Sya'ban 1433 H

"Sedang menjadi panitia acara Student Camp; suatu ajang kemah bagi perwakilan Rohis dari tiap kabupaten se-Aceh di Sabang. Dan semua suasana malam ini adalah sebuah mimpi-mimpi yang menyatu; sedang di dalam salah satu potret adegan ter-saya impi-kan dalam hidup ini. Kemah. Di tepi pantai. Deru ombak. Purnama pula. Tenang. Hanya jangkrik dan lain-lain elemen malam. Tapi, ada yang kurang. Ada yang masih kurang. Saya merasa egois sedang bahagia sendiri. Mengingat hidup yang terlalu lena. Tanpa bahkan secebis dari apa yang saudara-saudari kita rasakan di berbagai lain belahan dunia.

Maka di sini saya, berjanji. Akan memaksimalkan kepanitiaan ini. Sebab anak-anak muda Rohis se-Aceh ini adalah harapan baru. Salah satu penyambung rantai dari kebaikan dan cahaya yang menyirami Nanggroe ini. Lalu negeri ini. Lalu dunia ini.

Hingga suatu hari sepotong syahdu malam seperti di Sabang ini adalah milik semua yang mengaku beriman pada-Nya. Di Palestina. Di Burma. Di Afrika. Di Filipina. Di mana saja ada nama Allah diagungkan. Ya, seluruh DUNIA. Amin. Amin. Amin."




Sunday, July 1, 2012

Sillhouette


Beberapa koleksi foto yang saya ambil dengan konsep "siluet" di mana intensitas sumber cahaya harus tepat berada di objek foto dan harus cukup terang (tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap) agar si objek terlihat seperti "bayangan" padahal itu ialah sejati dirinya sendiri. Foto-foto ini diambil pada kondisi dan waktu yang berbeda. Ada yang diambil siang hari, tapi kebanyakan memang sore sebab kondisi yang sangat memungkinkan. Ada juga beberapa foto yang diedit kontrasnya agar siluetnya lebih menonjol. 
Enjoy dan mohon masukannya. :)



Sabang, 29 Februari 2012


Suatu siang di Pantai Alue Naga, pasca sebuah ujian blok, 2009




Adik pertamaku, menjelang maghrib di Lamnyong, Darussalam, 2008




Seorang rekan tentor SSC Banda Aceh, suatu siang  di Pantai Lhoknga tahun 2008



Seorang saudari, suatu sore di desa Alue Naga, awal 2012



Suatu pagi di pelabuhan Balohan, pulau Weh, pada tanggal unik; 29 Februari 2012





Suatu senja di atas Escape Building di Lampaseh Kota, Banda Aceh, Juli 2008



Saudari-saudari se-"lingkaran"-ku di Taman Kuliner Ulee Lheue, suatu sore di  akhir 2011




Suatu rehat di tengah pekerjaan sebagai interpreteur bagi mahasiswa John Hopkins University, Sabang, Februari 2008



Suatu senja di Taman Ratu Safiatuddin ketika masih berdanau dulu, Juli 2008 




Suatu senja di Taman Ratu Safiatuddin ketika masih berdanau dulu, Juli 2008