Sunday, December 1, 2013

AADC (Ada Apa Dengan "Condoms")

Kesehatan dan Berbagai Visi Pencapaiannya

Sejak semester pertama kuliah di kedokteran (2008), saya ingat, saya sudah sangat difamiliarkan dengan macam-macam istilah yang menggambarkan visi kesehatan yang ingin dicapai, baik di strata daerah, nasional bahkan internasional. Untuk nasional misalnya, saya ingat saat itu saya sering dengar yang namanya “Indonesia Sehat 2010”. Jangan tanya saya apa kabar jargon itu sebab sudah 3 tahun berlalu dari 2010 dan saya sendiri masih meraba-raba ke arah mana pelayanan kesehatan di Indonesia ini akan dibawa. Berbagai prahara profesi terkait kesehatan pun malah bermunculan dan menimbulkan kontroversi sana-sini. Pasca mangkatnya menteri kesehatan yang terdahulu, hadirlah seorang menteri kesehatan baru yang belakangan, semakin membuat kontroversi meningkat sekian level dengan berbagai kata-kata dan program yang diunggulkannya. Yang jelas sudah menanti di depan mata untuk dilaksanakan ke depan adalah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai 2014. Apakah program ini untuk “Indonesia Sehat 2019”? atau “Indonesia-Akan-Tetap-Sakit-Namun-Visinya-Yang-Penting-Dibuat-Saja-Sehat-Dulu 2030”? Kita tunggu saja tahun berlalu kemudian jargon berganti lagi.

Sementara itu, untuk melanjutkan, di level internasionalnya, saya ingat (dan sampai sekarang pun masih lebih dari sering) mendengar “Millenium Development Goals” atau yang lebih sering disingkat dengan MDGs. Nah yang ini agak sedikit lebih lama rentang waktu yang ditargetkan untuk dicapai poin-poinnya paling lambat 2020. MDGs sendiri disusun di level United Nations (Persatuan Bangsa-bangsa).

Kofi Annan, sekjend PBB, berkata, “Bukanlah dalam PBB pencapaian MDGs ini akan diraih, melainkan oleh setiap negara dengan upaya-upaya yang terintegrasi dengan pemerintah dan masyarakat.”. Dari kalimat tersebut kita pun akhirnya mengerti, bahwa tiap negara harus menentukan upaya-upaya yang melibatkan masyarakat dalam mewujudkan poin per poin dari MDGs. Dan seperti yang sudah dipaparkan, ada beberapa pecahan target yang harus dicapai per 5 tahun, dan yang paling dekat adalah target tahun 2015 yang bisa dilihat secara lengkap di website resminya (http://www.un.org/millenniumgoals). Dari semua target inilah nantinya, setiap negara yang tergabung ke dalam PBB akan merumuskan program-program untuk menopangnya. Ada 8 poin dalam MDGs. Menariknya, setengah dari MDGs, yaitu poin nomor 1, 4, 5, dan 6 merupakan ranah-ranah yang terkait langsung dengan dunia kesehatan. Inilah mengapa, bagi seorang mahasiswa di bidang kesehatan, baik kedokteran, keperawatan, kedokteran gigi dll, wajar jika mereka dihujani berbagai teori mengenai bagaimana mewujudkan MDGs. Adapun keempat poin MDGs tersebut meliputi menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, menurunkan angka kematian balita, meningkatkan kesehatan ibu, dan memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit menular lainnya.

Apa yang Global dan Apa yang Lokal (?)
Menyambung kisah perkuliahan saya di fakultas kedokteran sejak 2008 (hingga kini sedang dalam tahap kepaniteraan klinik), ada satu motto yang terus diulang-ulang oleh dosen, rekan seorganisasi, dan teman-teman dari berbagai komunitas terkait kesehatan terkait MDGs. Katanya, kita harus “Think Global, Act Local.”; bahwa kita harus bisa berpikir dengan skala masalah secara makro namun menyelesaikan masalah dengan ketelitian jenis mikro. Sepakatkah saya dengan motto tersebut? Sangat! Sebab salah satu kualitas kepemimpinan yang diajarkan dalam agama saya juga demikian, yaitu tidak menutup diri dari berbagai “strategi” dari luar kebiasaan selayaknya Rasulullah SAW menerima taktik membuat parit dari Salman Alfarisi dalam Perang Khandaq dengan tangan terbuka. Untuk lalu parit dibuat hanya mengitari setengah saja dari kota Madinah, itu adalah bagian kedua dari motto di atas; memperlakukan strategi yang berlaku “global” dengan penyesuaian terhadap kondisi “local”. Bagaimana tidak, sebagian dari kota Madinah dikelilingi bukit-bukit batu nan terjal yang tak mungkin diruntuhkan “cuma” untuk parit. Hal ini membuat parit hanya digali di area lapang yang meski tanahnya tetap berbatu-batu namun tidak sekeras bukit-bukit di sisi lain dari kota tersebut. Dengan tujuan melindungi kota dari serangan musuh yang tiba-tiba, sebagian teknik dari negeri asal Salman Alfarisi digunakan namun tetap tanpa memaksakannya pada topografi kota yang tak mungkin diubah.

Adalah suatu bencana jika kita justru tidak menyikapi motto di atas dengan konsisten. Misalnya saja, jika pikiran terlampau global, sehingga tindakan kita pun jadi “global-globalan” dan tidak lagi menyentuh sisi kelokalan. Di luar negeri, hal tersebut bagus, lantas di negeri sendiri pun kita harus mengadaptasinya bulat-bulat. Di negeri orang, programnya seperti ini, maka di Indonesia juga harus begitu. Agar tak kalah modern. Agar bisa cepat memenuhi target MDGs. Dan begitu seterusnya. Inilah dia yang paling dikhawatirkan. Bukannya fokus dengan target yang ingin dicapai, kita malah stuck di “ingin terlihat sama modern”-nya.


Pekan Kebodohan Nasional
Saya tak akan bicara mengenai kemungkinan adanya konspirasi ini itu dalam MDGs ini. Bagaimanapun konspiratif-nya MDGs ini, beberapa hal di dalamnya adalah benar butuh perhatian yang tidak main-main untuk ditangani. Tentu saja, kita harus tahu persis apa yang benar-benar ingin dicapai dari MDGs ini untuk lalu kita rumuskan ke dalam program-program yang benar-benar sesuai dengan lokalitas bangsa beserta seluruh norma-norma yang dianut secara umum di negara tersebut.

Dalam hal inilah, saya merasa Pekan Kondom Nasional (PKN) 2013 adalah sebuah produk turunan MDGs poin ke-6 yang gagal melokalkan diri. Berdasarkan target MDGs terkait poin ke-6 yang harus dicapai pada tahun 2015, beberapanya adalah;
·   Kasus baru HIV terus menurun di kebanyakan daerah.
·  Lebih banyak yang bisa hidup dengan HIV karena lebih sedikit yang meninggal sebab penyakit terkait AIDS dan jumlah besar dari infeksi baru dengan 2.5 juta orang terinfeksi tiap tahun harus bisa  dihentikan/diturunkan.
·   Pengetahuan yang komprehensif tentang penularan HIV pada kaum muda, termasuk penggunaan kondom  tidak boleh lagi rendah.
·  Lebih banyak anak-anak yatim/piatu sudah harus disekolahkan atas upaya yang berekspansi untuk  memitigasi efek dari AIDS.

Ya, kita punya tanggung jawab untuk menurunkan angka kasus baru orang yang terjangkit oleh HIV. Ya kita harus memastikan obat ARV (Anti-Retro Virus) lebih bisa disosialisasikan penggunaannya pada penderita HIV sehingga kualitas hidupnya bisa lebih baik dibanding jika tidak mengonsumsi obat, sehingga infeksi opportunistic (yang biasanya berakhir dengan kematian) yang lazim terjadi sebab imunitas penderita menurun drastis, bisa dihindari. Ya kita harus memberikan pendidikan yang baik tentang bagaimana HIV itu ditularkan, termasuk apa itu kondom (beserta pendidikan seksual sesuai usia). Ya kita harus memastikan anak-anak tanpa orang tua tidak mengalami sexual abuse sehingga tidak semena-mena terjangkit HIV.

Tapi kita yang lebih tahu tentang bagaimana memenuhi semua target itu, kan? Mengapa harus membesar-besarkan seperdua dari satu dari 4 poin yang ngomong-ngomong, baru seperempat dari target di bawah poin ke-6 saja dari MDGs; kondom? Dan mengapa pula harus dibagi-bagikan secara cuma-cuma kepada generasi muda? Memangnya dengan memberikan kondom dengan edukasi seadanya sambil bagi-bagi sembali keliling kampus dengan bus bergambarkan model seronok kontroversi itu lantas orang-orang akan berpikir, “Aha! Ini untuk mengurangi angka HIV/AIDS!”. Bukannya yang malah melintas dalam pikiran mereka justru, “Aha! Asyik dapat stok sebulan penuh gratis, bisa ‘jajan’ di beberapa orang nih!”. Ya, kehidupan seks mereka jadi lebih “aman”, meski efektifitas dari kondom itu sangat kecil apalagi jika pemasangannya tidak “tepat waktu” atau “tidak seperti seharusnya” atau bahkan “terlupa” sebab terlalu “lena”. Tapi bagaimana nasib istri-istri mereka di rumah? Apakah mereka pantas mendapatkan suami-suami yang sudah terjangkit HIV? Apakah mereka pantas mendapatkan sesuatu yang bukan hasil kesalahan mereka? Bagaimana dengan anak-anak mereka nantinya?

Sesempit diameter kondom itulah pikiran mereka yang berpikir PKN ini adalah solusi tertepat untuk dibesar-besarkan. Mengapa alokasi dana untuk sepekan bagi-bagi sekotak karet pembungkus kemaluan laki-laki itu dialihkan ke Pekan Peduli HIV/AIDS saja, misalnya? Betapa LEBIH MENGKHAWATIRKAN sebenarnya masalah DISKRIMINASI terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dari masyarakat yang “normal”, mengapa tidak dana yang sama dialihkan untuk kampanye merangkul ODHA kembali ke dalam masyarakat? Mengapa tidak kita fokuskan kembali ke perbaikan nilai-nilai keluarga? Mengapa tidak menjadi jembatan bagi keluarga-keluarga yang retak dan membuat anak-anak semakin tak terkendali? Mengapa tidak melakukan pendekatan pendidikan seksual pada remaja dengan bahasanya tanpa harus membagi kondom bak permen di tengah Halloween di Amerika sana?

Tidak semua ODHA mendapatkan HIV sebab “kesalahan”-nya, percayalah. Beberapa dari mereka justru
adalah korban dari mereka yang merasa seks bebas itu tak masalah asal ada kondom; satu dari sekian puluh atau ratus kali “tindakan”, cukup sekali ia lupa dan naasnya pasangan seks bebasnya itu terjangkit HIV. Ah. Saya kenyang melihat ibu-ibu hamil menemani suaminya yang terjangkit HIV di rumah sakit saat kepaniteraan di bagian Interna dulu. Saya sedih saat satu pasien yang saya jumpai di IGD – akhirnya – mengaku bahwa kedua anak-anaknya sering diare dan sakit-sakitan; terlambat, kedua anaknya bisa jadi sudah juga tertular HIV. Mengapa pemerintah tidak membuat pecan khusus buat “korban-korban” ini? Mengapa malah memberikan pelumas bagi engsel pintu agar semakin membuka. Membuka jalan bagi semakin bermunculanlah “korban-korban” baru. Dalam rangkaian acara PKN, ada pula yang namanya konser yang menampilkan entertainer perempuan yang sontar keseronokannya ke antero nusantara. Wahai, apa namanya kalau bukan terlalu “condom-oriented”? Sekali lagi, Indonesia punya PR lebih besar dari mengajarkan rakyatnya cara menyarungkan kondom dengan baik dengan goyangan erotis sebagai stimulannya!

Setiap tahun, sejauh ini, kasus baru HIV masih meningkat. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya sejak dulu pun angkanya sudah tinggi, namun baru sekarang terdeteksi, sehingga jumlah kasus baru tetap saja tinggi. Pertanyaannya, apa jaminannya bahwa justru sebenarnya itu benar-benar representasi kasus baru semua? Bahwa PKN yang sudah dilakukan setidaknya 3 kali itu adalah “pembuangan anggaran di akhir tahun” belaka? Apa jaminannya niat awalnya adalah pengejawantahan MDGs dan bukan sebab “mahar” dari perusahaan pemroduksi kondom yang menjadi sponsor tidak bisa dihitung angka “0”-nya dengan jari tangan? Apakah ini aksi sosial sesosial-sosialnya? Ataukah ini adalah satu lagi intrik politik nan ekonomik yang kadung menjadi budaya mengakar di negeri ini?

Bangun dan cerdasi fenomena ini, wahai Indonesia. Kita lebih berharga dari sekedar jaringan reptile terbungkus plastic bernama kondom. Kita adalah manusia yang punya banyak organ lain yang lebih bisa dipakai untuk mengontrol tindakan. Ada yang namanya otak. Dan ialah pengontrol utama dari segala tindakan pada tubuh kita. Ialah yang seharusnya dilindungi. Ialah yang seharusnya diberikan prioritas khusus. Apa pendidikan di negeri ini sudah maksimal? Apa jaminan ekonomi sosial sudah diberi bahkan ke daerah paling periferi? Lingkaran setan masalah bangsa ini bisa dicoba putuskan dari sisi mana saja, tapi pantang hukumnya jika sampai harus membodohi warga.

Ada 6 agama yang diakui di Indonesia, dan saya yakin kesemua agama punya visi yang sama tentang keluarga sebagai salah satu hal yang seharusnya membahagiakan. Di kesemua agama, saya juga yakin ada plot untuk pernikahan sebagai salah satu upacara sakral. Saya lebih dari yakin pula, bekal keyakinan yang dijamin oleh undang-undang ini, jika diberi perhatian dan promosi khusus bisa memberikan setidaknya tawaran “pembatasan pasangan seksual”; salah satu yang diharapkan bisa diterapkan dalam mencegah penularan HIV. Okelah anda tidak suka bicara agama, tidakkah budaya ketimuran kita cukup menjadi landasan mengapa kita lebih memfokuskan pada perbaikan pribadi dan moral? Bisa. Saya yakin sekali lagi, bisa. Kita cuma belum berpikir cukup keras dan cukup kreatif untuk menuangkannya dalam program-program yang bisa diarahkan menuju ke sana.


Dan masih banyak solusi lain. Silakan anda tambahkan komentar anda di sini. Mungkin kita bisa buat gagasan bersama. Kita susun yang rapi. Kita cetak dengan kaver tebal. Tinta emas kalau perlu. Lalu di halaman persembahan spesial kita tulis, “Untuk Bu Menkes yth di tempat, jangan bunuh bangsa ini PELAN-PELAN.”


Banda Aceh, 1 Desember 2013 2:44 WIB

Friday, November 29, 2013

Kepada; Seorang Penyair


Gurindam adalah gurindam. Ianya akan tetap berupa larik-larik yang tak akan pernah padam. Dan kau, kutahu, akan terus berdendang tentang gurindam. Menantang malam untuk lebih lama bertandang agar kau lebih lama, oleh cahaya bulan, terendam.

Dan aku, adalah sebatang perdu yang sering kaupuisikan. Ya, hanya perdu, tapi kau selalu menganggapku sebagai kekasihmu yang syahdu. kaubayangkan aku adalah seonggok makhluk yang menitip cinta padamu. Menemani langkahmu sesetia langit pada warna biru. Gurindam itu untukku, begitu sering kaumelagu.



Wahai penyair nan malang, kau harusnya lebih bisa membersamai Minggu. Merendam kaki dalam danau atau sungai berbatu-batu. Rasakan manisnya berjalan dalam tarian debu. Menapak-napaki langkah pada jembatan tanpa jemu. Memandangi langit dan menceritakannya setianya ia pada biru. Begitu, dan kau akan tidak lagi menganggap aku sebagai kekasihmu.

Namun kiranya, kesedihan berupa marijuana bagimu. Kau begitu merasakan manisnya menderita hingga kau tak pernah mau mencoba memberi barang sebiji perubahan apapun bagi dirimu. Kaubiarkan lukamu disembuhkan oleh luka yang lain. Kau senang, bahwa kau leluasa mengungkap cinta yang tak akan pernah bisa kubalas dengan kata. Candu. Begitu candu sehingga begitu kaujalani dari minggu ke minggu.

Aku bingung denganmu, penyair. Bingung yang menyerupa kusutnya kumpulan benang yang diaduk oleh binatang. Mengapa begitu sulit untukmu menikmati kenyataan sementara aku, makhluk yang tak punya kesempatan berkelana ini, lebih dari rela jika harus menukar hidupku dengan posisimu. Namun tetap saja, kau selayaknya yang tuli dan yang bisu. Tuli sebab tak bisa hargai kicauan pagi burung kenari. Bisu, sebab hanya pada aku dan batang-batang perdu lainnya kau berani bicara, sementara pada manusia lain kau diam diam tanpa sedikitpun gugu.

Wahai penyair, tak kah kau ingin seperti sang pengembara? Yang senantiasa bernyanyi tentang cinta di alun-alun kota? Yang senantiasa mendendang bebas bersama jutaan Sahara?

Wahai penyair, atau tak kah kau ingin seperti sang tabib yang cendekia? Yang senantiasa bercakap dengan sesiapa? Yang senantiasa berbagi penawar akan duka dan luka?

Wahai penyair, tak kah kau ingin penamu bercabang pahala?

Sunday, November 24, 2013

Saleum = Lagu Patah Hati?



Saleum. Judul lagu yang megadaptasi kata "salam" dalam Bahasa Aceh ini entah kenapa, terlanjur berkonotasi dengan kesedihan. Mungkin karena dalam film Ketika Cinta Bertasbih I, lagu ini dinyanyikan oleh tokoh Fadhil di acara pernikahan seorang gadis yang sebenarnya dicintainya (dan sebenarnya sang gadis pun sebenarnya mencintainya). Untuk cerita lengkanya silakan Google atau baca sendiri ya.

Padahal lagu ini tentang menyambut tamu. Dalam kebudayaan Aceh, ada istilah peumulia jamee (memuliakan tamu) termasuk ke dalamnya ritual menawarkan sirih, salah satu ajaran Islam yang sangat dianggap serius oleh orang Aceh. Perhatikan saja lirik dan terjemahannya berikut ini. Tentu saja maknanya tidak bisa persis sama dengan makna sastrawi Aceh yang sebenarnya tidak mudah untuk diterjemahkan. Baiklah, ini dia:


Saleum (Salam)
Salamalaikom warahmatullah
jaroe dua blah atueh jeumala
jaroe loen siploeh di ateuh ulee
meuah loen lake bak kaom dum na
jaroe loen siploeh di ateuh uboen
salamalaikom loen tegor sapa
Salamalaikom warahmatullah
kedua belah tangan diangkat dengan penuh hormat dan kemuliaan
kesepuluh jari di atas kepala
maaf kupinta pada seluruh (anggota) kaum
kesepuluh jariku di atas ubun-ubun
salamalaikom kutegur sapa

jaroe loen siploeh beot sikureung
syarat uloen keun tanda mulia
jaroe sikureung loen beut lapan
genanto timphan ngoen asoe kaya
jaroe loen lapan loen beuot tujoeh
ranub lam bungkoeh loen joek keu gata
Jariku yang sepuluh ini kuangkat sembilannya
bukti kemuliaan dariku
jariku yang sembilan kuangkat delapan
ganti dari timphan dan srikaya (yang dihidangkan)
jariku yang delapan kuangkat tujuh
sirih kubungkus kuberikan padamu

Jadi, lagu ini bukan tentang orang patah hati ya teman-teman. Ini lagu tentang bagaimana memuliakan tamu dengan cara kami, orang Aceh. :)

Sunday, July 28, 2013

Tentang Seorang Srikandi



Begitulah nasib seorang srikandi. Ia tetap tegak dengan busur dan anak panahnya, awas menatap sekitar. 
Dituding selalu bermuka masam, ia diam.
Dituding mendiamkan sapaan, ia bungkam.
Dianggap bukan sahabat puteri keraton yang baik, ia tak dendam.
Diganggu sepoi warna jingga senja, atau jatuh untuk kemudian sakit oleh satu kata yang maharaja bernama cinta, matanya tetap elang.

Sebab mimpinya jauh lebih besar.
Dan tak perlu dianggap ramah dan terbuka sekarang, tak apa dianggap jahat bahkan jauh dari kesan lembutnya seorang wanita.

Biarlah bianglala, gugusan karang dan kelamnya langit malam yang tahu, bahwa ia seorang biduanita dalam penyamaran.

Saturday, July 27, 2013

Mengapa Saya Peduli dengan Apa yang Terjadi di Mesir?


Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab saya adalah bagian dari "Global Citizen", warga dari kampung bernama dunia. Salah? Tidak, kan?


Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab jika mengingat masa-masa DOM dulu di Aceh (sebagai contoh) misalnya, di mana minim sekali media meliputnya di TV dan saluran lainnya, kami di sini akan sangat senang jika dunia membuka mata lewat cara lain; misalnya dengan sastra, atau dunia maya. Maka, jika kini ada hal yang terjadi di luar negeri sana, saya cuma mengulang apa yang dunia lakukan pada saya saat itu. Kali ini sama-sama oleh militer, kan?



Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab latar belakang saya sebagai (calon) paramedis tidak habis pikir mengapa ada orang yang bisa sembarangan menembaki batok kepala orang, menembaki jamaah yang sedang beribadah, dll. Ah, di IGD saja saya sudah banyak mengutuk mereka yang ngebut tanpa helm, apalagi ini militer yang membunuh saudara sebangsanya yang jelas tak seimbang persenjataannya!

Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab dari dulu di sana sudah hidup banyak fir'aun. Beberapa bahkan mengaku Tuhan. Dulu Nabi Musa hanya ditemani oleh Nabi Harun, bersama segelintir pengikut. Jadi kalau hari ini ada lagi yang congkak menggeser pemimpin Mesir yang jelas-jelas terpilih secara demokratis oleh tangan-tangan penduduknya sendiri yang memberikan voting, saya (dan seisi dunia yang masih waras) tak akan meninggalkan presiden yang sah itu sendirian pula! Jika pun tak bisa membersamai di jalan-jalan sana, meski cuma bisa bersuara lantang saja pun akan kami jalani!

Ah, sungguh, ingin sekali rasanya menuliskan nama dan detil kontak yang bisa dihubungi di tangan dan bergabung bersama mereka di sana; memudahkan tim Forensik dan DVI (Disaster Victim Identification) yang bekerja di sana pasca para demonstran dinyatakan tak lagi bernyawa..


‪#‎StopMassacreinEgypt‬ ‪#‎Egypt‬ ‪#‎ProDemocracy‬ ‪#‎Mesir‬‪#‎IndonesiaWithMorsi‬ ‪#‎Morsi‬ #AntiCoup

Sunday, July 14, 2013

Inilah Daftar Tulisan Para Peramai #FLPMengguncangRamadhan




Ah, such a great warm weekend, I almost forgot that I am a medical student!  =D
Alhamdulillah, bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, hari ini bisa menjalankan project #FLPMengguncangRamadhan. Di mana dari siang hingga sore, kami semua mencoba menyelesaikan tulisan singkat (bisa berupa apa saja) di blog masing-masing untuk kemudian kami posting serentak di pukul 17.00 (lebih tepatnya 17.30 jadinya sebab ada yang belum selesai nulis lah, Wi-Fi ala modem hotspotnya putus sejenak lah, anak-anak para peserta minta makan lah, rame tapi seru lah pokoknya! Hehe..) di akun media sosial kami masing-masing. Penasaran dengan hasilnya? Cekidot! Berikut nama-nama yang berhasil menelurkan karyanya dan link untuk ke blog mereka sebelum akhirnya kami buka puasa bersama di Rumah Cahaya FLP Aceh. Selamat blog-walking! ;)


1. Nuril Annissa -> Kronologi Bernama Ramadhan
2. Nazri Z. Syah Nazar -> Jihad Ramadhan
3. Fitria Larasati -> Ramadhan dan Pohon Nangka Angker
4. Liza Fathiariani -> Lambai (Sambai), Rerumputan Lezat Untuk Berbuka Khas Pidie
5. Siti Harisah -> Cegah Cegukan Saat Puasa
6. Aslan Saputra -> Ramadhan di Tengah Kemelut Jiwa
7. Ferhat Muchtar -> #FLPMengguncangRamadhan Ramai-ramai Menulis
8. Fanny Tasyfia Mahdy Yudistira -> FLP Mengguncang Ramadhan
9. Fadhil Ismi -> Hijaunya Ramadhan
10. Doni Daroy -> Pedagang Ramadhan
11. Isratul Izzah -> Aku di Bulan Ramadhan
12. Chaira Hisan -> The Ramadhan Story
13. Hasdiani Putri -> I Always Wait You, Ramadhan
14. Tyna A. Amris -> Coretan Seniman
15. Ubaidillah -> Peran Ibuku di Bulan Ramadhan
16. Ulva Yogia -> Ramadhan Adalah Senin
17. Dara Hersavira -> Tak Perlu Gentar, Aku Masih Punya Nenek
18. Riri Isthafa Najmi -> Asal Muasal Berpuasa
19. Aditya Fitrianto -> Pagi Baru Ramadhan

Kronologi Bernama Ramadhan (#FLPMengguncangRamadhan)

Tiap kali Ramadhan datang, saya selalu menemukan beberapa hal yang membuat hidup saya berbeda. Katakanlah ini lebay atau hiperbola khas seseorang yang gemar memuisikan segala sesuatu, tapi saya sungguh-sungguh. Jika harus saya paparkan satu persatu, tidak akan muat dalam satu blog entry saja; terlalu banyak dan kebanyakan adalah hal-hal yang cukup disimpan sebagai memori manis milik pribadi.

Namun demikian, ada beberapa Ramadhan yang benar-benar menjadi titik perubahan bagi saya. Secara kepribadian. Secara kepenulisan. Secara keIslaman. Dan itu akan selamanya menjadi harta karun berharga dalam ingatan saya yang sebagiannya akan saya paparkan di sini.


Ramadhan 1426 H (2004)
Tak akan saya lupakan seumur hidup masa-masa di mana saya menghabiskan sebulan penuh di lingkungan Daarut Tauhid di Bandung. Saat itu saya sekeluarga diboyong oleh ayah saya untuk menemani masa studi S3 beliau di Universitas Pendidikan Indonesia di kota yang sama. Kebetulan kami semua sedang libur sekolahnya, sehingga dengan jalur darat, kami pun akhirnya tiba dan bermukim sebulan di kosan ayah kami yang pas-pasan di Geger Kalong, Bandung. Alhamdulillah, sebab dulu ayah saya pernah S2 di universitas yang sama dan menyewa kosan yang sama sehingga kami kenal dekat dengan pemilik kosan, kami dipinjamkan satu kamar yang sedang kosong sebab ditinggal pergi oleh penyewanya selama Ramadhan.

Dan di sanalah saya berkenalan dengan yang namanya Daarut Tauhid. Di sanalah saya merasakan masa-masa di mana rasanya hidup bisa begitu terasa tenang dan tidak menyusahkan hati sama sekali.

Di sana saya banyak terkesima; terkesima oleh susunan sandal yang rapi dan runut teratur setiap kali saya hendak pulang dari masjid. Terkesima akan kerapian dan kebersihan jalan-jalan di sekitar Daarut Tauhid tersebut, semakin terkesima bila dibandingkan dengan jalanan di sekitar kampus Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh yang ramai oleh ternak dan kotorannya. Dan yang paling membuat terkesima adalah sebab saya bisa menemukan stasiun radio yang memutar nasyid sepanjang hari; Manajemen Qolbu FM nama stasiun radionya.

Di sanalah saya paham makna “Islam itu untuk diterapkan, bukan untuk diteriakkan”. Dan sejak itulah saya tekad untuk menjadi muslim yang lebih baik itu muncul dengan kuat dan membuat sesak berhari-hari jika dipikirkan. Hasilnya? Sejak tahun 2004 itu, saya mulai mengenakan jilbab tanpa melepasnya lagi jika ada non mahram di sekitar saya, bahkan jika itu adanya di dalam rumah saya sendiri.


Ramadhan 1427-1429 H (2005-2007)
Ramadhan di negeri orang! Bukan cuma di provinsi yang berbeda kali ini, tapi di negara yang sama sekali asing! Tahun 2004 akhir terjadi musibah tsunami, dunia pasti masih ingat. Namun eksesnya adalah banyak beasiswa yang diberikan sebagai bagian dari bantuan pendidikan pun jumlahnya ratusan. Termasuk ke dalam yang merasakan berkahnya adalah saya sendiri, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan SMA ke Australian International Academy of Education (dulu sekolah ini bernama King Khalid Islamic College of Victoria) secara cuma-cuma.

Luar biasa Ramadhan di kampung (atau saya harusnya sebut…kampung-politan?) orang begitu. Tak ada seurunee yang menandai waktunya berbuka. Tak ada orang jualan segala macam es dan risol-risolan di pinggir jalan untuk berbuka. Tak ada keriuhan di jalan raya orang beramai-ramai jalan menuju ke masjid untuk tarawih. Sunyi.

Belum lagi di tahun 2005, Ramadhan masih jatuh di musim panas di sana. Saya ingat, di 4 hari terakhir Ramadhan, imsak jatuh pada pukul 5’an pagi namun maghrib baru tiba pukul 8.30 malam! Bayangkan saja anak Lamkeuneung yang biasa puasa hanya 12 jam’an kini harus hingga 14-15 jam! Benar-benar suatu ujian bagi keimanan. Alhamdulillah, saya ingat waktu itu ibu angkat saya yang begitu relijius (beliau adalah seorang muslimah yang sangat taat) begitu menyemangati hingga saya menjadi semakin merasa Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Semakin sempurna dalam pandangan saya sebab bisa mengajarkan saya bagaimana menjadi seseorang yang lebih bisa memaknai arti lapar, haus dan menahan hawa nafsu dalam makna umum lainnya.

Di sanalah saya justru belajar berdiri panjang untuk tarawih, sebab 1 juz habis dibacakan imam sepanjang malam.

Di sanalah saya justru shalat tasbih untuk pertama kalinya di malam ke-27 Ramadhan di salah satu masjid yang letaknya tidak sedekat masijd-masijd yang ada di Aceh.

Di sanalah saya belajar I’tikaf.

Di sanalah saya shalat Jum’at dengan syahdunya selama tiga tahun.

Di sanalah saya memutuskan bahwa “hijrah” itu lebih dari sekedar memutuskan mengenakan pakaian muslim dan menutup aurat dengan baik.

Di sanalah saya belajar bahwa menjadi muslim itu butuh sesuatu bernama konsistensi dan ketahanan. Bahkan jika ada yang mengejekmu dengan hijabmu, kau tetap senyum. Bahkan jika ada yang mempertanyakan agamamu, kau bisa tetap menjawabnya dengan santun. Ada banyak pengalaman terkait hal ini yang bisa dilihat di blog entry saya pada tahun 2007.

Menyesalkah saya mengambil kesempatan itu? Tidak. Tidak sama sekali. Pada faktanya, sekembali dari sanalah saya memutuskan mengikuti jalan tarbiyah dan mencoba membaktikan hidup saya untuk dakwah yang lebih menyeluruh di seluruh lini kehidupan. Hingga kini. Hingga nanti.


Ramadhan 1434 H (2013)
Masih istiqomah di jalan tarbiyah. Masih mencoba menghasilkan tulisan (minimal update status dan twit yang bisa menebar kebaikan). Sedang menjalani kepaniteraan klinik menjadi seorang dokter. Sedang mencoba menjalankan amanah sebagai ketua Forum Lingkar Pena Aceh. Sedang menyelesaikan tulisan untuk #FLPMengguncangRamadhan. Apa lagi yang lebih baik dari ini semua? Allah, terima kasih atas Ramadhan yang kian indah dari tahun ke tahun. Ya Rahman, terima kasih atas teman-teman dan keluarga yang semakin menguatkan dari tahun ke tahun.

Namun dunia sedang banyak prahara. Mesir bergejolak. Suriah terancam kedamaiannya. Palestina masih terbelenggu oleh kesadisan jajahan zionis. Dunia masih belum sejuk seutuhnya. Tapi kita di sini, mencoba menjadi bagian-bagian yang memulai perbaikan. Dari sini. Dari pena yang insya Allah tak akan puasa menoreh kata dan pesan-pesan sepanjang masa. Amin.


Allah, saksikanlah bahwa kami di sini berlatih. Mungkin tidak untuk menembak menggunakan senjata. Mungkin tidak untuk memperuncing bamboo untuk dilempar. Mungkin tidak untuk mengasah pisau untuk menusuk musuh. Tapi untuk menembak kebodohan. Tapi untuk memperuncing insting. Tapi untuk mengasah jiwa dan nurani yang hanya cinta dan membela yang cinta kepada-Nya. Sekali lagi, amin. Dengan ini, kami luncurkan bersama, #FLPMengguncangRamadhan. :)



Rumah Cahaya FLP Aceh, 5 Ramadhan 1434 H

Saturday, July 6, 2013

Biarlah Guncang (Teruntuk Negeri di Atas Awan)

Biarlah guncang
Biarlah rubuh
Asal yang guncang tanah belaka
Asal yang rubuh bukan pena dan mata kita yang berdansa

Biarlah retak
Biarlah menangis
Asal yang retak bukan pegangan tangan teguh kita
Asal yang menangis bukan pertiwi bangsa

Biarlah gemetar
Biarlah berderai
Asal yang gemetar bukan keberanian kita dalam tegap bersama
Asal yang berderai bukan nama negeri di atas peta

Biarlah pergi
Biarlah nyeri
Asal yang pergi bukan kemanusiaan kita
Asal nyeri hanya raga, bukan jiwa

Untukmu
Yang meninggikan negeri hingga ke atas awan tanpa tepi
Yang menyelimuti kedai-kedai dengan butiran cinta dan kopi
Yang memelihara laut di tengah danau yang tawar nan sunyi
Kami  didongkan puisi ini, dan sekantung nurani yang kami tisik dengan persaudaraan abadi.

Teruntuk Negeri di Atas Awan 
(Bumi Gayo dan Bener Meriah yang terkena musibah gempa 2 Juli 2013),
Lampriek, 3 Juli 2013

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalamu'alaikum,
Salam FLP, semua!
Semoga setiap mata yang membaca maklumat ini senantiasa dalam kebahagiaan dan kesejahteraan. Amin.

Dalam rangka mencoba memberikan bantuan bagi saudara-saudari kita di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang tertimpa musibah gempa Selasa (2 Juli 2013) lalu, Forum Lingkar Pena Aceh (FLPAceh) membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk memberikan sumbangan berupa:

1. Buku tulis
2. Buku bacaan
3. ATK
4. Mainan anak-anak
5. Peralatan Shalat

Bagi sesiapa yang tidak bisa memberikan bantuan berupa barang langsung, dibuka kesempatan untuk donasi, dengan catatan bahwa donasi akan digunakan untuk membeli hal-hal di atas. Donasi ditujukan ke nomor rekening 0160497371 a.n. Nuril Annissa, BNI cabang Darussalam. Sumbangan diterima hingga Ahad, 14 Juli 2013.

Contact Person:
Aula Andhika Fikrullah Al-balad (085277499721)
Hasdiani Putri (082160735499)
Mauliana D'orcyd (085360094613)

Turut mengajak sesiapapun dari bagian manapun dari dunia ini untuk turut berkontribusi. Sebarkan jika berkenan dan terima kasih. :)


Tuesday, April 9, 2013

Hidup = Berlayar di Lautan

Like the ocean’s water entering the boat, the moment that we let the dunya enter our hearts, we will sink. The ocean was never intended to enter the boat; it was intended only as a means that must remain outside of it. The dunya, too, was never intended to enter our heart. It is only a means that must not enter or control us. This is why Allah (swt) repeatedly refers to the dunya in the Qur’an as a mata’a. The word mata’a can be translated as a “resource for transitory worldly delight.” It is a resource. It is a tool. It is the path—not the destination.

- Yasmin Mogahed

Deg! Terpana saya membaca salah satu postingan Islamic Arts and Quotes di Tumblr siang ini. Saya menemukan kuotasi di atas. Di tengah panasnya ruangan Dokter Muda di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat/ Ilmu Kedokteran Komunitas ini, saya semakin merasa sembilu bertubi.

Baik, sebelum lebih lanjut, saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dulu kuotasi di atas.

"Seperti air laut yang masuk ke dalam perahu, begitulah ketika kita membiarkan dunia memasuki hati-hati kita, kita akan tenggelam. Air laut seharusnya tidak memasuki (dan menambah berat) perahu; ianya hanya sebagai media berlayar yang tetap berada di luar perahu. Dunia ini pun, tidak pernah dimaksudkan masuk ke dalam hati kita. Ianya hanya sarana yang seharusnya tidak memasuki atau mengontrol kita. Inilah mengapa Allah swt, berkali-kali dalam Alquran, merujuk ke kata mata'a sebagai dunia. Kata mata'a bisa diterjemahkan sebagai "sumber daya bagi kesenangan duniawi yang sementara". Ianya adalah sumber daya. Ianya hanya sebagai alat. Ianya hanya sebagai jalan - bukan tujuan."

Saya adalah seorang pengagum pantai; termasuk ke dalamnya birunya lautan, misteriusnya konsep horizon, putihnya buih-buih, dst yang bisa ditemukan dari sekedar duduk di tepinya. Maka mendapat kuotasi yang berhubungan dengan laut begini saya menjadi double-striken. Nomor satu, kuotasi ini memiliki analogi yang benar-benar sesuai dengan kondisi mengenainya (dunia dan bagaimana seharusnya posisinya dalam menghadapinya). Nomor dua, analoginya adalah sesuatu yang sangat saya suka.



Dalam beberapa minggu terakhir, saya menonton dua film yang ada hubungannya dengan tema "terdampar di lautan lepas". Kedua film itu adalah Life of Pi (2012) dan Ice Age 4 (2012). Begitu mengharukan terasa ketika akhirnya masing-masing tokoh dalam film tersebut akhirnya tidak lagi terdampar di tengah luasnya lautan; menemukan daratan (setelah terkatung-katung bersama seekor harimau Bengali berminggu-minggu dalam film Life of Pi) / bertemu lagi dengan keluarga setelah terpisah jauh (seperti di Ice Age 4). Saya rasa begitulah esensi kehidupan; berlayar. Semua orang sedang berlayar dengan perahunya masing-masing. Yang membuat satu pelayar berbeda dari pelayar lainnya tentu adalah tujuannya. Ada yang bertujuan menuju daratan antah-berantah, ada yang bertujuan sekedar berkelana, ada yang mengejar harta karun berdasar peta dari suatu surat botol yang ditemukan dst. Bahkan ada pula yang tetiba menemukan dirinya berlayar namun tak tahu tujuannya; inilah mereka yang "hilang" dalam hidup ini. Mereka yang tak mengenali hakikat dirinya hingga tak punya perencanaan mengenai bagaimana mencapai tujuan pelayarannya. Akibatnya ia akan menghabiskan persediaan makanan tanpa bisa merencanakan bagaimana caranya menyetok kembali persediaannya; mati mengambang di atas samudera begitu saja.




Begitulah hidup ini. Ada yang paham akan tujuannya, ada yang tidak. Ada yang punya petanya, ada yang tidak. Ada yang tahu bagaimana mengendalikan kemudi, ada yang tidak. Sesederhana itu saja, bukan?

Dan dalam berlayar, betapa banyak yang justru mati kehausan di tengah perjalanan sebab tidak memiliki bekal yang cukup. Beberapa yang sudah terlanjur begitu haus sementara tidak memiliki cukup air tawar untuk diminum malah meminum air laut. Apa yang terjadi? Tentu saja semakin haus. Kandungan garam (NaCl) yang begitu tinggi hanya akan membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak air dari tubuh sebab harus mengencerkan konsentrasi NaCl yang terlalu tinggi dari darah. Ironi, bukan? Namun itu pulalah perumpamaan dunia ini. Untuk sekedar diobservasi, dipandang-pandangi saja ia tampaknya cantik, sebagaimana lautan tampak menarik jika dipandang dalam berbagai foto/ pemandangan. Namun cobalah mencicipinya sedikit. Lalu kaupun akan semakin "haus". Dan mereka yang malang dan tak tahu bahwa yang membuat semakin haus adalah dunia itu sendiri, malah akan merasa harus menenggelamkan diri lebih jauh lagi. Dan begitulah seterusnya prosesi "dehidrasi keimanan" itu terjadi. Suatu keburukan hanya akan menciptakan rantai keburukan selanjutnya; begitu kan fitrahnya?

Dan jika pun tidak untuk diminum, kita masih juga tetap harus hati-hati. Jangan sampai seperti yang dipaparkan di kuotasi di atas, air laut itu memenuhi perahu/ kapal kita dan menenggelamkan kita. Ia mungkin tidak sampai menimbulkan dehidrasi sebab kita memang tidak meminumnya. Namun ada alasan mengapa kapal bisa mengapung di tengah air bah luas bernama lautan itu. Biasanya material pembangun kapal sudah disesuaikan sehingga memiliki massa jenis yang lebih ringan dari massa jenis air laut. Namun demikian, jika air laut masuk ke dalam kapal, maka massa jenis ini bisa bergeser nilainya sehingga tenggelam menjadi sebuah keniscayaan. Begitu pula hidup ini. Allah sudah mendesign tubuh dan jiwa kita agar punya penyaring agar tetap "mengambang" di tengah lautan hidup ini. Namun jika penyaring ini kita rusak, maka kemampuan untuk tetap "mengambang" ini akan hilang. Karena seharusnya, jika kita selalu sibuk dengan kebaikan, tiap kali dunia datang dan mengusik, kita akan merasa gundah. Resah. Galau. Ya, inilah makna galau yang paling syahdu. Sebab kegalauan ketika melakukan sesuatu yang membuat kita tenggelam ke dalam godaan dunia adalah tanda bahwa masih ada kebaikan yang bersemayam di dalam diri kita.
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa menganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia “  (H.R. Muslim)
Lautan ini hanyalah jalan. Lautan ini hanyalah sarana. Lautan ini hanyalah tempat berlayar. Bukan tujuan akhir. Bukan tempat yang dimaksudkan untuk titik berhenti. Jikapun kita harus menghembuskan nafas terakhir di sini semoga itu dalam keadaan sedang berjuang mengendalikan kemudi di tengah badai. Atau sakit yang tak bisa dihindarkan. Atau alasan lain namun tetap dengan kompas dan peta yang terang tentang tujuan pelayaran.

Anda bertanya tujuannya apa? Menyembah Allah dengan segala sarananya.

Anda bingung apa petanya? Alquran dan hadits.

Kompasnya? Hati anda yang semoga Allah pelihara selalu fungsinya dalam mendeteksi kebaikan dan keburukan secara objektif.

Well, selamat berlayar! :)


Kampus FK Unsyiah, 8-9 April 2013

Friday, April 5, 2013

Perapian Impian


"Kadang bukan tentang berapa kayu bakar yang kaupunya. Tapi tentang sudah selesai tidaknya perapian yang kaubangun. Lagipula, musim dingin masih begitu lama baru akan tiba. Dan musim dingin itu hanya bisa kaurasakan di sisi Utara saja. Kau sadar kan, ini sisi Selatan? Bahwa dari sini ke sana, kau harus membayar segazelon batu bara dari gua paling Timur dan sekarung emas dari tepi sungai yang hanya mengalir di sisi paling Barat? Kau, dan semua impianmu melihat perapian hangat itu biar dalam mimpimu saja!"

Lalu kujatuhkan semua kayu bakar di tanganku ke tanah. Harus sudah cukup dengan sepotong langit biru saja dahulu. 

Dalam hati, aku mengepalkan tangan. Aku akan ke Timur, lalu Barat, untuk kemudian akan berakhir di Selatan. Ini lebih dari sekedar perapian, bisikku. Ini tentang sebongkah nurani yang beku. Ia harus dicairkan. Entah suatu masa.

75 Apralagus 2067, di salah satu horizon.



Tuesday, April 2, 2013

Gumaman Dalam Kepala

Kita masih memain-mainkan kaki di tepi danau. Basah ujung gaun dengan percikan di tengah siang. Sepoinya  cuaca memeluk setiap pohon mahoni di sisi Utara danau. Langit memilih jubah biru paling cerah hari ini; memamerkannya pada dua pasang mata kita yang menatapnya tanpa banyak bicara. Sementara kaki-kaki kita terus menciprat-cipratkan air ke permukaan danau, lidah kita kelu saja. Duduk di salah satu saung yang kakekku bangun suatu Maulid begini, seperti saat kita masih kanak-kanak dahulu. Bedanya kini, aku dan kau punya sinetron masing-masing yang plotnya menanti untuk diselesaikan. Dan sinetron kita ini tidak lagi satu drama sekali putar seperti dulu. Komplikasinya lebih rumit dari semrawutnya jerami di sisa sawah gundul  milik Tuan Kepala Desa. Begitu rumit hingga aku enggan mengisahkannya padamu, dan kurasa kau pun begitu.

Sebenarnya aku lebih memilih mengapung di tepi laut di batas paling Selatan kota kita. Itu pun kerap kita lakukan saat kanak-kanak dahulu. Namun katamu, danau juga cukup. Cukup untuk memberikan air untuk bermain. Sementara kataku, ini tidak akan pernah sama. Laut memiliki horizon, sementara danau tidak. Kaubantah aku waktu itu. Katamu aku tidak tahu definisi kata "horizon" dan jika saja aku paham konsep dari horizon itu sendiri, danau pun sudah memadai untuk dikunjungi.

Maka aku pun diam. Sesungguhnya aku pun tak mau lama-lama bertengkar denganmu. Bagaimanapun juga, jika senyummu diam maka aku akan sesak sedikit.

Maka kita di sini, sebab kau yang meminta. Maka aku menemanimu secara fisik, meski pikiranku duduk di tepi pantai, membiarkan setiap jari kaki dalam buih-buih putih yang pasang dan surut. Di sana, langit sama birunya. Hanya saja, aku tak bersamamu. Aku bersama seseorang lain.


Kampus FK Unsyiah, 2 April 2013.

Thursday, March 14, 2013

Sekantung Cahaya Bulan

"Berapa harganya sekilo ini?"
"Oh, kau tak perlu bayar. Itu hadiahku. Untukmu."

Aku memandang sekantung cahaya bulan di tanganku sementara engkau tetiba hilang dari pandangku.



40 Julyander 3045
Di taman bulan yang ternyata rata bercahaya dengan sendirinya.

Surat Untuk Marlene

Pernah tenggelam dalam dunia sendiri?
Hei, kau di sana, Marlene, aku di sini.
Aku menari bersama angin yang menggelung rumah terakhir di desa paling sudut Utara kotaku.
Tenggelam dalam dongeng yang terbersit perlahan di antara girus kepalaku.
Menghentak-hentaki setiap kenyataan yang sliwer di sela-sela minggu.
Aku hanya tahu nada-nada penuh rentak perkusi.
Turut membersamai para musisi peradaban.
Memetik senar masa depan dengan balada masa lalu.
Menggerak-gerakkan kepala ke sisi satu dan lainnya.
Tumit meloncat dan menyentuh bumi kembali; langkah demi langkah dansa memuja masa.




Dan kau, Marlene, apa yang kau kerjakan di sana?
Aku kini memilih pergi.
Meninggalkan desaku yang pasti akan menjadi korban angin yang menggelung selanjutnya.
Kau tahu, bergabung dengannya dan menganggap semua ini sirkus.
Mempertontonkan setiap episode yang kami rancang bersama sebelum setiap fajar.
Kau tahu, jika tak bisa menjadi pahlawan, maka menjadi bandit yang elegan-lah.
Mencuri hati dengan cara yang mahal.
Merampok isi pikiran dengan tangan yang diam.
Menggebrak gerbang kediaman dengan tendangan yang menyerupai koreografi biduanita.

Menjadi seperti ini.
Aku tenggelam dalam dunia ini sendiri.
Dan aku menikmati setiap detiknya.
Menikmati setiap mili dari detiknya.
Menjelajah galaksi demi galaksi dan menjadi bandit yang memanah asmara.
Dan meninggalkan harapan yang kosong berisi air sisa hujan setiap malam.

Marlene, kau masih juga membaca suratku ini?
Ah, bangunlah dan berani!
Kau terlampau lama menungguku menjemputmu.
Bangun. Lari. Kencang.
Cari aku.
Lalu kita akan membanditi dunia dengan cara paling cantik dan bijaksana.



Di ujung dunia yang ternyata rata,
34 Februander 3334

Monday, March 11, 2013

Menjauhlah Dariku, Dunia!




Hai Dunia!
Menjauhlah dariku!
Mengapa engkau datang kepadaku!
Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan?
Adakah engkau sangat menginginkanku?
Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku!
Tipulah orang lain!
Aku tak memiliki urusan denganmu!
Aku telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tidak ada rujuk lagi.
Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku!
Ah... Sayang!
Sangat sedikit bekal ditangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh, dan tujuan sukar dicapai!

-Ali bin Abi Thalib r.a. dikutip dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah" (Salim A. Fillah)



sumber: http://pegadangtangguh.blogspot.com/2013/03/hai-dunia-menjauhlah-dariku.html


Monday, February 18, 2013

Kali Ini Tentang Fairuz, Raef dan "Nelayan"

Saya seperti tidak kenal diri saya sendiri hari ini. Perubahan suasana hati yang begitu mendadak terjadi entah untuk alasan apa. Impasnya, saya mendadak menjadi "over-sensitive" pada banyak hal di sekitar saya. Sebut saja teman-teman sekepaniteraan klinis di rumah sakit, yang saya "diamkan" tanpa justifikasi berarti. Di rumah pun saya hanya ingin keluar kamar untuk makan, minum, atau kamar mandi saja. Selebihnya, saya lebih nyaman dengan bantal dan kasur; berbaring meski tidak bisa tidur.

"Aku merasa dunia yang sekarang terasa sempit. Kota ini semakin sempit."

Dan dari speaker handphone-nya di pedalaman Jawa Timur sana (sebab sedang mengikuti program Pencerah Nusantara), sahabat sekaligus "psikolog personal" saya, Fairuziana, tertawa kecil. Lalu ia memberikan saya beberapa masukan.

"Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Bedanya, tidak sampai 3 bulanan seperti kamu, paling maksimal yang pernah aku rasa itu 1 minggu. Tapi waktu itu, aku bilang ke diriku sendiri, aku harus berhenti sebentar, keluar, work out sampai lelah. Keluarkan semua energi itu dari badan kita."

"Biar energi baru bisa masuk ya? Benar juga...", pikir saya.

"Kalau sudah seperti itu, biasanya aku pergi ke suatu favorite spot untuk menulis di buku harian."

"Sudah lama aku tidak menulis di diary.", sambung saya cepat.

"Lho, kenapa?"

Saya menarik nafas dan mengangkat bahu walau jelas dia tidak bisa melihatnya.

"Aku pikir, diary itu cuma untuk mereka yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Tempat berlari. Dan sejak aku pulang dari Melbourne, aku tidak menulis lagi di diary. Lagipula, di mananya di rumah sakit ini yang sepi dan bisa dijadikan favorite spot? Ke mana mata memandang, di sana ada pasien, keluarga dan jemurannya."

Di ujung telepon, Fairuz tertawa kecil lagi. "Oke, oke. Lakukan yang bisa membuat bahagia sejenak. Lupakan rencana hari ini. Nanti kalau sudah tenang, baru pikirkan kembali rencana untuk esoknya."

Percakapan kami tadi siang terus berlanjut. Hingga 39 menit lamanya kami bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris (itulah mengapa percakapan kami di atas dalam bahasa baku, sebab adalah hasil terjemahan bebas dari percakapan kami tadi siang). Saya melepaskan uneg-uneg saya, dia terus mendengarkan dan memberi masukan itu-ini. Lempang saya dibuatnya. Fairuz sungguh seperti arti namanya bagi saya; permata, sahabat yang begitu berharga. Ia tidak pernah berusaha menjadi cahaya di ujung terowongan gelap setiap masalah saya. Yang ia lakukan setiap kali saya mengeluhkan banyak hal adalah memberikan saya korek api, lalu seperti otomatis, saya akan menyalakan obor saya sendiri; melanjutkan perjalanan. Sebab pada ujung setiap percakapan dengannya, saya akan menemukan solusi bagi kemelut saya sendiri. Fairuz, terima kasih untuk selalu sabar di manapun kamu berada ketika saya membutuhkanmu baik lewat telepon atau media lain.

Lalu mengikuti pesan Fairuz untuk mencoba mendengarkan lagu-lagu yang saya sukai untuk didalami dan diresapi (kalau perlu ditulis seperti sekarang) mengenainya, saya berkelana di dunia Youtube. Saya menemukan satu lagu baru dari salah satu musisi favorit saya; Raef. Ia merupakan seorang musisi baru di bawah payung Awakening Records (yang juga menjadi label yang memayungi Maher Zain). Ia terkenal untuk kemampuannya meng-cover lagu-lagu pop Barat menjadi versi yang lebih Islami. Debut karirnya yang paling saya ingat dari awal tahun lalu adalah lagunya Rebecca Black yang berjudul "It's Friday" yang digubahnya menjadi "It's Jumuah" di mana ia lebih menekankan makna hari Jumat sebagai hari ibadah, bukannya awal dari akhir pekan penuh "dunia gemerlap" seperti dalam lagu aslinya. Ada juga lagu "With You"-nya Chris Brown, di mana kata "you" diubah menjadi "You", yang merujuk ke Allah dan bukan lagi seorang gadis seperti dalam versi aslinya. Dan kini, ada satu lagu dari Maroon Five yang menjadi "korban" selanjutnya.

They warned him before but he wouldn't listen
He left this world and had no chance to stay
The time that we spent... it seems so frozen...

But now it's far too late you've passed away :(

Jadi cerita awal lagu ini adalah tentang seseorang yang sudah kadung bunuh diri. Oh Tuhan, saya berjanji pada diri saya insya Allah saya tidak akan pernah seputus asa itu!


Every night you cry yourself to sleep
Thinking: "Why does this happen to me?"
"Why does every moment have to be so hard?" 

Hard to believe it!

Setiap malam engkau menangis hingga tertidur sembari berpikir, "Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa semua ini terasa begitu sulit?". Deg! Saya seperti tertohok tepat di mediastinum. Perdarahan di paru-paru dan jantung sekaligus. Ketika Raef menyanyikan bagian ini, saya seperti "ketahuan" di bagian menangis hingga tertidur itu, meski tanpa disertai kalimat penyesalan atau mempertanyakan nasib seperti dalam lagu itu.


Down on my knees tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!


Ini dia. Ini sikap yang seharusnya saya pikirkan sebagai seorang muslim. Karena bukankah arti dari muslim adalah mereka yang menyerahkan dirinya sepenuh-penuh penyerahan bagi Tuhannya? Meski mungkin kita tidak sekuat itu dalam berdiri di penghujung malam. Meski kita tidak bisa membaca Alquran sepanjang malam. Tapi satu yang HARUS kita lakukan; I won't give up on Your mercy! Tidak akan menyerah dalam mengharap kasih sayang-Nya, tidak boleh putus asa!


Through every test, I'll never get over

My actions and my thoughts kept me awake
The weight of the things that remained unspoken
Built up so much it crushed me everyday


Dalam setiap ujian, (sangat wajar jika) kita merasa kita tidak pernah bisa melaluinya dengan baik. Kadang kita meragu mengenai keputusan tertentu yang penting dalam hidup kita. Bahwa keputusan itu kadang membuat tidak bisa tidur. Bahwa berat-ringannya konsekuensi dari keputusan itu membuat kita terbisu-bisu dan membuat dada terasa terjepit. 


Down on my knees tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!


Namun lagi-lagi, apa solusi dari semua itu? Kembali lagi ke reff. lagu ini. I won't give up on Your mercy!


Of all the things I felt but never really shown

Perhaps the worst is that I ever let it go
I should have never let it go!


Down on my knees tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!


It's not over tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!
I won't give up on Your mercy!
I won't give up on Your mercy!
No, I won't give up on Your mercy!


Ba'da Ashar lalu saya memutuskan untuk secara random mengendarai sepeda motor dan berkeliling kota Banda Aceh. Random saja, mengikuti arah angin, sehingga saya mendapati diri saya mengitari Pelabuhan Ulee Lheue lalu kembali pulang dengan kecepatan yang rata-rata medium. Sambil terus mendengarkan lagu di atas dan mencoba menegaskan kembali bahwa keputusasaan dalam perjuangan adalah sebuah aib terbesar dalam hidup ini.

Hingga kemudian, sambil pulang, saya singgah di tempat fotocopy-an untuk mem-print sesuatu. Di sana, ada beberapa orang mahasiswi yang menyapa saya. Seperti biasa, saya banyak lupa dan disorientasi identitas orang kalau belum terlalu akrab dan sering berjumpa.

"Saya ini mahasiswi FK, kak. Yang ketika acara di kampus dulu, saya minta tanda tangan kakak dan kakak tulis di situ, "Tidak akan ada yang namanya nelayan, kalau semua orang takut gelombang.", ingat, kak?"

Deg!

Saya mengaku ingat dan lalu menyalami mereka satu persatu untuk kemudian pulang. Tapi saya merasa Allah sedang menegur saya. Menegur "nelayan" yang satu ini, yang mulai meragu melihat gelombang menerjang besar sementara ia sendirian berada di posisi awak kapal yang ditugaskan "cuma" menjaga agar bendera kapal tidak terbang dibawa badai tanpa ditemani awak kapal lain yang lebih senior seorangpun.

Wahai. Iya, saya tidak boleh putus asa! Saya tidak boleh menyerah! Saya harus mencoba berubah! Tak boleh gampang emosional sebab satu dua kata merendahkan dari orang lain! Tak boleh mudah menangis sebab sedikit perasaan disakiti! Tak boleh goyah hanya sebab sakit kepala sedikit!

Tak boleh putus asa.

Katakanlah:" Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melanggar batas-batas dirinya, janganlah kalian berputus asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS 39: 53)

Maka kini, saatnya menghapus air mata! Biar tanah di luar saja yang basah oleh hujan yang mengguyurnya sejak maghrib tadi. Tapi hati ini, tidak lagi!



Lamkeuneung, 18 Februari 2013
Mungkin sebongkah jiwa ini masih pangling dengan usianya yang makin tua dan berbanding lurus dengan tanggung jawab yang ada. Karena kadang, ia masih "a child at heart". Allah, dewasakanlah..