Friday, April 5, 2013

Perapian Impian


"Kadang bukan tentang berapa kayu bakar yang kaupunya. Tapi tentang sudah selesai tidaknya perapian yang kaubangun. Lagipula, musim dingin masih begitu lama baru akan tiba. Dan musim dingin itu hanya bisa kaurasakan di sisi Utara saja. Kau sadar kan, ini sisi Selatan? Bahwa dari sini ke sana, kau harus membayar segazelon batu bara dari gua paling Timur dan sekarung emas dari tepi sungai yang hanya mengalir di sisi paling Barat? Kau, dan semua impianmu melihat perapian hangat itu biar dalam mimpimu saja!"

Lalu kujatuhkan semua kayu bakar di tanganku ke tanah. Harus sudah cukup dengan sepotong langit biru saja dahulu. 

Dalam hati, aku mengepalkan tangan. Aku akan ke Timur, lalu Barat, untuk kemudian akan berakhir di Selatan. Ini lebih dari sekedar perapian, bisikku. Ini tentang sebongkah nurani yang beku. Ia harus dicairkan. Entah suatu masa.

75 Apralagus 2067, di salah satu horizon.



No comments:

Post a Comment