Wednesday, October 31, 2012

Diuji Sebab Beriman


"Jadi, Pak, apa bedanya antara berpikir secara negatif dan berpikir realistis? Berpikir negatif akan selalu membuat kita merasa tidak mampu atau pantas menjalankan sebuah gebrakan sementara berpikir realistis akan membuat kita berpikir tentang sederet kemungkinan terburuk yang akan menghambat. Kadang-kadang kita mencoba berpikir realistis tapi malah jatuh ke dalam sebuah kenegatifan."

Pertanyaan di atas ditanyakan oleh salah satu peserta workshop Young Leaders for Indonesia di Hotel Borobudur, 6-7 Februari 2010 yang lalu. Saya tercekat. Tiba-tiba saya berteriak, "Ya, saya punya pertanyaan yang sama! Itulah pertanyaan yang harusnya saya tanyakan sejak dulu! Beri saya jawabannya!". Dan semua orang terbengong-bengong melihat seorang muslimah berjilbab yang selama workshop terlihat ceria dan senang-tenang saja ini mulai emosional. Seorang peserta wanita berwajah oriental di sebelah saya langsung mengelus-elus pundakku yang waktu itu sudah mulai menitikkan air mata.

Alhamdulillah.

Paragraf kedua fiktif adanya.

Tapi ya, benar, agaknya sedikit saya pun mulai berpikir; apakah selama ini saya sedang mencoba menjadi realistis dengan kehidupan saya sendiri atau saya sedang mengembangkan pola pikir negatif dalam membuat keputusan-keputusan sejauh ini.

"Nuril merasa ingin berhenti di sini saja."

Orang yang saya ajak bicara diam dan melihat saya dengan tatapan lurus yang sulit diartikan. Lalu dia menghela nafas dan berkata, "Berhenti? Berhenti dari apa? Young Leaders for Indonesia? Atau?"

"Ya. Yang itu. Rasanya terlalu membuat sempit. Entahlah. Target-target yang ada begitu terasa buyar sejak Nuril ikut serta ke dalamnya. Nilai Nuril pun mulai ada C-nya. Workshop-workshop selanjutnya akan membuat Nuril akan ketinggalan dua sesi skills lab dan itu berarti akan harus mengulang tiga hal; satu ujian blok yang dapat C tadi dan dua skills lab blok (urogenitalia & birth and pregnancy). Apa yang harus Nuril katakan pada orang tua?"

"Ah, Nuril," katanya tertawa kecil. "Coba bayangkan, apalah dua sesi skills lab yang bisa diulang itu dengan kesempatan yang hanya diberikan kepada dua orang saja dari Aceh ini ke Jakarta sana! Tidak mudah, tidak mudah. Sayang kalau harus berhenti di sini. Memangnya di luar sana Nuril ada amanah lain apa?" Ia tertawa. Saya paham benar tertawanya bukan bermaksud mengejek melainkan menganggap saya sedang bercanda dengan apa yang saya katakan.

"Jika pun harus berhenti, Nuril sudah merampas posisi yang Nuril dapatkan sekarang itu dari seseorang yang lain yang harusnya mau menggantikannya. Orang lain mungkin mau membayar berapapun untuk mengikuti workshop itu jika saja seandainya Nuril tidak mendapatakannya dulu. Secara singkat, orang-orang itu sudah menitipkan amanahnya pada Nuril, jadi tidak bisa dibuang seenaknya."

Saya menelan ludah. Benar juga. Lalu saya ulang pertanyaan yang saya tulis di awal tulisan ini pada orang tersebut.

"Iya juga sih. Tapi bedakan. Banyak yang bisa kita lakukan, lakukan. Tapi sesuaikan dengan kapasitas kita, nah, di situlah poin realistisnya. Bukan meremehkan potensi diri, tetapi mengenalinya dengan hati-hati. Tak mungkin kita bisa melakukan semua hal."

Saya diam saja. Hingga seorang lain menyeletuk, "Istikharah."

Saya mendongak dan sang penyeletuk senyum dalam diamnya.

"Sudah pernah sekali untuk sesuatu bersifat amanah."

"Dan hasilnya?" Ia bertanya

"Melepasnya. Asisten anatomi. Sengaja Nuril jawab soalnya salah satu dan tidak begitu teliti dengan yang lainnya. Nilai Nuril cuma beda satu dengan yang lulus terakhir dari tes tahap pertama itu. Jadi jatah itu bisa diambil orang lain, alhamdulillah."

Dia senyum lagi. Ternyata, dulu pun ia begitu. Ia memutuskan untuk tidak menjadi seorang yang berkutat di akademis serumit Laboratorium Anatomi. Ah, saya ingin belajar lagi bagaimana senyum seringan itu.

"Dan Rin mulai merasa disorientasi. Sedikit kelabakan dengan apa-apa yang Rin kerjakan sekarang. Mereka semua seperti tidak berkaitan."

Kali ini orang lain yang saya ajak bicara. Dan dia senyum juga. Senyum, senyum. Subhanallah, saya begitu kagum dengan orang-orang yang senyum (tanpa tekanan dan damai. Entahlah, senyum-senyum serupa ini hanya bisa dirasakan dengan batin dan bukan sekedar senyum biasa dalam basa-basi percakapan).

"Tapi Allah tidak pernah menguji kita lebih dari yang kita mampu, kan?"

"Ya," jawabku, "Al-Baqarah ayat 286 kan? Tapi di ayat tersebut ada juga doa yang berbunyi, "Ya Allah, janganlah Kaupikulkan kepada kami beban lebih dari yang sanggup kami pikul." Nah, itu, berarti apa? Apa memang sebenarnya bisa ada kondisi kita diuji lebih dari yang kita mampu?"

Dia senyum lagi. Dia bilang, "Itu berarti Allah menuntun kita untuk berdoa kepada-Nya. Hanya orang-orang sombong yang tidak melibatkan Allah dalam urusan-Nya. Allah sebenarnya tahu kita maunya apa, tapi, ud'unii fastajib lakum,kan? Berdoa dulu, baru dikabulkan..."

Saya tertegun lagi. Ya, berdoa.

"Tidak beriman seseorang sampai dia diuji dulu keimanannya..."

Yang ini orang lain lagi yang menyeletuk. Ia yang diam saja sedari tadi ternyata menyimak.

"Dan itu berarti, Allah masih menganggap kita beriman, pantas untuk diuji," sambungnya.

Rabb, limpahi berkah dan keluasan pikiran bagi mereka yang sudah memberikan aku nasihat-nasihat hari ini.



Kantor BEM FK Unsyiah, 22 Februari 2010, qabla ashar.

No comments:

Post a Comment