Sunday, July 28, 2013

Tentang Seorang Srikandi



Begitulah nasib seorang srikandi. Ia tetap tegak dengan busur dan anak panahnya, awas menatap sekitar. 
Dituding selalu bermuka masam, ia diam.
Dituding mendiamkan sapaan, ia bungkam.
Dianggap bukan sahabat puteri keraton yang baik, ia tak dendam.
Diganggu sepoi warna jingga senja, atau jatuh untuk kemudian sakit oleh satu kata yang maharaja bernama cinta, matanya tetap elang.

Sebab mimpinya jauh lebih besar.
Dan tak perlu dianggap ramah dan terbuka sekarang, tak apa dianggap jahat bahkan jauh dari kesan lembutnya seorang wanita.

Biarlah bianglala, gugusan karang dan kelamnya langit malam yang tahu, bahwa ia seorang biduanita dalam penyamaran.

No comments:

Post a Comment