Friday, November 29, 2013

Kepada; Seorang Penyair


Gurindam adalah gurindam. Ianya akan tetap berupa larik-larik yang tak akan pernah padam. Dan kau, kutahu, akan terus berdendang tentang gurindam. Menantang malam untuk lebih lama bertandang agar kau lebih lama, oleh cahaya bulan, terendam.

Dan aku, adalah sebatang perdu yang sering kaupuisikan. Ya, hanya perdu, tapi kau selalu menganggapku sebagai kekasihmu yang syahdu. kaubayangkan aku adalah seonggok makhluk yang menitip cinta padamu. Menemani langkahmu sesetia langit pada warna biru. Gurindam itu untukku, begitu sering kaumelagu.



Wahai penyair nan malang, kau harusnya lebih bisa membersamai Minggu. Merendam kaki dalam danau atau sungai berbatu-batu. Rasakan manisnya berjalan dalam tarian debu. Menapak-napaki langkah pada jembatan tanpa jemu. Memandangi langit dan menceritakannya setianya ia pada biru. Begitu, dan kau akan tidak lagi menganggap aku sebagai kekasihmu.

Namun kiranya, kesedihan berupa marijuana bagimu. Kau begitu merasakan manisnya menderita hingga kau tak pernah mau mencoba memberi barang sebiji perubahan apapun bagi dirimu. Kaubiarkan lukamu disembuhkan oleh luka yang lain. Kau senang, bahwa kau leluasa mengungkap cinta yang tak akan pernah bisa kubalas dengan kata. Candu. Begitu candu sehingga begitu kaujalani dari minggu ke minggu.

Aku bingung denganmu, penyair. Bingung yang menyerupa kusutnya kumpulan benang yang diaduk oleh binatang. Mengapa begitu sulit untukmu menikmati kenyataan sementara aku, makhluk yang tak punya kesempatan berkelana ini, lebih dari rela jika harus menukar hidupku dengan posisimu. Namun tetap saja, kau selayaknya yang tuli dan yang bisu. Tuli sebab tak bisa hargai kicauan pagi burung kenari. Bisu, sebab hanya pada aku dan batang-batang perdu lainnya kau berani bicara, sementara pada manusia lain kau diam diam tanpa sedikitpun gugu.

Wahai penyair, tak kah kau ingin seperti sang pengembara? Yang senantiasa bernyanyi tentang cinta di alun-alun kota? Yang senantiasa mendendang bebas bersama jutaan Sahara?

Wahai penyair, atau tak kah kau ingin seperti sang tabib yang cendekia? Yang senantiasa bercakap dengan sesiapa? Yang senantiasa berbagi penawar akan duka dan luka?

Wahai penyair, tak kah kau ingin penamu bercabang pahala?

No comments:

Post a Comment