Friday, August 31, 2012

Kembang Api



Melesat
Di tengah pekat hitam beludru dunia
Berpercik-percik
Kembara
Bunga
Menghias dirgantara
Mengundang kagum dan decak
Lalu hilang
Sama sekali hilang

Kecuali
Kau membakar satu batang lagi
Berpercik lagi

Monday, August 27, 2012

Seperti Pelepah Batang Pisang

Seperti pelepah batang pisang
Di luar sana
Sekarang
Bermain engklek kehidupan
Dengan badai udara
Yang lama sudah
Tak lagi hinggap di Banda

Seperti menarik ulur
Semua bunga-bunga calon pisang penuh dengan Kalium dan gula-gula
Angin dan pelepah batang pisang berseteru

Pelepah batang pisang itu diam bisu-bisu
Ianya bukan selimut bagi jantung yang memerah darah
Padahal ianya adalah jubah bagi batang yang berbuah itu
Sesekali oleh pedagang di pasar
Ia pula jubah bagi banyak buah lain serupa Timun Suri
Namun
Tidak
Bagi
Jantung hatinya sendiri




Dan seperti pelepah batang pisanglah
Jiwa tertentu menyaru seru segala penjuru
Menjadi umpan bagi sapi-sapi yang berkandang aspal jalan raya
Menjadi tandan penadah air
Menjadi rakit bagi banjir-banjirnya selokan manusia
Menjadi puisi bagi blog-blog yang tak ada kerja
Tapi
Bukan
Menjadi
Bungkus
Kisah kasihmu.


Annissa, 27 Agustus 2012

Saturday, August 25, 2012

Ketoprak Hati



Bebas
Lepas
Bosan
Lari
Sembunyi
Diam
Menolak untuk bersuara
Merasa bodoh
Tak ingin terbang
Enggan melenggang
Malu memuji nama
Ribut di balik rusuk
Tak boleh punya pendapat
Bukan yang terbaik
Penat
;
Campur semua dengan sambal terpedas
Itu
Kau makan
Lalu
Kau teguklah itu air laut yang paling garam
Bergantang-gantang

Beri tahu aku
Ketika ginjalmu
Tak lagi
Bernyawa

Thursday, August 23, 2012

Adalah Fana Adalah Baka


Adalah fana
Antara aku dan segenap semesta
Tiap jelujur yang kutisik pelan-pelan
Dari fajar hingga senja meredam
Jingga
Lalu ungu berpendar
Itu fana

Maka pada yang baka
Aku menyerah; Dia

Annissa, 23 Agustus 2012

Wednesday, August 22, 2012

Ujianmu Vs Ujian Para Nabi & Rasul; Siapa Lebih Berat?

When you’re hurt by people who share the same blood as you, then just remember Yusuf (AS), who was betrayed by his own brothers.
Jika engkau dilukai oleh saudara sedarahmu, ingat bagaimana Yusuf (AS) yang pernah dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri. 


If you find your parents opposing you, remember Ibrahim (AS), whose father led him to the fire.
Jika orang tuamu menentangmu, ingat bagaimana ayah Ibrahim (AS) pernah melemparkannya ke dalam membaranya api.


If you’re stuck with a problem where there’s no way out, remember Yunus (AS), stuck in the belly of a whale.
Jika engkau terperangkap dalam suatu masalah yang engkau bingung mana jalan keluarnya, ingatlah bagaimana Yunus (AS) pernah terperangkap di dalam perut ikan paus. 


If you’re ill & your body cries with pain, remember Ayoob (AS) who was more ill than you.
Jika engkau sakit dan tubuhmu penuh dengan rasa sakit, ingat Ayyub (AS) yang pernah merasakan penyakit yang lebih sakit daripadamu. 


When someone slanders you, remember Ai’sha (RA) who was slandered throughout the city.
Jika ada seseorang yang memfitnahmu, ingatlah bahwa Aisyah (RA) juga pernah diberitakan dengan kabar dusta di serata kota. 


When you’re lonely, recall Aadam (AS) who was created alone.
Jika engkau merasa sendiri, ingatlah Adam (AS) dulu diciptakan juga dalam keadaan sendiri.


When you can’t see any logic around you, think of Nuh (AS) who built an ark without questioning.
Jika engkau tak menemukan alasan logis apapun atas apa yang terjadi, ingatlah bagaimana Nuh (AS) tetap membangun kapal tanpa banyak bertanya. 


If you are mocked by your own relatives then think of Prophet Muhammad (SAW).
Jika engkau diejek-ejek oleh kerabat-keluargamu sendiri, maka pikirkanlah tentang Nabi Muhammad (SAW). 


Allah (SWT) put these Prophets to trial, so that later generations may learn a lesson of patience & perseverance.
Allah (SWT) memberikan ujian bagi semua nabi dan rasul di atas sehingga generasi kita bisa memetik pelajaran tentang sabar dan keteguhan dalam berjuang. 


May Allah SWT give us perspective & understanding. Aameen.
Semoga Allah (SWT) memberikan kita pandangan hati yang tajam dan pemahaman yang mendalam. Amin.





Jika langit saja bisa lapang, mengapa dada kita tidak bisa sama lapangnya dalam menghadapi ujian. Langit itu makhluk "mati" sementara kita ini "hidup", lengkap dengan akal! 



Padang Tijie, 1 Syawwal 1433 H


Masjid tempat di mana kami sekeluarga Shalat Id, 1 Syawwal 1433 H. Masjid ini terletak dekat dengan Pasar Padang Tijie. Orang-orang sering menyebutnya "Masjid Bulat", atau "Masjid Batok Kelapa", atau "Masjid Padang Tijie". Nama aslinya? Saya juga tidak tahu hehe.

Jalan raya yang menelusuri desa Peudaya, Padang Tijie

Rasanya cuma tiap Idul Fitri saja saya dan ketiga adik-adik saya bisa foto bareng  \(^o^)/



Kacan tojin, keripik pisang, dan seupet; khas Hari Raya! :D



Monday, August 20, 2012

Para Pasien Korban Sinetron




Cairan Infus



DC Shock yang Over-dramatised



Rambut rontok = Leukemia |  Bentur kepala = Amnesia | Cek DNA = Jaga-jaga  anak tertukar



Ketika Adinda Zuhra Menjadi Paskibra


Momen membanggakan ketika si adik saya nomor dua, Zuhra Sri Mulyani, berjalan dengan tegapnya sebagai Paskibra Provinsi Aceh, 17 Agustus 2012 silam. Foto di bawah adalah salah satu shot yang saya dapatkan dengan kamera Samsung PL90 saya. Diambil ketika "Upacara Penurunan Bendera" di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, sore (sekitar pukul 6). Pingin datang pas upacara pengibaran benderanya, saya udah ga sanggup lagi sebab semalaman i'tikaf (ini kan kejadiannya pas Ramadhan 1433 H), walhasil kami sekeluarga baru bisa hadir ke upacara sorenya.





"Paskibra bukan tentang postur tubuh, tapi tentang kemauan."
Zuhra Sri Mulyani, 2012


ps: Saya jelas-jelas resesif secara morfologi baik di berat badan maupun tingginya dibanding semua adik-adik saya yang lain. Jadi jika ada yang ingin bertanya apakah saya juga dulu bagian dari Paskibra, urungkan saja niat teman-teman sebab saya memang bukan beginian jalan hidupnya, hehe. Meskipun memang Paskibra bukan (cuma) tentang fisik yang tegap dan kuat serta sehat, tapi banyak hal lain ke dalamnya (kata si Zuhra ini ya) yang dibutuhkan. Apapun, tetap semangat berkarya dan "menyalakan lilin" dengan cara kita masing-masing dalam menerangi negeri ini! MERDEKA! :)

Thursday, August 9, 2012

Suatu Malam di Masjid Preston; Ukhuwah di "Rusuh"-nya Shaf Jama'ah


Gedubrak, seorang kanak-kanak yang berlari-lari di antara shaf menabrak kepalaku saat aku melakukan ruku’. Tak hanya kepalaku yang menjadi ‘korban’; kepala-kepala akhwat lain yang juga sedang melaksanakan shalat tarawih di suatu Ramadhan pada tahun 2007 di mesjid Omar Ibn El-Khatb Preston ini juga ikut menjadi timbalnya.
“Sabar, sabar” batinku setelah menyelesaikan dua rakaat pertama tarawih tersebut. Setiap malamnya, suasana yang harusnya khusyuk dan tenggelam dalam penyerahan diri kepada-Nya ini harus diwarnai berbagai macam ‘drama’. Mulai dari ibu-ibu yang tetap berbicara selama azan dikumandangkan, teriakan (well, mungkin lebih tepatnya ‘gelegar suara’) seorang wanita Lebanese menyuruh untuk merapatkan shaf-shaf dalam bahasa Arab (yang bukan Arab ya mana ngerti!), tertimpanya kepala seseorang oleh (maaf) pantat seseorang yang lain di shaf depan, dan masih banyak lagi.
Yang paling mengganggu bagiku pada saat itu secara pribadi adalah keriyuhan anak-anak yang ikut orang tuanya; nakalnya itu lho, gak tahan! Ada yang lari ke sana kemari (sebenarnya saling kejar-mengejar), ada yang bawa lari sajadah orang lain, ada yang lompat-lompat bak Australian Idol di tengah-tengah shaf de el el. Kacau deh, apalagi hari-hari pertama ramadhan di mana mesjid selalu bisa dipastikan penuh sesak oleh jamaah. Coba datang sedikit telat, otomatis tempat yang tersisa ya shaf-shaf bagian belakang, tempat di mana anak-anak ‘diamankan’ oleh orang tuanya. Apesnya, aku sering termasuk salah satu yang datang telat itu. Jadi bisa dibayangkan, ‘ujian’ macam apa yang diberikan Allah untukku pada malam-malam tersebut.
Tuhan, kalau bukan karena aku tidak punya pilihan lain melainkan untuk ikut kemana guardianku atau (sahabat karibnya jika beliau terlalu lelah untuk ke mesjid) pergi untuk tarawih, maka aku sudah melesat ke mesjid yang di Reservoir, Coburg, Fawkner atau Brunswick sendirian untuk shalat tarawih. Semua suburbs di atas memang terjangkau dengan mudah dari daerah tempat tinggalku, hanya saja pada malam hari transportasinya sudah sulit didapati. Lagipula, yang sedang kita bicarakan ini adalah AustraliaVictoria lagi! Malam-malam begitu, jangankan perempuan-perempuan berkerudung bernama muslimah yang memang sudah sering ‘dikerjai’, lebih dari 70% warga asli Aussie sendiri mengakui bahwa mereka tidak merasa aman untuk keluar pada malam hari. Seberapa seringnya bisa didapatkan berita bahwa seseorang menghilang setelah terakhir kalinya terlihat hendak membeli suatu keperluan pada malam hari atau raibnya seorang remaja tanggung yang terakhir kalinya terlihat sedang bersepeda pada malam hari? Mate, it is not that safe down there in Australia!
Aku ingat, saat itu sekonyong-konyong aku merasa badanku diangkat seseorang. Oh Tuhan, wanita itu lagi! Ya, aku benar-benar baru dipindahkan ke shaf di depanku! Kalau tidak ingat menahan marah itu sunnah Rasul, rasanya pengen aksi demo besar-besaran deh. KDM ini; Kekerasan Dalam Mesjid! >.<


Nah, seusai shalat, kami (aku dan saudara angkatku) biasanya akan menunggu di dalam mesjid karena lautan manusia yang berusaha mem-browse sepatu-sepatu mereka di pintu keluar sangat menakutkan. Bisa-bisa kami ikut terbawa gelombang manusia itu dan hilang di antara serakan sepatu.
“Assalamu’alaikum Annisa…”, sapa seseorang yang diikuti pelukan hangat dari belakang punggungku. Kutolehkan kepalaku saat ada sapaan tiba-tiba saat itu. Dan oh, ternyata itu suaranya Amatullah!
“Wa’alaikumussalam warahmatullah…apa kabar, Ma?” balasku tak kalah hangat. Wajah oriental Amatullah masih sumringah; kami memang sudah beberapa waktu tidak bertemu, hanya komunikasi lewat SMS. Muallaf asal Palembang berdarah Indo-Cina yang sudah beberapa tahun menetap di Melbourne itu benar-benar membuatku kagum. Perjuangannya dalam menemukan kebenaran dalam Islam patut diberi salute. Betapa ia diperkenalkan kepada Islam oleh ‘pacar muslim’-nya (yang lalu diputuskannya setelah ia memeluk Islam, alhamdulillah), betapa ia menyuruh sopirnya untuk memutar-mutar rute pulang sekolahnya agar ia bisa punya waktu untuk menghafal Al-Fatihah, betapa ia diam-diam belajar membaca Al-Quran dengan pembantu di rumahnya… subhanallah, bahkan betapa tegarnya ia dalam meninggalkan rumahnya karena perubahannya tidak direstui oleh ayahnya! May Allah bless you with His mercy…




“Assalamu’alaikum…gimme five man!” , satu lagi wajah ‘lama-tak-berjumpa’ muncul. Kubalas salam dan hi five-nya dan kutanyai kabarnya. Brooke, seorang muallaf berdarah Australia yang juga diperkenalkan kepada Islam oleh ‘pacar muslim’-nya di Amerika, menjawab bahwa ia baik-baik saja. Ketegaran Brooke juga kukagumi dalam diam di hatiku. Setiap kali kulihat dia, aku malu dengan diriku sendiri. Keputusannya untuk mengenakan jilbab on a constant basis misalnya, benar-benar kontras dengan kebiasaan an aussie-ocker-girl yang lebih gemar ber-tanktop dan short ria. Dalam balutan keislamannya, ia masih bekerja sebagai pekerja sosial untuk anak-anak. Personalitasnya yang cenderung diam tapi bisa bercanda ini juga menarikku. Di balik kerenyahan candaannya, Brooke adalah satu dari sedikit orang yang kudekati untuk berdiskusi tentang kehidupan dan keputusan-keputusan bersangkutan, termasuk keputusanku untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah di Banda Aceh.
Kadang-kadang aku bertanya sendirian; bagaimana dan kapan sebenarnya kami berkenalan? Mereka yang berumur 25 ke atas dan merupakan kenalan guardian-ku (baca: orang tua asuhku selama di Australia) pada awalnya menjadi bagian hari-hariku di Melbourne di tahun 2005-2007 (saat aku mendapat kesempatan menyelesaikan SMA di Australian International Academy of Education, Melbourne, pasca bencana Tsunami 2004) itu. Belum lagi Roula, seorang gadis Yunani yang ‘menebalkan’ mukanya di depan ibunya yang masih Kristen Ortodox setiap harinya saat ia keluar dengan abaya dan scarf-nya. Keantian ibunya pada Islam sampai pada ia tidak sudi memasak atau makan daging halal yang dibawa pulang oleh Roula. Roula, yang bersifat lembut dan tidak banyak berdebat amazingly bisa bertahan untuk tetap tinggal di rumah ibunya.
Ternyata ada banyak hikmah di balik semua ‘kekerasan’ yang terjadi di mesjid Preston itu; ada banyak ukhuwah yang tersambung sana-sini. Selayang kulayangkan pandangku ke sekitar waktu itu; ada yang saling kecup pipi, saling bertanya kabar, saling bertanya-tanya…ah, indahnya ukhuwah. Begitu juga dengan aku hari ini, bertemu lagi dengan ketiga saudariku yang sudah kurindu selama beberapa bulan sebelum Ramadhan kali itu.



Kini, aku rindu mereka lagi. Tak bisa kupungkiri. Dan doa-doa menjadi saksi bahwa cinta dan ukhuwwah ini masih bermekaran di hati. Meski wajah tak lagi bertatap diri. Meski jarak memisah jauh dan waktu belum memberi izin untuk bertemu lagi. Karena bukankah ukhuwah itu tetap bercahaya, meski kita tak lagi bersua. Biar di sana saja, di syurga-Nya, kami bisa reuni semula. Amin.  :")

Monday, August 6, 2012

[Cerpen] "Aku, Sabah, dan Sama"


Udah pada beli kumpulan cerpen "Pengantin-pengantin Al-Quds" terbitan Pro-U Media belum? Kalau belum, ayo! Udah dari tahun lalu sih terbitnya, tapi insya Allah tetap semua royalti 100% disumbangkan untuk Palestina. Penulisnya? Sakti Wibowo, Akhi Dirman, Ifa Avianty, dll. Mengisi kebosanan menunggu waktu berbuka, yuk beli lalu baca! Di dalamnya ada cerpen saya. Berikut saya kasih baca cerpen saya, yang lain beli dulu bukunya baru baca ya! Hehe :)


______________________________________________________

Aku, Sabah, dan Sama
oleh: Nuril Annissa
sumber: kumcer "Pengantin-pengantin Al-Quds" (Pro-U Media, 2011)

“Aku tidak ikut.”
Ain menatapku sementara keningnya berkerut. Seolah ada sederet tanda tanya besar-besar keluar dari kedua bola mata bundarnya mengerubungiku. Ah, aku tak peduli.
“Kenapa? Kamu tidak ingin menunjukkan empati atas derita yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di sana?”
“Empati sih empati,” dengusku, “Tapi apa yang butuh empati cuma mereka di sana? Dalam hematku, kita terlalu berlebihan dalam menyikapi isu Palestina ini, Ain.”
Ain makin berkerut keningnya. “Maksud kamu?”
“Iya, berlebihan.” Kumatikan setrika lalu duduk menghadapkan tubuhku sepenuhnya pada Ain setelah meletakkan potongan kemeja terakhir dalam tumpukan pakaian lain yang sudah rapi tergilas panas. “Menurutku ini tidak adil. Kita sibuk merutuki Israel dengan kata ‘biadab’, ‘jahannam’, dan seterusnya. Sementara pemerintah kita yang punya segunung borok itu tidak turut kita caci-maki dengan serapah yang sama?”
Ain tetap berkerut-merut. “Aku tetap tidak paham. Maksudmu apa?”
Aku jeda menghela nafas. “Ain, lihat negeri kita ini. Apa kurang banyak orang miskinnya? Apa kurang banyak orang pengidap AIDS-nya? Apa kurang banyak tikus-tikus kantorannya? Buat apa kita sibuk mengurusi masalah negeri lain sementara masalah di negeri kita sendiri saja belum bisa kita selesaikan? Itu makanya menurutku aksi Palestina itu berlebihan!”
Mata Ain berkaca-kaca sementara keningnya tidak lagi berkerut. Sambil menahan getar di sela-sela bibirnya, ia berkata, “Rin, kamu masih ingat kan, video yang tadi malam kita tonton di Youtube itu? Mereka butuh sokongan kita, saudara-saudarinya seiman, seagama, seperjua…”
“Sudahlah, Ain.” Kupotong cepat kata-kata Ain sembari merapikan tumpukan setrikaanku tanpa memandang ke arahnya. “Intinya, aku memutuskan untuk tidak ikut aksi solidaritas Palestina itu. Kamu boleh pinjam sepeda motorku kalau mau.”
Saat kudongakkan kepala, tiba-tiba Ain raib dari tempatnya berdiri tadi. Bahkan sepasang sepatu yang belum – tapi hampir – dikenakannya tadi pun tiada. Desir angin menepuk pelan tengkukku sementara langit makin pekat mengepung rumah yang kami berdua sewa ini. Langit juga memotret wajah bingungku dengan blitz yang sangat banyak. Lalu blitz-blitz itu diikuti dentuman besar dari arah atas. Seluruh vas bunga di atas buffet bergetar sementara aku merinding.
Kucoba nyalakan lampu kibaskan gelap. Nyala, lalu padam lagi beberapa detik kemudian. Kipas angin di sudut sebelah kiri ruangan juga berhenti berputar. Listrik padam. Angin makin meniup tengkuk dan aku pun bertambah ciut. Ada yang tidak normal di sini, pikirku. Gegas kutinggalkan ruang tengah tempatku menyetrika dari tadi. Kuayun langkah menuju kamar tidur. Kaki dan tangan kurasa mulai dingin saat aku naik ke atas ranjang dan menyelimuti diri dengan kain sarung. Langit di luar sudah tidak lagi kelabu, tetapi hitam. Ia seperti menyeringai sementara aku bisa mendengar gemerutuk di dalam mulutku sendiri. Aku takut akan segala sesuatu yang dingin dan gelap.
Tiba-tiba ada yang berderak kencang di sekujur dinding kamar. Makin berderak hingga pelan-pelan lantai rumah retak terbagi dua. Retakan itu cepat menuju tempat tidurku. Aku panik dan turun meloncat dari tempat tidur menabrak lemari. Sikutku lecet menghantam sudut  sementara perutku nyeri menghantuk gagang pintu lemari. Derak-derak itu semakin kencang. Botol-botol susu pembersih wajah dan parfum di atas meja berjatuhan masuk ke dalam lubang menganga yang kini menjelma di antara aku dan ranjang. Atap rumah kami mulai runtuh satu-satu gentingnya ditarik gravitasi tenggelam dalam lubang menganga itu. Aku mendadak lumpuh terduduk bersandar di tepi lemari. Ingin berteriak minta tolong tapi lidahku kelu sementara gebu-gebu di balik rusukku menjadi-jadi. Piyamaku mendadak basah oleh peluh di seluruh tubuh. Lubang itu kian menganga dan warnanya semakin pekat.
Aku pasrah. Melihat kepekatan nganga lubang yang semakin melebar itu perutku keram. Tanah terus berderak mengiringi jatuhnya meja belajar, rak buku, dan standing lamp dalam kamarku satu persatu ke dalam lubang tersebut. Mendapati lubang menganga itu menuju lemari tempatku bersandar, aku makin pasrah. Di atas kepalaku gelegar petir menyambar dan hujan besar menabrak bumi menambah suram episode jelang penghabisan ini; kini aku tidak hanya pasrah tapi juga kuyup basah. Tiba-tiba derak membuat pintu lemari terbuka dan isinya berhamburan ke dalam lubang. Sepotong pashmina jatuh ke atas wajahku. Dan saat kusibak pashmina itu untuk melihat apa lagi yang tersisa dari dunia sekitarku, saat itu pulalah lubang itu mencapaiku yang akhirnya jatuh ke dalamnya dengan teriakan yang hampir tidak kukenali lagi sebagai suaraku sendiri.

***
“Sabah, qumiy…[1]
Samar-samar kudengar seseorang berbicara di telingaku. Bahasanya lain, tapi anehnya aku mengerti. Suaranya dekat sekali, lirih berbisik.
“Sabah, bangun. Kau tidak boleh menyerah sekarang. Kau masih kuat. Ayo, Sabah, bangun.”
Suara itu makin jelas di telingaku. Masih lirih, masih berbisik.
“Sabah, buka matamu. Perjalanan kita masih panjang, para Syaikh menunggu hasil dari perjalanan kita.”
Perlahan kelopak mata kananku terangkat, lalu kelopak mata kiri pun turut membuka. Sebentuk wajah berkerudung hitam samar terlihat dalam kabut. Lalu kabut itu menghilang sedikit demi sedikit dan akhirnya aku dapat menangkap seutas senyum, sepasang mata tirus yang merah, dan sepasang pipi putih yang basah.
“Sabah, akhirnya kaubangun juga.”
Dia menatap kepadaku ketika berbicara. Aku heran, mengira-ngira apakah gadis ini salah mengira bahwa aku adalah Sabah-nya.
Afwan, Ila man tatakallamtiin? Lastu Sabah, ukhti[2].”
Hanya hafalan Quranku yang masih di bawah standar yang membuatku gagal mendapatkan beasiswa ke Al-Azhar bulan lalu, tapi nilai setiap mata kuliahku selalu minimal B, cukup bekalku untuk bercakap-cakap dengan setiap dosen Tarbiyah Bahasa Arab-ku dengan baik dan benar.
“Maksudmu? Kau jelas adalah Sabah. Kita sedang dalam sebuah misi, ingat? Mana mungkin aku salah mengenalimu sementara kita bersahabat sedari kecil. Lagipula lihat tali ini,” katanya sambil menujukkan pergelanan tangan kanannya yang ada simpul tali tambangnya, “Tali ini masih mengikat tanganku dan tanganmu semenjak kita beranjak meninggalkan Gaza tadi pagi-pagi sekali. Kau yang malah mengusulkan begini, agar jika perlu berlari, kita tidak akan terpisah karena tali ini akan membuat kita selalu bersama-sama, sesuai instruksi para Syaikh. Kita akan harus bermusyawarah menentukan arah perjalanan selanjutnya sebab simpul tali ini mati jadi kita tidak bisa pergi sendiri-sendiri.”
Gaza? Syaikh? Misi? Kucubit pipiku, sakit. Berarti bukan mimpi. Tapi tentu saja ini tidak nyata. Aku adalah orang Aceh tulen yang seumur-umur tak pernah keluar dari Nanggroe. Jangankan Gaza di Palestina, Meulaboh yang merupakan daerah asal ibuku saja belum pernah kujejaki derai pasir pantai yang menghadap samudera-nya. Bagaimana jika ini sebuah delusi? Ya, kurasa delusi adalah penjelasan paling logis. Mungkin aku terhempas ke dasar lubang menganga yang menelanku tadi. Dan karena belum siuman, aku sedang tenggelam ke dalam alam bawah sadarku. Ya, akui saja bahwa aku adalah Sabah. Dalam pikirku, sebentar lagi aku juga sadar. Meski aku juga tidak yakin kapan aku benar-benar bangun dari kehidupan asing sebagai Sabah ini.
“Di mana kita sekarang?”
Gadis itu mendongak. Bola matanya sayu bergerak enggan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. “Entahlah, Sabah. Mungkin aku memasukkan koordinat yang salah di lorong dimensi tadi. Kurasa kita tersesat dan terhempas ke mari. Maaf, kepalamu sampai terbentur tanah begitu tadi, untung tidak berdarah, kan?”
Delusiku ini luar biasa canggih ternyata. Ada lorong dimensi-nya! Lengan dan jemari kakiku keram namun aku tetap mencoba bangkit untuk duduk. Kuedar pandangan ke tiap penjuru. Gelap sekali. Hanya ada satu bohlam putih di atas kepala kami yang bertengger di langit-langit balai tempat kami duduk sekarang. Hanya siluet beberapa batang pohon kelapa di sekitar tertangkap mataku.
“Ah Sabah, kurasa aku telah membuat kita tersesat. Padahal dana kita sudah mulai menipis sementara perjuangan masih sangat panjang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kurasa ini sudah hampir fajar, kita duduk dulu di sini sampai matahari terbit. Bagaimana?” Aku tidak yakin dengan solusi yang kuberi. Aku hanya ingin mengulur waktu agar dapat mengorek informasi tentang ‘delusi’-ku ini.
Gadis itu mengangguk tanpa mengangkat sorotnya dari tanah.
“Dan kurasa aku melupakan beberapa hal tentang perjalanan kita. Bisakah kauceritakan lagi tentang misi kita ini?” kuharap umpanku mendapat pancingannya.
Gadis itu menarik nafas panjang dan berat. “Jangan-jangan kau juga lupa namaku, Sabah?” Ia memandangku iba. Aku menelan ludah. Aku benar-benar bingung hendak berkata apa. “Ah, mungkin itu efek lorong dimensi. Baik, aku adalah temanmu sejak kecil, Sama, ingat?” Ia menyenyumiku. “Kita diutus ke Indonesia untuk mengumpulkan dana dari saudara-saudara kita di sana. Tadi kan sudah kubilang, dana kita makin menipis. Asupan dana yang dulu sempat banyak dari saudara-saudara kita di negara-negara lain kini menurun drastic jumlahnya. Sementara Israel biadab itu makin mendesak kita. Hanya pasukan penjemput syahid saja andalan utama kita sekarang. Rudal-rudal kita sudah banyak yang usang dan belum bisa didapatkan pengganti atau perbaikannya.”
Aku melongo. “Pasukan penjemput syahid katamu tadi, Sama?”
Sama yang sedang menelekan dagunya di atas kedua lutut yang ditekuknya menoleh ke arahku. Aku baru sadar biji matanya hijau.
“Ya. Seperti kakakmu yang selalu kaubanggakan itu.”
Sama kembali menyenyumiku. Tapi kali ini ada gurat kehampaan dan kesan menerawang dari kedua cermin bundar milik wajah berhidung bangirnya itu. “Kautahu,” Sama menyambung perkataannya, “Ia memang lebih pantas mendapatkan 70 bidadari sekaligus daripada sekedar seorang istri sepertiku. Kau benar, Sabah, ia selalu lebih dari patut untuk dibanggakan oleh setiap orang.”
Ada yang menyikut dari balik dadaku. Meski aku yang tak beradik-kakak ini sudah terlalu biasa menjalani hidup dengan kehilangan akan saudara kandung yang abadi, kurasa aku bisa merasakan apa yang Sama rasakan.
“Ya, ia adalah pria yang baik.” Aku makin lihai mengikuti alur cerita ini. “Dan Allah tentu sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untukmu, Sama. Misi ini contohnya.”
Sama kembali menyenyumiku. “Kau benar. Sudah lama aku ingin ke Indonesia, menjumpai langsung saudara-saudara kita di sana. Dulu, aku sering diceritakan bagaimana mereka menggalang dana untuk perjuangan kita sampai-sampai ada yang rela menjual semua perhiasannya demi Al-Aqsha. Sajazahumullahu khair, insya Allah[3].”
“Tapi kini berbeda. Entahlah, belum ada yang bisa memastikan alasan mengapa mereka tidak lagi seantusias dulu dalam menyokong perjuangan kita. Maka itu kita diutus untuk mencari tahu sekaligus menggalang dana semampu kita dari mereka.”
Sebuah bumerang seperti mendentumkan diri ke keningku.
“Mungkin karena negeri mereka sedang dalam masalah yang jauh lebih besar dari yang kita hadapi. Kita harus selalu berbaik sangka pada mereka, bukan?”
Sama menatapku sejenak lalu berkata, “Atas dasar ingin memelihara sangkaan yang baiklah maka itu kita harus tahu alasan pastinya mengapa mereka, harapan terakhir kita dalam menyokong perjuangan agama Allah ini, kita harus datang ke sana, Sabah. Bukankah begitu kata Syaikh sebelum kita berangkat?”
Aku bungkam sambil berpikir untuk kata-kata selanjutnya. Takut sekali salah berbicara pada Sama yang garis wajahnya tegas ini. Membuat Ain berkaca-kaca tadi pagi sudah cukup memberikanku pelajaran untuk hati-hati menyampaikan pendapat.
“Dan jika memang benar mereka punya masalah yang jauh lebih besar dan tidak bisa kita harapkan sumbangan dananya, bagaimana, Sama?”
Sama duduk bersila kini. Ia tegap menatap gelap. Dan untuk yang kesekian kalinya, ia kembali senyum.
“Maka Allah akan mendatangkan bantuannya lewat jalan lain dengan cara-Nya sendiri seperti yang selama ini kita dapatkan. Ah, jika bukan karena Allah yang menjagaku, siapa lagi yang bisa memastikan aku bisa tumbuh sampai berusia dua puluh begini?”
Aku menerka-nerka keadaan orangtuanya. Mereka sudah lama dipanggil ke haribaan-Nya, kurasa.
“Mereka tidak mati, Sama. Mereka hidup selamanya dalam semangat perjuangan. Bukankah begitu?”
Sama mengangguk. “Ummiy, Abatiy[4], mereka menghadap Allah dalam wewangi kesturi. Begitu juga dengan ribuan adik-adik kita yang diburai rudal saat sedang melempari tank musuh dengan batu. Tak jauh beda dengan guru-guru madrasah kita yang semasa hidupnya tetap mengajari kita nasyid-nasyid perjuangan sementara matanya buta dicongkel tentara terkutuk busuk itu. Dan lebih wangi lagi bagi mereka yang menggadaikan masa muda mereka bersama bom yang meliliti perut demi pembebasan negeri kita.”
Tiba-tiba aku terusik untuk bertanya, “Sama, tanggal berapakah ini?”
“Saat kita berangkat, 14 April 2030. Aku tak tahu apakah kita masih di tahun yang sama atau tidak. Lorong dimensi bisa saja mendamparkan kita ke masa lalu atau masa depan.”
Jantungku meronta ingin lari dari singgasananya. Masa depan. Delusiku berlatar belakang masa depan! Di mana Ain dan kawan-kawannya yang selalu menyisihkan uang kiriman orang tuanya untuk Palestina? Di mana para aktivis yang sering kulihat di televisi menggalang dana untuk korban-korban perang di penjuru dunia? Di mana Michael Heart, Yusuf Islam, dan musisi-musisi lain yang dulu selalu menyumbangkan royalti dari lagu-lagu mereka untuk bumi merah saga Al-Aqsha?
“Sabah, aku sempat mengira fenomena ini ada hubungannya dengan tokoh HAM di Indonesia itu. Bagaimana menurutmu?”
Aku kernyit. Tokoh HAM yang mana?
“Cut Erina Melanita. Bukankah ia terkenal dengan teorinya “Membangun Diri Sendiri Saja” itu? Bukankah ia yang selalu mengajarkan orang lain untuk fokus memperbaiki diri sendiri masing-masing saja dan tidak usah meributkan urusan orang lain apalagi negara lain? Pribadi egois!”
Meski yang bernama Cut Erina Melanita itu bisa jadi siapa saja, tapi entah mengapa aku merasa aku lah sang tokoh HAM yang sedang dicap egois oleh Sama.
“Dan dengan bangganya ia menggunakan hijaab dan masih mengaku muslim. Apa ia sudah lupa bahwa muslim itu seolah-olah satu tubuh, sehingga jika ada satu anggota tubuh yang sakit, seharusnya bagian tubuh yang lain seharusnya juga merasakan tidak enaknya sakit itu? Dan menjijikkannya lagi, ia mendapatkan penghargaan dari sebuah asosiasi psikologi internasional atas teorinya tersebut. Cih, tentu saja Yahudi itu senang dengan teorinya dan memberi penghargaan, kita kaum muslimin jadi terkotak-kotak dan makin hari makin berai!”
Aku ingin sekali menelan ludah tetapi seolah ada sebutir jeruk nipis menyumbat di tenggorokan. Tiba-tiba aku merasa bersalah, sangat malah. Meski menurutku kita harus lebih memprioritaskan permasalahan dalam negeri, tapi aku tetap percaya bahwa masalah Palestina itu adalah masalah yang mendunia; seluruh penduduk dunia harus tahu dan memberi solusi meski sedikit. Aku sama sekali tidak menginginkan Palestina ditinggal begitu saja, tidak pernah. Dan jika memang benar Cut Erina Melanita, sang tokoh HAM di tahun 2030 itu adalah aku, maka aku lebih dari rela jika ia – alias aku – dilempari  granat sekarang juga!
“Ah, Sabah, mari kita doakan agar saudari kita, tokoh HAM itu segera taubat.”
Belum lagi kuangkat tangan, tiba-tiba tanah di bawah kaki kami berguncang dengan dahsyat. Bohlam di langit balai-balai putus dari tangkainya dan pecah menabrak tanah. Gulita. Hanya indera dengarku saja yang masih menangkap teriakan takbir Sama. Tali yang mengikat kedua pergelangan tangan kami meregang kencang. Aku mual dan kakiku keram. Aku tak sanggup lagi berkata-kata sementara tanah makin berderak. Sama terus bertakbir sementara aku makin melemah. Lalu pelan tapi pasti,  guncangan tadi menenang.
“Sabah, di mana kau? Kau baik-baik saja?”
Sama menelusuri tali di pergelangan tangannya hingga ujungnya di pergelangan tanganku. Ia meraba keningku. “Panas. Kau demam. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Tas perlengkapanku sepertinya tertinggal di lorong dimensi saat terhempas tadi.”
Belum lagi Sama membantuku bangkit dari baringku, sayup-sayup aku mendengar gemuruh. Makin lama gemuruh itu makin terang. Seperti bunyi pesawat yang hendak mendarat. Bising. Sebelum pasti kuterka gemuruh itu apa, aku dan Sama sudah dihantam sesuatu yang basah dan besar dan mendadak semua terasa hitam.
***

“Sabah, qumiy…[5]
Lalu aku terjaga dan langsung terduduk. Matahari garang tepat di tengah langit. Sama juga duduk di samping kiriku. Tali tambang yang mengikat tangan kami masih erat.
“Kurasa kita sedang di Aceh, Sabah. Lihat papan nama toko itu.”
Sama menunjuki sebuah toko sementara aku lebih tercekat melihat mesjid yang ada di depan toko tersebut. Mesjid kebanggaan siapa saja yang mengaku berasal dari Serambi Mekah. Mesjid berkubah-kubah hitam yang berulang kali dibakar dan dikuasai Belanda namun selalu direbut kembali. Mesjid yang, selama berpuluh-puluh tahun, selalu diperjuangkan kehormatannya oleh kaum muslimin Aceh.
Dan mayat-mayat gelimpang di sekitar kami. Wajah-wajah mereka hitam. Pakaian-pakaian mereka tersibak. Kaku. Mereka mayat dengan pose-pose yang aneh; ada yang mengangkang, tangan meregang, kepala tiada, dan ah, wanita yang tengah melahirkan pun ada. Pemandangan ini familiar. Melemparkan aku pada bencana yang dulu merenggut ibu dan ayahku.
“Sabah, kurasa kita harus menekan tombol emergency ini.”
Kutoleh Sama. Wajahnya kabut sementara tangan kanannya menunjuki sebuah tombol merah di pergelangan kaki kirinya.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Untuk kembali ke Gaza saja. Kita harus segera melakukan sesuatu untuk Aceh.”
“Maksudmu?” aku tidak paham sama sekali.
“Ya, mengumpulkan koin-koin yang ada di kamp pengungsian untuk kita kirimkan ke mari, seperti yang pernah dilakukan oleh nenek-kakek kita dulu di tahun 2004. Misi kita sudah selesai, ternyata kau benar, Indonesia memang punya masalah besar.”
Sebelum aku sempat menggertak Sama bahwa tsunami bukan apa-apa dibanding kekejaman Israel durhaka, aku seperti dihisap ke dalam tanah dan semua kembali terasa hitam.
“Rin, maaf membangunkanmu. Aku berangkat dulu, pinjam sepeda motormu, ya?”
Ain. Kini Ain yang ada di hadapanku. Bukan lagi Sama. Bukan lagi dengan misi dari Gaza.
“Ain, mau ke mana?”
Ain kerut keningnya sambil berkata, “Tadi malam kan sudah kuceritakan, ada aksi solidaritas untuk Palestina di depan Mesjid Raya Baiturrahman hari ini. Katamu kamu mau di rumah saja dan aku boleh kupinjam sepeda motormu seharian.”
Tiba-tiba mataku panas. Aku teringat Sama. Aku teringat Gaza. Aku teringat Palestina. Aku teringat Al-Aqsha. Dan aku teringat Cut Erina Melanita. Aku tak mau 2030 nanti seperti dalam mimpiku tadi.
“Rin, ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis? Ada masalah?” Ain meraih selembar tissue dari meja di samping tempat tidurku dan menyapu pipiku. Wajah gundahnya makin mengingatkanku akan Sama.
“Ain, tunggu aku.” aku hampir tidak mengenali isakanku sendiri, “Aku ikut denganmu.


Lamkeunung, 14 April 2010


[1] “Sabah, bangun…”
[2] “Maaf, kepada siapakah kauberbicara? Saya bukan Sabah, saudariku.”
[3] “Allah akan menggantikan untuk mereka dengan yang lebih baik, jika Allah menghendaki.”
[4] Ibuku, ayahku
[5] “Sabah, bangun…”

Saturday, August 4, 2012

Allah Knows (I Miss Ramadhan in Melbourne)


Tetiba jadi ingin mendengarkan lagi nasyid lawasnya Zain Bhikha dan Dawud Wharnsby ini. Entah. Ingin sekali. Maka saya buka Winamp dan terputarlah ia di sana.
Lalu saya akhirnya sadar mengapa tiba-tiba ingin mendengar nasyid ini. Saya rindu sesuatu. Sesuatu yang dengan sangat jelas tergambar di kepala saya jika mendengar nasyid ini di tengah Ramadhan begini.
Melbourne. Ya. Ini tentang kota itu lagi.

Kubah Mesjid Preston (Umar Ibn Al-Khatb), mesjid tertua di Australia.
Saya sering shalat Jumat dan Tarawih di sini dulu.

Saya ingat dulu ketika Ramadhan di sana (2005-2007), saya justru mengalami banyak perubahan. 
Entah. Padahal seharusnya semua perubahan itu bisa muncul pada saya sejak di Aceh, yang notabene Serambi Mekkah sebutannya. Tapi justru di sana saya, untuk pertama kalinya, berhasil mengkhatamkan Alquran dalam sebulan. Di sana juga saya untuk pertama kalinya melaksanakan shalat tarawih satu juz semalam dan shalat tasbih. Di sana juga saya menghadiri buka bersama di berbagai mesjid di mana banyak wajah bahagia yang berbagi makanan. Di sana pula saya untuk pertama kalinya belajar i'tikaf. Qiyamul Lail berjamaah di tengah malam. Tenggelam dalam masyuknya tilawah panjang bersama ratusan muslim dengan latar belakang budaya lain. Menghadiri Shalat Jumat meski saya adalah seorang perempuan. Menahan banyak getar dan haru melihat hampir setiap hari ada yang memutuskan masuk Islam pasca Tarawih. Menjadi akrab dan belajar lebih banyak bersama teman-teman muallaf. Menjalani puasa dengan sabar meski baru berbuka pada pukul 9 malam. Tetap mengerjakan PR dan tugas sekolah yang tidak libur. Benar-benar berbahagia bersama banyak muslim saat 'Id al-fithri.

Beberapa siswa dari Australian International Academy (dulu bernama King Khalid Islamic College of Victoria), SMA tempat saya menerima beasiswa pasca bencana Tsunami Aceh 2004
Ah. Ada apa di sini. Seperti banyak yang berkurang dari muatan yang pernah ditimba suatu masa. Seperti everything is taken for granted. Entah sebab hampir semua orang muslim sejak lahir, maka banyak yang benar-benar lupa bersyukur atas semua toko makanan yang tutup selama Ramadhan. Lupa bersyukur atas betapa banyaknya mesjid yang mengumandangkan undangan kajian. Lupa bersyukur bahwa kitalah mayoritas. Yang bisa menguasai peraturan setempat. Adzan sekeras yang kita ingin. Tadarus hingga subuh dengan megaphone terbesar dari tiap meunasah. Memenuhi jalan dengan tempat jualan dadakan untuk berbuka. Sungguh, kebanyakan yang kita lakukan di sini adalah ilegal di luar negeri sana, tak peduli di tengah Ramadhan atau tidak! Sungguh, saya kadang merasa kita di Aceh ini terlalu banyak tertawa dan membuang-buang makanan ketika berbuka sementara syahdunya melepas dahaga dan mendapatkan kebahagiaan berbuka jadi terasa hilang sedikit.

Suatu fragmen pemandangan di halaman Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, ketika Ramadhan.
Betapa saya rindu akan banyak wajah yang binar tiap kali adzan berkumandang. Rindu akan ucapan salam dari muslimah random di jalan-jalan saat berpapasan. Rindu saling berebut menyodorkan makanan saat sahur dan ifthar bersama di mesjid. Rindu kebahagiaan yang menyelinap pelan-pelan ketika takbir berkumandang. Berjalan dalam bekunya udara malam menuju mesjid sebab tempat parkir yang terlalu jauh (sebab terlalu banyak yang memarkirkan kendaraan) saat menghadiri shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Menelusuri kota demi menemui Jeffcot Street hingga bisa shalat di mesjid di situ sambil bertemu dengan banyak warga Australia anglican yang sedang belajar tentang Islam dari perpustakaan di dalam mesjid tersebut. Rindu. Ah, rindu.. Saya tak sanggup lagi menyambung. Air mata saya mulai mendesak..

Muslimah berdarah Somalia banyak dijumpai di Melbourne, termasuk keluarga homestay saya.

Allah Knows
When you feel all alone in this world

And there’s nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows

When you carrying a monster load

And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows



No matter what, inside or out
There’s one thing of which there’s no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows

When you find that special someone

Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows

When you gaze with love in your eyes

Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows


When you lose someone close to your heart

See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows

You see we all have a path to choose

Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows


Every grain of sand,

In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows.