Sunday, July 28, 2013

Tentang Seorang Srikandi



Begitulah nasib seorang srikandi. Ia tetap tegak dengan busur dan anak panahnya, awas menatap sekitar. 
Dituding selalu bermuka masam, ia diam.
Dituding mendiamkan sapaan, ia bungkam.
Dianggap bukan sahabat puteri keraton yang baik, ia tak dendam.
Diganggu sepoi warna jingga senja, atau jatuh untuk kemudian sakit oleh satu kata yang maharaja bernama cinta, matanya tetap elang.

Sebab mimpinya jauh lebih besar.
Dan tak perlu dianggap ramah dan terbuka sekarang, tak apa dianggap jahat bahkan jauh dari kesan lembutnya seorang wanita.

Biarlah bianglala, gugusan karang dan kelamnya langit malam yang tahu, bahwa ia seorang biduanita dalam penyamaran.

Saturday, July 27, 2013

Mengapa Saya Peduli dengan Apa yang Terjadi di Mesir?


Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab saya adalah bagian dari "Global Citizen", warga dari kampung bernama dunia. Salah? Tidak, kan?


Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab jika mengingat masa-masa DOM dulu di Aceh (sebagai contoh) misalnya, di mana minim sekali media meliputnya di TV dan saluran lainnya, kami di sini akan sangat senang jika dunia membuka mata lewat cara lain; misalnya dengan sastra, atau dunia maya. Maka, jika kini ada hal yang terjadi di luar negeri sana, saya cuma mengulang apa yang dunia lakukan pada saya saat itu. Kali ini sama-sama oleh militer, kan?



Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab latar belakang saya sebagai (calon) paramedis tidak habis pikir mengapa ada orang yang bisa sembarangan menembaki batok kepala orang, menembaki jamaah yang sedang beribadah, dll. Ah, di IGD saja saya sudah banyak mengutuk mereka yang ngebut tanpa helm, apalagi ini militer yang membunuh saudara sebangsanya yang jelas tak seimbang persenjataannya!

Mengapa saya peduli dengan apa yang terjadi di Mesir? Sebab dari dulu di sana sudah hidup banyak fir'aun. Beberapa bahkan mengaku Tuhan. Dulu Nabi Musa hanya ditemani oleh Nabi Harun, bersama segelintir pengikut. Jadi kalau hari ini ada lagi yang congkak menggeser pemimpin Mesir yang jelas-jelas terpilih secara demokratis oleh tangan-tangan penduduknya sendiri yang memberikan voting, saya (dan seisi dunia yang masih waras) tak akan meninggalkan presiden yang sah itu sendirian pula! Jika pun tak bisa membersamai di jalan-jalan sana, meski cuma bisa bersuara lantang saja pun akan kami jalani!

Ah, sungguh, ingin sekali rasanya menuliskan nama dan detil kontak yang bisa dihubungi di tangan dan bergabung bersama mereka di sana; memudahkan tim Forensik dan DVI (Disaster Victim Identification) yang bekerja di sana pasca para demonstran dinyatakan tak lagi bernyawa..


‪#‎StopMassacreinEgypt‬ ‪#‎Egypt‬ ‪#‎ProDemocracy‬ ‪#‎Mesir‬‪#‎IndonesiaWithMorsi‬ ‪#‎Morsi‬ #AntiCoup

Sunday, July 14, 2013

Inilah Daftar Tulisan Para Peramai #FLPMengguncangRamadhan




Ah, such a great warm weekend, I almost forgot that I am a medical student!  =D
Alhamdulillah, bersama Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, hari ini bisa menjalankan project #FLPMengguncangRamadhan. Di mana dari siang hingga sore, kami semua mencoba menyelesaikan tulisan singkat (bisa berupa apa saja) di blog masing-masing untuk kemudian kami posting serentak di pukul 17.00 (lebih tepatnya 17.30 jadinya sebab ada yang belum selesai nulis lah, Wi-Fi ala modem hotspotnya putus sejenak lah, anak-anak para peserta minta makan lah, rame tapi seru lah pokoknya! Hehe..) di akun media sosial kami masing-masing. Penasaran dengan hasilnya? Cekidot! Berikut nama-nama yang berhasil menelurkan karyanya dan link untuk ke blog mereka sebelum akhirnya kami buka puasa bersama di Rumah Cahaya FLP Aceh. Selamat blog-walking! ;)


1. Nuril Annissa -> Kronologi Bernama Ramadhan
2. Nazri Z. Syah Nazar -> Jihad Ramadhan
3. Fitria Larasati -> Ramadhan dan Pohon Nangka Angker
4. Liza Fathiariani -> Lambai (Sambai), Rerumputan Lezat Untuk Berbuka Khas Pidie
5. Siti Harisah -> Cegah Cegukan Saat Puasa
6. Aslan Saputra -> Ramadhan di Tengah Kemelut Jiwa
7. Ferhat Muchtar -> #FLPMengguncangRamadhan Ramai-ramai Menulis
8. Fanny Tasyfia Mahdy Yudistira -> FLP Mengguncang Ramadhan
9. Fadhil Ismi -> Hijaunya Ramadhan
10. Doni Daroy -> Pedagang Ramadhan
11. Isratul Izzah -> Aku di Bulan Ramadhan
12. Chaira Hisan -> The Ramadhan Story
13. Hasdiani Putri -> I Always Wait You, Ramadhan
14. Tyna A. Amris -> Coretan Seniman
15. Ubaidillah -> Peran Ibuku di Bulan Ramadhan
16. Ulva Yogia -> Ramadhan Adalah Senin
17. Dara Hersavira -> Tak Perlu Gentar, Aku Masih Punya Nenek
18. Riri Isthafa Najmi -> Asal Muasal Berpuasa
19. Aditya Fitrianto -> Pagi Baru Ramadhan

Kronologi Bernama Ramadhan (#FLPMengguncangRamadhan)

Tiap kali Ramadhan datang, saya selalu menemukan beberapa hal yang membuat hidup saya berbeda. Katakanlah ini lebay atau hiperbola khas seseorang yang gemar memuisikan segala sesuatu, tapi saya sungguh-sungguh. Jika harus saya paparkan satu persatu, tidak akan muat dalam satu blog entry saja; terlalu banyak dan kebanyakan adalah hal-hal yang cukup disimpan sebagai memori manis milik pribadi.

Namun demikian, ada beberapa Ramadhan yang benar-benar menjadi titik perubahan bagi saya. Secara kepribadian. Secara kepenulisan. Secara keIslaman. Dan itu akan selamanya menjadi harta karun berharga dalam ingatan saya yang sebagiannya akan saya paparkan di sini.


Ramadhan 1426 H (2004)
Tak akan saya lupakan seumur hidup masa-masa di mana saya menghabiskan sebulan penuh di lingkungan Daarut Tauhid di Bandung. Saat itu saya sekeluarga diboyong oleh ayah saya untuk menemani masa studi S3 beliau di Universitas Pendidikan Indonesia di kota yang sama. Kebetulan kami semua sedang libur sekolahnya, sehingga dengan jalur darat, kami pun akhirnya tiba dan bermukim sebulan di kosan ayah kami yang pas-pasan di Geger Kalong, Bandung. Alhamdulillah, sebab dulu ayah saya pernah S2 di universitas yang sama dan menyewa kosan yang sama sehingga kami kenal dekat dengan pemilik kosan, kami dipinjamkan satu kamar yang sedang kosong sebab ditinggal pergi oleh penyewanya selama Ramadhan.

Dan di sanalah saya berkenalan dengan yang namanya Daarut Tauhid. Di sanalah saya merasakan masa-masa di mana rasanya hidup bisa begitu terasa tenang dan tidak menyusahkan hati sama sekali.

Di sana saya banyak terkesima; terkesima oleh susunan sandal yang rapi dan runut teratur setiap kali saya hendak pulang dari masjid. Terkesima akan kerapian dan kebersihan jalan-jalan di sekitar Daarut Tauhid tersebut, semakin terkesima bila dibandingkan dengan jalanan di sekitar kampus Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh yang ramai oleh ternak dan kotorannya. Dan yang paling membuat terkesima adalah sebab saya bisa menemukan stasiun radio yang memutar nasyid sepanjang hari; Manajemen Qolbu FM nama stasiun radionya.

Di sanalah saya paham makna “Islam itu untuk diterapkan, bukan untuk diteriakkan”. Dan sejak itulah saya tekad untuk menjadi muslim yang lebih baik itu muncul dengan kuat dan membuat sesak berhari-hari jika dipikirkan. Hasilnya? Sejak tahun 2004 itu, saya mulai mengenakan jilbab tanpa melepasnya lagi jika ada non mahram di sekitar saya, bahkan jika itu adanya di dalam rumah saya sendiri.


Ramadhan 1427-1429 H (2005-2007)
Ramadhan di negeri orang! Bukan cuma di provinsi yang berbeda kali ini, tapi di negara yang sama sekali asing! Tahun 2004 akhir terjadi musibah tsunami, dunia pasti masih ingat. Namun eksesnya adalah banyak beasiswa yang diberikan sebagai bagian dari bantuan pendidikan pun jumlahnya ratusan. Termasuk ke dalam yang merasakan berkahnya adalah saya sendiri, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan SMA ke Australian International Academy of Education (dulu sekolah ini bernama King Khalid Islamic College of Victoria) secara cuma-cuma.

Luar biasa Ramadhan di kampung (atau saya harusnya sebut…kampung-politan?) orang begitu. Tak ada seurunee yang menandai waktunya berbuka. Tak ada orang jualan segala macam es dan risol-risolan di pinggir jalan untuk berbuka. Tak ada keriuhan di jalan raya orang beramai-ramai jalan menuju ke masjid untuk tarawih. Sunyi.

Belum lagi di tahun 2005, Ramadhan masih jatuh di musim panas di sana. Saya ingat, di 4 hari terakhir Ramadhan, imsak jatuh pada pukul 5’an pagi namun maghrib baru tiba pukul 8.30 malam! Bayangkan saja anak Lamkeuneung yang biasa puasa hanya 12 jam’an kini harus hingga 14-15 jam! Benar-benar suatu ujian bagi keimanan. Alhamdulillah, saya ingat waktu itu ibu angkat saya yang begitu relijius (beliau adalah seorang muslimah yang sangat taat) begitu menyemangati hingga saya menjadi semakin merasa Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Semakin sempurna dalam pandangan saya sebab bisa mengajarkan saya bagaimana menjadi seseorang yang lebih bisa memaknai arti lapar, haus dan menahan hawa nafsu dalam makna umum lainnya.

Di sanalah saya justru belajar berdiri panjang untuk tarawih, sebab 1 juz habis dibacakan imam sepanjang malam.

Di sanalah saya justru shalat tasbih untuk pertama kalinya di malam ke-27 Ramadhan di salah satu masjid yang letaknya tidak sedekat masijd-masijd yang ada di Aceh.

Di sanalah saya belajar I’tikaf.

Di sanalah saya shalat Jum’at dengan syahdunya selama tiga tahun.

Di sanalah saya memutuskan bahwa “hijrah” itu lebih dari sekedar memutuskan mengenakan pakaian muslim dan menutup aurat dengan baik.

Di sanalah saya belajar bahwa menjadi muslim itu butuh sesuatu bernama konsistensi dan ketahanan. Bahkan jika ada yang mengejekmu dengan hijabmu, kau tetap senyum. Bahkan jika ada yang mempertanyakan agamamu, kau bisa tetap menjawabnya dengan santun. Ada banyak pengalaman terkait hal ini yang bisa dilihat di blog entry saya pada tahun 2007.

Menyesalkah saya mengambil kesempatan itu? Tidak. Tidak sama sekali. Pada faktanya, sekembali dari sanalah saya memutuskan mengikuti jalan tarbiyah dan mencoba membaktikan hidup saya untuk dakwah yang lebih menyeluruh di seluruh lini kehidupan. Hingga kini. Hingga nanti.


Ramadhan 1434 H (2013)
Masih istiqomah di jalan tarbiyah. Masih mencoba menghasilkan tulisan (minimal update status dan twit yang bisa menebar kebaikan). Sedang menjalani kepaniteraan klinik menjadi seorang dokter. Sedang mencoba menjalankan amanah sebagai ketua Forum Lingkar Pena Aceh. Sedang menyelesaikan tulisan untuk #FLPMengguncangRamadhan. Apa lagi yang lebih baik dari ini semua? Allah, terima kasih atas Ramadhan yang kian indah dari tahun ke tahun. Ya Rahman, terima kasih atas teman-teman dan keluarga yang semakin menguatkan dari tahun ke tahun.

Namun dunia sedang banyak prahara. Mesir bergejolak. Suriah terancam kedamaiannya. Palestina masih terbelenggu oleh kesadisan jajahan zionis. Dunia masih belum sejuk seutuhnya. Tapi kita di sini, mencoba menjadi bagian-bagian yang memulai perbaikan. Dari sini. Dari pena yang insya Allah tak akan puasa menoreh kata dan pesan-pesan sepanjang masa. Amin.


Allah, saksikanlah bahwa kami di sini berlatih. Mungkin tidak untuk menembak menggunakan senjata. Mungkin tidak untuk memperuncing bamboo untuk dilempar. Mungkin tidak untuk mengasah pisau untuk menusuk musuh. Tapi untuk menembak kebodohan. Tapi untuk memperuncing insting. Tapi untuk mengasah jiwa dan nurani yang hanya cinta dan membela yang cinta kepada-Nya. Sekali lagi, amin. Dengan ini, kami luncurkan bersama, #FLPMengguncangRamadhan. :)



Rumah Cahaya FLP Aceh, 5 Ramadhan 1434 H

Saturday, July 6, 2013

Biarlah Guncang (Teruntuk Negeri di Atas Awan)

Biarlah guncang
Biarlah rubuh
Asal yang guncang tanah belaka
Asal yang rubuh bukan pena dan mata kita yang berdansa

Biarlah retak
Biarlah menangis
Asal yang retak bukan pegangan tangan teguh kita
Asal yang menangis bukan pertiwi bangsa

Biarlah gemetar
Biarlah berderai
Asal yang gemetar bukan keberanian kita dalam tegap bersama
Asal yang berderai bukan nama negeri di atas peta

Biarlah pergi
Biarlah nyeri
Asal yang pergi bukan kemanusiaan kita
Asal nyeri hanya raga, bukan jiwa

Untukmu
Yang meninggikan negeri hingga ke atas awan tanpa tepi
Yang menyelimuti kedai-kedai dengan butiran cinta dan kopi
Yang memelihara laut di tengah danau yang tawar nan sunyi
Kami  didongkan puisi ini, dan sekantung nurani yang kami tisik dengan persaudaraan abadi.

Teruntuk Negeri di Atas Awan 
(Bumi Gayo dan Bener Meriah yang terkena musibah gempa 2 Juli 2013),
Lampriek, 3 Juli 2013

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Assalamu'alaikum,
Salam FLP, semua!
Semoga setiap mata yang membaca maklumat ini senantiasa dalam kebahagiaan dan kesejahteraan. Amin.

Dalam rangka mencoba memberikan bantuan bagi saudara-saudari kita di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang tertimpa musibah gempa Selasa (2 Juli 2013) lalu, Forum Lingkar Pena Aceh (FLPAceh) membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk memberikan sumbangan berupa:

1. Buku tulis
2. Buku bacaan
3. ATK
4. Mainan anak-anak
5. Peralatan Shalat

Bagi sesiapa yang tidak bisa memberikan bantuan berupa barang langsung, dibuka kesempatan untuk donasi, dengan catatan bahwa donasi akan digunakan untuk membeli hal-hal di atas. Donasi ditujukan ke nomor rekening 0160497371 a.n. Nuril Annissa, BNI cabang Darussalam. Sumbangan diterima hingga Ahad, 14 Juli 2013.

Contact Person:
Aula Andhika Fikrullah Al-balad (085277499721)
Hasdiani Putri (082160735499)
Mauliana D'orcyd (085360094613)

Turut mengajak sesiapapun dari bagian manapun dari dunia ini untuk turut berkontribusi. Sebarkan jika berkenan dan terima kasih. :)