Saturday, September 22, 2012

Anekdot dari Angkasa

Senyap. Lalu angin membelah malam dengan rindu paling tajam. Dan sabit menggentayang di sisi para awan. Mendayang gemintang pada pekatnya dirgantara. Gelegak perasaan sebongkah hati anak manusia sayup-sayup tercium amisnya ke atas atmosfir dunia. Ada yang sedang menjahit luka. Dengan jarum yang berkarat. Dan benang nilon yang sudah kadaluarsa.

Selaksa bimasakti lalu berdiskusi. Mereka iba. Pada anak manusia tersebut. Lukanya menganga, tapi dikaratinya bahkan lebih lagi. Segenap kumpulan gas yang nyaris supernova sejenak berhenti. Turut berpikir. Sementara meteor tak ambil pusing dan terus saja menawafi angkasa tanpa peduli. Maka lalu akhirnya mereka setuju. Sebutir partikel akan dikirim pada langit di atasnya. Untuk berpendar. Membentuk matahari bagi hatinya sendiri. Agar hamparan biota dalam lapangan perasaannya berseri kembali. Agar menghangat serata cahaya, memantul-mantul dalam fotosintesis dan rantai makanan yang ada.

Dan di sana. Tibalah partikel itu. Mendarat pelan ke dalam langit perasaan sang anak manusia. Membentur-benturkan bijih-bijih mikronya. Melesat ke sana ke mari. Memataharikan diri. Hingga lalu hangat. Semi semua Musim Dingin. Gugur semua hipotermi. Berganti dengan kelopak-kelopak Bougenville. Kuning merekah seserentak mawar-mawar segala warna; merah muda, putih, dan campuran jingga dan ungu.

Bimasakti mengintip. Supernova terus menari sambil sesekali mencuri cerita. Matahari mini dalam langit perasaan sang anak manusia terus berpendar. Bahwa semua bunga di lapang rumput hijau di bawahnya mekar semula. Seolah lupa sudah sekian puluh dekade diperangkap salju. Seperti tak pernah kenal pada beliung.

Namun lalu. Semuanya hitam semula. Sudah pagi. Sang anak manusia itu bangun. Dari mimpinya. Tergesa ia menuju laci dan meraih sebatang pena. Ia tulis tebal-tebal di lembar paling belakang buku hariannya.

"Tuhan, kumohon, simpan kunci hatiku baik-baik. Semalam aku mimpi, ada pencuri!"



Lamkeuneung. 22 September 2012.

No comments:

Post a Comment