Thursday, August 9, 2012

Suatu Malam di Masjid Preston; Ukhuwah di "Rusuh"-nya Shaf Jama'ah


Gedubrak, seorang kanak-kanak yang berlari-lari di antara shaf menabrak kepalaku saat aku melakukan ruku’. Tak hanya kepalaku yang menjadi ‘korban’; kepala-kepala akhwat lain yang juga sedang melaksanakan shalat tarawih di suatu Ramadhan pada tahun 2007 di mesjid Omar Ibn El-Khatb Preston ini juga ikut menjadi timbalnya.
“Sabar, sabar” batinku setelah menyelesaikan dua rakaat pertama tarawih tersebut. Setiap malamnya, suasana yang harusnya khusyuk dan tenggelam dalam penyerahan diri kepada-Nya ini harus diwarnai berbagai macam ‘drama’. Mulai dari ibu-ibu yang tetap berbicara selama azan dikumandangkan, teriakan (well, mungkin lebih tepatnya ‘gelegar suara’) seorang wanita Lebanese menyuruh untuk merapatkan shaf-shaf dalam bahasa Arab (yang bukan Arab ya mana ngerti!), tertimpanya kepala seseorang oleh (maaf) pantat seseorang yang lain di shaf depan, dan masih banyak lagi.
Yang paling mengganggu bagiku pada saat itu secara pribadi adalah keriyuhan anak-anak yang ikut orang tuanya; nakalnya itu lho, gak tahan! Ada yang lari ke sana kemari (sebenarnya saling kejar-mengejar), ada yang bawa lari sajadah orang lain, ada yang lompat-lompat bak Australian Idol di tengah-tengah shaf de el el. Kacau deh, apalagi hari-hari pertama ramadhan di mana mesjid selalu bisa dipastikan penuh sesak oleh jamaah. Coba datang sedikit telat, otomatis tempat yang tersisa ya shaf-shaf bagian belakang, tempat di mana anak-anak ‘diamankan’ oleh orang tuanya. Apesnya, aku sering termasuk salah satu yang datang telat itu. Jadi bisa dibayangkan, ‘ujian’ macam apa yang diberikan Allah untukku pada malam-malam tersebut.
Tuhan, kalau bukan karena aku tidak punya pilihan lain melainkan untuk ikut kemana guardianku atau (sahabat karibnya jika beliau terlalu lelah untuk ke mesjid) pergi untuk tarawih, maka aku sudah melesat ke mesjid yang di Reservoir, Coburg, Fawkner atau Brunswick sendirian untuk shalat tarawih. Semua suburbs di atas memang terjangkau dengan mudah dari daerah tempat tinggalku, hanya saja pada malam hari transportasinya sudah sulit didapati. Lagipula, yang sedang kita bicarakan ini adalah AustraliaVictoria lagi! Malam-malam begitu, jangankan perempuan-perempuan berkerudung bernama muslimah yang memang sudah sering ‘dikerjai’, lebih dari 70% warga asli Aussie sendiri mengakui bahwa mereka tidak merasa aman untuk keluar pada malam hari. Seberapa seringnya bisa didapatkan berita bahwa seseorang menghilang setelah terakhir kalinya terlihat hendak membeli suatu keperluan pada malam hari atau raibnya seorang remaja tanggung yang terakhir kalinya terlihat sedang bersepeda pada malam hari? Mate, it is not that safe down there in Australia!
Aku ingat, saat itu sekonyong-konyong aku merasa badanku diangkat seseorang. Oh Tuhan, wanita itu lagi! Ya, aku benar-benar baru dipindahkan ke shaf di depanku! Kalau tidak ingat menahan marah itu sunnah Rasul, rasanya pengen aksi demo besar-besaran deh. KDM ini; Kekerasan Dalam Mesjid! >.<


Nah, seusai shalat, kami (aku dan saudara angkatku) biasanya akan menunggu di dalam mesjid karena lautan manusia yang berusaha mem-browse sepatu-sepatu mereka di pintu keluar sangat menakutkan. Bisa-bisa kami ikut terbawa gelombang manusia itu dan hilang di antara serakan sepatu.
“Assalamu’alaikum Annisa…”, sapa seseorang yang diikuti pelukan hangat dari belakang punggungku. Kutolehkan kepalaku saat ada sapaan tiba-tiba saat itu. Dan oh, ternyata itu suaranya Amatullah!
“Wa’alaikumussalam warahmatullah…apa kabar, Ma?” balasku tak kalah hangat. Wajah oriental Amatullah masih sumringah; kami memang sudah beberapa waktu tidak bertemu, hanya komunikasi lewat SMS. Muallaf asal Palembang berdarah Indo-Cina yang sudah beberapa tahun menetap di Melbourne itu benar-benar membuatku kagum. Perjuangannya dalam menemukan kebenaran dalam Islam patut diberi salute. Betapa ia diperkenalkan kepada Islam oleh ‘pacar muslim’-nya (yang lalu diputuskannya setelah ia memeluk Islam, alhamdulillah), betapa ia menyuruh sopirnya untuk memutar-mutar rute pulang sekolahnya agar ia bisa punya waktu untuk menghafal Al-Fatihah, betapa ia diam-diam belajar membaca Al-Quran dengan pembantu di rumahnya… subhanallah, bahkan betapa tegarnya ia dalam meninggalkan rumahnya karena perubahannya tidak direstui oleh ayahnya! May Allah bless you with His mercy…




“Assalamu’alaikum…gimme five man!” , satu lagi wajah ‘lama-tak-berjumpa’ muncul. Kubalas salam dan hi five-nya dan kutanyai kabarnya. Brooke, seorang muallaf berdarah Australia yang juga diperkenalkan kepada Islam oleh ‘pacar muslim’-nya di Amerika, menjawab bahwa ia baik-baik saja. Ketegaran Brooke juga kukagumi dalam diam di hatiku. Setiap kali kulihat dia, aku malu dengan diriku sendiri. Keputusannya untuk mengenakan jilbab on a constant basis misalnya, benar-benar kontras dengan kebiasaan an aussie-ocker-girl yang lebih gemar ber-tanktop dan short ria. Dalam balutan keislamannya, ia masih bekerja sebagai pekerja sosial untuk anak-anak. Personalitasnya yang cenderung diam tapi bisa bercanda ini juga menarikku. Di balik kerenyahan candaannya, Brooke adalah satu dari sedikit orang yang kudekati untuk berdiskusi tentang kehidupan dan keputusan-keputusan bersangkutan, termasuk keputusanku untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah di Banda Aceh.
Kadang-kadang aku bertanya sendirian; bagaimana dan kapan sebenarnya kami berkenalan? Mereka yang berumur 25 ke atas dan merupakan kenalan guardian-ku (baca: orang tua asuhku selama di Australia) pada awalnya menjadi bagian hari-hariku di Melbourne di tahun 2005-2007 (saat aku mendapat kesempatan menyelesaikan SMA di Australian International Academy of Education, Melbourne, pasca bencana Tsunami 2004) itu. Belum lagi Roula, seorang gadis Yunani yang ‘menebalkan’ mukanya di depan ibunya yang masih Kristen Ortodox setiap harinya saat ia keluar dengan abaya dan scarf-nya. Keantian ibunya pada Islam sampai pada ia tidak sudi memasak atau makan daging halal yang dibawa pulang oleh Roula. Roula, yang bersifat lembut dan tidak banyak berdebat amazingly bisa bertahan untuk tetap tinggal di rumah ibunya.
Ternyata ada banyak hikmah di balik semua ‘kekerasan’ yang terjadi di mesjid Preston itu; ada banyak ukhuwah yang tersambung sana-sini. Selayang kulayangkan pandangku ke sekitar waktu itu; ada yang saling kecup pipi, saling bertanya kabar, saling bertanya-tanya…ah, indahnya ukhuwah. Begitu juga dengan aku hari ini, bertemu lagi dengan ketiga saudariku yang sudah kurindu selama beberapa bulan sebelum Ramadhan kali itu.



Kini, aku rindu mereka lagi. Tak bisa kupungkiri. Dan doa-doa menjadi saksi bahwa cinta dan ukhuwwah ini masih bermekaran di hati. Meski wajah tak lagi bertatap diri. Meski jarak memisah jauh dan waktu belum memberi izin untuk bertemu lagi. Karena bukankah ukhuwah itu tetap bercahaya, meski kita tak lagi bersua. Biar di sana saja, di syurga-Nya, kami bisa reuni semula. Amin.  :")

No comments:

Post a Comment