Monday, August 6, 2012

[Cerpen] "Aku, Sabah, dan Sama"


Udah pada beli kumpulan cerpen "Pengantin-pengantin Al-Quds" terbitan Pro-U Media belum? Kalau belum, ayo! Udah dari tahun lalu sih terbitnya, tapi insya Allah tetap semua royalti 100% disumbangkan untuk Palestina. Penulisnya? Sakti Wibowo, Akhi Dirman, Ifa Avianty, dll. Mengisi kebosanan menunggu waktu berbuka, yuk beli lalu baca! Di dalamnya ada cerpen saya. Berikut saya kasih baca cerpen saya, yang lain beli dulu bukunya baru baca ya! Hehe :)


______________________________________________________

Aku, Sabah, dan Sama
oleh: Nuril Annissa
sumber: kumcer "Pengantin-pengantin Al-Quds" (Pro-U Media, 2011)

“Aku tidak ikut.”
Ain menatapku sementara keningnya berkerut. Seolah ada sederet tanda tanya besar-besar keluar dari kedua bola mata bundarnya mengerubungiku. Ah, aku tak peduli.
“Kenapa? Kamu tidak ingin menunjukkan empati atas derita yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di sana?”
“Empati sih empati,” dengusku, “Tapi apa yang butuh empati cuma mereka di sana? Dalam hematku, kita terlalu berlebihan dalam menyikapi isu Palestina ini, Ain.”
Ain makin berkerut keningnya. “Maksud kamu?”
“Iya, berlebihan.” Kumatikan setrika lalu duduk menghadapkan tubuhku sepenuhnya pada Ain setelah meletakkan potongan kemeja terakhir dalam tumpukan pakaian lain yang sudah rapi tergilas panas. “Menurutku ini tidak adil. Kita sibuk merutuki Israel dengan kata ‘biadab’, ‘jahannam’, dan seterusnya. Sementara pemerintah kita yang punya segunung borok itu tidak turut kita caci-maki dengan serapah yang sama?”
Ain tetap berkerut-merut. “Aku tetap tidak paham. Maksudmu apa?”
Aku jeda menghela nafas. “Ain, lihat negeri kita ini. Apa kurang banyak orang miskinnya? Apa kurang banyak orang pengidap AIDS-nya? Apa kurang banyak tikus-tikus kantorannya? Buat apa kita sibuk mengurusi masalah negeri lain sementara masalah di negeri kita sendiri saja belum bisa kita selesaikan? Itu makanya menurutku aksi Palestina itu berlebihan!”
Mata Ain berkaca-kaca sementara keningnya tidak lagi berkerut. Sambil menahan getar di sela-sela bibirnya, ia berkata, “Rin, kamu masih ingat kan, video yang tadi malam kita tonton di Youtube itu? Mereka butuh sokongan kita, saudara-saudarinya seiman, seagama, seperjua…”
“Sudahlah, Ain.” Kupotong cepat kata-kata Ain sembari merapikan tumpukan setrikaanku tanpa memandang ke arahnya. “Intinya, aku memutuskan untuk tidak ikut aksi solidaritas Palestina itu. Kamu boleh pinjam sepeda motorku kalau mau.”
Saat kudongakkan kepala, tiba-tiba Ain raib dari tempatnya berdiri tadi. Bahkan sepasang sepatu yang belum – tapi hampir – dikenakannya tadi pun tiada. Desir angin menepuk pelan tengkukku sementara langit makin pekat mengepung rumah yang kami berdua sewa ini. Langit juga memotret wajah bingungku dengan blitz yang sangat banyak. Lalu blitz-blitz itu diikuti dentuman besar dari arah atas. Seluruh vas bunga di atas buffet bergetar sementara aku merinding.
Kucoba nyalakan lampu kibaskan gelap. Nyala, lalu padam lagi beberapa detik kemudian. Kipas angin di sudut sebelah kiri ruangan juga berhenti berputar. Listrik padam. Angin makin meniup tengkuk dan aku pun bertambah ciut. Ada yang tidak normal di sini, pikirku. Gegas kutinggalkan ruang tengah tempatku menyetrika dari tadi. Kuayun langkah menuju kamar tidur. Kaki dan tangan kurasa mulai dingin saat aku naik ke atas ranjang dan menyelimuti diri dengan kain sarung. Langit di luar sudah tidak lagi kelabu, tetapi hitam. Ia seperti menyeringai sementara aku bisa mendengar gemerutuk di dalam mulutku sendiri. Aku takut akan segala sesuatu yang dingin dan gelap.
Tiba-tiba ada yang berderak kencang di sekujur dinding kamar. Makin berderak hingga pelan-pelan lantai rumah retak terbagi dua. Retakan itu cepat menuju tempat tidurku. Aku panik dan turun meloncat dari tempat tidur menabrak lemari. Sikutku lecet menghantam sudut  sementara perutku nyeri menghantuk gagang pintu lemari. Derak-derak itu semakin kencang. Botol-botol susu pembersih wajah dan parfum di atas meja berjatuhan masuk ke dalam lubang menganga yang kini menjelma di antara aku dan ranjang. Atap rumah kami mulai runtuh satu-satu gentingnya ditarik gravitasi tenggelam dalam lubang menganga itu. Aku mendadak lumpuh terduduk bersandar di tepi lemari. Ingin berteriak minta tolong tapi lidahku kelu sementara gebu-gebu di balik rusukku menjadi-jadi. Piyamaku mendadak basah oleh peluh di seluruh tubuh. Lubang itu kian menganga dan warnanya semakin pekat.
Aku pasrah. Melihat kepekatan nganga lubang yang semakin melebar itu perutku keram. Tanah terus berderak mengiringi jatuhnya meja belajar, rak buku, dan standing lamp dalam kamarku satu persatu ke dalam lubang tersebut. Mendapati lubang menganga itu menuju lemari tempatku bersandar, aku makin pasrah. Di atas kepalaku gelegar petir menyambar dan hujan besar menabrak bumi menambah suram episode jelang penghabisan ini; kini aku tidak hanya pasrah tapi juga kuyup basah. Tiba-tiba derak membuat pintu lemari terbuka dan isinya berhamburan ke dalam lubang. Sepotong pashmina jatuh ke atas wajahku. Dan saat kusibak pashmina itu untuk melihat apa lagi yang tersisa dari dunia sekitarku, saat itu pulalah lubang itu mencapaiku yang akhirnya jatuh ke dalamnya dengan teriakan yang hampir tidak kukenali lagi sebagai suaraku sendiri.

***
“Sabah, qumiy…[1]
Samar-samar kudengar seseorang berbicara di telingaku. Bahasanya lain, tapi anehnya aku mengerti. Suaranya dekat sekali, lirih berbisik.
“Sabah, bangun. Kau tidak boleh menyerah sekarang. Kau masih kuat. Ayo, Sabah, bangun.”
Suara itu makin jelas di telingaku. Masih lirih, masih berbisik.
“Sabah, buka matamu. Perjalanan kita masih panjang, para Syaikh menunggu hasil dari perjalanan kita.”
Perlahan kelopak mata kananku terangkat, lalu kelopak mata kiri pun turut membuka. Sebentuk wajah berkerudung hitam samar terlihat dalam kabut. Lalu kabut itu menghilang sedikit demi sedikit dan akhirnya aku dapat menangkap seutas senyum, sepasang mata tirus yang merah, dan sepasang pipi putih yang basah.
“Sabah, akhirnya kaubangun juga.”
Dia menatap kepadaku ketika berbicara. Aku heran, mengira-ngira apakah gadis ini salah mengira bahwa aku adalah Sabah-nya.
Afwan, Ila man tatakallamtiin? Lastu Sabah, ukhti[2].”
Hanya hafalan Quranku yang masih di bawah standar yang membuatku gagal mendapatkan beasiswa ke Al-Azhar bulan lalu, tapi nilai setiap mata kuliahku selalu minimal B, cukup bekalku untuk bercakap-cakap dengan setiap dosen Tarbiyah Bahasa Arab-ku dengan baik dan benar.
“Maksudmu? Kau jelas adalah Sabah. Kita sedang dalam sebuah misi, ingat? Mana mungkin aku salah mengenalimu sementara kita bersahabat sedari kecil. Lagipula lihat tali ini,” katanya sambil menujukkan pergelanan tangan kanannya yang ada simpul tali tambangnya, “Tali ini masih mengikat tanganku dan tanganmu semenjak kita beranjak meninggalkan Gaza tadi pagi-pagi sekali. Kau yang malah mengusulkan begini, agar jika perlu berlari, kita tidak akan terpisah karena tali ini akan membuat kita selalu bersama-sama, sesuai instruksi para Syaikh. Kita akan harus bermusyawarah menentukan arah perjalanan selanjutnya sebab simpul tali ini mati jadi kita tidak bisa pergi sendiri-sendiri.”
Gaza? Syaikh? Misi? Kucubit pipiku, sakit. Berarti bukan mimpi. Tapi tentu saja ini tidak nyata. Aku adalah orang Aceh tulen yang seumur-umur tak pernah keluar dari Nanggroe. Jangankan Gaza di Palestina, Meulaboh yang merupakan daerah asal ibuku saja belum pernah kujejaki derai pasir pantai yang menghadap samudera-nya. Bagaimana jika ini sebuah delusi? Ya, kurasa delusi adalah penjelasan paling logis. Mungkin aku terhempas ke dasar lubang menganga yang menelanku tadi. Dan karena belum siuman, aku sedang tenggelam ke dalam alam bawah sadarku. Ya, akui saja bahwa aku adalah Sabah. Dalam pikirku, sebentar lagi aku juga sadar. Meski aku juga tidak yakin kapan aku benar-benar bangun dari kehidupan asing sebagai Sabah ini.
“Di mana kita sekarang?”
Gadis itu mendongak. Bola matanya sayu bergerak enggan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. “Entahlah, Sabah. Mungkin aku memasukkan koordinat yang salah di lorong dimensi tadi. Kurasa kita tersesat dan terhempas ke mari. Maaf, kepalamu sampai terbentur tanah begitu tadi, untung tidak berdarah, kan?”
Delusiku ini luar biasa canggih ternyata. Ada lorong dimensi-nya! Lengan dan jemari kakiku keram namun aku tetap mencoba bangkit untuk duduk. Kuedar pandangan ke tiap penjuru. Gelap sekali. Hanya ada satu bohlam putih di atas kepala kami yang bertengger di langit-langit balai tempat kami duduk sekarang. Hanya siluet beberapa batang pohon kelapa di sekitar tertangkap mataku.
“Ah Sabah, kurasa aku telah membuat kita tersesat. Padahal dana kita sudah mulai menipis sementara perjuangan masih sangat panjang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kurasa ini sudah hampir fajar, kita duduk dulu di sini sampai matahari terbit. Bagaimana?” Aku tidak yakin dengan solusi yang kuberi. Aku hanya ingin mengulur waktu agar dapat mengorek informasi tentang ‘delusi’-ku ini.
Gadis itu mengangguk tanpa mengangkat sorotnya dari tanah.
“Dan kurasa aku melupakan beberapa hal tentang perjalanan kita. Bisakah kauceritakan lagi tentang misi kita ini?” kuharap umpanku mendapat pancingannya.
Gadis itu menarik nafas panjang dan berat. “Jangan-jangan kau juga lupa namaku, Sabah?” Ia memandangku iba. Aku menelan ludah. Aku benar-benar bingung hendak berkata apa. “Ah, mungkin itu efek lorong dimensi. Baik, aku adalah temanmu sejak kecil, Sama, ingat?” Ia menyenyumiku. “Kita diutus ke Indonesia untuk mengumpulkan dana dari saudara-saudara kita di sana. Tadi kan sudah kubilang, dana kita makin menipis. Asupan dana yang dulu sempat banyak dari saudara-saudara kita di negara-negara lain kini menurun drastic jumlahnya. Sementara Israel biadab itu makin mendesak kita. Hanya pasukan penjemput syahid saja andalan utama kita sekarang. Rudal-rudal kita sudah banyak yang usang dan belum bisa didapatkan pengganti atau perbaikannya.”
Aku melongo. “Pasukan penjemput syahid katamu tadi, Sama?”
Sama yang sedang menelekan dagunya di atas kedua lutut yang ditekuknya menoleh ke arahku. Aku baru sadar biji matanya hijau.
“Ya. Seperti kakakmu yang selalu kaubanggakan itu.”
Sama kembali menyenyumiku. Tapi kali ini ada gurat kehampaan dan kesan menerawang dari kedua cermin bundar milik wajah berhidung bangirnya itu. “Kautahu,” Sama menyambung perkataannya, “Ia memang lebih pantas mendapatkan 70 bidadari sekaligus daripada sekedar seorang istri sepertiku. Kau benar, Sabah, ia selalu lebih dari patut untuk dibanggakan oleh setiap orang.”
Ada yang menyikut dari balik dadaku. Meski aku yang tak beradik-kakak ini sudah terlalu biasa menjalani hidup dengan kehilangan akan saudara kandung yang abadi, kurasa aku bisa merasakan apa yang Sama rasakan.
“Ya, ia adalah pria yang baik.” Aku makin lihai mengikuti alur cerita ini. “Dan Allah tentu sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untukmu, Sama. Misi ini contohnya.”
Sama kembali menyenyumiku. “Kau benar. Sudah lama aku ingin ke Indonesia, menjumpai langsung saudara-saudara kita di sana. Dulu, aku sering diceritakan bagaimana mereka menggalang dana untuk perjuangan kita sampai-sampai ada yang rela menjual semua perhiasannya demi Al-Aqsha. Sajazahumullahu khair, insya Allah[3].”
“Tapi kini berbeda. Entahlah, belum ada yang bisa memastikan alasan mengapa mereka tidak lagi seantusias dulu dalam menyokong perjuangan kita. Maka itu kita diutus untuk mencari tahu sekaligus menggalang dana semampu kita dari mereka.”
Sebuah bumerang seperti mendentumkan diri ke keningku.
“Mungkin karena negeri mereka sedang dalam masalah yang jauh lebih besar dari yang kita hadapi. Kita harus selalu berbaik sangka pada mereka, bukan?”
Sama menatapku sejenak lalu berkata, “Atas dasar ingin memelihara sangkaan yang baiklah maka itu kita harus tahu alasan pastinya mengapa mereka, harapan terakhir kita dalam menyokong perjuangan agama Allah ini, kita harus datang ke sana, Sabah. Bukankah begitu kata Syaikh sebelum kita berangkat?”
Aku bungkam sambil berpikir untuk kata-kata selanjutnya. Takut sekali salah berbicara pada Sama yang garis wajahnya tegas ini. Membuat Ain berkaca-kaca tadi pagi sudah cukup memberikanku pelajaran untuk hati-hati menyampaikan pendapat.
“Dan jika memang benar mereka punya masalah yang jauh lebih besar dan tidak bisa kita harapkan sumbangan dananya, bagaimana, Sama?”
Sama duduk bersila kini. Ia tegap menatap gelap. Dan untuk yang kesekian kalinya, ia kembali senyum.
“Maka Allah akan mendatangkan bantuannya lewat jalan lain dengan cara-Nya sendiri seperti yang selama ini kita dapatkan. Ah, jika bukan karena Allah yang menjagaku, siapa lagi yang bisa memastikan aku bisa tumbuh sampai berusia dua puluh begini?”
Aku menerka-nerka keadaan orangtuanya. Mereka sudah lama dipanggil ke haribaan-Nya, kurasa.
“Mereka tidak mati, Sama. Mereka hidup selamanya dalam semangat perjuangan. Bukankah begitu?”
Sama mengangguk. “Ummiy, Abatiy[4], mereka menghadap Allah dalam wewangi kesturi. Begitu juga dengan ribuan adik-adik kita yang diburai rudal saat sedang melempari tank musuh dengan batu. Tak jauh beda dengan guru-guru madrasah kita yang semasa hidupnya tetap mengajari kita nasyid-nasyid perjuangan sementara matanya buta dicongkel tentara terkutuk busuk itu. Dan lebih wangi lagi bagi mereka yang menggadaikan masa muda mereka bersama bom yang meliliti perut demi pembebasan negeri kita.”
Tiba-tiba aku terusik untuk bertanya, “Sama, tanggal berapakah ini?”
“Saat kita berangkat, 14 April 2030. Aku tak tahu apakah kita masih di tahun yang sama atau tidak. Lorong dimensi bisa saja mendamparkan kita ke masa lalu atau masa depan.”
Jantungku meronta ingin lari dari singgasananya. Masa depan. Delusiku berlatar belakang masa depan! Di mana Ain dan kawan-kawannya yang selalu menyisihkan uang kiriman orang tuanya untuk Palestina? Di mana para aktivis yang sering kulihat di televisi menggalang dana untuk korban-korban perang di penjuru dunia? Di mana Michael Heart, Yusuf Islam, dan musisi-musisi lain yang dulu selalu menyumbangkan royalti dari lagu-lagu mereka untuk bumi merah saga Al-Aqsha?
“Sabah, aku sempat mengira fenomena ini ada hubungannya dengan tokoh HAM di Indonesia itu. Bagaimana menurutmu?”
Aku kernyit. Tokoh HAM yang mana?
“Cut Erina Melanita. Bukankah ia terkenal dengan teorinya “Membangun Diri Sendiri Saja” itu? Bukankah ia yang selalu mengajarkan orang lain untuk fokus memperbaiki diri sendiri masing-masing saja dan tidak usah meributkan urusan orang lain apalagi negara lain? Pribadi egois!”
Meski yang bernama Cut Erina Melanita itu bisa jadi siapa saja, tapi entah mengapa aku merasa aku lah sang tokoh HAM yang sedang dicap egois oleh Sama.
“Dan dengan bangganya ia menggunakan hijaab dan masih mengaku muslim. Apa ia sudah lupa bahwa muslim itu seolah-olah satu tubuh, sehingga jika ada satu anggota tubuh yang sakit, seharusnya bagian tubuh yang lain seharusnya juga merasakan tidak enaknya sakit itu? Dan menjijikkannya lagi, ia mendapatkan penghargaan dari sebuah asosiasi psikologi internasional atas teorinya tersebut. Cih, tentu saja Yahudi itu senang dengan teorinya dan memberi penghargaan, kita kaum muslimin jadi terkotak-kotak dan makin hari makin berai!”
Aku ingin sekali menelan ludah tetapi seolah ada sebutir jeruk nipis menyumbat di tenggorokan. Tiba-tiba aku merasa bersalah, sangat malah. Meski menurutku kita harus lebih memprioritaskan permasalahan dalam negeri, tapi aku tetap percaya bahwa masalah Palestina itu adalah masalah yang mendunia; seluruh penduduk dunia harus tahu dan memberi solusi meski sedikit. Aku sama sekali tidak menginginkan Palestina ditinggal begitu saja, tidak pernah. Dan jika memang benar Cut Erina Melanita, sang tokoh HAM di tahun 2030 itu adalah aku, maka aku lebih dari rela jika ia – alias aku – dilempari  granat sekarang juga!
“Ah, Sabah, mari kita doakan agar saudari kita, tokoh HAM itu segera taubat.”
Belum lagi kuangkat tangan, tiba-tiba tanah di bawah kaki kami berguncang dengan dahsyat. Bohlam di langit balai-balai putus dari tangkainya dan pecah menabrak tanah. Gulita. Hanya indera dengarku saja yang masih menangkap teriakan takbir Sama. Tali yang mengikat kedua pergelangan tangan kami meregang kencang. Aku mual dan kakiku keram. Aku tak sanggup lagi berkata-kata sementara tanah makin berderak. Sama terus bertakbir sementara aku makin melemah. Lalu pelan tapi pasti,  guncangan tadi menenang.
“Sabah, di mana kau? Kau baik-baik saja?”
Sama menelusuri tali di pergelangan tangannya hingga ujungnya di pergelangan tanganku. Ia meraba keningku. “Panas. Kau demam. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Tas perlengkapanku sepertinya tertinggal di lorong dimensi saat terhempas tadi.”
Belum lagi Sama membantuku bangkit dari baringku, sayup-sayup aku mendengar gemuruh. Makin lama gemuruh itu makin terang. Seperti bunyi pesawat yang hendak mendarat. Bising. Sebelum pasti kuterka gemuruh itu apa, aku dan Sama sudah dihantam sesuatu yang basah dan besar dan mendadak semua terasa hitam.
***

“Sabah, qumiy…[5]
Lalu aku terjaga dan langsung terduduk. Matahari garang tepat di tengah langit. Sama juga duduk di samping kiriku. Tali tambang yang mengikat tangan kami masih erat.
“Kurasa kita sedang di Aceh, Sabah. Lihat papan nama toko itu.”
Sama menunjuki sebuah toko sementara aku lebih tercekat melihat mesjid yang ada di depan toko tersebut. Mesjid kebanggaan siapa saja yang mengaku berasal dari Serambi Mekah. Mesjid berkubah-kubah hitam yang berulang kali dibakar dan dikuasai Belanda namun selalu direbut kembali. Mesjid yang, selama berpuluh-puluh tahun, selalu diperjuangkan kehormatannya oleh kaum muslimin Aceh.
Dan mayat-mayat gelimpang di sekitar kami. Wajah-wajah mereka hitam. Pakaian-pakaian mereka tersibak. Kaku. Mereka mayat dengan pose-pose yang aneh; ada yang mengangkang, tangan meregang, kepala tiada, dan ah, wanita yang tengah melahirkan pun ada. Pemandangan ini familiar. Melemparkan aku pada bencana yang dulu merenggut ibu dan ayahku.
“Sabah, kurasa kita harus menekan tombol emergency ini.”
Kutoleh Sama. Wajahnya kabut sementara tangan kanannya menunjuki sebuah tombol merah di pergelangan kaki kirinya.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Untuk kembali ke Gaza saja. Kita harus segera melakukan sesuatu untuk Aceh.”
“Maksudmu?” aku tidak paham sama sekali.
“Ya, mengumpulkan koin-koin yang ada di kamp pengungsian untuk kita kirimkan ke mari, seperti yang pernah dilakukan oleh nenek-kakek kita dulu di tahun 2004. Misi kita sudah selesai, ternyata kau benar, Indonesia memang punya masalah besar.”
Sebelum aku sempat menggertak Sama bahwa tsunami bukan apa-apa dibanding kekejaman Israel durhaka, aku seperti dihisap ke dalam tanah dan semua kembali terasa hitam.
“Rin, maaf membangunkanmu. Aku berangkat dulu, pinjam sepeda motormu, ya?”
Ain. Kini Ain yang ada di hadapanku. Bukan lagi Sama. Bukan lagi dengan misi dari Gaza.
“Ain, mau ke mana?”
Ain kerut keningnya sambil berkata, “Tadi malam kan sudah kuceritakan, ada aksi solidaritas untuk Palestina di depan Mesjid Raya Baiturrahman hari ini. Katamu kamu mau di rumah saja dan aku boleh kupinjam sepeda motormu seharian.”
Tiba-tiba mataku panas. Aku teringat Sama. Aku teringat Gaza. Aku teringat Palestina. Aku teringat Al-Aqsha. Dan aku teringat Cut Erina Melanita. Aku tak mau 2030 nanti seperti dalam mimpiku tadi.
“Rin, ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis? Ada masalah?” Ain meraih selembar tissue dari meja di samping tempat tidurku dan menyapu pipiku. Wajah gundahnya makin mengingatkanku akan Sama.
“Ain, tunggu aku.” aku hampir tidak mengenali isakanku sendiri, “Aku ikut denganmu.


Lamkeunung, 14 April 2010


[1] “Sabah, bangun…”
[2] “Maaf, kepada siapakah kauberbicara? Saya bukan Sabah, saudariku.”
[3] “Allah akan menggantikan untuk mereka dengan yang lebih baik, jika Allah menghendaki.”
[4] Ibuku, ayahku
[5] “Sabah, bangun…”

No comments:

Post a Comment