Tuesday, April 2, 2013

Gumaman Dalam Kepala

Kita masih memain-mainkan kaki di tepi danau. Basah ujung gaun dengan percikan di tengah siang. Sepoinya  cuaca memeluk setiap pohon mahoni di sisi Utara danau. Langit memilih jubah biru paling cerah hari ini; memamerkannya pada dua pasang mata kita yang menatapnya tanpa banyak bicara. Sementara kaki-kaki kita terus menciprat-cipratkan air ke permukaan danau, lidah kita kelu saja. Duduk di salah satu saung yang kakekku bangun suatu Maulid begini, seperti saat kita masih kanak-kanak dahulu. Bedanya kini, aku dan kau punya sinetron masing-masing yang plotnya menanti untuk diselesaikan. Dan sinetron kita ini tidak lagi satu drama sekali putar seperti dulu. Komplikasinya lebih rumit dari semrawutnya jerami di sisa sawah gundul  milik Tuan Kepala Desa. Begitu rumit hingga aku enggan mengisahkannya padamu, dan kurasa kau pun begitu.

Sebenarnya aku lebih memilih mengapung di tepi laut di batas paling Selatan kota kita. Itu pun kerap kita lakukan saat kanak-kanak dahulu. Namun katamu, danau juga cukup. Cukup untuk memberikan air untuk bermain. Sementara kataku, ini tidak akan pernah sama. Laut memiliki horizon, sementara danau tidak. Kaubantah aku waktu itu. Katamu aku tidak tahu definisi kata "horizon" dan jika saja aku paham konsep dari horizon itu sendiri, danau pun sudah memadai untuk dikunjungi.

Maka aku pun diam. Sesungguhnya aku pun tak mau lama-lama bertengkar denganmu. Bagaimanapun juga, jika senyummu diam maka aku akan sesak sedikit.

Maka kita di sini, sebab kau yang meminta. Maka aku menemanimu secara fisik, meski pikiranku duduk di tepi pantai, membiarkan setiap jari kaki dalam buih-buih putih yang pasang dan surut. Di sana, langit sama birunya. Hanya saja, aku tak bersamamu. Aku bersama seseorang lain.


Kampus FK Unsyiah, 2 April 2013.

No comments:

Post a Comment