Sunday, July 14, 2013

Kronologi Bernama Ramadhan (#FLPMengguncangRamadhan)

Tiap kali Ramadhan datang, saya selalu menemukan beberapa hal yang membuat hidup saya berbeda. Katakanlah ini lebay atau hiperbola khas seseorang yang gemar memuisikan segala sesuatu, tapi saya sungguh-sungguh. Jika harus saya paparkan satu persatu, tidak akan muat dalam satu blog entry saja; terlalu banyak dan kebanyakan adalah hal-hal yang cukup disimpan sebagai memori manis milik pribadi.

Namun demikian, ada beberapa Ramadhan yang benar-benar menjadi titik perubahan bagi saya. Secara kepribadian. Secara kepenulisan. Secara keIslaman. Dan itu akan selamanya menjadi harta karun berharga dalam ingatan saya yang sebagiannya akan saya paparkan di sini.


Ramadhan 1426 H (2004)
Tak akan saya lupakan seumur hidup masa-masa di mana saya menghabiskan sebulan penuh di lingkungan Daarut Tauhid di Bandung. Saat itu saya sekeluarga diboyong oleh ayah saya untuk menemani masa studi S3 beliau di Universitas Pendidikan Indonesia di kota yang sama. Kebetulan kami semua sedang libur sekolahnya, sehingga dengan jalur darat, kami pun akhirnya tiba dan bermukim sebulan di kosan ayah kami yang pas-pasan di Geger Kalong, Bandung. Alhamdulillah, sebab dulu ayah saya pernah S2 di universitas yang sama dan menyewa kosan yang sama sehingga kami kenal dekat dengan pemilik kosan, kami dipinjamkan satu kamar yang sedang kosong sebab ditinggal pergi oleh penyewanya selama Ramadhan.

Dan di sanalah saya berkenalan dengan yang namanya Daarut Tauhid. Di sanalah saya merasakan masa-masa di mana rasanya hidup bisa begitu terasa tenang dan tidak menyusahkan hati sama sekali.

Di sana saya banyak terkesima; terkesima oleh susunan sandal yang rapi dan runut teratur setiap kali saya hendak pulang dari masjid. Terkesima akan kerapian dan kebersihan jalan-jalan di sekitar Daarut Tauhid tersebut, semakin terkesima bila dibandingkan dengan jalanan di sekitar kampus Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh yang ramai oleh ternak dan kotorannya. Dan yang paling membuat terkesima adalah sebab saya bisa menemukan stasiun radio yang memutar nasyid sepanjang hari; Manajemen Qolbu FM nama stasiun radionya.

Di sanalah saya paham makna “Islam itu untuk diterapkan, bukan untuk diteriakkan”. Dan sejak itulah saya tekad untuk menjadi muslim yang lebih baik itu muncul dengan kuat dan membuat sesak berhari-hari jika dipikirkan. Hasilnya? Sejak tahun 2004 itu, saya mulai mengenakan jilbab tanpa melepasnya lagi jika ada non mahram di sekitar saya, bahkan jika itu adanya di dalam rumah saya sendiri.


Ramadhan 1427-1429 H (2005-2007)
Ramadhan di negeri orang! Bukan cuma di provinsi yang berbeda kali ini, tapi di negara yang sama sekali asing! Tahun 2004 akhir terjadi musibah tsunami, dunia pasti masih ingat. Namun eksesnya adalah banyak beasiswa yang diberikan sebagai bagian dari bantuan pendidikan pun jumlahnya ratusan. Termasuk ke dalam yang merasakan berkahnya adalah saya sendiri, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan SMA ke Australian International Academy of Education (dulu sekolah ini bernama King Khalid Islamic College of Victoria) secara cuma-cuma.

Luar biasa Ramadhan di kampung (atau saya harusnya sebut…kampung-politan?) orang begitu. Tak ada seurunee yang menandai waktunya berbuka. Tak ada orang jualan segala macam es dan risol-risolan di pinggir jalan untuk berbuka. Tak ada keriuhan di jalan raya orang beramai-ramai jalan menuju ke masjid untuk tarawih. Sunyi.

Belum lagi di tahun 2005, Ramadhan masih jatuh di musim panas di sana. Saya ingat, di 4 hari terakhir Ramadhan, imsak jatuh pada pukul 5’an pagi namun maghrib baru tiba pukul 8.30 malam! Bayangkan saja anak Lamkeuneung yang biasa puasa hanya 12 jam’an kini harus hingga 14-15 jam! Benar-benar suatu ujian bagi keimanan. Alhamdulillah, saya ingat waktu itu ibu angkat saya yang begitu relijius (beliau adalah seorang muslimah yang sangat taat) begitu menyemangati hingga saya menjadi semakin merasa Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Semakin sempurna dalam pandangan saya sebab bisa mengajarkan saya bagaimana menjadi seseorang yang lebih bisa memaknai arti lapar, haus dan menahan hawa nafsu dalam makna umum lainnya.

Di sanalah saya justru belajar berdiri panjang untuk tarawih, sebab 1 juz habis dibacakan imam sepanjang malam.

Di sanalah saya justru shalat tasbih untuk pertama kalinya di malam ke-27 Ramadhan di salah satu masjid yang letaknya tidak sedekat masijd-masijd yang ada di Aceh.

Di sanalah saya belajar I’tikaf.

Di sanalah saya shalat Jum’at dengan syahdunya selama tiga tahun.

Di sanalah saya memutuskan bahwa “hijrah” itu lebih dari sekedar memutuskan mengenakan pakaian muslim dan menutup aurat dengan baik.

Di sanalah saya belajar bahwa menjadi muslim itu butuh sesuatu bernama konsistensi dan ketahanan. Bahkan jika ada yang mengejekmu dengan hijabmu, kau tetap senyum. Bahkan jika ada yang mempertanyakan agamamu, kau bisa tetap menjawabnya dengan santun. Ada banyak pengalaman terkait hal ini yang bisa dilihat di blog entry saya pada tahun 2007.

Menyesalkah saya mengambil kesempatan itu? Tidak. Tidak sama sekali. Pada faktanya, sekembali dari sanalah saya memutuskan mengikuti jalan tarbiyah dan mencoba membaktikan hidup saya untuk dakwah yang lebih menyeluruh di seluruh lini kehidupan. Hingga kini. Hingga nanti.


Ramadhan 1434 H (2013)
Masih istiqomah di jalan tarbiyah. Masih mencoba menghasilkan tulisan (minimal update status dan twit yang bisa menebar kebaikan). Sedang menjalani kepaniteraan klinik menjadi seorang dokter. Sedang mencoba menjalankan amanah sebagai ketua Forum Lingkar Pena Aceh. Sedang menyelesaikan tulisan untuk #FLPMengguncangRamadhan. Apa lagi yang lebih baik dari ini semua? Allah, terima kasih atas Ramadhan yang kian indah dari tahun ke tahun. Ya Rahman, terima kasih atas teman-teman dan keluarga yang semakin menguatkan dari tahun ke tahun.

Namun dunia sedang banyak prahara. Mesir bergejolak. Suriah terancam kedamaiannya. Palestina masih terbelenggu oleh kesadisan jajahan zionis. Dunia masih belum sejuk seutuhnya. Tapi kita di sini, mencoba menjadi bagian-bagian yang memulai perbaikan. Dari sini. Dari pena yang insya Allah tak akan puasa menoreh kata dan pesan-pesan sepanjang masa. Amin.


Allah, saksikanlah bahwa kami di sini berlatih. Mungkin tidak untuk menembak menggunakan senjata. Mungkin tidak untuk memperuncing bamboo untuk dilempar. Mungkin tidak untuk mengasah pisau untuk menusuk musuh. Tapi untuk menembak kebodohan. Tapi untuk memperuncing insting. Tapi untuk mengasah jiwa dan nurani yang hanya cinta dan membela yang cinta kepada-Nya. Sekali lagi, amin. Dengan ini, kami luncurkan bersama, #FLPMengguncangRamadhan. :)



Rumah Cahaya FLP Aceh, 5 Ramadhan 1434 H

3 comments:

  1. Tulisannya indah seperti air mengalir dan uenak... (y)

    ReplyDelete
  2. Irinyaaaa bisa ikutan buka bareng, sayangnya gak bisa ikut. hiks

    ReplyDelete
  3. Wah, gak nyangka kakak bisa nulis sampai sepanjang ini kemarin. Good!

    ReplyDelete