Saturday, August 4, 2012

Allah Knows (I Miss Ramadhan in Melbourne)


Tetiba jadi ingin mendengarkan lagi nasyid lawasnya Zain Bhikha dan Dawud Wharnsby ini. Entah. Ingin sekali. Maka saya buka Winamp dan terputarlah ia di sana.
Lalu saya akhirnya sadar mengapa tiba-tiba ingin mendengar nasyid ini. Saya rindu sesuatu. Sesuatu yang dengan sangat jelas tergambar di kepala saya jika mendengar nasyid ini di tengah Ramadhan begini.
Melbourne. Ya. Ini tentang kota itu lagi.

Kubah Mesjid Preston (Umar Ibn Al-Khatb), mesjid tertua di Australia.
Saya sering shalat Jumat dan Tarawih di sini dulu.

Saya ingat dulu ketika Ramadhan di sana (2005-2007), saya justru mengalami banyak perubahan. 
Entah. Padahal seharusnya semua perubahan itu bisa muncul pada saya sejak di Aceh, yang notabene Serambi Mekkah sebutannya. Tapi justru di sana saya, untuk pertama kalinya, berhasil mengkhatamkan Alquran dalam sebulan. Di sana juga saya untuk pertama kalinya melaksanakan shalat tarawih satu juz semalam dan shalat tasbih. Di sana juga saya menghadiri buka bersama di berbagai mesjid di mana banyak wajah bahagia yang berbagi makanan. Di sana pula saya untuk pertama kalinya belajar i'tikaf. Qiyamul Lail berjamaah di tengah malam. Tenggelam dalam masyuknya tilawah panjang bersama ratusan muslim dengan latar belakang budaya lain. Menghadiri Shalat Jumat meski saya adalah seorang perempuan. Menahan banyak getar dan haru melihat hampir setiap hari ada yang memutuskan masuk Islam pasca Tarawih. Menjadi akrab dan belajar lebih banyak bersama teman-teman muallaf. Menjalani puasa dengan sabar meski baru berbuka pada pukul 9 malam. Tetap mengerjakan PR dan tugas sekolah yang tidak libur. Benar-benar berbahagia bersama banyak muslim saat 'Id al-fithri.

Beberapa siswa dari Australian International Academy (dulu bernama King Khalid Islamic College of Victoria), SMA tempat saya menerima beasiswa pasca bencana Tsunami Aceh 2004
Ah. Ada apa di sini. Seperti banyak yang berkurang dari muatan yang pernah ditimba suatu masa. Seperti everything is taken for granted. Entah sebab hampir semua orang muslim sejak lahir, maka banyak yang benar-benar lupa bersyukur atas semua toko makanan yang tutup selama Ramadhan. Lupa bersyukur atas betapa banyaknya mesjid yang mengumandangkan undangan kajian. Lupa bersyukur bahwa kitalah mayoritas. Yang bisa menguasai peraturan setempat. Adzan sekeras yang kita ingin. Tadarus hingga subuh dengan megaphone terbesar dari tiap meunasah. Memenuhi jalan dengan tempat jualan dadakan untuk berbuka. Sungguh, kebanyakan yang kita lakukan di sini adalah ilegal di luar negeri sana, tak peduli di tengah Ramadhan atau tidak! Sungguh, saya kadang merasa kita di Aceh ini terlalu banyak tertawa dan membuang-buang makanan ketika berbuka sementara syahdunya melepas dahaga dan mendapatkan kebahagiaan berbuka jadi terasa hilang sedikit.

Suatu fragmen pemandangan di halaman Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, ketika Ramadhan.
Betapa saya rindu akan banyak wajah yang binar tiap kali adzan berkumandang. Rindu akan ucapan salam dari muslimah random di jalan-jalan saat berpapasan. Rindu saling berebut menyodorkan makanan saat sahur dan ifthar bersama di mesjid. Rindu kebahagiaan yang menyelinap pelan-pelan ketika takbir berkumandang. Berjalan dalam bekunya udara malam menuju mesjid sebab tempat parkir yang terlalu jauh (sebab terlalu banyak yang memarkirkan kendaraan) saat menghadiri shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Menelusuri kota demi menemui Jeffcot Street hingga bisa shalat di mesjid di situ sambil bertemu dengan banyak warga Australia anglican yang sedang belajar tentang Islam dari perpustakaan di dalam mesjid tersebut. Rindu. Ah, rindu.. Saya tak sanggup lagi menyambung. Air mata saya mulai mendesak..

Muslimah berdarah Somalia banyak dijumpai di Melbourne, termasuk keluarga homestay saya.

Allah Knows
When you feel all alone in this world

And there’s nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows

When you carrying a monster load

And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows



No matter what, inside or out
There’s one thing of which there’s no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows

When you find that special someone

Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows

When you gaze with love in your eyes

Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows


When you lose someone close to your heart

See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows

You see we all have a path to choose

Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows


Every grain of sand,

In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows.

4 comments:

  1. semacam makin pengen ketemu dikau duhai kak Nuriiil :"""")

    ReplyDelete
  2. Nuliiiiir, jangan bersedih.
    Aku doakan semoga kerinduanmu itu bisa terobati.
    Moga diberi kesempatan menapakkan kaki di kota juangmu itu.

    *Aku mengerti rindumu, dari beberapa sisi ia sama dengan rinduku pada Tanah Minang* :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ecriiii... iya, amiiin.. kalau ke Tanah Minang, ajak2 ya, soalnya penasaran sama Padang Panjang yg katanya lbh "Serambi Mekkah" dari di sini :'(

      Delete