Friday, July 20, 2012

Dokter Muda; Awal dari Hidup yang Penuh Ekspektasi Masyarakat

Tak terasa, tiba-tiba saja kami (saya dan 80'an mahasiswa kedokteran Unsyiah yang yudicium Mei lalu) sudah mengenakan jas putih lengkap dengan badge nama dengan predikat "DOKTER MUDA" di dada. Memang kami belum seutuhnya sah menjadi seorang dokter muda yang bertugas di rumah sakit pendidikan. Kami masih dalam fase Clinical Skill (tahap awal pemantapan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan selama proses Kepaniteraan Klinik atau dulunya lebih dikenal dengan kata "koas"). 

Mengenakan jas putih ini merupakan sebuah loncatan besar dalam hidup saya secara personal. Maksud saya, lepas dari ilmu yang masih berserak secara tak menentu di dalam setiap girus otak ini, yang masyarakat tahu adalah semua orang yang mengenakan jas putih ini "sudah" menjadi dokter. Tidak sekali dua kali orang tua atau saudara-kerabat-dan-handai taulan baik yang jauh maupun dekat bertanya tentang obat ini itu atau penyakit pulan pulin sementara yang ditanya masih sering menjawab dengan kerutan di keningnya. Sebuah stigma sudah terpasang secara otomatis pada diri mereka bahwa kami ini sudah sarjana. Kami ini sudah pantas mengenakan jas putih ini. Mereka tidak tahu bahwa badge nama kami predikatnya masih "DOKTER MUDA", plus masih dalam fase "orientasi" pula!

Tapi begitulah memang gambaran profesi ini. Ketika jas putih sudah dikenakan, semua asumsi tentang seorang penyelamat kehidupan berwajah teduh nan menenangkan pun tersemat dengan sendirinya. Demikianlah ekspektasi yang kebanyakan masyarakat miliki dalam kepala kita tiap kali mendengar kata "dokter" disebut. 

Padahal, mereka yang berjas putih itu belum tentu sudah jadi dokter beneran. Mungkin ia  masih mahasiswa Kepaniteraan Klinik. Atau ia sudah lulus Kepaniteraan Klinik tapi belum lulus UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Atau ia adalah seorang dokter yang sedang menjalani tahap internship (proses magang selama setahun di area yang ditentukan universitas setelah yudicium dokter & lulus ujian UKDI) dan lain-lain kondisi yang membuat seorang dokter sebenarnya belum "utuh" dan secara hukum belum boleh berinteraksi dengan pasien secara legal. Trust me, perjalanan menuju seorang dokter yang berhak memberikan pelayanan secara independen dari universitas/ institusi yang mendidiknya kini menjadi lebih rumit dan penuh ujian ini itu.

Lantas bagaimana dengan kami para "DOKTER MUDA" ini? Ya, lebih-lebih belum ada apa-apanya dibanding jenis-jenis dokter di paragraf di atas ini. Masih ciut sekali ilmunya. Masih minim sekali pengalamannya. Sekarang saya paham apa pentingnya belajar berkepanjangan (long-life learning) bagi seorang dokter. Sungguh, menjadi seorang dokter itu sama sekali bukan seperti menuang air panas ke dalam segelas mie instant. Seumur-umur, baru di serial House MD saya melihat ada dokter secerdas dr. Gregory House dan timnya; bisa kontan merespon begitu cepat dan tepat dalam masing-masing 1 episode saja tentang pelbagai penyakit mulai dari yang paling umum hingga penyakit paling langka di dunia ini. Padahal, menjadi seorang dokter seperti itu ternyata butuh bertahun-tahun pengalaman dan keinginan untuk belajar yang tak boleh putus; seumur hidup!

Hari pertama mengenakan jas putih ini, tangan saya gemetar, telapaknya dingin. Seperti ada sebuah mantera besar yang mengutuk seluruh kebahagiaan untuk keluar dari diri ini. Bahwa tidak ada lagi turning back. Selesai sudah semua keraguan yang biasanya menjalar di pikiran dan hati ketika masih mahasiswa. Baik pahit maupun kecut, semua jalan ini sudah kadung mengerucut. Harus dijalani.


Mulai sekarang predikat "DOKTER MUDA" ini adalah sebuah sumpah. Sumpah untuk tidak lagi boleh bersembunyi di balik kemalasan, ketidakdisiplinan, dan ketidaksabaran dalam menjalani hidup. Sebab setiap kemalasan, ketidakdisiplinan, dan ketidaksabaran yang terpupuk itu akan mengotori kepribadian luhur yang sedang kita bentuk; dokter. Karena bukankah dokter muda hari adalah dokter masa depan? Dan bukankah masa depan kesehatan negeri ini terletak di genggaman dokter-dokter muda hari ini? Maka adalah sebuah kewajiban untuk berbenah diri mulai sejak kini. Sebab kesemrawutan hari ini adalah chaos di masa depan.

Harus diakui bahwa selama masa pendidikan kedokteran kemarin,  banyak mahasiswa yang lebih sering mengeluhkan padatnya jadwal kegiatan akademik daripada mencoba sedikit saja lebih fokus dan menjalani semuanya dengan ikhlas. 

Memang, ada sekelompok orang yang benar-benar belajar dan menggunakan kesempatan, tapi lebih banyak lagi yang lebih peduli tentang mobil baru dan teman-teman hang out-nya daripada belajar studi kasus yang harus dipresentasikan keesokan harinya. Hasilnya? Bahkan mereka yang sedikitnya jadi "terpaksa" belajar sebab bekerja sebagai asisten laboratorium Anatomi/ Fisiologi/ Histologi saja (seperti saya, hehe) bisa kalang kabut tak karuan dalam mempelajari kembali segunung teori sistem organ manusia dan segala penyakit mengenainya. Kenapa? Karena ternyata ilmu kedokteran itu luas sekali saudara-saudara! Sudah belajar saja masih banyak tak pahamnya, apalagi jika tak pernah belajar sama sekali! 

Karena tidak lucu jika seorang dokter lupa bagaimana darah bersirkulasi di dalam jantung dan ke seluruh tubuh.

Sebab tidak lucu jika seorang dokter lupa tentang bunyi pernapasan normal dan semua mekanismenya.

Tidak lucu pula jika seorang dokter tak tahu apa obat yang harus segera disediakan untuk segala macam kasus keracunan atau alergi.

Masyarakat tidak mau tahu jika seorang dokter itu pintar atau tidak; karena seharusnya memang pintar! Masyarakat tidak mau peduli jika seorang dokter itu terlalu lelah untuk sekedar menyapa atau tidak; sebab memang harus selalu ramah! Dan begitulah terus berlanjut ekspektasi itu sampai kapanpun.

Tak bisa dipungkiri, mahasiswa kedokteran itu identik dengan "bling-bling". Kaya dengan semua rupiah orang tuanya. Mentereng dengan mobil mewahnya. Gaya dengan semua pakaian desainer ternamanya. Saya hampir menemui stereotype ini hampir di mana-mana di Indonesia.

Kenyataannya? Memang tidak sedikit mahasiswa kedokteran itu yang memang berada. Meski tidak sedikit juga yang ekonomi keluarganya pas-pasan. Biaya keperluan kuliahnya yang memang di atas rata-rata pendidikan tertier selevel universitas memang membuat seperti ada prestise tertentu bagi yang kaya untuk "membuang" uang di sini. Meskipun mereka yang tidak sekaya itu juga banyak yang bisa kuliah di kedokteran dengan beasiswa dan buku-buku pinjaman serta trik-trik lain yang memungkinkan hidup ini terus berjalan.

Di sinilah tantangannya. Mereka yang kaya dan terbiasa hidup nyaman sekalipun akan dihadapi ekspektasi yang sama dari masyarakat. Tak peduli berapa banyak pembantu yang kita punya, sekali mengenakan jas putih sebagai "DOKTER MUDA", bersiaplah sesekali dihina-caci oleh pasien yang ragu dengan jarum infus set yang tidak kunjung menemukan venanya padahal berkali-kali sudah kita tusuk. Tak peduli seberapa mengkilapnya mobil yang kita punya, bersiaplah untuk sesekali membersihkan luka penuh belatung milik pasien-pasien Diabetes Mellitus yang kita jumpai. Tak peduli seberapa terkenalnya kita sebagai seorang primadona di luar sana, menjadi "DOKTER MUDA" adalah tentang menjadi pelayan masyarakat yang harus senantiasa melayani mereka. Belajar dari semua pasien kita. Merendahkan hati tanpa keangkuhan di depan semua pasien yang kita sua.

Maka di sinilah kami memulai langkah menuju ke sana; berusaha memenuhi ekspektasi-ekspektasi itu. Berusaha belajar. Berusaha menalar. Mengenyampingkan latar belakang ekonomi dan kesukuan. Mengenyahkan kebanggan akan kebangsawanan dalam darah yang mengalir di dalam raga. Menyeimbangkan antara mimpi menjadi dokter yang baik dengan upaya yang sama beratnya. Berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam bidang ini. Meski tentu saja kami sangat mengharapkan masyarakat ingat satu kalimat saja tentang kami; dokter juga manusia.



Kampus FK Unsyiah, 20 Juli 2012.
Sambil menunggu kehadiran dokter spesialis untuk mengisi kuliah tentang Pemeriksaan Fisik Jantung. 

9 comments:

  1. great sist...barakallah..semoga bisa memberi sumbangsih untuk masyarakat dan umat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. syukran jazakillah, amin YRA! sama-sama memberi sumbangsih bagi masyarakat! :')

      Delete
  2. semangat yoo koas nya..karena masa-masa inilah yg akan km kenang setelah menjadi dokter kelak.

    apalagi menjadi residen, rasanya lebih pait daripada koas. percayalah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasii, insya Allah harus semangat! jadi residen lebih pait lagi? :| *ngebayangin*

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. seneng bacanya kak... saya aja kalau liat doketr suka terkagum kagum..penegnnya saya jadi dokter kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, banyak manisnya banyak juga pahitnya dek, proses jadi dokter itu. tapiii, kalau memang berniat banget bercita2 jadi dokter, ayooo, insya Allah dikabulkan Allah :)

      Delete
  5. Saya sering memantau situasi di rumah sakit Zainoel Abidin. Menyenangkan bisa melihat banyak hal baru yang terus diperbaiki di sana. Semoga menjadi rumah sakit unggulan dari waktu ke waktu. Ini catatan ringkas saya http://nowayreturn.blogspot.com/2013/10/berempati-pada-abdi-negara.html

    ReplyDelete