Monday, February 18, 2013

Kali Ini Tentang Fairuz, Raef dan "Nelayan"

Saya seperti tidak kenal diri saya sendiri hari ini. Perubahan suasana hati yang begitu mendadak terjadi entah untuk alasan apa. Impasnya, saya mendadak menjadi "over-sensitive" pada banyak hal di sekitar saya. Sebut saja teman-teman sekepaniteraan klinis di rumah sakit, yang saya "diamkan" tanpa justifikasi berarti. Di rumah pun saya hanya ingin keluar kamar untuk makan, minum, atau kamar mandi saja. Selebihnya, saya lebih nyaman dengan bantal dan kasur; berbaring meski tidak bisa tidur.

"Aku merasa dunia yang sekarang terasa sempit. Kota ini semakin sempit."

Dan dari speaker handphone-nya di pedalaman Jawa Timur sana (sebab sedang mengikuti program Pencerah Nusantara), sahabat sekaligus "psikolog personal" saya, Fairuziana, tertawa kecil. Lalu ia memberikan saya beberapa masukan.

"Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Bedanya, tidak sampai 3 bulanan seperti kamu, paling maksimal yang pernah aku rasa itu 1 minggu. Tapi waktu itu, aku bilang ke diriku sendiri, aku harus berhenti sebentar, keluar, work out sampai lelah. Keluarkan semua energi itu dari badan kita."

"Biar energi baru bisa masuk ya? Benar juga...", pikir saya.

"Kalau sudah seperti itu, biasanya aku pergi ke suatu favorite spot untuk menulis di buku harian."

"Sudah lama aku tidak menulis di diary.", sambung saya cepat.

"Lho, kenapa?"

Saya menarik nafas dan mengangkat bahu walau jelas dia tidak bisa melihatnya.

"Aku pikir, diary itu cuma untuk mereka yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya. Tempat berlari. Dan sejak aku pulang dari Melbourne, aku tidak menulis lagi di diary. Lagipula, di mananya di rumah sakit ini yang sepi dan bisa dijadikan favorite spot? Ke mana mata memandang, di sana ada pasien, keluarga dan jemurannya."

Di ujung telepon, Fairuz tertawa kecil lagi. "Oke, oke. Lakukan yang bisa membuat bahagia sejenak. Lupakan rencana hari ini. Nanti kalau sudah tenang, baru pikirkan kembali rencana untuk esoknya."

Percakapan kami tadi siang terus berlanjut. Hingga 39 menit lamanya kami bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris (itulah mengapa percakapan kami di atas dalam bahasa baku, sebab adalah hasil terjemahan bebas dari percakapan kami tadi siang). Saya melepaskan uneg-uneg saya, dia terus mendengarkan dan memberi masukan itu-ini. Lempang saya dibuatnya. Fairuz sungguh seperti arti namanya bagi saya; permata, sahabat yang begitu berharga. Ia tidak pernah berusaha menjadi cahaya di ujung terowongan gelap setiap masalah saya. Yang ia lakukan setiap kali saya mengeluhkan banyak hal adalah memberikan saya korek api, lalu seperti otomatis, saya akan menyalakan obor saya sendiri; melanjutkan perjalanan. Sebab pada ujung setiap percakapan dengannya, saya akan menemukan solusi bagi kemelut saya sendiri. Fairuz, terima kasih untuk selalu sabar di manapun kamu berada ketika saya membutuhkanmu baik lewat telepon atau media lain.

Lalu mengikuti pesan Fairuz untuk mencoba mendengarkan lagu-lagu yang saya sukai untuk didalami dan diresapi (kalau perlu ditulis seperti sekarang) mengenainya, saya berkelana di dunia Youtube. Saya menemukan satu lagu baru dari salah satu musisi favorit saya; Raef. Ia merupakan seorang musisi baru di bawah payung Awakening Records (yang juga menjadi label yang memayungi Maher Zain). Ia terkenal untuk kemampuannya meng-cover lagu-lagu pop Barat menjadi versi yang lebih Islami. Debut karirnya yang paling saya ingat dari awal tahun lalu adalah lagunya Rebecca Black yang berjudul "It's Friday" yang digubahnya menjadi "It's Jumuah" di mana ia lebih menekankan makna hari Jumat sebagai hari ibadah, bukannya awal dari akhir pekan penuh "dunia gemerlap" seperti dalam lagu aslinya. Ada juga lagu "With You"-nya Chris Brown, di mana kata "you" diubah menjadi "You", yang merujuk ke Allah dan bukan lagi seorang gadis seperti dalam versi aslinya. Dan kini, ada satu lagu dari Maroon Five yang menjadi "korban" selanjutnya.

They warned him before but he wouldn't listen
He left this world and had no chance to stay
The time that we spent... it seems so frozen...

But now it's far too late you've passed away :(

Jadi cerita awal lagu ini adalah tentang seseorang yang sudah kadung bunuh diri. Oh Tuhan, saya berjanji pada diri saya insya Allah saya tidak akan pernah seputus asa itu!


Every night you cry yourself to sleep
Thinking: "Why does this happen to me?"
"Why does every moment have to be so hard?" 

Hard to believe it!

Setiap malam engkau menangis hingga tertidur sembari berpikir, "Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa semua ini terasa begitu sulit?". Deg! Saya seperti tertohok tepat di mediastinum. Perdarahan di paru-paru dan jantung sekaligus. Ketika Raef menyanyikan bagian ini, saya seperti "ketahuan" di bagian menangis hingga tertidur itu, meski tanpa disertai kalimat penyesalan atau mempertanyakan nasib seperti dalam lagu itu.


Down on my knees tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!


Ini dia. Ini sikap yang seharusnya saya pikirkan sebagai seorang muslim. Karena bukankah arti dari muslim adalah mereka yang menyerahkan dirinya sepenuh-penuh penyerahan bagi Tuhannya? Meski mungkin kita tidak sekuat itu dalam berdiri di penghujung malam. Meski kita tidak bisa membaca Alquran sepanjang malam. Tapi satu yang HARUS kita lakukan; I won't give up on Your mercy! Tidak akan menyerah dalam mengharap kasih sayang-Nya, tidak boleh putus asa!


Through every test, I'll never get over

My actions and my thoughts kept me awake
The weight of the things that remained unspoken
Built up so much it crushed me everyday


Dalam setiap ujian, (sangat wajar jika) kita merasa kita tidak pernah bisa melaluinya dengan baik. Kadang kita meragu mengenai keputusan tertentu yang penting dalam hidup kita. Bahwa keputusan itu kadang membuat tidak bisa tidur. Bahwa berat-ringannya konsekuensi dari keputusan itu membuat kita terbisu-bisu dan membuat dada terasa terjepit. 


Down on my knees tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!


Namun lagi-lagi, apa solusi dari semua itu? Kembali lagi ke reff. lagu ini. I won't give up on Your mercy!


Of all the things I felt but never really shown

Perhaps the worst is that I ever let it go
I should have never let it go!


Down on my knees tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!


It's not over tonight,

Ya Rabbee (My Lord) one more chance to make it right!
I may not make it through the night
I won't give up on Your mercy!
I won't give up on Your mercy!
I won't give up on Your mercy!
No, I won't give up on Your mercy!


Ba'da Ashar lalu saya memutuskan untuk secara random mengendarai sepeda motor dan berkeliling kota Banda Aceh. Random saja, mengikuti arah angin, sehingga saya mendapati diri saya mengitari Pelabuhan Ulee Lheue lalu kembali pulang dengan kecepatan yang rata-rata medium. Sambil terus mendengarkan lagu di atas dan mencoba menegaskan kembali bahwa keputusasaan dalam perjuangan adalah sebuah aib terbesar dalam hidup ini.

Hingga kemudian, sambil pulang, saya singgah di tempat fotocopy-an untuk mem-print sesuatu. Di sana, ada beberapa orang mahasiswi yang menyapa saya. Seperti biasa, saya banyak lupa dan disorientasi identitas orang kalau belum terlalu akrab dan sering berjumpa.

"Saya ini mahasiswi FK, kak. Yang ketika acara di kampus dulu, saya minta tanda tangan kakak dan kakak tulis di situ, "Tidak akan ada yang namanya nelayan, kalau semua orang takut gelombang.", ingat, kak?"

Deg!

Saya mengaku ingat dan lalu menyalami mereka satu persatu untuk kemudian pulang. Tapi saya merasa Allah sedang menegur saya. Menegur "nelayan" yang satu ini, yang mulai meragu melihat gelombang menerjang besar sementara ia sendirian berada di posisi awak kapal yang ditugaskan "cuma" menjaga agar bendera kapal tidak terbang dibawa badai tanpa ditemani awak kapal lain yang lebih senior seorangpun.

Wahai. Iya, saya tidak boleh putus asa! Saya tidak boleh menyerah! Saya harus mencoba berubah! Tak boleh gampang emosional sebab satu dua kata merendahkan dari orang lain! Tak boleh mudah menangis sebab sedikit perasaan disakiti! Tak boleh goyah hanya sebab sakit kepala sedikit!

Tak boleh putus asa.

Katakanlah:" Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melanggar batas-batas dirinya, janganlah kalian berputus asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS 39: 53)

Maka kini, saatnya menghapus air mata! Biar tanah di luar saja yang basah oleh hujan yang mengguyurnya sejak maghrib tadi. Tapi hati ini, tidak lagi!



Lamkeuneung, 18 Februari 2013
Mungkin sebongkah jiwa ini masih pangling dengan usianya yang makin tua dan berbanding lurus dengan tanggung jawab yang ada. Karena kadang, ia masih "a child at heart". Allah, dewasakanlah..


Wednesday, February 13, 2013

Valentine Celebration = Love Celebration (?)

"I'm not yours, you're not mine, so be my ANTI valentine!"


Yes, I don't support for Valentine celebration.

Yes, I totally disagree with all the traditions following the 14th of February's rituals e.g. chocolate presenting, flowers giving, dining, partying etc.
And by having those statements, I don't call for eliminating the word "LOVE" from its universal and charming existence upon this beloved dearly earth.

1. "Valentine" celebration is not the same to "love" celebration. You can still love and spread your love around without having any valentine moment all around the world.

2. I don't really give a darn thing about its doubt-able historical backgrounds of it (remember those stories of St. Valentine, the fall of Islamic reign in Spain, tradition to spread love in Christianity). My English teacher (and he is an atheist, used to practice Catholics in his younger age) once said, "Valentine is not, at all, I say, not at all, a religious issue. It is mere economics-based celebration. People wouldn't have any reason to but tonnes of chocolates, billions of roses. Come on, get real, Annissa! Valentine moment is a gold mine for them, and they would never let that bucks-producing moment go away just like that!", and then on wards, I realized that he was right!

3. I'm a muslim. And in Islam, I've already got a gazillion reasons and moments to spread love to everyone around me. Not only to humans, but also to animals, plantations, even to the “dead” earth and skies as well as the entire universe! We’ve got id days (twice a year), rewards for always giving charities to others (too many ayah and hadeeth to be described up here, please Google for a more detailed elaboration). Some random additional-unclear-moment is out of list already. Those chocolates might be probably better off given to the orphans/ kids off the street who hardly have enough money to buy daily food.

4. It is in my opinion though. However, you’ve got your own rights to speak otherwise. I believe, love is love; to be spread around proportionally. Just one moment to make it right to go over “the boundaries” would only make us look uncivilized. You know, one night stand, some long night to stay up late for with particular person(s). Goodies, call me old fashioned but I really don’t see that of a way to show some real love.

Have a happy love-sharing year! Yes, just one day wouldn’t contain much of what we can share!  :)

_______________________________________________________________________


Ya, saya tidak mendukung perayaan Valentine.

Ya, saya sepenuhnya tidak sepakat dengan seluruh tradisi mengikuti momen 14 Februari ini seperti menghadiahi cokelat, bunga, makan bersama, pesta, dll.
Dan dengan menyatakan diri seperti ini, saya sedang tidak menuntut dihapuskannya kata "CINTA" dari penggunaannya yang universal dan menakjubkan di atas bumi terkasih kita ini.


1. Perayaan "Valentine" itu tidak sama dengan perayaan "cinta". Anda masih bisa mencintai dan menyebar cinta pada siapapun di sekitar anda tanpa momen Valentine apapun sepanjang tahun di bagian manapun di dunia ini.

2. Saya tidak peduli sedikitpun mengenai latar belakang sejarah Valentine yang bagi saya begitu meragukan (ingat kisah St. Valentine? Kejatuhan Islam di Spanyol dsb?). Guru Bahasa Inggris saya (dan ia adalah seorang atheist yang ketika mudanya dulu adalah seorang Katolik) pernah suatu waktu berkata, "Valentine itu bukan, sama sekali bukan, sebuah perayaan keagamaan manapun. Ini merupakan momen yang didasarkan lebih pada alasan ekonomi. Orang-orang tidak akan mau membeli berton-ton cokelat, milyaran tangkai mawar tanpa alasan tertentu. Ayolah, Annissa, sadar! Valentine itu adalah tambang emas bagi mereka, mereka tidak akan pernah rela melepaskan momen yang bisa menghasilkan banyak uang seperti ini begitu saja!", dan sejak saat itu, saya sadar bahwa beliau benar!

 3. Saya adalah seorang muslim. Dan dalam Islam, saya sudah punya segunung alasan dan momen untuk menyebarkan cinta pada siapapun di sekitar saya. Tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada hewan-hewan, tumbuhan, bahkan pada bumi dan alam yang "mati" ini pun kami disuruh berbagi cinta! Kami punya hari id (dua kali setahun), pahala (yang berlimpah) untuk selalu berderma bagi orang lain (dalil ayat Quran dan haditsnya terlalu banyak untuk dijabarkan di sini, silakan Google untuk lebih detil). Momen dengan latar belakang tak jelas jelas sudah di luar daftar. Cokelat-cokelat itu padahal mungkin lebih baik diberikan pada anak-anak yatim/ jalanan yang bahkan untuk makan sehari-hari tak selalu bisa membeli makanan.


4. Ini murni pendapat saya pribadi. Bagaimanapun juga, anda punya hak sepenuhnya untuk berpendapat dengan sudut pandang sebaliknya. Saya percaya, cinta adalah cinta; untuk disebarkan secara proporsional. Hanya satu momen untuk membenarkan "sedikit tindakan di luar batas-batas yang ada" hanya akan membuat kita merendahkan derajat peradaban kita (yang sudah jelas-jelas mengaku "modern" ini). Anda tahulah, "satu malam ini saja", malam yang panjang untuk dihabiskan dengan orang (atau orang-orang, jamak, bukan 1 orang saja) tertentu. Entahlah, sebut saya "jadul" tapi saya tidak paham bagaimana hal-hal serupa itu disebut pembuktian cinta secara nyata.

Selamat menikmati momen berbagi cinta sepanjang tahun! Ya, sebab satu hari saja tak akan pernah cukup untuk menampung seluruh cinta yang bisa kita bagi ke sesama! :)




 Lampriet, 13 Februari 2013