Thursday, March 14, 2013

Surat Untuk Marlene

Pernah tenggelam dalam dunia sendiri?
Hei, kau di sana, Marlene, aku di sini.
Aku menari bersama angin yang menggelung rumah terakhir di desa paling sudut Utara kotaku.
Tenggelam dalam dongeng yang terbersit perlahan di antara girus kepalaku.
Menghentak-hentaki setiap kenyataan yang sliwer di sela-sela minggu.
Aku hanya tahu nada-nada penuh rentak perkusi.
Turut membersamai para musisi peradaban.
Memetik senar masa depan dengan balada masa lalu.
Menggerak-gerakkan kepala ke sisi satu dan lainnya.
Tumit meloncat dan menyentuh bumi kembali; langkah demi langkah dansa memuja masa.




Dan kau, Marlene, apa yang kau kerjakan di sana?
Aku kini memilih pergi.
Meninggalkan desaku yang pasti akan menjadi korban angin yang menggelung selanjutnya.
Kau tahu, bergabung dengannya dan menganggap semua ini sirkus.
Mempertontonkan setiap episode yang kami rancang bersama sebelum setiap fajar.
Kau tahu, jika tak bisa menjadi pahlawan, maka menjadi bandit yang elegan-lah.
Mencuri hati dengan cara yang mahal.
Merampok isi pikiran dengan tangan yang diam.
Menggebrak gerbang kediaman dengan tendangan yang menyerupai koreografi biduanita.

Menjadi seperti ini.
Aku tenggelam dalam dunia ini sendiri.
Dan aku menikmati setiap detiknya.
Menikmati setiap mili dari detiknya.
Menjelajah galaksi demi galaksi dan menjadi bandit yang memanah asmara.
Dan meninggalkan harapan yang kosong berisi air sisa hujan setiap malam.

Marlene, kau masih juga membaca suratku ini?
Ah, bangunlah dan berani!
Kau terlampau lama menungguku menjemputmu.
Bangun. Lari. Kencang.
Cari aku.
Lalu kita akan membanditi dunia dengan cara paling cantik dan bijaksana.



Di ujung dunia yang ternyata rata,
34 Februander 3334

2 comments:

  1. Replies
    1. iya, Afri, ini termasuk sesuatu yang "dalem", soalnya ga berani nulis ttg cerita aslinya secara blak-blakan :'|

      Delete