Tuesday, October 23, 2012

Surat dari Raga

Assalamu'alaikum wrwb.
Kpd Ytr.,
Jiwa
di tempat.

Hei. Bagaimana kabarmu di sana? Masih teguh? Masih mencoba terus tegar? Kudengar kabar sliweran, engkau menemukan suatu hari dalam hidupmu untuk lebih dikenang; hari di mana engkau mulai "melihat" segalanya dengan suatu perspektif baru? Hari yang akan kaukenang selamanya. Hari yang akan kauhafal tanggalnya dalam untung maupun pailit. Hari yang menempel sempurna di dalammu baik manis maupun pahit. Jadi, apa yang terjadi padamu setelah hari itu, wahai "separuh diri"?

Kau pasti heran. Kau bertanya-tanya mengapa akhirnya aku menulis surat ini untukmu? Tak perlu gusar. Ini baru akan kujelaskan. Kau hanya perlu sedikit tenang. Luruskan gerus-gerus di dahimu. Silakan kedua tungkaimu. Kau berhak duduk sejenak. Bacalah beberapa perihal yang akan kutulis di paragraf-paragraf selanjutnya di bawah ini.

Kau pernah dengar acetylcoline? Kebetulan itu salah satu neurotransmitter di dalam diriku yang paling kuingat. Ianya adalah semacam butir-butir ekstra mini yang bepergian dari satu ujung saraf ke ujung lainnya. Ia penting bagi lambungku. Tanpanya, lambungku tak akan menghasilkan hydrochloric acid. Dan itu baik bagi semua makanan yang aku telan. Sebab hydrochloric acid itu bertanggung jawab terhadap pencernaan beberapa molekul yang aku dorong masuk melalui tenggorokan.

Beberapa pekan silam, acetylcoline berbicara padaku. Ia ingin gentayangan lebih maha. Lebih terlihat nyata dari cuma sekedar bereaksi di lambungku saja. Maka tanpa bisa kucegah, ia membahana ke sana ke mari. Ada satu kalimat klimaks yang kuingat ia sampaikan padaku. Ia ingin balas dendam. Dan kau tahu pada siapa ia ingin balas dendam? Padamu!

Aneh, menurutku. Aneh sekali. Apa salahmu, kupikir. Mengapa ia menggila dan mengapa ia ingin menyerangmu kembali? Aku tak tahan lama-lama penasaran. Maka kubuka buku sana-sini. Kubaca artikel ini-itu. Kucerna informasi di mana-mana. Hingga aku menyimpulkan suatu kesimpulan yang lebih aneh lagi; bahwa kaulah yang paling bisa membuat acetylcoline menggila!

Jadi, kaulah yang membuatnya menggila, untuk lalu ia akan kembali membalas kegilaannya padamu? Ini sinting! Sinting, sebab setelah kupikir-pikir. Ini kegilaan antara kalian berdua, dan ini adalah kegilaan yang tidak adil sama sekali!

Iya! Ini tidak adil! Ini kegilaan antara kalian berdua, dan aku harus menanggung semua sisa pergelutan kalian sejak awal? Kau tahu, perseteruan kalian berdua ini berhasil membuat IgE di diriku mendadak lebih punya singgasana dibanding dulu. Jika selama ini, aku tahan dengan semua reaksi likenifikasi di stratum corneum-ku atas thermo-stimulation yang berlebihan, maka kau beruntung. Aku tak membuatmu khawatir. Tak pernah ingin engkau merasakan gundah tiap kali reaksi hypersensitivity itu terjadi.

Tapi jika sekarang, hypertrophy di concha nasi sinistra mulai rutin terjadi tiap tengah malam hingga Dhuha, aku mulai khawatir. Ini semua memberitahuku satu hal. Ada yang salah dengan engkau. Dan aku, mau tidak mau, harus turun tangan mencari tahu penyebabnya mengapa acetylcoline menggila. Berputar-putar dalam lingkaran setan denganmu.

Apa yang terjadi padamu? Apa yang kaupendam begitu dalam di amygdala-ku? Memori macam apa itu yang kaupelihara rapi-rapi hingga aku sendiri pun sukar membangunkannya? Dan yang lebih penting lagi, mengapa kau repot-repot menyembunyikannya dariku jika bukan karena kau tak ingin aku mengintervensinya? Begitu, kan?

Aku mulai tak banyak paham akanmu. Engkau yang sering menyapaku dulu. Engkau yang lebih sering mengingatkanku untuk memberi diri sedikit waktu untuk duduk. Untuk menarik nafas agar tidak hypoxia semua sel-sel otakku. Agar tidak acydosis sistem sirkulasiku. Agar tidak menumpuk lactate acid di otot-otot lurikku. Agar engkau dan aku bisa berjalan beriringan. Agar ia yang namanya bergantung pada keseimbangan kita berdua bisa tetap maksimal menjalani hidupnya.

Kini, aku seperti berjuang sendiri. Meski dislokasi otot-otot di pedis sinistra-ku, aku tetap berjalan ke sana ke mari. Menjalankan tanggung jawabku pada mereka yang terkait denganku baik secara biologis maupun ideologis. Membebatnya agar berkurang oedema yang terbentuk. Meski sesekali tak bisa kupaksa, aku diam jua melewatkan hari; dan inilah mengapa aku tiba-tiba sadar fakta itu, kau seperti sudah tak peduli!

Kau memendam sesuatu , aku tahu. Kau tak cerita padaku, aku tahu. Pada Jiwa lain pun kau hanya bercerita setengah. Namun, tak kah kau kasihan padaku dan semua organ-organ yang deteriorating ini? Mereka tidak bersalah. Mereka hanya menjalankan tugas fitrah dari Penciptanya. Berjalan sesuai dengan perintah kode genetiknya. Namun, tetap saja mereka harus turut merasakan pergelutan anonimmu itu, tanpa kepastian darimu tentang kapan ini semua akan berakhir!

Tak ada yang melarangmu berpikir hingga ke bintang. Memeluk rembulan. Menggerayangi bimasakti jika perlu. Tapi kau harus selesaikan semua urusanmu di tanah terlebih dahulu. Jika kau kering, siram! Jika kau lapar, makan! Jika kau sendiri, cari teman! Jangan kaubiarkan dirimu mengelana dalam pelarian. Izinkan acetylcoline menjalankan tugasnya sebatas menciptakan reaksi-reaksi normal yang sepantasnya.

Kau sayang padaku? Kau separuh aku, bukan? Kita berdua punya satu kewajiban, seperti uraiku di atas. Ada satu nama yang sedang kita junjung hidupnya. Dan ialah cermin dari kita berdua. Aku yang menua tanpa kau menjadi dewasa hanya akan menjadikannya seperti sebuah tank yang terbuat dari baja tapi tanpa peluru; nir-daya. Sementara ia punya komitmen dengan Sang Pencipta. Untuk tak akan mati kecuali dalam keadaan hanya mengabdi pada-Nya di bidang apapun yang ia jalani.

Kau harus bisa melepaskan "kemarin". Kau harus belajar memahami "hari ini". Kau harus lebih bijaksana mengendalikan pergerakan emosi. Ada syurga yang harus kita menangkan bersama. Karena aku tak mau rusak dimakan tanah sementara engkau tak mencium bau syurga. 

Baik, aku tak akan memaksamu menceritakan padaku apa yang mengganggumu dan merisaukanmu. Tapi kau harus berjanji padaku. Kau harus bisa berusaha keluar dari apapun itu yang membayang-bayangimu dari tidak mendewasa! Ya, sebab engkaulah yang akan melanjutkan perjalanan bahkan jika pacemaker-ku berhenti. Maka padamu, kutitipkan semua harapan! Jangan sampai nama yang kita usung hidupnya ini menjadi singa tanpa taring di hadapan Sang Pencipta.

Biarlah perkembangan riwayat atopi-nya berhenti di concha hypertrophy saja. Bersyukurlah kita, ini tidak sampai menghasilkan rhinitis allergica yang nyata. Dan semoga tidak menyusul yang kita tidak inginkan; "conditional" bronchospasm. Sungguh, ini semua kini bergantung padamu. Kau harus bisa meresolusi diri. Banyak-banyak berbicara pada Sang Pencipta. Minta diberi pencerahan.

Izinkan agar aku dan kau seimbang lagi. Tawazun, begitu sang nama yang kita usung hidupnya pernah menceritakannya pada binaan-binaannya di kampus tempat ia mendidik dirinya.

Wassalamu'alaikum wrwb,
Penuh harapan,
Raga.


No comments:

Post a Comment