Tuesday, September 4, 2012

Sa - Dua Blah (Aku, Suatu Waktu, Menulisnya Untukmu)

Sa
Aku menikmati melodi-melodimu dalam tiap deras hujan yang menyirami teras rumahku secara tiba-tiba. Aku turut menyenandungkan melodi-melodimu dalam kerontang penghadang jalan bersama deretan pinus Darussalam-ku. Aku mendayungi perahu menujumu untuk mengembalikan padamu, semua melodi-melodi yang telah kaupinjamkan padaku dulu.

Dua
Kemarin kukirimkan merpati antarkan hasil merajut pertamaku. Rajutan dari sepasang tangan yang dulu kaukata penuh cahaya. Tangan yang selalu kautuding untuk bangkit dan menamparmu tepat di ulu jantungmu. Ya, dengan tangan ini aku merajut untukmu. Pelan dalam tiap tisikan, hati-hati dalam menyentuhkan jarum kepada gulungan wol yang susah-payah kubeli dari loak di ujung gang.

Lhee
Seumeukoh
Padee ata nyang gata tanom
Baroh buleun manyang ateuh jeumpa
Sidroe
Tan laen
Saweub keupeu
Adak rame, lage gadoh ban mandum sue bak donya nyoe
Lagee nyang na
Lon ngoen gata mantong
Seumeunging sang hantom turie
Jadi saban chit
Sidroe

Memotong
Padi yang kautanam
Di bawah bulan yang tinggi di atas jeumpa
Sendiri
Tiada yang lain
Sebab untuk apa
Meski ramai, bagai tiada suara lain di dunia
Seolah yang ada
Hanya aku dan kau saja
Saling melihat seperti tak pernah kenal
Jadi sama saja
Sendiri


Peut
I just returned from the sea
Where ashore I step in to the sand
Glazing at the shells
Grasped amongst my fingers - beauty
Let the blue behind
Welcome the green ahead - are you with me, still?

Aku baru kembali dari laut
Di mana ketika aku melangkah ke pantainya
Memandangi kerang-kerang di sela jariku - keindahan
Meninggalkan biru di belakang
Menyambut hijau di hadapan - apa kau masih bersamaku?


Limong
Jelang petang sudah. Aku masih belum memutuskan melanjutkan perjalanan dengan ransel yang sama dengan yang kucangklong selama dua tahun terakhir ini. Apa pendapatmu? Aih, aku lupa. Mengapa bertanya padamu, kau kan hanya bisa diam, iba dan menatap. Kau hanya bisa duduk di pohon-pohon Mahoni dalam mimpi jelang Subuh-ku. Bungkam tetapi senantiasa memanggil. Heran. Aku sungguh heran padamu. Suaramu ngiang panjang tapi kau tak pernah terlihat membuka kata pada siapapun jua. Kau hanya bisa membuatku menoleh, hei? Tidak. Aku bukan sekedar menoleh, aku memutar seluruh tubuhku menghadapmu. Mengharap kau akhirnya sudi bicara padaku. Paling tidak, sampaikan padaku, pantaskah aku melanjutkan perjalanan dengan ransel ini? Atau aku bisa kembali pada jas hujan berkantong-ku saja? Banyak tempat untuk menyimpan sekedar dompet dan alat pemanggil namamu. Tanpa beban, tanpa harus bungkuk punggungku mencangklong ransel itu. Ya, ransel itu. Ransel hitam itu, ransel yang kauhadiahkan padaku dulu.

Nam
Kuning
Ungu
Biru
Merah jambu
Abu-abu
Hitam
Kau pilih yang mana?
Aku ingin warna lain
Ya, bahkan aku tidak lagi ingin ungu

Darussalam, 22 Juni 2010, 15:26 WIB

***********************************************************

Tujoh

I’m not gonna be the one who ends this love
And I’m not gonna be the one who dares to take away my eyes from you
I’m not gonna be the one dares to leave you
Cuz I won’t be alone
Love is all I need
Cuz I’m never gonna be the one who ends this love

I wanna see where this love would take me
Cuz all I want is to be with you

Aku tidak akan yang menjadi (yang pertama) mengakhiri cinta ini
Dan aku tidak akan menjadi (yang pertama) berani menghentikan tatapan mataku darimu
Aku tidak akan menjadi (yang pertama) berani meninggalkanmu
Sebab aku tidak ingin sendiri
Cinta adalah segalanya yang kubutuhkan
Sebab aku tidak akan menjadi (yang pertama) mengakhiri cinta ini

Aku ingin melihat ke mana cinta ini akan membawaku
Sebab yang kuinginkan adalah (terus) bersamamu

- Kutipan dari Sami Yusuf (Never Never)



Aku terus mendayung pedal. Masih menujumu. Mengembalikan melodi-melodi (yang pernah kaupinjamkan padaku dulu) yang makin kukunyah lumat sepanjang perjalanan. Makin ingin kukembalikan padamu, makin aku ingin menyembunyikannya dalam tiap kunyahan lidahku. Ingin kutelan. Ingin kusembunyikan dalam darah dan jantungku.; agar mengalir ke seluruh pembuluh darahku. Ironi. Sebab seharusnya pedal ini kukayuh agar segera tiba padamu, mengembalikan melodi-melodi ini. Hingga akhirnya di depan pintu gerbangmu, aku malah memutar arah dan kembali ke desaku.

Lapan 
Matari, begitu Pramoedya Ananta Toer menyebut sebundar benda yang kerap terbit tiap fajar dan tenggelam tiap petang. Entah bahasa apa itu, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mulai menggantikanmu yang kemarin deras membasahiku dengan sebutan itu; Matari. Karena harusnya kau menyinari. Karena harusnya kau tidak meninggalkanku sendiri. Seperti Matari yang tak pernah diizinkan Pramoedya Ananta Toer meninggalkan Gadis Pantai sendiri dalam setiap bab. Seperti yang dirindukan oleh Gadis Pantai; Matari di rumah Bendoro-nya tidak senyaman dan secerah seperti di perkampungan nelayannya. Dan aku, kukira bisa merasakan apa yang Gadis Pantai itu rasakan. Kau Matari-ku.
Matari.
Dan aku bernama Cahaya.
Maka tidakkah kita sebenarnya sama saja?

Siekureung 
“Jangan lepaskan ransel hitam itu.”
“Mengapa?”
“Adakah ini kata yang beruntai mutiara saja atau tegak musabab rasa nyata yg meraja? Yang mana?”
Hening. “Entah.”
“Jangan. Jangan lepaskan ranselmu.”
“Aku ingin bertemu dia. Dia yang duduk di antara pepohon Mahoni di mimpi jelang Subuh-ku. Ah, aku tidak suka. Dia diam saja. Mahoni-mahoni itu hanya penggiring kekecewaan.”
“Apa yang salah dengan Mahoni-mahoni itu? Kau bilang dia hanya diam, tapi, paling tidak, dia masih disana kan? Menunggumu. Tetap tahu perjalananmu.”
“Hanya ujung jilbab kuningnya saja yang menggodaku. Ia tetap tidak menjawab tanyaku.”
“Memangnya siapa dia?”
“Dia. Dia yang pernah memelukku sebab rindu.”
“Ceritakan lagi padaku, siapa dia?”
“Dia yang kerap mengajakku memelodikan sepotong nada.”
“Aku masih ingin mendengar tentang dia.”
“Dia yang sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa ingin menjelaskan mengapa membawa lari melodi-melodiku dan mengganti isi pita suaraku dengan melodi-melodinya.”
“Dia mencuri?”
“Dia mencuri. Mencuri dengan caranya yang indah. Hingga aku rela jika harus dicuri lagi olehnya.”
“Aku masih ingin tahu tentang dia.”
“Dia. Ah, dia.”

Siploeh
“Dua tahun berlalu. Kau membuatku terkejut. Kau melompat dari batu pertama ke batu berapa ya, mungkin batu kelima – secara sangat cepat menurutku. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih, bagaimana mengatakannya, mungkin seperti angka nol. Dan lihatlah kini dirimu. Kau sudah tidak seperti dulu.”
"Burukkah itu?"
“Tidak. Itu tidak buruk sama sekali.”

Sieblah
Aku duduk di depan guruku. Aku kisahkan keseluruhan kisah padanya. Semua, tanpa kusimpan apapun yang kuresahkan. Tentang dia. Tentang sesuatu yang entah ingin tetap kupeluk atau kutinggalkan.
“Kadang, kita harus mundur sebentar untuk dapat maju lagi.”
Darahku menyirap. Terlalu lamakah aku jalan dan seperti lupa berhenti untuk sekedar mengikat tali sepatu? Terlalu gebukah aku dalam menjalani semua ini?
“Baca lagi Surat-Nya. Diam dan dengarkan. Salami. Kau akan temukan jawabannya.”
Maka aku pulang membawa sebingkisan nasihat dari guruku, kenangan akan dia sebab terus ditanyai seorang petualang, dan sebilah pendapat tentang lompatanku dari seorang teman yang baik.

Dua Blah
Aku membeli pena baru
Aku membeli buku baru
Dua bulan lagi
Jika Tuhan mengizinkanku
Aku akan mengecup setiap hari yang ada padaku secara baru

Darussalam, 24 Juni 2010, 11:56 WIB


catatan:

Sa = 1
Dua = 2
Lhee = 3
Peut = 4
Limong = 5
Nam = 6
Tujoh = 7
Lapan = 8
Siekureung = 9
Siploh = 10
Sieblah = 11
Dua blah = 12

6 comments:

  1. Bu Dokter, pasang gadget WIBIYA, fitur sharingnya MANTAP, silahkan tengok di blog saya untuk referensi (coba arahkan kursor ke atas salah satu gambar). http://visit-aceh-2013.blogspot.com/2012/06/potensi-pariwisata-lampuuk-lhok-nga.html


    Selain fitur sharing juga ada fitur chat dengan beberapa pilihan platform (fb, yaho, gmail, dll)
    :D

    ReplyDelete
  2. Nuril!!! tersentuh... terkejut... hampir terjatuh... hehehe :D sastra aceh dan melayu... ;-)

    ReplyDelete
  3. bang Safar Manaf: peu atra nyan bang? hehe, nteuk lah lon acie nging ilee beuh..

    ReplyDelete
  4. Tengku "Homehay" a.k.a. Rahmat Hidayat, seulow brooo hehehe :D

    terima kasih sudah bertandang ^^

    ReplyDelete
  5. terima kasih juga buat Afri uda mampir kemari.. *gantian mampir ke blog Afri aaah :D

    ReplyDelete