Tuesday, April 9, 2013

Hidup = Berlayar di Lautan

Like the ocean’s water entering the boat, the moment that we let the dunya enter our hearts, we will sink. The ocean was never intended to enter the boat; it was intended only as a means that must remain outside of it. The dunya, too, was never intended to enter our heart. It is only a means that must not enter or control us. This is why Allah (swt) repeatedly refers to the dunya in the Qur’an as a mata’a. The word mata’a can be translated as a “resource for transitory worldly delight.” It is a resource. It is a tool. It is the path—not the destination.

- Yasmin Mogahed

Deg! Terpana saya membaca salah satu postingan Islamic Arts and Quotes di Tumblr siang ini. Saya menemukan kuotasi di atas. Di tengah panasnya ruangan Dokter Muda di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat/ Ilmu Kedokteran Komunitas ini, saya semakin merasa sembilu bertubi.

Baik, sebelum lebih lanjut, saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dulu kuotasi di atas.

"Seperti air laut yang masuk ke dalam perahu, begitulah ketika kita membiarkan dunia memasuki hati-hati kita, kita akan tenggelam. Air laut seharusnya tidak memasuki (dan menambah berat) perahu; ianya hanya sebagai media berlayar yang tetap berada di luar perahu. Dunia ini pun, tidak pernah dimaksudkan masuk ke dalam hati kita. Ianya hanya sarana yang seharusnya tidak memasuki atau mengontrol kita. Inilah mengapa Allah swt, berkali-kali dalam Alquran, merujuk ke kata mata'a sebagai dunia. Kata mata'a bisa diterjemahkan sebagai "sumber daya bagi kesenangan duniawi yang sementara". Ianya adalah sumber daya. Ianya hanya sebagai alat. Ianya hanya sebagai jalan - bukan tujuan."

Saya adalah seorang pengagum pantai; termasuk ke dalamnya birunya lautan, misteriusnya konsep horizon, putihnya buih-buih, dst yang bisa ditemukan dari sekedar duduk di tepinya. Maka mendapat kuotasi yang berhubungan dengan laut begini saya menjadi double-striken. Nomor satu, kuotasi ini memiliki analogi yang benar-benar sesuai dengan kondisi mengenainya (dunia dan bagaimana seharusnya posisinya dalam menghadapinya). Nomor dua, analoginya adalah sesuatu yang sangat saya suka.



Dalam beberapa minggu terakhir, saya menonton dua film yang ada hubungannya dengan tema "terdampar di lautan lepas". Kedua film itu adalah Life of Pi (2012) dan Ice Age 4 (2012). Begitu mengharukan terasa ketika akhirnya masing-masing tokoh dalam film tersebut akhirnya tidak lagi terdampar di tengah luasnya lautan; menemukan daratan (setelah terkatung-katung bersama seekor harimau Bengali berminggu-minggu dalam film Life of Pi) / bertemu lagi dengan keluarga setelah terpisah jauh (seperti di Ice Age 4). Saya rasa begitulah esensi kehidupan; berlayar. Semua orang sedang berlayar dengan perahunya masing-masing. Yang membuat satu pelayar berbeda dari pelayar lainnya tentu adalah tujuannya. Ada yang bertujuan menuju daratan antah-berantah, ada yang bertujuan sekedar berkelana, ada yang mengejar harta karun berdasar peta dari suatu surat botol yang ditemukan dst. Bahkan ada pula yang tetiba menemukan dirinya berlayar namun tak tahu tujuannya; inilah mereka yang "hilang" dalam hidup ini. Mereka yang tak mengenali hakikat dirinya hingga tak punya perencanaan mengenai bagaimana mencapai tujuan pelayarannya. Akibatnya ia akan menghabiskan persediaan makanan tanpa bisa merencanakan bagaimana caranya menyetok kembali persediaannya; mati mengambang di atas samudera begitu saja.




Begitulah hidup ini. Ada yang paham akan tujuannya, ada yang tidak. Ada yang punya petanya, ada yang tidak. Ada yang tahu bagaimana mengendalikan kemudi, ada yang tidak. Sesederhana itu saja, bukan?

Dan dalam berlayar, betapa banyak yang justru mati kehausan di tengah perjalanan sebab tidak memiliki bekal yang cukup. Beberapa yang sudah terlanjur begitu haus sementara tidak memiliki cukup air tawar untuk diminum malah meminum air laut. Apa yang terjadi? Tentu saja semakin haus. Kandungan garam (NaCl) yang begitu tinggi hanya akan membuat ginjal mengeluarkan lebih banyak air dari tubuh sebab harus mengencerkan konsentrasi NaCl yang terlalu tinggi dari darah. Ironi, bukan? Namun itu pulalah perumpamaan dunia ini. Untuk sekedar diobservasi, dipandang-pandangi saja ia tampaknya cantik, sebagaimana lautan tampak menarik jika dipandang dalam berbagai foto/ pemandangan. Namun cobalah mencicipinya sedikit. Lalu kaupun akan semakin "haus". Dan mereka yang malang dan tak tahu bahwa yang membuat semakin haus adalah dunia itu sendiri, malah akan merasa harus menenggelamkan diri lebih jauh lagi. Dan begitulah seterusnya prosesi "dehidrasi keimanan" itu terjadi. Suatu keburukan hanya akan menciptakan rantai keburukan selanjutnya; begitu kan fitrahnya?

Dan jika pun tidak untuk diminum, kita masih juga tetap harus hati-hati. Jangan sampai seperti yang dipaparkan di kuotasi di atas, air laut itu memenuhi perahu/ kapal kita dan menenggelamkan kita. Ia mungkin tidak sampai menimbulkan dehidrasi sebab kita memang tidak meminumnya. Namun ada alasan mengapa kapal bisa mengapung di tengah air bah luas bernama lautan itu. Biasanya material pembangun kapal sudah disesuaikan sehingga memiliki massa jenis yang lebih ringan dari massa jenis air laut. Namun demikian, jika air laut masuk ke dalam kapal, maka massa jenis ini bisa bergeser nilainya sehingga tenggelam menjadi sebuah keniscayaan. Begitu pula hidup ini. Allah sudah mendesign tubuh dan jiwa kita agar punya penyaring agar tetap "mengambang" di tengah lautan hidup ini. Namun jika penyaring ini kita rusak, maka kemampuan untuk tetap "mengambang" ini akan hilang. Karena seharusnya, jika kita selalu sibuk dengan kebaikan, tiap kali dunia datang dan mengusik, kita akan merasa gundah. Resah. Galau. Ya, inilah makna galau yang paling syahdu. Sebab kegalauan ketika melakukan sesuatu yang membuat kita tenggelam ke dalam godaan dunia adalah tanda bahwa masih ada kebaikan yang bersemayam di dalam diri kita.
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa menganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia “  (H.R. Muslim)
Lautan ini hanyalah jalan. Lautan ini hanyalah sarana. Lautan ini hanyalah tempat berlayar. Bukan tujuan akhir. Bukan tempat yang dimaksudkan untuk titik berhenti. Jikapun kita harus menghembuskan nafas terakhir di sini semoga itu dalam keadaan sedang berjuang mengendalikan kemudi di tengah badai. Atau sakit yang tak bisa dihindarkan. Atau alasan lain namun tetap dengan kompas dan peta yang terang tentang tujuan pelayaran.

Anda bertanya tujuannya apa? Menyembah Allah dengan segala sarananya.

Anda bingung apa petanya? Alquran dan hadits.

Kompasnya? Hati anda yang semoga Allah pelihara selalu fungsinya dalam mendeteksi kebaikan dan keburukan secara objektif.

Well, selamat berlayar! :)


Kampus FK Unsyiah, 8-9 April 2013

Friday, April 5, 2013

Perapian Impian


"Kadang bukan tentang berapa kayu bakar yang kaupunya. Tapi tentang sudah selesai tidaknya perapian yang kaubangun. Lagipula, musim dingin masih begitu lama baru akan tiba. Dan musim dingin itu hanya bisa kaurasakan di sisi Utara saja. Kau sadar kan, ini sisi Selatan? Bahwa dari sini ke sana, kau harus membayar segazelon batu bara dari gua paling Timur dan sekarung emas dari tepi sungai yang hanya mengalir di sisi paling Barat? Kau, dan semua impianmu melihat perapian hangat itu biar dalam mimpimu saja!"

Lalu kujatuhkan semua kayu bakar di tanganku ke tanah. Harus sudah cukup dengan sepotong langit biru saja dahulu. 

Dalam hati, aku mengepalkan tangan. Aku akan ke Timur, lalu Barat, untuk kemudian akan berakhir di Selatan. Ini lebih dari sekedar perapian, bisikku. Ini tentang sebongkah nurani yang beku. Ia harus dicairkan. Entah suatu masa.

75 Apralagus 2067, di salah satu horizon.



Tuesday, April 2, 2013

Gumaman Dalam Kepala

Kita masih memain-mainkan kaki di tepi danau. Basah ujung gaun dengan percikan di tengah siang. Sepoinya  cuaca memeluk setiap pohon mahoni di sisi Utara danau. Langit memilih jubah biru paling cerah hari ini; memamerkannya pada dua pasang mata kita yang menatapnya tanpa banyak bicara. Sementara kaki-kaki kita terus menciprat-cipratkan air ke permukaan danau, lidah kita kelu saja. Duduk di salah satu saung yang kakekku bangun suatu Maulid begini, seperti saat kita masih kanak-kanak dahulu. Bedanya kini, aku dan kau punya sinetron masing-masing yang plotnya menanti untuk diselesaikan. Dan sinetron kita ini tidak lagi satu drama sekali putar seperti dulu. Komplikasinya lebih rumit dari semrawutnya jerami di sisa sawah gundul  milik Tuan Kepala Desa. Begitu rumit hingga aku enggan mengisahkannya padamu, dan kurasa kau pun begitu.

Sebenarnya aku lebih memilih mengapung di tepi laut di batas paling Selatan kota kita. Itu pun kerap kita lakukan saat kanak-kanak dahulu. Namun katamu, danau juga cukup. Cukup untuk memberikan air untuk bermain. Sementara kataku, ini tidak akan pernah sama. Laut memiliki horizon, sementara danau tidak. Kaubantah aku waktu itu. Katamu aku tidak tahu definisi kata "horizon" dan jika saja aku paham konsep dari horizon itu sendiri, danau pun sudah memadai untuk dikunjungi.

Maka aku pun diam. Sesungguhnya aku pun tak mau lama-lama bertengkar denganmu. Bagaimanapun juga, jika senyummu diam maka aku akan sesak sedikit.

Maka kita di sini, sebab kau yang meminta. Maka aku menemanimu secara fisik, meski pikiranku duduk di tepi pantai, membiarkan setiap jari kaki dalam buih-buih putih yang pasang dan surut. Di sana, langit sama birunya. Hanya saja, aku tak bersamamu. Aku bersama seseorang lain.


Kampus FK Unsyiah, 2 April 2013.