Sunday, November 24, 2013

Saleum = Lagu Patah Hati?



Saleum. Judul lagu yang megadaptasi kata "salam" dalam Bahasa Aceh ini entah kenapa, terlanjur berkonotasi dengan kesedihan. Mungkin karena dalam film Ketika Cinta Bertasbih I, lagu ini dinyanyikan oleh tokoh Fadhil di acara pernikahan seorang gadis yang sebenarnya dicintainya (dan sebenarnya sang gadis pun sebenarnya mencintainya). Untuk cerita lengkanya silakan Google atau baca sendiri ya.

Padahal lagu ini tentang menyambut tamu. Dalam kebudayaan Aceh, ada istilah peumulia jamee (memuliakan tamu) termasuk ke dalamnya ritual menawarkan sirih, salah satu ajaran Islam yang sangat dianggap serius oleh orang Aceh. Perhatikan saja lirik dan terjemahannya berikut ini. Tentu saja maknanya tidak bisa persis sama dengan makna sastrawi Aceh yang sebenarnya tidak mudah untuk diterjemahkan. Baiklah, ini dia:


Saleum (Salam)
Salamalaikom warahmatullah
jaroe dua blah atueh jeumala
jaroe loen siploeh di ateuh ulee
meuah loen lake bak kaom dum na
jaroe loen siploeh di ateuh uboen
salamalaikom loen tegor sapa
Salamalaikom warahmatullah
kedua belah tangan diangkat dengan penuh hormat dan kemuliaan
kesepuluh jari di atas kepala
maaf kupinta pada seluruh (anggota) kaum
kesepuluh jariku di atas ubun-ubun
salamalaikom kutegur sapa

jaroe loen siploeh beot sikureung
syarat uloen keun tanda mulia
jaroe sikureung loen beut lapan
genanto timphan ngoen asoe kaya
jaroe loen lapan loen beuot tujoeh
ranub lam bungkoeh loen joek keu gata
Jariku yang sepuluh ini kuangkat sembilannya
bukti kemuliaan dariku
jariku yang sembilan kuangkat delapan
ganti dari timphan dan srikaya (yang dihidangkan)
jariku yang delapan kuangkat tujuh
sirih kubungkus kuberikan padamu

Jadi, lagu ini bukan tentang orang patah hati ya teman-teman. Ini lagu tentang bagaimana memuliakan tamu dengan cara kami, orang Aceh. :)

No comments:

Post a Comment