Sunday, September 9, 2012

"Saya Salah (Pilih) Kuliah di Kedokteran!"




"Being me has its privileges." (Albus Dumbledore)


Dulu, ketika di semester 2 (kira-kira setahun pertama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala ini, tahun 2008-2009), saya sempat merasa saya salah pilih jurusan. Dan menariknya, perasaan "salah pilih jurusan" itu berkepanjangan. Seolah-olah, belajar di kedokteran seperti "mengekang" diri saya sesungguhnya. Saya lebih suka menulis puisi dari pada KTI. Saya lebih suka menggambar bunga daripada jaringan dan segala detil Histologinya. Saya lebih senang bernyanyi daripada menghafal setiap tulang, otot dan sendi tiap kali praktikum Anatomi. Masih syukur, saya tetap tertarik (sedikit) di bidang Fisiologi dan Biokimia, itu pun sebab masih ada kaitannya dengan pelajaran Biologi yang saya pelajari ketika SMA dulu. Selebihnya? Dengan kondisi saya yang sebenarnya berasal dari angkatan 2007, membaur dengan angkatan 2008 (meskipun tahun lahir saya memang pantasnya masuk tahun 2008, dulu saya cepat masuk SD setahun memang) adalah sebuah tantangan lain. Saya merasa seperti terdampar dengan banyak adik-adik angkatan semasa SD, MTsN dan SMA. Apalagi saya domisili di (dekat) Banda Aceh, maka banyak wajah yang tak lagi baru di kampus yang membuat saya makin kurang tertarik untuk sosialisasi. Tidak banyak yang baru yang bisa dijumpai. Dunia terasa begitu sempit dan itu-itu saja.

Seiring waktu, saya mulai masuk demi sedikit dengan kondisi angkatan, mau tidak mau. Pun saya lalu aktif di BEM FK Unsyiah mulai tahun 2009 hingga 2011, maka berbaur dengan seluruh kampus pun terpaksa saya jalani. Namun satu hal tetap tidak berubah hingga saat saya ikut seremoni wisuda; saya masih tetap tidak merasa pantas menjadi seorang dokter.

Tunggu, anda pasti berpikir, kuliah di kedokteran (lulus lewat jalur SNMPTN, bukan jalur mandiri) tapi tidak merasa pantas menjadi seorang dokter? Apa saya gila? Mengapa tidak memilih jurusan yang memang sejalan dengan isi hati saya? Well, sebut saja ini adalah keputusan yang sudah saya "bijaksana"-kan sebisa mungkin bersama keluarga. Dan bagaimanapun juga, konon katanya ketika saya masih kecil saya sering berteriak "Dokter!" tiap kali ada yang bertanya "Cita-citanya mau jadi apa?". Meskipun ketika mulai memasuki usia remaja, saya mulai melihat banyak pilihan lain untuk cita-cita, namun akhirnya saya tetap menjalani pilihan masa kecil saya itu. Seperti yang Susan (baca: Susan adalah boneka yang suaranya berasal dari Kak Ria Enes, figur terkenal saat saya masih kecil dulu yang sering mempropagandakan profesi dokter dan presiden sebagai cita-cita anak-anak tahun 90'an) sering kampanyekan, saya hibur diri.

Awal-awal kelulusan, saya masih merasakan haru dan bahagia. Mimpi masa kecil itu sedikitnya ada saya ingat. Sekedar bahagia sebab ternyata saya juga bisa menjadi satu dari sekian persen yang bisa mengambil kursi di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di tahun 2008. Bahagia sebab meskipun ketika mengikuti bimbingan belajar pra SNMPTN saya sering dianggap gagal (dengan nilai rata-rata minus untuk tiap pelajaran kecuali English) ternyata saya juga bisa mengejar ketertinggalan dan lulus. Bahagia yang kurang tahan lama rupanya.

Karena seiring waktu, kebahagiaan itu ternyata luntur pelan-pelan. Sungguh, sekuat apapun saya mencoba mengondisikan pikiran dan hati, saya sesekali masih juga berpikir bahwa saya tidak pantas menjadi seorang dokter. Saya merasa bahwa saya tidak serajin teman-teman lain yang begitu antusias dalam belajar. Tidak begitu bersemangat dalam melakukan ritual belajar bersama. Tidak begitu "menggelegak" ketika ada ajakan untuk mempelajari hal-hal baru dalam seminar kedokteran X atau simposium Y atau pelatihan kedokteran Z. Secara akademik, IPK saya tidak pernah di bawah angka 3. Tapi juga tidak begitu "wow" sehingga saya bisa lulus dengan cumlaude saat wisuda. Sekedar standar menjalani semua assignment kan sudah memenuhi standar minimal studi kedokteran ala Problem-based Learning toh? Mahasiswa FK se-Indonesia pasti mengerti maksud saya.

Maka tidak heran jika dalam keseharian social media saya, saya lebih sering mengupdate mengenai hal-hal di luar kedokteran. Saya bahkan lebih bisa menyusun larik demi larik puisi daripada mendaftarkan nama-nama antibiotik spektrum luas atau dosis obat-obat emergency yang seharusnya mulai saya pelajari pelan-pelan. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang kurang terkait dunia kedokteran, saya sering update status mengenai hal-hal yang bersifat isu sosial. Hingga suatu hari, saya mengupdate sebuah status mengenai kondisi mahasiswa masa kini dan dikomentari oleh seorang teman dengan kalimat berikut ini:


"Nuril ini cocok jadi pengamat."


Waktu itu, saya dan rasa kepenasaranan saya yang memang tinggi kontan langsung meng-SMS si pemilik akun yang meng-komen. Singkat cerita, isi percakapan pun mengerucut di imbauan sang teman agar saya melanjutkan S2 ke Hubungan Internasional (HI). Maksudnya, agar saya bisa menjadi "pengamat" secara jalur akademis kali ya? Ketika saya bilang bahwa itu terlalu jauh terlempar dari (calon) profesi saya, beliau bilang itu adalah hal biasa. Banyak juga dokter yang mengambil keputusan "banting stir" ke bidang lain, termasuk ke HI. Dan harus saya akui, itu memang benar. Jangankan HI, menjadi konsultan ekonomi di perusahaan-perusahaan terkenal tertentu saya juga tahu pernah ada.

Namun waktu itu saya teguh bahwa itu terlalu jauh dari bidang yang sudah - kadung - saya jalani. Meskipun memang saya akui, bahwa saya semacam "salah milih kuliah".

Lalu tiba-tiba balasan dari beliau selanjutnya membuat saya kembali berpikir. Lama sekali. Sampai 2 hari. Begini balasannya.


"Salah kuliah pilih FK? Gayamuu.. Coba berapa banyak orang mau masuk FK, Nuril seenaknya bilang 'salah milih kuliah'."

Deg. Iya. Ada berapa orang di luar sana yang rela mati demi bertukar posisi dengan saya? RIBUAN? RATUS RIBUAN? Atau mungkin JUTAAN? Ah, sebegitu tidak menggunakan kesempatankah saya?

Ah, Allah. Sebegitu lemahkah saya dalam memahami jalan yang Dia hamparkan bagi saya? Kembali berkelebat ayat ke-216 dari surat Al-Baqarah itu.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."   - QS Al-Baqarah: 216

Maka lagi-lagi saya merasa tertampar tepat di ulu hati. Perih. Keras menggedor pintu kesombongan untuk membuka dan membiarkan angin kesyukuran lewat. Agar menghargai dan menerima taqdir dengan ridha. Agar menentukan pilihan, apakah membelok mencari jalan lain atau tetap menjalani jalan ini TAPI dengan usaha sungguh-sungguh menyesuaikan diri dengan standar kualitas yang ada. Maka beginilah jawaban SMS terakhir saya bagi sang teman. Dan inilah insya Allah yang akan saya - coba - jalani. Semoga Allah memberi kita semua petunjuk mengenai semua pilihan dalam hidup kita. Karena sungguh, apapun profesi kita, selama itu mengundang ridha-Nya, itulah yang utama. Semoga.

"(memang) Saya salah milih, tapi lalu saya memilih untuk tetap menjalani pilihan ini."

Allah, maafkan hamba yang sering kurang bersyukur dengan semua jalan hidup yang Kau berikan padaku ini.  Semoga setiap orang yang membaca tulisan ini pun Engkau berikan kekuatan untuk teguh dalam menjalani pilihan hidupnya meski terasa berat di awalnya. Karena sesungguhnya tak ada yang sia-sia dalam hidup ini, begitu, kan, wahai Ar-Rahman?


Lamkeuneung, Syawwal 1432 H.

17 comments:

  1. speechless!!! membacanya... Go Nuril!!1

    ReplyDelete
  2. Rupanya Nuril punya dilema ja... hehehe:D

    Klo R dua-dua lewat wkt itu. hohoho.. gk tau milih apa... pertma jalanin dua-duanya.. trus finally milihnya satu. huhuhu.. han ek takhem.. ;-)

    ya sdh lah.. go green aja, Nuril!!!
    ;-)

    ReplyDelete
  3. haha, na-na saja tengku R nyoe.. yooo, go green! :D

    ReplyDelete
  4. Hmmm.. baca ini teringat gejolak diri sendiri juga yg merasa salah pilih kuliah di FKIP. Aigoo, manusia. Tapi, Alhamdulillah, Allah udah ngasih jalan lain sekarang :)

    Btw, ada award nih untuk te, cekidot ya --> http://ordinary212.blogspot.com/2012/09/the-liebster-award.html

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah ya Ci.. eh, award ya, duh males aku kekna ni... :p

    ReplyDelete
  6. aih mbak... harusnya kamu bersyukur bisa masuk FK dgn biaya murah :') alias nggak beli kursi. saya yakin ratusan orang yg gagal masuk kedokteran melalui jalur umum akan kecewa baca tulisan kamu :)

    dulu ortu juga pingin lihat saya jd dokter atau guru. krn sm2 berjasa bgi org lain..
    sbnrnya sya pingin jd psikolog . nah lho.
    tp ujung2nya terdampar di keguruan. dlu gak mau ngedaftar kedokteran krn bnr2 gak berminat alias takut menekuni bidang medis hahaha
    slm knal ya. kalo berminat, kunjung balik ke blog saya.. atau follow2an blog yuk. saya suka dgn tulisan mbak, mengalir apa adanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, iyaa, makanya saya akhirnya sadar dan mencoba untuk menjalani keputusan ini dengan lebih ikhlas, seperti di paragraf-paragraf terakhir saya :')

      salam kenal kembali, sippp, ni otewe ke blognya mba ^^

      Delete
    2. kamu senasib sama saya kok mbak hahaha. qta seumuran juga.
      IKHLAS itu berat bgt mbak.
      saya s1 di Bimbingan Konseling, bukan Psikologi umum yg melahirkan calon psikolog.
      Materi kul saya di S1 masih ada materi psikologinya 20% jadi saya ,masih betah. dan anehnya lulus kumlod juga kayak mbak nuril yg s1 kedokteran walaupun well...kita gak berminat di jurusan yg salah kita pilih.
      skrg saya sedang pendidikan profesi guru setahun. materinya gak ada psikologinya sama sekali. gila desperate bgt mbak. hahahaha.... terpikir untuk banting setir ke psikologi saat s2 nanti tapi entahlah....biaya gak nyukup.. dan entah diijinkan apa tdk oleh org yg kelak jd pendamping hidupku hahahha. yg jelas aku gak akan mau utk s2 BK. ikuti kata hati mbak..jalani..profesi mbak sbg dokter itu mulia...keluarga mbak sangat bangga punya anak dokter :-)

      Delete
    3. insya Allah, semoga kita semua bisa jadi kebanggaan bagi sesiapa di sekitar kita ya, Ina. orang tua, keluarga, si calon "pendamping hidup" kita (aduhhh salah fokus hehehehe) dan ummat serta bangsa, aamiiin ;)

      Delete
  7. kak nuril, perasaan kakak ini yang sedang saya rasakan sekarang, kak, apa ada kemungkinan saya bisa contact kakak? email mungkin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh boleh. email saya ke nuril.annissa@gmail.com aja ya. semangat! :)

      Delete
  8. kereeen, saya jg pengen kedokteran kak :)

    ReplyDelete