Thursday, March 14, 2013

Sekantung Cahaya Bulan

"Berapa harganya sekilo ini?"
"Oh, kau tak perlu bayar. Itu hadiahku. Untukmu."

Aku memandang sekantung cahaya bulan di tanganku sementara engkau tetiba hilang dari pandangku.



40 Julyander 3045
Di taman bulan yang ternyata rata bercahaya dengan sendirinya.

Surat Untuk Marlene

Pernah tenggelam dalam dunia sendiri?
Hei, kau di sana, Marlene, aku di sini.
Aku menari bersama angin yang menggelung rumah terakhir di desa paling sudut Utara kotaku.
Tenggelam dalam dongeng yang terbersit perlahan di antara girus kepalaku.
Menghentak-hentaki setiap kenyataan yang sliwer di sela-sela minggu.
Aku hanya tahu nada-nada penuh rentak perkusi.
Turut membersamai para musisi peradaban.
Memetik senar masa depan dengan balada masa lalu.
Menggerak-gerakkan kepala ke sisi satu dan lainnya.
Tumit meloncat dan menyentuh bumi kembali; langkah demi langkah dansa memuja masa.




Dan kau, Marlene, apa yang kau kerjakan di sana?
Aku kini memilih pergi.
Meninggalkan desaku yang pasti akan menjadi korban angin yang menggelung selanjutnya.
Kau tahu, bergabung dengannya dan menganggap semua ini sirkus.
Mempertontonkan setiap episode yang kami rancang bersama sebelum setiap fajar.
Kau tahu, jika tak bisa menjadi pahlawan, maka menjadi bandit yang elegan-lah.
Mencuri hati dengan cara yang mahal.
Merampok isi pikiran dengan tangan yang diam.
Menggebrak gerbang kediaman dengan tendangan yang menyerupai koreografi biduanita.

Menjadi seperti ini.
Aku tenggelam dalam dunia ini sendiri.
Dan aku menikmati setiap detiknya.
Menikmati setiap mili dari detiknya.
Menjelajah galaksi demi galaksi dan menjadi bandit yang memanah asmara.
Dan meninggalkan harapan yang kosong berisi air sisa hujan setiap malam.

Marlene, kau masih juga membaca suratku ini?
Ah, bangunlah dan berani!
Kau terlampau lama menungguku menjemputmu.
Bangun. Lari. Kencang.
Cari aku.
Lalu kita akan membanditi dunia dengan cara paling cantik dan bijaksana.



Di ujung dunia yang ternyata rata,
34 Februander 3334

Monday, March 11, 2013

Menjauhlah Dariku, Dunia!




Hai Dunia!
Menjauhlah dariku!
Mengapa engkau datang kepadaku!
Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan?
Adakah engkau sangat menginginkanku?
Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku!
Tipulah orang lain!
Aku tak memiliki urusan denganmu!
Aku telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tidak ada rujuk lagi.
Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku!
Ah... Sayang!
Sangat sedikit bekal ditangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh, dan tujuan sukar dicapai!

-Ali bin Abi Thalib r.a. dikutip dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah" (Salim A. Fillah)



sumber: http://pegadangtangguh.blogspot.com/2013/03/hai-dunia-menjauhlah-dariku.html