Sunday, November 18, 2012

Sebuah Puisi untuk Sekomplek Bumi Suci

Aku mungkin seperti lilin
Yang menyala sejenak
Semalam saja
Lalu pagi-pagi meleleh

Yang bercahaya
Tanpa banyak daya
Bukan matahari yang punya energi sendiri
Bukan berdikari

Aku hanya sebohlam saja
Yang dalam temaram mencoba menerang
Yang ketika fajar, dimatikan hingga tiba lagi dwiwarna jingga

Aku hanya setitik bintang bagi sepandangan hitam
Langit malammu yang perak akan kiriman meluka
Sementara awan bersekutu menyembunyikan
Aku yang pudar dalam pendar ramai angkasa

Karena aku tetap rindu
Rindu engkau menjadi milik segenggam semesta merdeka

Sebab aku kadung tenggelam padamu
Meski masih sebongkah-setengah-mengenal

Oleh cemburu pada wanginya tanah basahmu
Dan semua senyum-senyum wajah yang bersimbah darah

Aku adalah noktah tak nyata
Sebutir debu bagi segurun pasir derap langkahmu di dera-dera waktu
Tapi dengan cinta paling sajadah
Dengan syahdu paling hayati
Dan rerumpun doa paling hakiki

Aku sebiji raga
Bagi segunung jiwa-jiwa tak takut senjata
Atau batu-batu yang menggelegak dalam udara
Tapi dengan susunan pinta di balik dinding kamarku sahaja
Aku memimpikanmu pelan-pelan

Dan Tuhan saksinya
Bahwa aku akan selalu menyimpan namamu dalam kantung besar di kamar depan nuraniku
Meski aku tak sinar sesinarmu dalam berdiri menentang tirani
Walau aku tak tegap berani turut berdiri
Aku selalu di sini
Mendoakanmu merdeka lagi


sumber gambar: http://pkskudus.org/wp-content/uploads/2012/11/palestine.jpg

Lamkeuneung, 18 November 2012, 01:41 WIB

4 comments: