Wednesday, October 31, 2012

Dua Langit (Dari Medan ke Banda Aceh, 20 tahun)




Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Banda aceh. Menumpangi sebuah pesawat, saya yang cuma bisa melorot lemas di kursi waktu itu hanya sanggup memandang ke luar jendela dan terpaku pada beberapa pemandangan yang sebenarnya itu-itu saja; langit dan awan. Kurang kerjaan banget kan? Tapi mau gimana lagi, Traveller’s Diarrhea yang menyerang saya waktu itu terlalu menguras energi dan konsentrasi. Boro-boro untuk membaca atau sekedar menulis puisi, untuk menegakkan kepala saja susah. Bawaannya mual dan pengen muntah melulu. Saya pikir, ha, ini lah dia satu dari sekian orang yang ga bisa jadi orang kaya di masa depan nanti. Baru nginap di hotel bintang lima sekali aja udah gitu, begh, apalagi kalau harus tinggal di Istana Negara nanti tho! Aduh, aduh, hoho..

Eh ya, belum cerita kenapa harus ke Jakarta plus nginap di hotel bintang lima ya?


Jadi singkatnya, saya, bersama 49 orang mahasiswa(i) lain dari universitas yang ada di beberapa penjuru Indonesia (ada yang dari UI, ITB, ITS, USU, UNSRI, UNHAS, dsb) mengikuti workshop berjudul Young Leaders for Indonesia Kampus 2010 yang diadakan oleh Mc Kinsey & Company, sebuah perusahaan yang bergelut di bidang leadership advisor semacamnya yang – katanya sih – cukup terkenal secara global. Kami para mahasiswa (i) ceritanya semacam sedang digodok dan dibentuk untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia pada tahun 2020 dalam berbagai bidang yang kami geluti di perkuliahan masing-masing. Program ini cukup serius digarap. Buktinya, untuk akomodasi dan transportasi semuanya ditanggung. Tempat nginapnya aja bikin Traveller’s Diarrhea, eh, salah, maksudnya, tempatnya bikin melongo! (baca: yang jelas-jelas melongo minimal saya sendiri lah hehe) Judul hotelnya Borobudur. Konon, dulu pas Pemilu, teman-teman KPU (haiyah, TEMAN-TEMAN? Sadar, Rin, sadar..) ngitung suaranya di hotel ini. Anaknya Om Esbeye (what? OM? Heleh-heleh, Rin, bangun, bangun..) juga resepsi pernikahannya di sini. Bintang lima cuy! Apa ga bling-bling ni mata anak kampung kaya saya begini? Pas nyampe ke hotel, hampir ga tega mau tidur di atas tempat tidurnya, cosy banget!! (nah kan, saya ga bakat jadi orang kaya kan??)


Untuk para pengisi workshop yang pertama waktu itu, juga bukan orang-orang yang bisa gampang ditemui di kesempatan lain; Anies Baswedan (rektor Universitas Paramedina yang jadi moderator debat kandidat capres 2009 itu lho), Dino Pati Djalal (Jubirnya Om Esbeye sekaligus pendiri lembaga bernama Modernisator), Sandi Uno (satu dari 10 orang terkaya di Indonesia gitu deh) dan Butet Manurung (seorang guru yang mengajar dari rimba ke rimba yang udah terkenal mendunia, meski saya juga awalnya ga tau tentang beliau :D ). Bagi beberapa, tokoh-tokoh tersebut tidak terlalu sesuai dengan platform prinsip kehidupannya, tetapi paling tidak pengalaman dan cerita mereka banyak yang bisa diambil ibrahnya lho. Ha? Oh, tidak, tentang apa yang mereka bicarakan nanti saja terpisah ya diceritainnya. Sabar, sabar, nanti tanda tangan saya menyusul (lho????)


Eniwei, mari kembali ke jalan tol.


Nah, pas saya dalam perjalanan pulang dari workshop yang dari tanggal 6 sampai tanggal 7 Februari yang lalu itu (pulangnya tanggal 8 Februari), saya kan merhatiin tuh, langitnya. Standar sih. Langit biru. Awan putih. Jadi teringat lagu kesenangan saya waktu masih kanak-kanak dulu;


Kulihat awan

Seputih kapas
Berarak-arak di langit luas
Andai kudapat terbang ke sana
Akan kuraih kubawa pulang


Memandangi langit dari dalam pesawat membuat saya teringat ayah saya. Suatu hari, ketika beliau baru pulang dari sebuah workshop dari luar kota ketika saya masih SD (info: saya sekarang udah kuliah semester 4), saya iri sekali dengan passing board yang ada dalam tas beliau. Saya jadi pengen naik pesawat juga. Walhasil, rewel lah saya minta naik pesawat. Beliau berkata, “Kalau mau naik pesawat, rajin-rajin belajar. Jaga nilai Bahasa Inggris-nya. Kalau pintar, nanti bisa naik pesawat, dibayarin orang lain malah.”


Sepertinya pesan itu benar-benar menghantui saya. Saya yang tidak pernah dibolehkan kursus Bahasa Inggris (sebab alasan ekonomi dan lain-lain) mulai bercakap-cakap dengan diri sendiri di depan cermin. Cas, cis, cus. Grammar salah, ga peduli. Ga tau arti kata, buka Hassan Shadily (nyolong dari lemari ayah). Bermodal materi pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah, saya selalu mempraktekkan materi tersebut di depan cermin setiap pulang sekolah. Ah, saya rindu masa-masa itu, masa-masa di mana saya begitu mengenal potensi diri dan konsisten dalam mempertajamnya. Motivasi dari ayah saya begitu besar pula, saya harus akui itu.


Baru sekarang saya paham apa maksud ayah saya waktu itu. Bukan bermaksud ‘matre’ dengan iming-iming naik pesawat atas bayaran orang lain, melainkan nilai penghargaan dari orang lain atas diri kita yang dimaksudkan beliau. Rasanya saya ingin mengajak langit berbincang, mengajaknya mengingat bahwa waktu itu bukan pertama kalinya saya naik pesawat dan bukan atas dana pribadi sama sekali. Ayah, ah, butuh satu novel untuk menjelaskan cerita apa saja yang sudah engkau tanamkan padaku sedari kecil yang ternyata baru berbuah sekarang.


Dan langit berpendar di bawah mentari punya sinar. Begitu kerlap dalam lautan gulali putih. Terang dan tenang sekali langit hari itu. Begitu benderang. Seolah memeluk saya yang sedang rapuh (karena Traveller’s Diarrhea ya, plis deh). Awan-awan membentuk pulau-pulau gembul menggemaskan di satu sudut langit.

Sementara di sudut lainnya, awan-awannya berpencar. Ada juga yang membentuk wajah manusia, kuda, bla bla.


Ha, akhirnya, ini dia, ini dia yang membawa inspirasi; ada sehampar luas awan yang datar seperti lapangan sepak bola. Luas dan putih. Imajinasi saya bergerak menembusi jendela pesawat dan mulai menjelma diri menjadi istana-istana besar dan kecil di atas ‘kapling melayang’ tersebut. Tep! Lanjutan sebuah cerpen yang menggantung di folder computer di rumah pun dapat sebuah pencerahan! (ha, nantikan cerpen ini, harus masuk media pokoknya insya Allah!)


“Penumpang yang terhormat, beberapa saat lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Polonia, Medan. Harap kembali ke tempat duduk dan mengencangkan sabuk di kursi anda, menegakkan sandaran kursi dan menutup meja di depan anda serta membuka tutup jendela.”


Hiyah, mau ‘saldo’ lagi nih perut, pikir saya. Siap-siap menahan gerakan peristaltic ekstra yang akan menuai mual-mual kembali. Ayo, ayo, focus pada pemandangan di luar jendela saja. Alihkan perhatian, alihkan perhatian! Tahan, tahan, jangan muntah!!!! (ceritanya mensugesti diri, yak, tatap mata saya…halah!)


Lalu saya kembali terpana.


Pesawat pun mendarat dengan sempurna dan selamat, meski gerimis mengguyur bandara dan sekitarnya. Ya, ada hujan! Padahal tadi di atas sana benderang! 


Dan saya pun sadar. Ada dua langit hari itu. Dua langit yang batasnya entah di mana. Tiba-tiba saja kehangatan di atas sana berganti sejuk rinai air menerpa. Dan saya, beserta puluhan penumpang lain melewati kedua-duanya. Dari atas turun ke bawah.


Mari curhat sedikit. Hari itu adalah tanggal 8 Februari, hari di mana jatah usia saya berkurang lagi setahun. Hari yang sempurna memangkas usia belasan saya. Hari yang membuat saya hanya berjarak  satu tahun dari batas usia minimal yang sudahg harus punya NPWP (hei, serius dong ah!) 


Dan saya, jika bisa dibaca pada blog-blog entry sebelumnya, sedang dalam fase-fase mempertanyakan banyak hal tentang jalan yang saya pilih, masa depan yang saya rancang dan rindu yang saya tidak tahu apa yang membuat beberapa puisi lahir tanpa bisa dicegah.


Dan melihat langit yang ‘mendua’ serupa itu, saya sadar. Ya, itulah ibarat hidup kita. Ia memang satu, tetapi selalu punya minimal dua sisi. Katakanlah dua sisi itu terdiri dari sisi gelap dan sisi terang. Atau ethos dan tharnatos (Freud bilang kaya gini). Atau yin dan yang (Kungfu mode on). Atau, teori yang paling saya favoritkan, fujjar dan taqwa (baca QS Asy-Syams di Quran masing-masing). Apa yang kita rasakan terhadap hidup itu ditentukan posisi yang kita pilih di antara kedua sisi. 

Kembali ke dua langit tadi, langit terang dan langit gelap yang berbatas tipis dan samar itu jelas sekali topografinya. Ya, langit di atas sana akan selalu terang karena awan nyaris tak bisa menutupi mentari karena memang ‘jarak apung’-nya tak akan pernah bisa menutupi pandangan kita dari mentari. Sementara langit di bawah yang gelap adalah karena memang hujan selalu turun ke bawah (ditarik oleh gravitasi) maka awan hanya bisa terlihat kelabu dari bumi. Lantas, untuk menikmati langit yang terang itu selalu, bagaimana? Tak ada cara lain, kita harus melakukan obsesi masa kanak-kanak saya tadi; naik pesawat! Ya, hanya dengan naik pesawat dan menembus langit cukup tinggi di atas para awan-awan lah nasyid “Sebiru Hari Ini”-nya Edcoustic akan cocok menjadi soundtrack-nya sepanjang tahun.


Dalam kehidupan ini, saya pikir, begitu pulalah seharusnya kita. Kita harus selalu mencari ‘pesawat’ yang akan membawamu terbang selalu sehingga langit akan sering-sering terasa cerah dalam pandangmu. Sesekali bolehlah turun ke bawah untuk transit dan ganti ‘pesawat’, untuk lalu terbang lagi. Dan perhatikan, siapakah yang bisa naik pesawat? Mau tidak mau, harus diakui, yang bisa naik pesawat ya yang harus punya cukup duit untuk beli tiket, kan? Tanpa penghasilan yang cukup, mana bisa naik pesawat. Nah, begitu pula hidup ini. Tak akan pernah bisa merasa cerah (seperti saat di langit atas) jika kita tidak cukup ‘kaya’. Dan ‘kekayaan’ itu harus dicari, tak bisa menunggu sambil goyang-goyang kaki saja. Bangun, bekerja, cukup ‘kaya’, baru belilah tiket ‘pesawat’-mu untuk lalu menikmati kecerahan yang memberi inspirasi seperti di langit atas sana. Dan ingat, orang ‘kaya’ mungkin banyak, tapi tak semua dari mereka naik ‘pesawat’ karena mengharap ‘kecerahan’ .


Kaya? Ya. Wajib kaya. Dan kekayaan ini berasal dari apa yang kita kerjakan. Sudahkah selama ini kita cukup bermanfaat bagi sekitar kita? Sudahkah kontribusi kita maksimal dalam dakwah misalnya? Sudahkah, sudahkah, sudahkah (sambung sendiri pertanyaan introspektifnya)??? Ya, kata kaya di atas pake tanda petik. Kekayaan yang akan membuat kita bisa naik pesawat dalam tanda petik pula. Untuk lalu bisa merasakan kecerahan dalam tanda petik juga. (nah lho, bingung? hehe)


Tidak, tidak bermaksud mengatakan bahwa di langit bawah (alias dari bumi ini) kita tidak akan pernah bisa menikmati kecerahan. Hanya saja, kita tak pernah tahu kapan ia cerah dan kapan ia sembunyi di balik tabir mendung. Sementara di langit atas sana, seperti yang sudah saya sampaikan, nyaris tak ada yang menutupi mentari dari benderang. Eniwei, ini cuma analogi lho, jadi jelas masih bisa didebat.


Lalu saat transit, saya hidupkan handphone dan menyetel mp3 player. Melantunlah sebuah nasyid;

Hujan gerimis yang akan menemani
Perjalananku pulang
Tiada dapat lagi kutunggu
Terasa rindu untuk bersua denganmu
(Rast, Hujan Gerimis)


Ya, saya memutuskan untuk pulang meski masih mendung (ya iyalah, emang tiket pesawatnya mau dibatalin? hehe). Saya sudah rindu. Rindu pada kampung halaman yang sempat ingin saya jauhi sejauh-jauhnya dalam beberapa tahun yang lalu. Dari sana, saya akan cari ‘duit’ untuk membeli tiket ‘pesawat’ lain. Perjalanan hari itu membuat saya juga sadar, kampung halaman saya memiliki banyak sekali ‘pekerjaan’ yang akan memungkinkan saya mendapat tiket-tiket ‘pesawat’  yang akan mengantarkan saya ke ‘langit atas’. Saya ingin merasakan kehangatan tadi lagi. Merasakan kelapangan dada seperti yang tadi menyelimuti saat berada di atas sana. 


Hujan memang indah, menenangkan. Tetapi terlalu lama berkubang di dalamnya kiranya bisa membuat kita alpa tentang birunya angkasa yang tak kalah ramahnya dalam mengecup mimpi-mimpi anak Adam. Dalam perjalanan pulang ke Banda, saya lafalkan lagi beberapa doa titipan beberapa orang saudara(i) sebelum safar, mengaminkan beberapa doa atas milad saya hari itu, dan agar saya selalu bisa mengajak orang lain senyum (tanpa awalan “ter-“) dengan senyuman saya lahir seutuhnya dari hati yang cerah. Secerah langit atas.


Doa adalah kekuatan terbesar seorang mu’min,

Dan aku akan menjadi kekuatan terbesar itu untukmu.
(seorang saudara, 2007)




Banda Aceh, 8 Februari 2010

No comments:

Post a Comment