Wednesday, October 31, 2012

Kita Ini Pengembara Terasing

Kita ini pengembara terasing
Dengan sekantung air
Dan segulung tikar bergelung di tengkuk
Serta kelontang piring dan gelas kaleng menggantung pada ikatan tikar itu

Lalu para cuaca hadangi
Merajam kita dengan tusukan salju
Kecaman cahaya siang
Lemparan jarum-jarum air
Dan tamparan angin

Dan beberapa dari kita tak punya peta
Sementara yang lain punya peta tak punya mata
Atau ada mata tapi tak bawa apa-apa
Ada juga bawa peta, punya mata, tapi tersasar jua

Kita gegas tembusi badai sesak pepasir
Hingga saga mata kita menatap saujana
Perih tak hanya mata tapi juga jiwa
Hanya jeda mengerang tiap habis senja

Ya
Malam masih hela
Dan kita masih bergerilya
Bersama kunang-kunang di sela gemintang
Dalam hitam beludru malam

Jadi mari ingat lagi
Kita ini pengembara terasing
Dengan sekantung air
Dan segulung tikar bergelung di tengkuk
Serta kelontang piring dan gelas kaleng menggantung pada ikatan tikar itu


Lamkeunung, sehari jelang Februari, 2010.

Diuji Sebab Beriman


"Jadi, Pak, apa bedanya antara berpikir secara negatif dan berpikir realistis? Berpikir negatif akan selalu membuat kita merasa tidak mampu atau pantas menjalankan sebuah gebrakan sementara berpikir realistis akan membuat kita berpikir tentang sederet kemungkinan terburuk yang akan menghambat. Kadang-kadang kita mencoba berpikir realistis tapi malah jatuh ke dalam sebuah kenegatifan."

Pertanyaan di atas ditanyakan oleh salah satu peserta workshop Young Leaders for Indonesia di Hotel Borobudur, 6-7 Februari 2010 yang lalu. Saya tercekat. Tiba-tiba saya berteriak, "Ya, saya punya pertanyaan yang sama! Itulah pertanyaan yang harusnya saya tanyakan sejak dulu! Beri saya jawabannya!". Dan semua orang terbengong-bengong melihat seorang muslimah berjilbab yang selama workshop terlihat ceria dan senang-tenang saja ini mulai emosional. Seorang peserta wanita berwajah oriental di sebelah saya langsung mengelus-elus pundakku yang waktu itu sudah mulai menitikkan air mata.

Alhamdulillah.

Paragraf kedua fiktif adanya.

Tapi ya, benar, agaknya sedikit saya pun mulai berpikir; apakah selama ini saya sedang mencoba menjadi realistis dengan kehidupan saya sendiri atau saya sedang mengembangkan pola pikir negatif dalam membuat keputusan-keputusan sejauh ini.

"Nuril merasa ingin berhenti di sini saja."

Orang yang saya ajak bicara diam dan melihat saya dengan tatapan lurus yang sulit diartikan. Lalu dia menghela nafas dan berkata, "Berhenti? Berhenti dari apa? Young Leaders for Indonesia? Atau?"

"Ya. Yang itu. Rasanya terlalu membuat sempit. Entahlah. Target-target yang ada begitu terasa buyar sejak Nuril ikut serta ke dalamnya. Nilai Nuril pun mulai ada C-nya. Workshop-workshop selanjutnya akan membuat Nuril akan ketinggalan dua sesi skills lab dan itu berarti akan harus mengulang tiga hal; satu ujian blok yang dapat C tadi dan dua skills lab blok (urogenitalia & birth and pregnancy). Apa yang harus Nuril katakan pada orang tua?"

"Ah, Nuril," katanya tertawa kecil. "Coba bayangkan, apalah dua sesi skills lab yang bisa diulang itu dengan kesempatan yang hanya diberikan kepada dua orang saja dari Aceh ini ke Jakarta sana! Tidak mudah, tidak mudah. Sayang kalau harus berhenti di sini. Memangnya di luar sana Nuril ada amanah lain apa?" Ia tertawa. Saya paham benar tertawanya bukan bermaksud mengejek melainkan menganggap saya sedang bercanda dengan apa yang saya katakan.

"Jika pun harus berhenti, Nuril sudah merampas posisi yang Nuril dapatkan sekarang itu dari seseorang yang lain yang harusnya mau menggantikannya. Orang lain mungkin mau membayar berapapun untuk mengikuti workshop itu jika saja seandainya Nuril tidak mendapatakannya dulu. Secara singkat, orang-orang itu sudah menitipkan amanahnya pada Nuril, jadi tidak bisa dibuang seenaknya."

Saya menelan ludah. Benar juga. Lalu saya ulang pertanyaan yang saya tulis di awal tulisan ini pada orang tersebut.

"Iya juga sih. Tapi bedakan. Banyak yang bisa kita lakukan, lakukan. Tapi sesuaikan dengan kapasitas kita, nah, di situlah poin realistisnya. Bukan meremehkan potensi diri, tetapi mengenalinya dengan hati-hati. Tak mungkin kita bisa melakukan semua hal."

Saya diam saja. Hingga seorang lain menyeletuk, "Istikharah."

Saya mendongak dan sang penyeletuk senyum dalam diamnya.

"Sudah pernah sekali untuk sesuatu bersifat amanah."

"Dan hasilnya?" Ia bertanya

"Melepasnya. Asisten anatomi. Sengaja Nuril jawab soalnya salah satu dan tidak begitu teliti dengan yang lainnya. Nilai Nuril cuma beda satu dengan yang lulus terakhir dari tes tahap pertama itu. Jadi jatah itu bisa diambil orang lain, alhamdulillah."

Dia senyum lagi. Ternyata, dulu pun ia begitu. Ia memutuskan untuk tidak menjadi seorang yang berkutat di akademis serumit Laboratorium Anatomi. Ah, saya ingin belajar lagi bagaimana senyum seringan itu.

"Dan Rin mulai merasa disorientasi. Sedikit kelabakan dengan apa-apa yang Rin kerjakan sekarang. Mereka semua seperti tidak berkaitan."

Kali ini orang lain yang saya ajak bicara. Dan dia senyum juga. Senyum, senyum. Subhanallah, saya begitu kagum dengan orang-orang yang senyum (tanpa tekanan dan damai. Entahlah, senyum-senyum serupa ini hanya bisa dirasakan dengan batin dan bukan sekedar senyum biasa dalam basa-basi percakapan).

"Tapi Allah tidak pernah menguji kita lebih dari yang kita mampu, kan?"

"Ya," jawabku, "Al-Baqarah ayat 286 kan? Tapi di ayat tersebut ada juga doa yang berbunyi, "Ya Allah, janganlah Kaupikulkan kepada kami beban lebih dari yang sanggup kami pikul." Nah, itu, berarti apa? Apa memang sebenarnya bisa ada kondisi kita diuji lebih dari yang kita mampu?"

Dia senyum lagi. Dia bilang, "Itu berarti Allah menuntun kita untuk berdoa kepada-Nya. Hanya orang-orang sombong yang tidak melibatkan Allah dalam urusan-Nya. Allah sebenarnya tahu kita maunya apa, tapi, ud'unii fastajib lakum,kan? Berdoa dulu, baru dikabulkan..."

Saya tertegun lagi. Ya, berdoa.

"Tidak beriman seseorang sampai dia diuji dulu keimanannya..."

Yang ini orang lain lagi yang menyeletuk. Ia yang diam saja sedari tadi ternyata menyimak.

"Dan itu berarti, Allah masih menganggap kita beriman, pantas untuk diuji," sambungnya.

Rabb, limpahi berkah dan keluasan pikiran bagi mereka yang sudah memberikan aku nasihat-nasihat hari ini.



Kantor BEM FK Unsyiah, 22 Februari 2010, qabla ashar.

Dua Langit (Dari Medan ke Banda Aceh, 20 tahun)




Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Banda aceh. Menumpangi sebuah pesawat, saya yang cuma bisa melorot lemas di kursi waktu itu hanya sanggup memandang ke luar jendela dan terpaku pada beberapa pemandangan yang sebenarnya itu-itu saja; langit dan awan. Kurang kerjaan banget kan? Tapi mau gimana lagi, Traveller’s Diarrhea yang menyerang saya waktu itu terlalu menguras energi dan konsentrasi. Boro-boro untuk membaca atau sekedar menulis puisi, untuk menegakkan kepala saja susah. Bawaannya mual dan pengen muntah melulu. Saya pikir, ha, ini lah dia satu dari sekian orang yang ga bisa jadi orang kaya di masa depan nanti. Baru nginap di hotel bintang lima sekali aja udah gitu, begh, apalagi kalau harus tinggal di Istana Negara nanti tho! Aduh, aduh, hoho..

Eh ya, belum cerita kenapa harus ke Jakarta plus nginap di hotel bintang lima ya?


Jadi singkatnya, saya, bersama 49 orang mahasiswa(i) lain dari universitas yang ada di beberapa penjuru Indonesia (ada yang dari UI, ITB, ITS, USU, UNSRI, UNHAS, dsb) mengikuti workshop berjudul Young Leaders for Indonesia Kampus 2010 yang diadakan oleh Mc Kinsey & Company, sebuah perusahaan yang bergelut di bidang leadership advisor semacamnya yang – katanya sih – cukup terkenal secara global. Kami para mahasiswa (i) ceritanya semacam sedang digodok dan dibentuk untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia pada tahun 2020 dalam berbagai bidang yang kami geluti di perkuliahan masing-masing. Program ini cukup serius digarap. Buktinya, untuk akomodasi dan transportasi semuanya ditanggung. Tempat nginapnya aja bikin Traveller’s Diarrhea, eh, salah, maksudnya, tempatnya bikin melongo! (baca: yang jelas-jelas melongo minimal saya sendiri lah hehe) Judul hotelnya Borobudur. Konon, dulu pas Pemilu, teman-teman KPU (haiyah, TEMAN-TEMAN? Sadar, Rin, sadar..) ngitung suaranya di hotel ini. Anaknya Om Esbeye (what? OM? Heleh-heleh, Rin, bangun, bangun..) juga resepsi pernikahannya di sini. Bintang lima cuy! Apa ga bling-bling ni mata anak kampung kaya saya begini? Pas nyampe ke hotel, hampir ga tega mau tidur di atas tempat tidurnya, cosy banget!! (nah kan, saya ga bakat jadi orang kaya kan??)


Untuk para pengisi workshop yang pertama waktu itu, juga bukan orang-orang yang bisa gampang ditemui di kesempatan lain; Anies Baswedan (rektor Universitas Paramedina yang jadi moderator debat kandidat capres 2009 itu lho), Dino Pati Djalal (Jubirnya Om Esbeye sekaligus pendiri lembaga bernama Modernisator), Sandi Uno (satu dari 10 orang terkaya di Indonesia gitu deh) dan Butet Manurung (seorang guru yang mengajar dari rimba ke rimba yang udah terkenal mendunia, meski saya juga awalnya ga tau tentang beliau :D ). Bagi beberapa, tokoh-tokoh tersebut tidak terlalu sesuai dengan platform prinsip kehidupannya, tetapi paling tidak pengalaman dan cerita mereka banyak yang bisa diambil ibrahnya lho. Ha? Oh, tidak, tentang apa yang mereka bicarakan nanti saja terpisah ya diceritainnya. Sabar, sabar, nanti tanda tangan saya menyusul (lho????)


Eniwei, mari kembali ke jalan tol.


Nah, pas saya dalam perjalanan pulang dari workshop yang dari tanggal 6 sampai tanggal 7 Februari yang lalu itu (pulangnya tanggal 8 Februari), saya kan merhatiin tuh, langitnya. Standar sih. Langit biru. Awan putih. Jadi teringat lagu kesenangan saya waktu masih kanak-kanak dulu;


Kulihat awan

Seputih kapas
Berarak-arak di langit luas
Andai kudapat terbang ke sana
Akan kuraih kubawa pulang


Memandangi langit dari dalam pesawat membuat saya teringat ayah saya. Suatu hari, ketika beliau baru pulang dari sebuah workshop dari luar kota ketika saya masih SD (info: saya sekarang udah kuliah semester 4), saya iri sekali dengan passing board yang ada dalam tas beliau. Saya jadi pengen naik pesawat juga. Walhasil, rewel lah saya minta naik pesawat. Beliau berkata, “Kalau mau naik pesawat, rajin-rajin belajar. Jaga nilai Bahasa Inggris-nya. Kalau pintar, nanti bisa naik pesawat, dibayarin orang lain malah.”


Sepertinya pesan itu benar-benar menghantui saya. Saya yang tidak pernah dibolehkan kursus Bahasa Inggris (sebab alasan ekonomi dan lain-lain) mulai bercakap-cakap dengan diri sendiri di depan cermin. Cas, cis, cus. Grammar salah, ga peduli. Ga tau arti kata, buka Hassan Shadily (nyolong dari lemari ayah). Bermodal materi pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah, saya selalu mempraktekkan materi tersebut di depan cermin setiap pulang sekolah. Ah, saya rindu masa-masa itu, masa-masa di mana saya begitu mengenal potensi diri dan konsisten dalam mempertajamnya. Motivasi dari ayah saya begitu besar pula, saya harus akui itu.


Baru sekarang saya paham apa maksud ayah saya waktu itu. Bukan bermaksud ‘matre’ dengan iming-iming naik pesawat atas bayaran orang lain, melainkan nilai penghargaan dari orang lain atas diri kita yang dimaksudkan beliau. Rasanya saya ingin mengajak langit berbincang, mengajaknya mengingat bahwa waktu itu bukan pertama kalinya saya naik pesawat dan bukan atas dana pribadi sama sekali. Ayah, ah, butuh satu novel untuk menjelaskan cerita apa saja yang sudah engkau tanamkan padaku sedari kecil yang ternyata baru berbuah sekarang.


Dan langit berpendar di bawah mentari punya sinar. Begitu kerlap dalam lautan gulali putih. Terang dan tenang sekali langit hari itu. Begitu benderang. Seolah memeluk saya yang sedang rapuh (karena Traveller’s Diarrhea ya, plis deh). Awan-awan membentuk pulau-pulau gembul menggemaskan di satu sudut langit.

Sementara di sudut lainnya, awan-awannya berpencar. Ada juga yang membentuk wajah manusia, kuda, bla bla.


Ha, akhirnya, ini dia, ini dia yang membawa inspirasi; ada sehampar luas awan yang datar seperti lapangan sepak bola. Luas dan putih. Imajinasi saya bergerak menembusi jendela pesawat dan mulai menjelma diri menjadi istana-istana besar dan kecil di atas ‘kapling melayang’ tersebut. Tep! Lanjutan sebuah cerpen yang menggantung di folder computer di rumah pun dapat sebuah pencerahan! (ha, nantikan cerpen ini, harus masuk media pokoknya insya Allah!)


“Penumpang yang terhormat, beberapa saat lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Polonia, Medan. Harap kembali ke tempat duduk dan mengencangkan sabuk di kursi anda, menegakkan sandaran kursi dan menutup meja di depan anda serta membuka tutup jendela.”


Hiyah, mau ‘saldo’ lagi nih perut, pikir saya. Siap-siap menahan gerakan peristaltic ekstra yang akan menuai mual-mual kembali. Ayo, ayo, focus pada pemandangan di luar jendela saja. Alihkan perhatian, alihkan perhatian! Tahan, tahan, jangan muntah!!!! (ceritanya mensugesti diri, yak, tatap mata saya…halah!)


Lalu saya kembali terpana.


Pesawat pun mendarat dengan sempurna dan selamat, meski gerimis mengguyur bandara dan sekitarnya. Ya, ada hujan! Padahal tadi di atas sana benderang! 


Dan saya pun sadar. Ada dua langit hari itu. Dua langit yang batasnya entah di mana. Tiba-tiba saja kehangatan di atas sana berganti sejuk rinai air menerpa. Dan saya, beserta puluhan penumpang lain melewati kedua-duanya. Dari atas turun ke bawah.


Mari curhat sedikit. Hari itu adalah tanggal 8 Februari, hari di mana jatah usia saya berkurang lagi setahun. Hari yang sempurna memangkas usia belasan saya. Hari yang membuat saya hanya berjarak  satu tahun dari batas usia minimal yang sudahg harus punya NPWP (hei, serius dong ah!) 


Dan saya, jika bisa dibaca pada blog-blog entry sebelumnya, sedang dalam fase-fase mempertanyakan banyak hal tentang jalan yang saya pilih, masa depan yang saya rancang dan rindu yang saya tidak tahu apa yang membuat beberapa puisi lahir tanpa bisa dicegah.


Dan melihat langit yang ‘mendua’ serupa itu, saya sadar. Ya, itulah ibarat hidup kita. Ia memang satu, tetapi selalu punya minimal dua sisi. Katakanlah dua sisi itu terdiri dari sisi gelap dan sisi terang. Atau ethos dan tharnatos (Freud bilang kaya gini). Atau yin dan yang (Kungfu mode on). Atau, teori yang paling saya favoritkan, fujjar dan taqwa (baca QS Asy-Syams di Quran masing-masing). Apa yang kita rasakan terhadap hidup itu ditentukan posisi yang kita pilih di antara kedua sisi. 

Kembali ke dua langit tadi, langit terang dan langit gelap yang berbatas tipis dan samar itu jelas sekali topografinya. Ya, langit di atas sana akan selalu terang karena awan nyaris tak bisa menutupi mentari karena memang ‘jarak apung’-nya tak akan pernah bisa menutupi pandangan kita dari mentari. Sementara langit di bawah yang gelap adalah karena memang hujan selalu turun ke bawah (ditarik oleh gravitasi) maka awan hanya bisa terlihat kelabu dari bumi. Lantas, untuk menikmati langit yang terang itu selalu, bagaimana? Tak ada cara lain, kita harus melakukan obsesi masa kanak-kanak saya tadi; naik pesawat! Ya, hanya dengan naik pesawat dan menembus langit cukup tinggi di atas para awan-awan lah nasyid “Sebiru Hari Ini”-nya Edcoustic akan cocok menjadi soundtrack-nya sepanjang tahun.


Dalam kehidupan ini, saya pikir, begitu pulalah seharusnya kita. Kita harus selalu mencari ‘pesawat’ yang akan membawamu terbang selalu sehingga langit akan sering-sering terasa cerah dalam pandangmu. Sesekali bolehlah turun ke bawah untuk transit dan ganti ‘pesawat’, untuk lalu terbang lagi. Dan perhatikan, siapakah yang bisa naik pesawat? Mau tidak mau, harus diakui, yang bisa naik pesawat ya yang harus punya cukup duit untuk beli tiket, kan? Tanpa penghasilan yang cukup, mana bisa naik pesawat. Nah, begitu pula hidup ini. Tak akan pernah bisa merasa cerah (seperti saat di langit atas) jika kita tidak cukup ‘kaya’. Dan ‘kekayaan’ itu harus dicari, tak bisa menunggu sambil goyang-goyang kaki saja. Bangun, bekerja, cukup ‘kaya’, baru belilah tiket ‘pesawat’-mu untuk lalu menikmati kecerahan yang memberi inspirasi seperti di langit atas sana. Dan ingat, orang ‘kaya’ mungkin banyak, tapi tak semua dari mereka naik ‘pesawat’ karena mengharap ‘kecerahan’ .


Kaya? Ya. Wajib kaya. Dan kekayaan ini berasal dari apa yang kita kerjakan. Sudahkah selama ini kita cukup bermanfaat bagi sekitar kita? Sudahkah kontribusi kita maksimal dalam dakwah misalnya? Sudahkah, sudahkah, sudahkah (sambung sendiri pertanyaan introspektifnya)??? Ya, kata kaya di atas pake tanda petik. Kekayaan yang akan membuat kita bisa naik pesawat dalam tanda petik pula. Untuk lalu bisa merasakan kecerahan dalam tanda petik juga. (nah lho, bingung? hehe)


Tidak, tidak bermaksud mengatakan bahwa di langit bawah (alias dari bumi ini) kita tidak akan pernah bisa menikmati kecerahan. Hanya saja, kita tak pernah tahu kapan ia cerah dan kapan ia sembunyi di balik tabir mendung. Sementara di langit atas sana, seperti yang sudah saya sampaikan, nyaris tak ada yang menutupi mentari dari benderang. Eniwei, ini cuma analogi lho, jadi jelas masih bisa didebat.


Lalu saat transit, saya hidupkan handphone dan menyetel mp3 player. Melantunlah sebuah nasyid;

Hujan gerimis yang akan menemani
Perjalananku pulang
Tiada dapat lagi kutunggu
Terasa rindu untuk bersua denganmu
(Rast, Hujan Gerimis)


Ya, saya memutuskan untuk pulang meski masih mendung (ya iyalah, emang tiket pesawatnya mau dibatalin? hehe). Saya sudah rindu. Rindu pada kampung halaman yang sempat ingin saya jauhi sejauh-jauhnya dalam beberapa tahun yang lalu. Dari sana, saya akan cari ‘duit’ untuk membeli tiket ‘pesawat’ lain. Perjalanan hari itu membuat saya juga sadar, kampung halaman saya memiliki banyak sekali ‘pekerjaan’ yang akan memungkinkan saya mendapat tiket-tiket ‘pesawat’  yang akan mengantarkan saya ke ‘langit atas’. Saya ingin merasakan kehangatan tadi lagi. Merasakan kelapangan dada seperti yang tadi menyelimuti saat berada di atas sana. 


Hujan memang indah, menenangkan. Tetapi terlalu lama berkubang di dalamnya kiranya bisa membuat kita alpa tentang birunya angkasa yang tak kalah ramahnya dalam mengecup mimpi-mimpi anak Adam. Dalam perjalanan pulang ke Banda, saya lafalkan lagi beberapa doa titipan beberapa orang saudara(i) sebelum safar, mengaminkan beberapa doa atas milad saya hari itu, dan agar saya selalu bisa mengajak orang lain senyum (tanpa awalan “ter-“) dengan senyuman saya lahir seutuhnya dari hati yang cerah. Secerah langit atas.


Doa adalah kekuatan terbesar seorang mu’min,

Dan aku akan menjadi kekuatan terbesar itu untukmu.
(seorang saudara, 2007)




Banda Aceh, 8 Februari 2010

Tungkop vs Tungkob!




Tungkop adalah sebuah kemukiman yang terletak di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bersama 2 kemukiman lainnya, yaitu Siem dan Lambaro Angan, ketiganya membentuk daerah seluas 76,42 Km 2 dan menaungi 29 desa di Kecamatan Darussalam dengan kodepos-nya 23373.
Kemukiman Tungkop sendiri memiliki 12 Desa, yaitu:
1. Desa Lampuja
2. Desa Lam Ujung
3. Desa Lam Gawe
4. Desa Lam Keuneung (pengumuman : saya tinggal di sini! :D )
5. Desa Lam Puuk
6. Desa Lamtimpeung
7. Desa Limpok
8. Desa Barabung
9. Desa Tungkop
10. Desa Lam Duroi
11. Desa Tanjung Deah
12. Desa Tanjung Selamat (data by: http://www.acehbesarkab.go.id)

Pusat dari Kemukiman Tungkop terletak di Simpang Tungkop (The Junction of Tungkop), sebuah persimpangan tiga yang menghubungkan Kotamadya Banda Aceh, Lambaro Angan dan Cot Keu’eung, yang juga merupakan jalan akses menuju Bandara Sultan Iskandar Muda.



Namun di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri, nama Tungkop tidak hanya berada di Aceh Besar, masih ada Tungkob juga ada di Aceh Barat (pehatikan baik-baik Tungkop Aceh Besar[dengan P] dan Tungkob Aceh Barat [dengan B] ).
Tungkob adalah sebuah kerajaan bawahan Kesultanan Aceh (data by: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kerajaan_yang_pernah_ada_di_Nusantara). Tungkob ini terletak di Pantai Barat Aceh dan merupakan tempat kelahiran pejuang wanita Aceh Pocut Baren, putri seorang uleebalang Tungkob bernama Teuku Cut Amat (data by:http://pusaka2aceh.wordpress.com/2008/01/28/pocut-baren).



catatan : 
Wah, ternyata, pahlawan yang namanya diabadikan sebagai nama jalan MTsN I Banda Aceh (baca: Pocut Baren) alias madrasah tsanawiyah saya dulu, lahir di Tungkob alias kota kembaran tempat tinggal saya sekarang yaitu Tungkop. Wah, kebetulan yang unik (ih ga penting banget) 

sumber : http://freddysetiawan.wordpress.com/2009/01/25/tungkop-dalam-coretan/

Kuotasi (Tak Biasa) Tentang Cinta

Antoine de Saint-Exupery:

    "Love does not consist of gazing at each other, but in looking together in the same direction."

artinya : "Cinta tidak memerlukan pandang-memandang kepada satu sama lainnya, tetapi memandang bersama ke satu arah yang sama."

contoh kasus versi saya : Jika memang mencintai teman-teman seperjuanganmu, kamu tidaklah akan memandangi satu sama lain dan sibuk saling memuji atau bahkan mencela, tetapi menyatukan visi misi untuk tujuan perjuanganmu itu.

______________________________________________________


Barbara De Angelis:
    "Love is a choice you make from moment to moment."

artinya : "Cinta adalah pilihan yang kau tentukan dari waktu ke waktu."

contoh kasus versi saya : Tuhan memang sudah menyirami kita dengan cinta, untuk kita yang memutuskan, mau memungutnya atau tidak. Sama seperti daun-daun mapple yang jatuh saat Fall, banyak, lalu kitalah yang datang dan memungut satu untuk kita jadikan pembatas buku. Dan tolong perhatikan, cinta di sini bisa berarti cinta kepada artis luar negeri (ngefans gila), cinta belajar, cinta nulis, cinta bernyanyi, dan cinta-cinta lainnya, termasuk cinta pada manusia. Ya, saya percaya dalam mencintai manusia sekalipun, kita tetap bisa memilih untuk mencintainya atau tidak.

______________________________________________________


Karl Menninger:

   "Love cures people -- both the ones who give it and the ones who receive it. "

artinya : "Cinta menyembuhkan orang -- baik bagi yang memberikannya maupun bagi yang menerimanya."

contoh kasus versi saya : Pernah suatu hari sepulang sekolah (saat masih bersekolah di Melbourne) saya melihat setangkai bunga yang cantik di atas meja di kamar; ternyata teman sekamar saya yang membawa pulangnya. Bunga itu masih segar, warnanya kuning, cantik. Lalu keesokan paginya ia layu, sementara teman sekamar saya sudah berangkat duluan dan tidak menyuruh menyiram atau menyelamatkan bunga tersebut. Tapi saya luluh, lalu saya ambil botol dan isi air, lalu bunga itu saya masukkan ke dalamnya. Sepulang sekolah hari itu, bunga itu kembali segar merona kuningnya. Saya yang sedang sakit kepala berat memikirkan tugas akhir sekolah essai 4000 kata yang tak kunjung selesai, tiba-tiba merasa sangat ringan. Ya, cinta saya pada bunga itu menyerikan tidak hanya kelopak kuningnya tapi juga perasaan saya sendiri.


______________________________________________________


Anne Morrow Lindbergh:

    "Him that I love, I wish to be free -- even from me."

artinya : "Dia yang kucintai, selalu kuinginkan untuk bebas -- bahkan dari diriku sendiri."

contoh kasus versi saya : Burung, setelah anak-anaknya bisa terbang, apakah masih menahannya untuk bermalam di sarang tempat ia dilahirkan? Tidak. Anak-anak itu akan dibiarkan merasakan kehidupan dan belajar untuk melaluinya dengan kekuatannya sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Meski pasti terasa sedih seperti tidak lagi diingati bagaikan Mak-nya Malin Kundang, tetapi mendengarkan berita bahagia orang tercinta akan melebihi semua kebahagiaan yang ada. Saya selalu ingin orang-orang yang saya cintai menjadi kuat dan tegar, dapat memberi sebanyak-banyaknya tanpa lama bergantung pada orang lain (selain pada Tuhan, ini tidak mungkin kita tinggalkan).


______________________________________________________


Zora Neale Hurston:

    "Love, I find, is like singing. Everybody can do enough to satisfy themselves, though it may not impress the neighbors as being very much."

artinya : "Cinta, menurut saya, adalah seperti menyanyi. Semua orang bisa menyanyi untuk memuaskan diri sendiri, meskipun mungkin nyanyian itu tidak begitu mengesankan bagi para tetangga."

contoh kasus versi saya : Jika kita menggunakan ukuran artis-artis Holywood sebagai ukuran kebahagiaan, maka banyak sekali yang menjadi sisa penduduk dunia yang tidak bahagia. Tapi apakah anda pernah melihat pasangan suami istri yang suaminya lumpuh? Atau yang istrinya stroke seluruh tubuh? Atau seorang ibu dengan empat orang anak yang mentalnya terbelakang secara berat? Atau keluarga pemulung yang hidup di tengah gunungan sampah? Atau para pengamen yang dibedaki asap kendaraan dan debu jalanan? Mereka tetap bisa menyenyumi dunia, dengan kondisi yang menurut pandangan kita tidak akan pernah menjanjikan kebahagiaan. Apa yang memungkinkan senyum itu? Bagi saya, cinta. Cinta akan hidupnya sendiri (baca : mensyukuri hidupnya) yang membuatnya begitu menikmati "nyanyiannya" meski bagi yang lain tidak begitu "terdengar" bagus.
______________________________________________________

Ada lagi yang ingin berbagi tentang kuotasi (tak biasa) tentang cinta yang patut direnungi? :)

Pahit Membawa Manis

Jangan bertanya ke mana yang lain
Jangan bertanya kenapa kita sendiri
Jangan mengingat apa yang akan kita dapatkan
Jangan mengingat apa yang telah kita korbankan
Karena sungguh Allah telah memilih diri-diri kita
Maka tetap sabar & ikhlaslah Merupakan kesyukuran terbesar ketika kita masih hidup seiring berkembangnya dakwah ini.
Jika ditanya mengapa perjalanan dakwah itu pahit?

Jawabannya karena JANNAH ALLAH ITU MANIS..


Memandang hujan penuh rindu dan doa yang terus menyambung, 6 Juni 2010

Dulu & Sekarang

Jadi teringat masa-masa di mana
Aku berjalan sendirian
Dengan mata yang kututupi kaca
Berwarna cokelat berbingkai putih
Dengan earphone menyumbat sempurna
Dengan lagu-lagu tentang langit, awan, kampung halaman
Lalu di balik kaca
Berwarna cokelat berbingkai putih
Air terkumpul tiada yang tahu
Namun dalam mengerjakan soal jadi lebih menggebu
Guru pun takjub

Lain episode lain lagi
Di sekitar jalan bertapak
Ada serpihan besar-besar botol
Entah bir entah apa
Tapi bau alkohol kentara
Lalu ada jarum suntik dalam trolley
Atau sekotak kondom bergambar buah-buahan di kapling dekat sekolah
Atau pakaian dalam yang tersangkut di ranting semak dekat rumah
Dalam pikirku
Ini semua binatang
Tak punya tujuan
Maka aku terus saja melangkah menuju masjid hendak sembahyang di hari Jumat

Dan kini azan kumandang lima kali sehari
Mengaji di tengah rumputan masjid pun bisa
Tak ada item-item yang gelimpang gaya hidup binatang
Tapi ada yang mengganjal
Di sini
Berbeda
Iman tetap diuji tapi berbeda
Kerasnya hidup ada tapi berbeda
Karena
Mereka yang berdua-dua berkerudung juga
Mereka yang menentang kita bersembahyang juga
Ah
Dunia

Nilai kuliah
Sungguh dikejar bukan utama
Meski masih bisa bertahan
Tapi 
Oh
Sungguh berbeda
Lalu aku sadar
Kita selalu semakin tua
Dengan ujian yang semakin banyak pula

Suatu hari di 2010.

Satire

Beringas dalam keping petang
Pekat dekat purnama
Lalu bekap sebatang badan jelang terbit cahaya

Lantas Jumat
Dan doa komat-kamit
Di sela jamaah paling tepi
Entah yang dipinta

Lalu di tikungan lorong
Atau bawah jembatan
Belalak mata
Darah
Tegang

Seolah jeda
Pucuk-pucuk senjata
Tertawa
Di kedai kopi tebar jala

Namun dunia
Seringai anak-anaknya
Yang bermain dengan nyawa
Atau bercanda dengan nama
Yang hilang
Dalam gelombang raya

10 Agustus 2010, jelang 22.00

Tuesday, October 30, 2012

Nostalgia


Kemarin. Duduk di "Jemblang Square" di depan kantor BEM FK Unsyiah. Dengan suara Sami Yusuf dan Siti Nurhaliza menyenandungkan "You Came to Me" dengan pelan. Melihat ke sekitar yang masih sunyi suasana perkuliahan. Hanya beberapa orang mahasiswa sliweran atas kepentingan organisasi.

Mendadak teringat beberapa masa. Saat masih harus kejar-kejaran dengan jadwal kuliah di sela-sela jadwal rapat (Loh, kaya lebih mementingkan organisasi ya? Hehe). Saat masih curi-curi belajar di sela semua kesibukan di BEM FK Unsyiah. Ada banyak cerita yang dimulai dari dan di sini. Dan terlalu panjang dan membuncah untuk diurai dengan kata-kata. Saya sempat di BEM FK Unsyiah di tahun 2009-2010 sebagai sekretaris bidang Infokom sementara di 2010-2011 jadi kepala departemen Kastrat. Sempat juga sibuk dengan posisi wakil koordinator lapangan zona Peudada pas Aksi Kemanusiaan Mahasiswa Kedokteran (AKMK) 2010. Jadi, foto-foto yang berikut ini seperti membawa kembali cerita lama yang dimulai dari area kantor BEM FK Unsyiah. Nostalgia mode on. =)


Suasana salah satu rapat divisi acara Aksi Kemanusiaan Mahasiswa Kedokteran 2010

Baru tiba di Banda Aceh dari Bireuen, AKMK 2010! Beberes barang lalu terduduk lelah.

Suasana makan siang berjamaah presidium BEM FK Unsyiah 2010-2011 saat ishoma sidang triwulan DPM FK Unsyiah 

Amel, Cia, Sujie, saya, Bengi, Wisda, Zaki, Yogi, Azmy. Ini pas sedang nunggu pemateri acara upgrading pengurus BEM di awal-awal masa pemerintahan

pas jalan-jalan di suatu Idul Adha, 2010
Salah satu masa saya masih sering orasi. Ini pas peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. :D

Beberes ruangan buat pelatihan penulisan karya tulis ilmiah oleh BEM. Narsis sambil kerja XD

Pose setelah briefing mahasiswa baru 2010 tentang 3 acara yang wajib mereka ikuti; Metamorfosis (Pokoknya penyambutan maba gitu deh ini acara), AKMK (Aksi Kemanusiaan Mahasiswa Kedokteran), dan OKA (Orientasi Keislaman Asysyifaa). Tiap lihat foto ini suka ngucap hamdalah sendiri, sebab itu kipas angin nyaris jatuh di kepala saya. -.-"


Wednesday, October 24, 2012

Bakti Sosial Muslim Aid & BSMI in Photography

Muslim Aid milad ke-27, dan mereka lalu mengadakan bakti sosial kesehatan bekerja sama dengan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) cabang Banda Aceh. Baksos ini diadakan di desa Panca, kecamatan Lembah Seulawah di kabupaten Aceh Besar. Saya dan teman-teman (diajakin sama kenalan di BSMI) turut membantu menjadi asisten dokter dan petugas di apotek. Saya, dengan kaki yang masih cedera, meski biasanya hobi ngekorin dokter di bagian anamnesis dan pemeriksaan tanda vital, kali ini mendekam di apotek. Alhamdulillah, tetap banyak yang bisa dipelajari. Semoga apapun yang dilalui menjadi ilmu dan ibadah ya, teman-teman. Amin! Semoga BSMI ga bosan-bosan ngajak baksos lagi ya! hehe ^^


Afri, Devi, kak Vina, kak Risma, Yunda

Paling pantang liat objek potensial buat ngambil makro gini hihi..

3 orang dokter kita sedang membaca daftar obat yang tersedia.

Suasana acara yang ramai di pagi hari (lebih ramai menuju siang hari!)

4 kaum Adam yang membantu di apotek; Aga, Najib, Azmy, Oki.

Saat para dokter memeriksa, kader kesehatan desa pun turun tangan.

pose lagi sebelum beraksi, hehe.

Berlatarkan mobil ambulansnya BSMI

Jangan tanya kenapa si Azmy mukanya mengkel gitu, itu raut wajah standarnya sehari-hari. :p




The girl volunteers! Makasi yaaaa :*

The boy volunteers. As "boybandish" as they could be.. :p

Kami semua bersepuluh! ^^b

Harta rampasan perang yang berharga, brosur tentang obat dari kemasan-kemasan yang kita bongkar kemarin pas baksos, hihi. Lumayan, bisa buat belajar :D

Gini nih. Yang lain kerja baru dia narsis. Masih harus bertahan sama orang ini 1.5 tahun ke depan. -__-"

The entire team from Muslim Aid and BSMI ^^b

Dengan pose yang berbeda ^^b



Tuesday, October 23, 2012

Surat dari Raga

Assalamu'alaikum wrwb.
Kpd Ytr.,
Jiwa
di tempat.

Hei. Bagaimana kabarmu di sana? Masih teguh? Masih mencoba terus tegar? Kudengar kabar sliweran, engkau menemukan suatu hari dalam hidupmu untuk lebih dikenang; hari di mana engkau mulai "melihat" segalanya dengan suatu perspektif baru? Hari yang akan kaukenang selamanya. Hari yang akan kauhafal tanggalnya dalam untung maupun pailit. Hari yang menempel sempurna di dalammu baik manis maupun pahit. Jadi, apa yang terjadi padamu setelah hari itu, wahai "separuh diri"?

Kau pasti heran. Kau bertanya-tanya mengapa akhirnya aku menulis surat ini untukmu? Tak perlu gusar. Ini baru akan kujelaskan. Kau hanya perlu sedikit tenang. Luruskan gerus-gerus di dahimu. Silakan kedua tungkaimu. Kau berhak duduk sejenak. Bacalah beberapa perihal yang akan kutulis di paragraf-paragraf selanjutnya di bawah ini.

Kau pernah dengar acetylcoline? Kebetulan itu salah satu neurotransmitter di dalam diriku yang paling kuingat. Ianya adalah semacam butir-butir ekstra mini yang bepergian dari satu ujung saraf ke ujung lainnya. Ia penting bagi lambungku. Tanpanya, lambungku tak akan menghasilkan hydrochloric acid. Dan itu baik bagi semua makanan yang aku telan. Sebab hydrochloric acid itu bertanggung jawab terhadap pencernaan beberapa molekul yang aku dorong masuk melalui tenggorokan.

Beberapa pekan silam, acetylcoline berbicara padaku. Ia ingin gentayangan lebih maha. Lebih terlihat nyata dari cuma sekedar bereaksi di lambungku saja. Maka tanpa bisa kucegah, ia membahana ke sana ke mari. Ada satu kalimat klimaks yang kuingat ia sampaikan padaku. Ia ingin balas dendam. Dan kau tahu pada siapa ia ingin balas dendam? Padamu!

Aneh, menurutku. Aneh sekali. Apa salahmu, kupikir. Mengapa ia menggila dan mengapa ia ingin menyerangmu kembali? Aku tak tahan lama-lama penasaran. Maka kubuka buku sana-sini. Kubaca artikel ini-itu. Kucerna informasi di mana-mana. Hingga aku menyimpulkan suatu kesimpulan yang lebih aneh lagi; bahwa kaulah yang paling bisa membuat acetylcoline menggila!

Jadi, kaulah yang membuatnya menggila, untuk lalu ia akan kembali membalas kegilaannya padamu? Ini sinting! Sinting, sebab setelah kupikir-pikir. Ini kegilaan antara kalian berdua, dan ini adalah kegilaan yang tidak adil sama sekali!

Iya! Ini tidak adil! Ini kegilaan antara kalian berdua, dan aku harus menanggung semua sisa pergelutan kalian sejak awal? Kau tahu, perseteruan kalian berdua ini berhasil membuat IgE di diriku mendadak lebih punya singgasana dibanding dulu. Jika selama ini, aku tahan dengan semua reaksi likenifikasi di stratum corneum-ku atas thermo-stimulation yang berlebihan, maka kau beruntung. Aku tak membuatmu khawatir. Tak pernah ingin engkau merasakan gundah tiap kali reaksi hypersensitivity itu terjadi.

Tapi jika sekarang, hypertrophy di concha nasi sinistra mulai rutin terjadi tiap tengah malam hingga Dhuha, aku mulai khawatir. Ini semua memberitahuku satu hal. Ada yang salah dengan engkau. Dan aku, mau tidak mau, harus turun tangan mencari tahu penyebabnya mengapa acetylcoline menggila. Berputar-putar dalam lingkaran setan denganmu.

Apa yang terjadi padamu? Apa yang kaupendam begitu dalam di amygdala-ku? Memori macam apa itu yang kaupelihara rapi-rapi hingga aku sendiri pun sukar membangunkannya? Dan yang lebih penting lagi, mengapa kau repot-repot menyembunyikannya dariku jika bukan karena kau tak ingin aku mengintervensinya? Begitu, kan?

Aku mulai tak banyak paham akanmu. Engkau yang sering menyapaku dulu. Engkau yang lebih sering mengingatkanku untuk memberi diri sedikit waktu untuk duduk. Untuk menarik nafas agar tidak hypoxia semua sel-sel otakku. Agar tidak acydosis sistem sirkulasiku. Agar tidak menumpuk lactate acid di otot-otot lurikku. Agar engkau dan aku bisa berjalan beriringan. Agar ia yang namanya bergantung pada keseimbangan kita berdua bisa tetap maksimal menjalani hidupnya.

Kini, aku seperti berjuang sendiri. Meski dislokasi otot-otot di pedis sinistra-ku, aku tetap berjalan ke sana ke mari. Menjalankan tanggung jawabku pada mereka yang terkait denganku baik secara biologis maupun ideologis. Membebatnya agar berkurang oedema yang terbentuk. Meski sesekali tak bisa kupaksa, aku diam jua melewatkan hari; dan inilah mengapa aku tiba-tiba sadar fakta itu, kau seperti sudah tak peduli!

Kau memendam sesuatu , aku tahu. Kau tak cerita padaku, aku tahu. Pada Jiwa lain pun kau hanya bercerita setengah. Namun, tak kah kau kasihan padaku dan semua organ-organ yang deteriorating ini? Mereka tidak bersalah. Mereka hanya menjalankan tugas fitrah dari Penciptanya. Berjalan sesuai dengan perintah kode genetiknya. Namun, tetap saja mereka harus turut merasakan pergelutan anonimmu itu, tanpa kepastian darimu tentang kapan ini semua akan berakhir!

Tak ada yang melarangmu berpikir hingga ke bintang. Memeluk rembulan. Menggerayangi bimasakti jika perlu. Tapi kau harus selesaikan semua urusanmu di tanah terlebih dahulu. Jika kau kering, siram! Jika kau lapar, makan! Jika kau sendiri, cari teman! Jangan kaubiarkan dirimu mengelana dalam pelarian. Izinkan acetylcoline menjalankan tugasnya sebatas menciptakan reaksi-reaksi normal yang sepantasnya.

Kau sayang padaku? Kau separuh aku, bukan? Kita berdua punya satu kewajiban, seperti uraiku di atas. Ada satu nama yang sedang kita junjung hidupnya. Dan ialah cermin dari kita berdua. Aku yang menua tanpa kau menjadi dewasa hanya akan menjadikannya seperti sebuah tank yang terbuat dari baja tapi tanpa peluru; nir-daya. Sementara ia punya komitmen dengan Sang Pencipta. Untuk tak akan mati kecuali dalam keadaan hanya mengabdi pada-Nya di bidang apapun yang ia jalani.

Kau harus bisa melepaskan "kemarin". Kau harus belajar memahami "hari ini". Kau harus lebih bijaksana mengendalikan pergerakan emosi. Ada syurga yang harus kita menangkan bersama. Karena aku tak mau rusak dimakan tanah sementara engkau tak mencium bau syurga. 

Baik, aku tak akan memaksamu menceritakan padaku apa yang mengganggumu dan merisaukanmu. Tapi kau harus berjanji padaku. Kau harus bisa berusaha keluar dari apapun itu yang membayang-bayangimu dari tidak mendewasa! Ya, sebab engkaulah yang akan melanjutkan perjalanan bahkan jika pacemaker-ku berhenti. Maka padamu, kutitipkan semua harapan! Jangan sampai nama yang kita usung hidupnya ini menjadi singa tanpa taring di hadapan Sang Pencipta.

Biarlah perkembangan riwayat atopi-nya berhenti di concha hypertrophy saja. Bersyukurlah kita, ini tidak sampai menghasilkan rhinitis allergica yang nyata. Dan semoga tidak menyusul yang kita tidak inginkan; "conditional" bronchospasm. Sungguh, ini semua kini bergantung padamu. Kau harus bisa meresolusi diri. Banyak-banyak berbicara pada Sang Pencipta. Minta diberi pencerahan.

Izinkan agar aku dan kau seimbang lagi. Tawazun, begitu sang nama yang kita usung hidupnya pernah menceritakannya pada binaan-binaannya di kampus tempat ia mendidik dirinya.

Wassalamu'alaikum wrwb,
Penuh harapan,
Raga.


Saturday, October 20, 2012

(lagi-lagi tentang) Langit

Saya sebenarnya bukan bagian dari gelombang masif penyinta Korea dan segala budaya Pop-nya. Tapi, saya tidak menutup diri dari mengetahui lagu-lagunya jika memang maknanya bagus. Saya pemerhati lirik lagu. Buat saya, apapun bahasanya, ketika lagu yang dibawakan benar-benar punya makna yang dalam, saya terima.

Dan lagu di bawah ini, entah, membuat saya terdiam. Mungkin karena judulnya "Sky" alias langit. Dan saya percaya, membicarakan langit dan segala kelapangannya adalah sebuah terapi psikologis yang menjanjikan bagi jiwa-jiwa yang "sesak pikiran". Di Alquran sendiripun banyak sekali pembahasan mengenai ini, yang insya Allah akan saya bahas dalam kesempatan mendatang.

Ya, yang menyanyikannya adalah 3 orang "Diva"-nya Super Junior yang terkenal dengan nama K.R.Y. Ya, ini lagu Korea. Tapi sekali lagi saya katakan, saya suka lagunya, dan itu tidak harus berarti saya nge-fans pada budaya K-Pop secara keseluruhan. Saya suka lagu ini, sebab saya merasa seperti ada seorang sahabat yang sedang menghibur saya di tengah kesedihan dan beberapa masalah yang sedang saya hadapi sekarang. Mengajak sebentar saja, tenggelam dalam birunya langit. Terbang hingga ke ujungnya. Membiarkan air mata dihapus oleh angin lalu. Sebentar saja. Sebab melapangkan pikiran itu kadang cuma butuh beberapa menit saja. :")




"SKY"
Tune your ears in – can’t you hear the small whisper?
Wherever you hear it, I will be with you

Even if you’re far away, the wind calls you
This heart rush that only we know touches the end of the blue sky
Tajamkan telingamu - bisakah kau dengar bisikan pelan itu?
Di manapun kau mendengarnya, aku akan ada di sana bersamamu.
Bahkan jika kau begitu jauhnya, sang angin memanggilmu.
Hati ini bersegera, yang hanya kita yang tahu, bahwa kita bisa menyentuh ujung dari langit biru.

Stay by my side, hold my hand
As you listen to the small whispers and what the wind says
Tetaplah di sisi, pegang tanganku.
Sambil kau mendengarkan bisikan-bisikan pelan dan apa yang sang angin katakan padamu.

We just need to fly to the sky
We can forget everything just for that moment
Because everything is the same color as the sky
Tears scatter and the wind takes it all away
Just for that moment, you and I can be together for sure
Kita cuma perlu terbang menembus langit
Kita bisa melupakan tentang segalanya untuk satu saat saja
Sebab segalanya akan (berubah) warnanya, menjadi sama dengan langit.
Air mata berserak dan angin mengambilnya pergi.
Hanya untuk saat itu saja, kita bisa bersama-sama.

Even if you’re far away, the wind calls you
This heart rush that only we know touches the end of the blue sky
Bahkan jika kau begitu jauhnya, sang angin memanggilmu.
Hati ini bersegera, yang hanya kita yang tahu, bahwa kita bisa menyentuh ujung dari langit biru.

Don’t be afraid, don’t hide – hold my hand
As you listen to the small whispers and what the wind says
Jangan takut, jangan sambunyi, pegang tanganku.
Sambil kau mendengarkan bisikan-bisikan pelan dan apa yang sang angin katakan padamu.

We just need to fly to the sky
We can forget everything just for that moment
Because everything is the same color as the sky
Tears scatter and the wind takes it all away
Just for that moment, you and I can be together for sure
Kita cuma perlu terbang menembus langit
Kita bisa melupakan tentang segalanya untuk satu saat saja
Sebab segalanya akan (berubah) warnanya, menjadi sama dengan langit.
Air mata berserak dan angin mengambilnya pergi.
Hanya untuk saat itu saja, kita bisa bersama-sama.

How do I look? Do I seem at peace?
Whenever you want, fly higher like the clouds
Bagaimana rupaku? Apakah aku tampak damai (bagimu)?
Kapanpun engkau ingin terbang, terbanglah lebih tinggi seperti para awan.

Because everything is the same color as the sky
Tears scatter and the wind takes it all away
Just for that moment, you and I can be together for sure
Sebab segalanya akan (berubah) warnanya, menjadi sama dengan langit.
Air mata berserak dan angin mengambilnya pergi.
Hanya untuk saat itu saja, kita bisa bersama-sama.

Catatan: lirik di atas diambil dari sini.

Wednesday, October 10, 2012

Doa Seorang Pejuang

Allah, aku takut
Takut lupa
Bahwa aku suatu hari berjanji
Menjaja waktu hanya dengan baki yang Engkau beri

Allah, aku khawatir
Khawatir lupa
Bahwa suatu masa aku mengucap sumpah
Hanya berpegang pada buhul-Mu aku menulis sejarah

Allah, aku gelisah
Senyap dalam pucuk malam
Memeluk lutut dengan geraham rapat mendekap gelap

Apa aku pantas berderap
Tegap
Mengaku beriman
Padahal kosong bergema dalam dada
Mengaku penuh rencana
Padahal timfani dalam rangka paling atas berdengung

Aku takut, Rabb
Takut sombong sudah mengaku berjuang
Padahal
Terseok
Mengeja jaman


Dari Tungkop ke Darussalam ke Lampriet. 
September - Oktober 2012.

Sebab hati itu berkelebat sesukanya. Bolak-balik di satu masa dan balik-bolak di masa lainnya. Maka tak pantas satu pejuang pun mengaku sudah berhasil mengukir kata "istiqomah" kecuali nisan sudah terpasang lengkap dengan tanggal kematian. Semua harus tetap berharap bisa bertahan dalam gurun jahiliyah setandus apapun. Semua harus tetap memohon bisa terus dikirimi hikmah, qudwah dan mau'idzah sepanjang tahun. Ya, tak peduli seberapa banyak bintang tersemat di deretan lencana yang kita punya.


muasal ilustrasi adalah dari sini