Monday, September 24, 2012

Kamu Mengerti Aku Mengerti Kamu

Begini.
Malam ini ada 3 lagu yang saya setel berulang-ulang memutar dirinya sendiri;
1. Noah - Separuh Aku
2. Guy Sebastian - Taller, Better, Stronger
3. Shannon Noll - Lift

Tapi. Lalu kemudian saya klik tombol yang memungkinkan lagu nomor 1 diputar berkali-kali. Ya. Saya punya kebiasaan membosankan; menunggu, mendengarkan lagu yang sama berkali-kali, dan memandangi benda tak bergerak sambil berkhayal. Sungguh, saya tak heran jika tak banyak yang tahan dengan cara saya "having fun" ini. Kebanyakan akan undur diri sebab merasa aneh. Atau malah makin dekat, sebab sama-sama aneh. You know, it takes a wicked to see a wicked. =D

Dan ya. Sebutlah ini random. Sebutlah saya bagian dari buih di lautan yang turut terseret ombak "Ariel is back!", tapi lagu Separuh Aku itu maknanya bisa dalam jika benar-benar direnungi! Serius! Lepas dari kontroversi kehidupan sosial-personal-nya, saya harus akui, Ariel dkk dalam Peterpan merupakan satu dari dua band Indonesia (satu lagi adalah Letto) yang lagu-lagunya tidak "murah" dalam hal diksi dalam lirik-liriknya, melodi, dan makna yang bisa diungkap oleh pendengarnya. Sejauh ini, saya belum menemukan band lain yang berhasil mengusik saya kecuali dua band itu saja.

Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali.
Kau terluka lagi, dari cinta rumit yang kaujalani.
Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu.
Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia.

Saya membayangkan, seolah ada seorang sahabat yang memandang iba pada seorang sahabatnya yang sedang patah hati. Patah hati sebab terlalu naif menjalani hidup dan mencari satu yang meneduhi. Benar-benar jiwa yang putus asa. Mengelana dunia demi sepotong pengakuan yang diperebutkan milyaran manusia setiap harinya; cinta.

Ku ada di sini.
Pahamilah kau tak pernah sendiri.
Karena aku slalu di dekatmu saat engkau terjatuh.

Betapa kadang kita menggerayang dunia luar seluas-luasnya, dan kita lupa menghargai mereka yang ada di sisi kanan-kiri kita. Padahal, kadang, ada banyak kasih sayang dan kerinduan yang berteriak kencang-kencang di daun telinga kita. Mencoba meminta perhatian kita. Setelah mereka selalu menyuapkan nasi dan lauk energi bagi hati kita yang terlena dengan dunia di luar sana. Setelah mereka senantiasa mengelap peluh atas lelah kita bergerilya mencari nafas baru di luar sana. Namun demikian, masih saja kita tetap memegang tombak erat, berburu bibit-bibit cinta yang berkelabat. Buta tuli bisu pada yang sangat mengerti kita mengerti dia.

Dengar laraku.
Suara hati ini memanggil namamu.
Karena separuh aku, dirimu.

Mungkin kita terlewat mendengar suara hatinya. Suara kalbunya yang memohon sedikit saja perhatian kita. Bagi mereka yang selama ini mencintai kita dengan separuh hidupnya. Melupakan kebahagiaannya. Tak gubriskan kepentingan dirinya. Demi kita.

Dan kita tetap saja tak sadar. Sementara mereka terus menyanyi tanpa lelah. Untuk kita.

Hari ini saya mulai melihat nilai lagu ini lebih dalam. Seperti ada banyak orang yang menyanyikan lagu ini pada saya. Seperti saya tak lagi peka. Tak sensitif dalam menyicipi cinta. Tak bersyukur atas hati-hati yang memeluk saya dengan kasih sayang mereka. Keluarga. Orang tua. Sahabat. Saudara. Saudari. Ya, bahkan nurani saya sendiri.

Lalu saya pikir, saya perlu pelankan sedikit langkah dan hargai bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan tapak. Rasakan kehadiran angin, kupu-kupu, cerahnya matahari, goyangnya rerumputan, birunya angkasa. Semua bagian dari perjalanan yang tertangkap kelima indera saya saja. Syukuri dan cintai semuanya. Saya mulai merasa separuh jiwa saya yang hilang terisi pelan-pelan. Membentuk damai. Merasa tidak sendiri. Sebab Allah selalu punya cara menghibur-Nya sendiri bukan?

Dengar laraku.
Suara hati ini memanggil namamu.
Karena separuh aku, menyentuh laramu.
Semua lukamu tlah menjadi milikku.
Karena separuh aku, dirimu.

Indah ya, ketika semua luka kita menjadi luka yang lain atau sebaliknya. Dan bukankah itu makna dari takaful; rukun keempat ukhuwwah? Sepenanggungan. Saling merasakan beban satu sama lain. Dan itu, cuma milik mereka yang menyatukan tangan demi satu ikatan yang disaksikan oleh Allah, dipelihara oleh Allah, dan dipisahkan juga oleh Allah; rabithah.

Hei, jangan lagi merasa gundah sendiri. Sini, bagi. :")

Kamu mengerti aku mengerti kamu. Sebab saling memahami itu bukan satu arah, melainkan DUA.


Lamkeuneung. 24 September 2012.

Saturday, September 22, 2012

Anekdot dari Angkasa

Senyap. Lalu angin membelah malam dengan rindu paling tajam. Dan sabit menggentayang di sisi para awan. Mendayang gemintang pada pekatnya dirgantara. Gelegak perasaan sebongkah hati anak manusia sayup-sayup tercium amisnya ke atas atmosfir dunia. Ada yang sedang menjahit luka. Dengan jarum yang berkarat. Dan benang nilon yang sudah kadaluarsa.

Selaksa bimasakti lalu berdiskusi. Mereka iba. Pada anak manusia tersebut. Lukanya menganga, tapi dikaratinya bahkan lebih lagi. Segenap kumpulan gas yang nyaris supernova sejenak berhenti. Turut berpikir. Sementara meteor tak ambil pusing dan terus saja menawafi angkasa tanpa peduli. Maka lalu akhirnya mereka setuju. Sebutir partikel akan dikirim pada langit di atasnya. Untuk berpendar. Membentuk matahari bagi hatinya sendiri. Agar hamparan biota dalam lapangan perasaannya berseri kembali. Agar menghangat serata cahaya, memantul-mantul dalam fotosintesis dan rantai makanan yang ada.

Dan di sana. Tibalah partikel itu. Mendarat pelan ke dalam langit perasaan sang anak manusia. Membentur-benturkan bijih-bijih mikronya. Melesat ke sana ke mari. Memataharikan diri. Hingga lalu hangat. Semi semua Musim Dingin. Gugur semua hipotermi. Berganti dengan kelopak-kelopak Bougenville. Kuning merekah seserentak mawar-mawar segala warna; merah muda, putih, dan campuran jingga dan ungu.

Bimasakti mengintip. Supernova terus menari sambil sesekali mencuri cerita. Matahari mini dalam langit perasaan sang anak manusia terus berpendar. Bahwa semua bunga di lapang rumput hijau di bawahnya mekar semula. Seolah lupa sudah sekian puluh dekade diperangkap salju. Seperti tak pernah kenal pada beliung.

Namun lalu. Semuanya hitam semula. Sudah pagi. Sang anak manusia itu bangun. Dari mimpinya. Tergesa ia menuju laci dan meraih sebatang pena. Ia tulis tebal-tebal di lembar paling belakang buku hariannya.

"Tuhan, kumohon, simpan kunci hatiku baik-baik. Semalam aku mimpi, ada pencuri!"



Lamkeuneung. 22 September 2012.

Konfesi

Kautitipkan beberapa rembulan
Padaku
Berlatar bebukit yang malu-malu
Sembunyi
Dengan cadar awan yang merajut diri pelan-pelan

Dan
Alam
Membahana

Dengan seutas nafas yang menali dengan bulir-bulir sisa senja
Yang fana
Berseteru dengan mawar paling cahaya
Merah

Sehingga diri
Memisau dan mengiris ruang-ruang yang berkabut busuk
Menyuruh pergi

Dan aku
Akhirnya
Mengambil godam
Dengan segenggam percaya
Dan seikat janji setia
Batu-batu paling remuk
Membuang semua sisa saham yang jelaga
Berdagang
Hanya dengan Yang Punya Segala Pahala

Dan kini
Bahkan sabit pun terasa purnama.


Lamkeuneung. 22 September 2012.

Thursday, September 20, 2012

Once Upon A Time



Once upon a time
There lived a princess
With green gown, pearls on the sides
Holding the command at any time
Wishing all the goodness for her people

Then there she was
Doing almost everything to lighten up others' lives
For one thing she failed to fetch up to memories;
A wish to recall her loved ones at home
Some postcards to those who bid her farewell to lead in far away land wide

She had all the devastations
When the loved ones turned up and sued her
With the most painful plea;
That she forgot to love
Her own loved ones

Really
Ever since
The princess had reformed herself
Into endless crying
Desperate tears within smiles
Stabbed with a dagger of jealousy
For those who can freely love
And never got accused by their loved ones
Or even further
Being wronged by the loved ones for loving some others out there

Really
The princess is more or less
A walking corpse
Who no longer dare
To be brave over her own heart
Ever


Somewhere, September 2012

Tuesday, September 18, 2012

Pernikahan Bang Bedi dan Kak Ari (9 September 2012)

PERTAMA KALI menjadi fotografer wedding (amatir) beginian! :D
Bersama rekan sekaligus sahabat terdekat saya Bengi Muthmainnah (plus kamera DSLR punya dia hehe), kami membidik momen bahagia abangda dr. Bedi Andika dan ayunda Ari Sinta, S.Psi pada tanggal 9 September 2012. Ada foto di Masjid Al-Makmur Lampriet (tempat diadakan akad), Taman Putroe Phang Banda Aceh, dan rumah bang Bedi (tempat walimah sederhana mereka diadakan). Mohon masukannya. :) 



Putroe Phang, menjelang Zuhr.

Putroe Phang, menjelang Zuhr.

Masjid Oman, pasca akad.

Masjid Oman, memamerkan buku nikah.

Masjid Oman, pasca akad.

"The peusijuek tools"

Makan bersama perdana para mempelai, Lamteumeun (rumah bang Bedi)

Sejumput undangan pria (kebanyakan mahasiswa FK Unsyiah)

Sejumput undangan perempuan (kebanyakan mahasiswi FK Unsyiah)



Friday, September 14, 2012

Kumohon

Kumohon.
Aku sulit membuka dan menutup hati. Padamu kadung pernah dulu kubuka sekali. Dan kini, aku tak lagi ingat bagaimana kembali mengunci.
Jadi, kumohon.
Jangan buat aku menyesal pernah membuka gerbangnya. Menyambutmu sebagai matari baru. Sinar yang kujaga dari angin Selatan.
Kumohon.
Tetap menyata dalam tiap girus memori. Tetap menjadi wajah yang kuingat hingga ke inchi. Tetap duduk dan menatap dalam senyum dan berkata, "Aku tidak apa-apa." di deret toko-toko yang tetap tegak meski disambar Tsunami.

Karena sesungguhnya, terus berjalan tanpamu.
Sesekali membuatku diam. Menangis. Rindu. Sementara belum waktuku untuk istirahat, sepertimu.


Lamkeuneung, 14 September 2012, 10.40 PM

Jangan Tanya Apa Kabar

"Hi, there."
"Hi."
"Are you all right?"
"Yeah. Kinda."
"Is there anything I can help you with?"
"No... Oh, wait. Yes, there is something you need to do for me."
"What is that, then?"
"Could you please shut up and stop asking my being? Thanks."
"..."



Sebab kadang, yang kita butuhkan adalah kesunyian yang absolut. Tanpa bahkan pertanyaan "Apa kabar?". Bukan marah. Bukan melarikan diri. Hanya ingin sendiri. Berbicara dengan nurani. Salahkah?

Lamkeuneung, 14 September 2012, 10.14 PM

Monday, September 10, 2012

Cerita 3 Dokter Cantik Hatinya (Oleh: Bang Darwis "Tere Liye")

tulisan di bawah ini adalah murni hasil copy paste dari salah satu postingan bang Darwis "Tere Liye" di laman Facebooknya.




*Cerita 3 dokter cantik hatinya


Ada 3 dokter muda, wanita, berteman baik, yang barusaja mengucapkan sumpah dokternya. Kalian tahu isi sumpah dokter? Itu keren sekali, amat indah. Saya akuntan, tapi sy tetap terharu membacanya, bahkan baru kalimat2 awalnya saja, membaca sumpah dokter ini membuat sy amat menghargai profesi ini.

Terbawa suasana riang barusaja menjadi dokter, juga dilingkupi dengan semangat kebaikan yg ada dalam sumpah socrates tersebut, ketiga sahabat baik ini berjanji satu sama lain untuk mengadakan sebuah kompetisi positif, yaitu: siapa yang paling banyak melayani orang lain selama mereka menjadi dokter. siapa yg paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain (entah itu merawat pasien, orang2 berkonsultasi, murid/mahasiswa, bimbingan, apa saja, sepanjang mendapatkan manfaat dari ilmu kedokteran mereka). Dua puluh tahun lagi mereka akan bertemu, dua puluh tahun lagi mereka akan melihat siapa yg memenangkan kompetisi tersebut.

Waktu berlalu cepat, lepas dari acara pengucapan sumpah tersebut, ketiga dokter itu berpisah, karena asal kota mereka memang berbeda satu sama lain, berjauhan. Dua puluh tahun berlalu, mereka disibukkan dengan rutinitas masing2, hingga tibalah reuni akbar fakultas kedokteran kampus mereka. Tiga dokter itu bertemu kembali. Tertawa bahagia, saling berpelukan, mengenang banyak hal, dan bercerita lebih banyak lagi. Hanya soal waktu ketika mereka bertiga sambil tersenyum simpul mulai membicarakan tentang kompetisi dua puluh tahun lalu.

Dokter pertama, kembali ke kota asalnya, menjadi dokter yg amat terkenal. Dia bekerja di rumah sakit daerah, sekaligus membuka praktek. Dia dokter yg berdedikasi, sumpah socrates membuatnya menjadi dokter yg penuh kasih sayang, peduli pada pasien, selalu membantu. Maka tidak heran, puluhan orang memenuhi tempat prakteknya setiap hari. Dua puluh tahun berlalu, berapa jumlah orang yg pernah dilayaninya? Seratus ribu orang. Wow, dua sahabatnya berseru kagum, bukan main.

Dokter kedua, giliran dia bercerita, sejak masih mahasiswa dia sudah menjadi aktivis yg baik. Saat sudah menjadi dokter, maka dia mendedikasikan ilmunya untuk orang2 yg tidak mampu, terpencil dan terkena musibah. Saat kejadian tsunami di suatu tempat, puluhan, ratusan, tidak terhitung pasien setiap hari yg harus ditangani, belum lagi belasan posko kesehatan yg berada di bawah komandonya. Dia dokter yg hebat. Dua puluh tahun berlalu, maka jumlah orang yg dilayaninya tidak kalah mengagumkan, seratus lima puluh ribu orang. Wow, dua sahabatnya berseru tidak kalah kagumnya, bukan main. Terlebih orang2 yg dia layani adalah orang2 yg tidak mampu atau terkena musibah.

Setelah seruan kagum atas cerita temannya, dokter ketiga terdiam, giliran dia bercerita, tapi hei, dia menggeleng. Ada apa? Dua temannya yg penasaran hendak mendengar rekornya bertanya. Dia menggeleng lagi. Kenapa? Ternyata, sejak sumpah socrates itu dilakukan, dia seharipun tdk pernah membuka tempat praktek dokter atau bekerja di rumah sakit, klinik. Mengapa? Karena saat kembali ke kota asalnya, menikah, suaminya memang mengijinkan dia bekerja, tapi Ibunya mendadak jatuh sakit. Lumpuh, hanya bisa tiduran di ranjang. Anak semata wayang, dia memutuskan merawat Ibunya, penuh kasih sayang, telaten. Bertahun2 Ibunya sakit, dan saat usia tua tidak bisa dikalahkan oleh perawatan medis sebaik apapun, Ibunya meninggal dalam pelukannya. Satu tahun setelah kesedihan itu, dia hendak kembali memulai cita2 membuka praktek dokternya, tapi suaminya, tiba2 juga menyusul jatuh sakit, stroke. Terbaring di ranjang tdk berdaya. Maka dimulai lagi siklus yg sama. Bertahun2 merawat suaminya, penuh kasih sayang, telaten. Kondisi suaminya memang membaik belakangan, sudah bisa berjalan normal, tapi semua sudah berlalu, dua puluh tahun telah lewat, kesempatan telah dimakan waktu.

Hanya dua orang itu saja pasiennya selama ini.

Lantas siapa yang memenangkan kompetisi ini? Dokter yang ketiga.

Tentu saja bukan karena semata2 dia merawat Ibu dan suaminya. Karena jumlahnya tetap kalah telak dibanding rekor pasien dua sahabatnya tadi. Dia memenangkan kompetisi itu, karena dia punya sebuah rahasia kecil.

Kalau mau jujur2an, tidak terhitung dokter ketiga ini marah, kecewa dengan situasi yg dialaminya. Dia iri melihat tetangganya, ibu2 rumah tangga yg juga memiliki karir. Apalagi saat membayangkan temannya yg sekarang pasti sibuk melayani pasien. Dia termasuk lulusan terbaik, tapi sekarang hanya terkurung di rumah. Tapi mau dikata apa? Siapa yg akan merawat Ibu dan suaminya? Maka dengan kesadaran baru, di tengah2 keterbatasan tersebut, di sisa2 waktu yg dimilikinya di rumah, karena jelas dia tdk bisa pergi lama meninggalkan ibunya dan suaminya, dia mulai menulis. Bertahun2 tulisannya tentang kesehatan, dunia medis mulai menggunung. Dan satu persatu menjadi buku dan diterbitkan penerbit besar. Mencengangkan melihat buku2 itu bisa jauh sekali menyerbu hingga ke kamar tidur, toilet. Karena dia menulis apa saja, mulai dari tips kesehatan simpel, hingga update dunia kedokteran modern, maka buku2nya amat beragam. Menjadi teman bagi ibu2 yg sedang hamil. Menjadi teman bagi ibu2 yg punya balita. Menjadi teman bagi siapa sj yg merawat pasien di rumah. Puluhan judulnya, ratusan ribu oplahnya, jutaan pembacanya.

Wow, dua sahabatnya berseru kagum setelah terdiam lama. Hei, ternyata itu buku karanganmu? Dua temannya berseru riang, kami bahkan memakainya sebagai referensi loh, mereka memeluk erat dokter ketiga. Mereka bersepakat, dialah yang memenangkan kompetisi tsb.

My dear, siapa saja yg tersambung dgn page ini, dan berniat utk belajar banyak hal dari page ini, maka yakinilah, kita selalu punya cara jika ingin bermanfaat bagi orang lain.

Saya beri contoh lain. Ada ibu2 rumah tangga, tidak berpendidikan, SD pun tidak tamat. Keluarga mereka miskin, anak banyak. Tapi dia setiap hari selalu menyempatkan setelah menjadi buruh tani, menanam pohon bakau. Kampung mereka dekat dengan pantai. Puluhan tahun berlalu, berapa jumlah pohon bakau yg dia tanam? Jutaan. Menakjubkan. Apa modal menanam pohon bakau? Cukup golok, tebas sana, tanam sini. Dan berpuluh tahun berlalu, pohon bakau itu bukan saja menjadi tameng jika tsunami terjadi, tapi mengembalikan kesuburan, ikan, kepiting, udang, bermanfaat banyak bagi kampung tersebut.

Saya beri contoh lain. Ada pemuda putus sekolah, kelas dua SMA, karena dipengaruhi teman, merokok, mabuk2an, nge-trek, maka drop outlah dia. Usianya sekarang dua puluh lima, kerja serabutan jadi tukang, montir, apa saja. Tapi dia punya kesadaran baru. Dia tidak ingin anak2 di kampung itu senasib dengannya, maka jagoan muda kita ini, dengan uang tabungan yg sedikit dr kerja serabutan, mulai mendirikan taman bacaan di rumah orang tuanya. Dengan akses bacaan yg baik, anak2 di kampung itu bisa memiliki pemahaman yg baik. Sedikit sekali koleksi bukunya, tp semangat membaca anak2 lebih penting.

My dear, kita selalu punya cara jika ingin bermanfaat bagi orang lain. Selalu. Maka mulailah dilakukan. Dikongkretkan. Sebagai penulis, sy mungkin bisa membuat indah kalimat, mungkin membuat hati berembun, mungkin membuat kalian menangis atau tiba2 bersemangat, tapi itu hanya kalimat2. Kalianlah yg akan membuatnya mnejadi nyata, dengan tindakan kongkret.

Selamat mencoba.

Sunday, September 9, 2012

"Saya Salah (Pilih) Kuliah di Kedokteran!"




"Being me has its privileges." (Albus Dumbledore)


Dulu, ketika di semester 2 (kira-kira setahun pertama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala ini, tahun 2008-2009), saya sempat merasa saya salah pilih jurusan. Dan menariknya, perasaan "salah pilih jurusan" itu berkepanjangan. Seolah-olah, belajar di kedokteran seperti "mengekang" diri saya sesungguhnya. Saya lebih suka menulis puisi dari pada KTI. Saya lebih suka menggambar bunga daripada jaringan dan segala detil Histologinya. Saya lebih senang bernyanyi daripada menghafal setiap tulang, otot dan sendi tiap kali praktikum Anatomi. Masih syukur, saya tetap tertarik (sedikit) di bidang Fisiologi dan Biokimia, itu pun sebab masih ada kaitannya dengan pelajaran Biologi yang saya pelajari ketika SMA dulu. Selebihnya? Dengan kondisi saya yang sebenarnya berasal dari angkatan 2007, membaur dengan angkatan 2008 (meskipun tahun lahir saya memang pantasnya masuk tahun 2008, dulu saya cepat masuk SD setahun memang) adalah sebuah tantangan lain. Saya merasa seperti terdampar dengan banyak adik-adik angkatan semasa SD, MTsN dan SMA. Apalagi saya domisili di (dekat) Banda Aceh, maka banyak wajah yang tak lagi baru di kampus yang membuat saya makin kurang tertarik untuk sosialisasi. Tidak banyak yang baru yang bisa dijumpai. Dunia terasa begitu sempit dan itu-itu saja.

Seiring waktu, saya mulai masuk demi sedikit dengan kondisi angkatan, mau tidak mau. Pun saya lalu aktif di BEM FK Unsyiah mulai tahun 2009 hingga 2011, maka berbaur dengan seluruh kampus pun terpaksa saya jalani. Namun satu hal tetap tidak berubah hingga saat saya ikut seremoni wisuda; saya masih tetap tidak merasa pantas menjadi seorang dokter.

Tunggu, anda pasti berpikir, kuliah di kedokteran (lulus lewat jalur SNMPTN, bukan jalur mandiri) tapi tidak merasa pantas menjadi seorang dokter? Apa saya gila? Mengapa tidak memilih jurusan yang memang sejalan dengan isi hati saya? Well, sebut saja ini adalah keputusan yang sudah saya "bijaksana"-kan sebisa mungkin bersama keluarga. Dan bagaimanapun juga, konon katanya ketika saya masih kecil saya sering berteriak "Dokter!" tiap kali ada yang bertanya "Cita-citanya mau jadi apa?". Meskipun ketika mulai memasuki usia remaja, saya mulai melihat banyak pilihan lain untuk cita-cita, namun akhirnya saya tetap menjalani pilihan masa kecil saya itu. Seperti yang Susan (baca: Susan adalah boneka yang suaranya berasal dari Kak Ria Enes, figur terkenal saat saya masih kecil dulu yang sering mempropagandakan profesi dokter dan presiden sebagai cita-cita anak-anak tahun 90'an) sering kampanyekan, saya hibur diri.

Awal-awal kelulusan, saya masih merasakan haru dan bahagia. Mimpi masa kecil itu sedikitnya ada saya ingat. Sekedar bahagia sebab ternyata saya juga bisa menjadi satu dari sekian persen yang bisa mengambil kursi di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di tahun 2008. Bahagia sebab meskipun ketika mengikuti bimbingan belajar pra SNMPTN saya sering dianggap gagal (dengan nilai rata-rata minus untuk tiap pelajaran kecuali English) ternyata saya juga bisa mengejar ketertinggalan dan lulus. Bahagia yang kurang tahan lama rupanya.

Karena seiring waktu, kebahagiaan itu ternyata luntur pelan-pelan. Sungguh, sekuat apapun saya mencoba mengondisikan pikiran dan hati, saya sesekali masih juga berpikir bahwa saya tidak pantas menjadi seorang dokter. Saya merasa bahwa saya tidak serajin teman-teman lain yang begitu antusias dalam belajar. Tidak begitu bersemangat dalam melakukan ritual belajar bersama. Tidak begitu "menggelegak" ketika ada ajakan untuk mempelajari hal-hal baru dalam seminar kedokteran X atau simposium Y atau pelatihan kedokteran Z. Secara akademik, IPK saya tidak pernah di bawah angka 3. Tapi juga tidak begitu "wow" sehingga saya bisa lulus dengan cumlaude saat wisuda. Sekedar standar menjalani semua assignment kan sudah memenuhi standar minimal studi kedokteran ala Problem-based Learning toh? Mahasiswa FK se-Indonesia pasti mengerti maksud saya.

Maka tidak heran jika dalam keseharian social media saya, saya lebih sering mengupdate mengenai hal-hal di luar kedokteran. Saya bahkan lebih bisa menyusun larik demi larik puisi daripada mendaftarkan nama-nama antibiotik spektrum luas atau dosis obat-obat emergency yang seharusnya mulai saya pelajari pelan-pelan. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang kurang terkait dunia kedokteran, saya sering update status mengenai hal-hal yang bersifat isu sosial. Hingga suatu hari, saya mengupdate sebuah status mengenai kondisi mahasiswa masa kini dan dikomentari oleh seorang teman dengan kalimat berikut ini:


"Nuril ini cocok jadi pengamat."


Waktu itu, saya dan rasa kepenasaranan saya yang memang tinggi kontan langsung meng-SMS si pemilik akun yang meng-komen. Singkat cerita, isi percakapan pun mengerucut di imbauan sang teman agar saya melanjutkan S2 ke Hubungan Internasional (HI). Maksudnya, agar saya bisa menjadi "pengamat" secara jalur akademis kali ya? Ketika saya bilang bahwa itu terlalu jauh terlempar dari (calon) profesi saya, beliau bilang itu adalah hal biasa. Banyak juga dokter yang mengambil keputusan "banting stir" ke bidang lain, termasuk ke HI. Dan harus saya akui, itu memang benar. Jangankan HI, menjadi konsultan ekonomi di perusahaan-perusahaan terkenal tertentu saya juga tahu pernah ada.

Namun waktu itu saya teguh bahwa itu terlalu jauh dari bidang yang sudah - kadung - saya jalani. Meskipun memang saya akui, bahwa saya semacam "salah milih kuliah".

Lalu tiba-tiba balasan dari beliau selanjutnya membuat saya kembali berpikir. Lama sekali. Sampai 2 hari. Begini balasannya.


"Salah kuliah pilih FK? Gayamuu.. Coba berapa banyak orang mau masuk FK, Nuril seenaknya bilang 'salah milih kuliah'."

Deg. Iya. Ada berapa orang di luar sana yang rela mati demi bertukar posisi dengan saya? RIBUAN? RATUS RIBUAN? Atau mungkin JUTAAN? Ah, sebegitu tidak menggunakan kesempatankah saya?

Ah, Allah. Sebegitu lemahkah saya dalam memahami jalan yang Dia hamparkan bagi saya? Kembali berkelebat ayat ke-216 dari surat Al-Baqarah itu.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."   - QS Al-Baqarah: 216

Maka lagi-lagi saya merasa tertampar tepat di ulu hati. Perih. Keras menggedor pintu kesombongan untuk membuka dan membiarkan angin kesyukuran lewat. Agar menghargai dan menerima taqdir dengan ridha. Agar menentukan pilihan, apakah membelok mencari jalan lain atau tetap menjalani jalan ini TAPI dengan usaha sungguh-sungguh menyesuaikan diri dengan standar kualitas yang ada. Maka beginilah jawaban SMS terakhir saya bagi sang teman. Dan inilah insya Allah yang akan saya - coba - jalani. Semoga Allah memberi kita semua petunjuk mengenai semua pilihan dalam hidup kita. Karena sungguh, apapun profesi kita, selama itu mengundang ridha-Nya, itulah yang utama. Semoga.

"(memang) Saya salah milih, tapi lalu saya memilih untuk tetap menjalani pilihan ini."

Allah, maafkan hamba yang sering kurang bersyukur dengan semua jalan hidup yang Kau berikan padaku ini.  Semoga setiap orang yang membaca tulisan ini pun Engkau berikan kekuatan untuk teguh dalam menjalani pilihan hidupnya meski terasa berat di awalnya. Karena sesungguhnya tak ada yang sia-sia dalam hidup ini, begitu, kan, wahai Ar-Rahman?


Lamkeuneung, Syawwal 1432 H.

Jika Pagi (Dan Kau Tak Mau Begitu Lagi)



Jika pagi 
Kaubuka jendela 
Kaurunut tingkah demi tingkah 
Polah yang kau siap lakoni 
Sepanjang hari 

Jika tegak surya di atas mata 
Maka kaubeli sepotong roti 
Dengan selai bahagia 
Kaumamah cinta dengan rasa srikaya 
Dengan air cita-cita 
Setenggak saja 

Jika senja 
Kauambil gunting 
Kaurayapi dirgantara sunyi 
Berebut sudutnya dengan camar yang bernyanyi 
Lalu kaupotong pelan-pelan 
Surya yang perlahan menila 
Sekulah-dua laut yang menjingga 
Kaumasukkan dalam amplop 
Kautulis, "Kepada yang ter-rindu, Kekasih di pucuk ufuk." 

Jika purnama 
Kaupungguki puncak paling malam 
Kaulolongi setiap kunang-kunang 
Kautatapi sinar tiap mercusuar 
Kaurendam tapak kaki dalam pasir 

Jika pagi 
Kembali 
Kau kini paham 
Tak semua dongeng melegenda 
Tak semua isi hati adalah puisi 
Tak semua perantauan adalah bunuh diri 

Maka kaulari 
Pergi 
Hingga pagi yang mawar pun enggan 
Mengikuti 

Dan engkau kini berdiri 
Tanpa jika 
Tanpa pagi 




Lamkeuneung, 9 September 2012

Tuesday, September 4, 2012

Sa - Dua Blah (Aku, Suatu Waktu, Menulisnya Untukmu)

Sa
Aku menikmati melodi-melodimu dalam tiap deras hujan yang menyirami teras rumahku secara tiba-tiba. Aku turut menyenandungkan melodi-melodimu dalam kerontang penghadang jalan bersama deretan pinus Darussalam-ku. Aku mendayungi perahu menujumu untuk mengembalikan padamu, semua melodi-melodi yang telah kaupinjamkan padaku dulu.

Dua
Kemarin kukirimkan merpati antarkan hasil merajut pertamaku. Rajutan dari sepasang tangan yang dulu kaukata penuh cahaya. Tangan yang selalu kautuding untuk bangkit dan menamparmu tepat di ulu jantungmu. Ya, dengan tangan ini aku merajut untukmu. Pelan dalam tiap tisikan, hati-hati dalam menyentuhkan jarum kepada gulungan wol yang susah-payah kubeli dari loak di ujung gang.

Lhee
Seumeukoh
Padee ata nyang gata tanom
Baroh buleun manyang ateuh jeumpa
Sidroe
Tan laen
Saweub keupeu
Adak rame, lage gadoh ban mandum sue bak donya nyoe
Lagee nyang na
Lon ngoen gata mantong
Seumeunging sang hantom turie
Jadi saban chit
Sidroe

Memotong
Padi yang kautanam
Di bawah bulan yang tinggi di atas jeumpa
Sendiri
Tiada yang lain
Sebab untuk apa
Meski ramai, bagai tiada suara lain di dunia
Seolah yang ada
Hanya aku dan kau saja
Saling melihat seperti tak pernah kenal
Jadi sama saja
Sendiri


Peut
I just returned from the sea
Where ashore I step in to the sand
Glazing at the shells
Grasped amongst my fingers - beauty
Let the blue behind
Welcome the green ahead - are you with me, still?

Aku baru kembali dari laut
Di mana ketika aku melangkah ke pantainya
Memandangi kerang-kerang di sela jariku - keindahan
Meninggalkan biru di belakang
Menyambut hijau di hadapan - apa kau masih bersamaku?


Limong
Jelang petang sudah. Aku masih belum memutuskan melanjutkan perjalanan dengan ransel yang sama dengan yang kucangklong selama dua tahun terakhir ini. Apa pendapatmu? Aih, aku lupa. Mengapa bertanya padamu, kau kan hanya bisa diam, iba dan menatap. Kau hanya bisa duduk di pohon-pohon Mahoni dalam mimpi jelang Subuh-ku. Bungkam tetapi senantiasa memanggil. Heran. Aku sungguh heran padamu. Suaramu ngiang panjang tapi kau tak pernah terlihat membuka kata pada siapapun jua. Kau hanya bisa membuatku menoleh, hei? Tidak. Aku bukan sekedar menoleh, aku memutar seluruh tubuhku menghadapmu. Mengharap kau akhirnya sudi bicara padaku. Paling tidak, sampaikan padaku, pantaskah aku melanjutkan perjalanan dengan ransel ini? Atau aku bisa kembali pada jas hujan berkantong-ku saja? Banyak tempat untuk menyimpan sekedar dompet dan alat pemanggil namamu. Tanpa beban, tanpa harus bungkuk punggungku mencangklong ransel itu. Ya, ransel itu. Ransel hitam itu, ransel yang kauhadiahkan padaku dulu.

Nam
Kuning
Ungu
Biru
Merah jambu
Abu-abu
Hitam
Kau pilih yang mana?
Aku ingin warna lain
Ya, bahkan aku tidak lagi ingin ungu

Darussalam, 22 Juni 2010, 15:26 WIB

***********************************************************

Tujoh

I’m not gonna be the one who ends this love
And I’m not gonna be the one who dares to take away my eyes from you
I’m not gonna be the one dares to leave you
Cuz I won’t be alone
Love is all I need
Cuz I’m never gonna be the one who ends this love

I wanna see where this love would take me
Cuz all I want is to be with you

Aku tidak akan yang menjadi (yang pertama) mengakhiri cinta ini
Dan aku tidak akan menjadi (yang pertama) berani menghentikan tatapan mataku darimu
Aku tidak akan menjadi (yang pertama) berani meninggalkanmu
Sebab aku tidak ingin sendiri
Cinta adalah segalanya yang kubutuhkan
Sebab aku tidak akan menjadi (yang pertama) mengakhiri cinta ini

Aku ingin melihat ke mana cinta ini akan membawaku
Sebab yang kuinginkan adalah (terus) bersamamu

- Kutipan dari Sami Yusuf (Never Never)



Aku terus mendayung pedal. Masih menujumu. Mengembalikan melodi-melodi (yang pernah kaupinjamkan padaku dulu) yang makin kukunyah lumat sepanjang perjalanan. Makin ingin kukembalikan padamu, makin aku ingin menyembunyikannya dalam tiap kunyahan lidahku. Ingin kutelan. Ingin kusembunyikan dalam darah dan jantungku.; agar mengalir ke seluruh pembuluh darahku. Ironi. Sebab seharusnya pedal ini kukayuh agar segera tiba padamu, mengembalikan melodi-melodi ini. Hingga akhirnya di depan pintu gerbangmu, aku malah memutar arah dan kembali ke desaku.

Lapan 
Matari, begitu Pramoedya Ananta Toer menyebut sebundar benda yang kerap terbit tiap fajar dan tenggelam tiap petang. Entah bahasa apa itu, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mulai menggantikanmu yang kemarin deras membasahiku dengan sebutan itu; Matari. Karena harusnya kau menyinari. Karena harusnya kau tidak meninggalkanku sendiri. Seperti Matari yang tak pernah diizinkan Pramoedya Ananta Toer meninggalkan Gadis Pantai sendiri dalam setiap bab. Seperti yang dirindukan oleh Gadis Pantai; Matari di rumah Bendoro-nya tidak senyaman dan secerah seperti di perkampungan nelayannya. Dan aku, kukira bisa merasakan apa yang Gadis Pantai itu rasakan. Kau Matari-ku.
Matari.
Dan aku bernama Cahaya.
Maka tidakkah kita sebenarnya sama saja?

Siekureung 
“Jangan lepaskan ransel hitam itu.”
“Mengapa?”
“Adakah ini kata yang beruntai mutiara saja atau tegak musabab rasa nyata yg meraja? Yang mana?”
Hening. “Entah.”
“Jangan. Jangan lepaskan ranselmu.”
“Aku ingin bertemu dia. Dia yang duduk di antara pepohon Mahoni di mimpi jelang Subuh-ku. Ah, aku tidak suka. Dia diam saja. Mahoni-mahoni itu hanya penggiring kekecewaan.”
“Apa yang salah dengan Mahoni-mahoni itu? Kau bilang dia hanya diam, tapi, paling tidak, dia masih disana kan? Menunggumu. Tetap tahu perjalananmu.”
“Hanya ujung jilbab kuningnya saja yang menggodaku. Ia tetap tidak menjawab tanyaku.”
“Memangnya siapa dia?”
“Dia. Dia yang pernah memelukku sebab rindu.”
“Ceritakan lagi padaku, siapa dia?”
“Dia yang kerap mengajakku memelodikan sepotong nada.”
“Aku masih ingin mendengar tentang dia.”
“Dia yang sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa ingin menjelaskan mengapa membawa lari melodi-melodiku dan mengganti isi pita suaraku dengan melodi-melodinya.”
“Dia mencuri?”
“Dia mencuri. Mencuri dengan caranya yang indah. Hingga aku rela jika harus dicuri lagi olehnya.”
“Aku masih ingin tahu tentang dia.”
“Dia. Ah, dia.”

Siploeh
“Dua tahun berlalu. Kau membuatku terkejut. Kau melompat dari batu pertama ke batu berapa ya, mungkin batu kelima – secara sangat cepat menurutku. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih, bagaimana mengatakannya, mungkin seperti angka nol. Dan lihatlah kini dirimu. Kau sudah tidak seperti dulu.”
"Burukkah itu?"
“Tidak. Itu tidak buruk sama sekali.”

Sieblah
Aku duduk di depan guruku. Aku kisahkan keseluruhan kisah padanya. Semua, tanpa kusimpan apapun yang kuresahkan. Tentang dia. Tentang sesuatu yang entah ingin tetap kupeluk atau kutinggalkan.
“Kadang, kita harus mundur sebentar untuk dapat maju lagi.”
Darahku menyirap. Terlalu lamakah aku jalan dan seperti lupa berhenti untuk sekedar mengikat tali sepatu? Terlalu gebukah aku dalam menjalani semua ini?
“Baca lagi Surat-Nya. Diam dan dengarkan. Salami. Kau akan temukan jawabannya.”
Maka aku pulang membawa sebingkisan nasihat dari guruku, kenangan akan dia sebab terus ditanyai seorang petualang, dan sebilah pendapat tentang lompatanku dari seorang teman yang baik.

Dua Blah
Aku membeli pena baru
Aku membeli buku baru
Dua bulan lagi
Jika Tuhan mengizinkanku
Aku akan mengecup setiap hari yang ada padaku secara baru

Darussalam, 24 Juni 2010, 11:56 WIB


catatan:

Sa = 1
Dua = 2
Lhee = 3
Peut = 4
Limong = 5
Nam = 6
Tujoh = 7
Lapan = 8
Siekureung = 9
Siploh = 10
Sieblah = 11
Dua blah = 12