Tuesday, September 30, 2014

Too Many What Ifs

It was never easy. To fall. To let go. To forget. To remember. In a short expression, I'm not a type of person who can move on really well. I love to get stuck in a situation for, sometimes, years! Don't even ask how I endured it. It always took so much courage and bravery, yes. But more importantly, it took so much of energy. I got tired so easily. For friends of my age, I am no longer a fun one to hang out with; I think way too old-ish.

But out of nowhere, comes this commitment I'm about to make in less than 48 hours. To someone I never knew before. To him whom I wasn't even befriended on Facebook with. To a person lives not really far from my home but not once I had ever met and known him in any given other occasions but this one session of ta'aruf!

Weird. Seriously, this is.

It was never easy to fall. It took so much energy to trust. And now, I will get into something that will require me to fall. To trust. To...love.

And it freaks me out a little.

What if I can't make it to the end; the hereafter or say until all hairs are grey in nature?
What if I am not what he thought or expected me to be? Would he get disappointed and divorce me just like that?
What if, what if, what if.

Too many what ifs, and I suddenly realized.

It is not me asking questions, it is the shaythan whispering me to call off the marriage.

And that there is one thing came to my mind within seconds afterwards; maybe, it was never that hard to fall in love. Maybe, it was not the best time yet. Maybe, I wasn't in a best situation to build up a committed relationship in the name of God. Maybe I can fall. Maybe I am able to trust.

It is just about time.

And all of a sudden, I feel so light. I'm willing to step in. In the name of Him, The Most Gracious The Most Merciful. I'm going to marry this man and in the name of Allah only, nothing else.


Wednesday, September 10, 2014

Perempuan; Sang Pewaris Kecerdasan dan Ibu Peradaban yang Tak (Cuma) Tinggal di Rumah


                            Photo: Bukan saya yang ngomong lho..


Belakangan, gambar di atas banyak beredar di media sosial. Rata-rata membagikannya dengan suatu hipotesis berupa "Istri yang cerdas = anak yang cerdas". Jujur, saya merasa terusik dengan gambar di atas. Terusik pula dengan hipotesis popular ini; popular, sebab sumber referensinya tidak begitu mudah kita susuri keberadaannya (saya sudah coba Google tapi nemunya blog semua, kecuali beberapa artikel populer, tidak ada bahan berupa riset dsb yang akuntabel). Ini, saya rasa, hanya potongan dari entah kuliah, nasihat dosen, dsb. Saya juga sering mengkuotasi kata-kata dosen untuk pegangan saya sendiri meski tak banyak saya publish ke dunia maya. Sama sekali tidak salah, bagi mereka yang tetap paham konteks yang lebih besarnya, mahasiswa kedokteran/biologi yang paham tentang genetika misalnya. Bagi yang tidak? Lain lagi perkara.

Lanjut lagi, kenapa saya terusik? Bukankah seharusnya saya merasa bangga, bahwa kaum saya ini seperti baru disadarkan akan suatu privilege yang bisa menentukan nasib masa depan dunia. Berarti, tinggal mencerdaskan semua perempuan, biarkan mereka menikah dan pastikan mereka punya anak yang banyak untuk meningkatkan populasi manusia cerdas di muka bumi ini.

Tapi pada kenyataannya, saya tidak begitu bangga dengan fakta popular ini. Justru saya khawatir bahwa sebagai paradoksnya, kaum lelaki, malah dimarginalkan fungsinya dalam membangun peradaban yang lebih baik di masa depan. Ah, tapi sebelum saya bahas lebih panjang lebar lagi, ada satu gambar lagi yang juga meresahkan saya di media sosial. Kaitannya dengan gambar di atas juga ada. Inilah dia. 

                                   Photo

Mungkin melihat gambar di atas, kita langsung teringat Kyoiku Mama ya. Kyoiku Mama adalah istilah Jepang untuk seorang ibu yang tidak akan pernah berhenti mendorong anak-anaknya untuk belajar sekaligus menciptakan keseimbangan pendidikan yang baik dalam hal fisik, emosional, maupun sosial. Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 Maret 2004 mengungkapkan bahwa 61% Ibu muda Jepang meninggalkan pekerjaannya diluar rumah setelah melahirkan anak pertama. Mereka ini pun dikenal memiliki level pendidikan yang tidak rendah. Jadi, kira-kira pesan dalam gambar di atas mirip dengan Kyoiku Mama di Jepang. Bahwa sedang ngetrend perempuan karir meninggalkan karirnya demi mendidik anak-anaknya. Untuk lebih detil lagi, silakan Google saja ya. Saya sendiri menemukan statistik di atas dalam sebuah artikel terkait di Kompasiana. Izinkan saya membahas satu per satu.


Ibu Cerdas = Anak Cerdas?

Apakah hanya perempuan yang harus cerdas agar bisa menghasilkan anak yang cerdas? Lalu sang ayah, kontribusinya apa terhadap kecerdasan itu? Jadi yang harus sekolah tinggi-tinggi itu cuma perempuan? You see, it forms a partial understanding.

Perhatikan potongan paragraf yang saya ambil dari artikel terkait yang dimuat oleh The Independent (UK) tentang warisan kecerdasan dari genetika ibunya berikut ini:

Professor Gillian Turner, the author of the study, said: "If the gene is the one that increases intelligence then its full effect will be seen in men, while in women the benefit is less pronounced. This explains why some men are extraordinarily intelligent."

Terjemahan bebasnya kira-kira begini: 

Professor Gillian Turner; peneliti dalam studi ini, mengatakan: "Jika gen inilah (maksudnya  gen yang terdapat di kromosom X, silakan baca artikel penuhnya untuk lebih jelas) yang meningkatkan kecerdasan, maka efek utamanya akan terlihat pada lelaki, sementara pada perempuan, efek ini tidak akan terlalu muncul. Ini menjelaskan mengapa beberapa lelaki bisa menjadi sangat cerdas."


Kita semua mungkin tahu, bahwa kromosom yang menentukan jenis kelamin adalah kromosom X dan Y. Laki-laki berkromosom XY, sedangkan perempuan berkromosom XX. Dan ternyata teman-teman, kromosom X memang bersifat lebih mendominasi dibanding kromosom Y. Sementara kromosom X pada seorang laki-laki hanya akan diwariskan oleh ibunya. Maka wajar, jika ibu yang cerdas akan mewariskan genetika kecerdasan itu pada anak laki-lakinya. Namun pada perempuan, justru sebaliknya terjadi. Jika kromosom X bertemu dengan kromosom X juga, maka tidak akan ada yang lebih mendominasi daripada yang lainnya. Maka hipotesis "ibu yang cerdas mewariskan genetika kecerdesan pada anak" akan menjadi meragukan pada anak perempuan.

Jadi, bersedihkah kita kaum perempuan, yang secara teoritis tidak akan cerdas dalam skala "extraordinary" meski ibu kita sangat cerdas? Tentu saja tidak. Di sinilah seharusnya kita semua melihat gambar pertama di atas dengan kebijaksanaan. Bahwa genetika bukan satu-satunya faktor yang menentukan kecerdasan seseorang. Saat SMA dulu, saya ingat pernah belajar tentang suatu debat di kalangan pendidik, psikolog, psikiater, dan profesi terkait mengenai nature vs nurture; yang mana yang sebenarnya paling membentuk kepribadian dan kecerdasan kita. Debat tentang nature atau faktor biologis (genetika, bawaan sejak lahir) dan nurture atau faktor behavioural (cara dibesarkan, dididik, diajarkan). Tentu saja, debatnya panjang. Pertanyaannya, kenapa debatnya bisa sampai panjang? Sebab memang ternyata, ada saja penelitian dan penemuan bahwa keduanya memiliki efek yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pembentukan kecerdasan kita yang sekarang.

Pernah dengar tentang laki-laki yang sejak kecil dibesarkan seekor anjing hutan, sehingga sampai saat ditemukan ketika sudah dewasa, ia tetap bersikap seperti layaknya seekor anjing; berjalan dengan kaki dan tangan, menggonggong, tidak bisa bicara seperti manusia, makan bangkai, dsb? Berita tentang kasus-kasus seperti ini silakan Google sendiri. Seingat saya hal ini sudah beberapa kali diangkat oleh acara TV seperti On The Spot, dsb. Apa yang salah, sementara secara genetika ia jelas-jelas manusia bukan? Dalam contoh ini, nurture membuktikan bahwa ia tetap punya posisi yang sangat menentukan. Tak peduli bagaimana manusianya kita, jika dibesarkan oleh hewan, kita pun akan tumbuh menyerupai tingkah-laku hewan tersebut.

Saya pribadi termasuk penganut nature dan nurture adalah dua hal yang punya peran yang sama besar dalam menentukan kecerdasan seseorang. Menjelaskan alasan ilmiahnya tidak mungkin saya lakukan di sini, tapi ini merupakan kesimpulan setelah belajar Psikologi 3 tahun saat SMA dulu di Melbourne (bahkan Extended Essay saya saja di bidang Psikologi, saking saya begitu tertariknya ke bidang studi ini) dan buku bacaan-bacaan lain terkait Psikologi Perkembangan hingga sekarang. Maka mengatakan kecerdasan adalah warisan? Buat saya itu partial. Sangat "setengah" dari memahami proses munculnya kecerdasan pada anak.

Saya ingin berbagi suatu isi ceramah subuh terakhir di Masjid Baitul Makmur Lampriet, Banda Aceh (atau lebih sering dikenal dengan "Masjid Oman") dalam Ramadan 1435 H lalu di sini. Saya, jujur sangat menikmatinya, sampai-sampai saya sama sekali saya tidak mengantuk mendengarkan ceramah tersebut padahal semalaman i'tikaf di masjid yang sama. Yang menyampaikan ceramahnya? Ustadz Yasin. Mungkin kalau kalian yang baca ini tinggal di Banda Aceh dan sekitarnya kenal dengan ustadz yang satu ini. Ustadz yang juga sehari-harinya adalah seorang dosen di sebuah universitas islam negeri di Banda Aceh ini memang terkenal cerdas dan enak dalam penyampaian materinya. Beliau mengatakan, dan saya mencoba mengutipnya secara parafrasa seingat saya:

"Siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak? Kebanyakan kita mungkin akan mengatakan ibunya. Dan begitulah setiap hari kita akan menyalahkan sang ibu, jika anaknya berbuat salah. Atau sang ayah akan marah-marah pada sang ibu, tatkala seorang anak tak bisa cerdas sesuai harapan. Pertanyaannya sekali lagi, sebenarnya siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan sang anak?"

Saya ingat saat itu, saya yang hampir pasang ancang-ancang menopang kepala dengan tangan jika-jika tertidur sebab sangat mengantuk, jadi segar seketika. Saya penasaran.

"Coba buka Alquran, tunjukkan pada saya, mana dari satu ayat saja yang menunjukkan seorang ibu yang sedang mendidik anaknya? Ada? Tidak ada! Sebab ayat-ayat yang ada di Alquran tentang ibu adalah cuma tentang mengandung, menyusui, menyapih susuan, beratnya membesarkan sang anak. Interaksi ibu dan anak yang direkam dalam Alquran adalah tentang hubungan secara emosional seperti kasih sayang, bukan secara kognitif. Tapi di mana bisa kita lihat ada proses pendidikan secara kognitif ini? Mari kita sama-sama buka kembali surat Luqman. Apa isinya? Ya, isinya adalah percakapan Luqman dengan anaknya. Lalu coba kita lihat lagi cerita Nabi Ibrahim dengan Nabi Isma'il dalam banyak ayat di Alquran saat ia akan hendak disembelih, juga antara ayah dan anak. Kemudian coba kita lihat lagi cerita Nabi Nuh, saat hendak naik ke kapal, siapa yang memanggil anaknya untuk turut naik ke atas kapal? Ayahnya. Maka kesimpulannya apa? Wahai kaum ayah, jangan merasa itu tugas kaum ibu untuk mendidik anak-anak. Justru Alquran mengisyaratkan bahwa ayahlah yang paling besar peranannya dalam mendidik anak-anaknya. Lihat bagaimana Luqman mendidik anak-anaknya. Memanggil dengan panggilan sayang (Ya Bunayya), memberikan nasihat-nasihat yang prinsipil dalam agama kita; tentang aqidah, tentang akhlaq, tentang adab pada orang tua. Bukan seperti beberapa kita sekarang, nasihatnya malah tentang harta, "Kalau bapak meninggal, rumah itu begini ya, mobil itu begitu ya"."

Deg! Sirna segala kantuk! Saya juga baru sadar, rupanya! Tak perlu saya jelaskan lagi, kan, tentang genetika ibu cerdas sebagai faktor nature itu ternyata "tak kalah penting" dibanding dengan proses nurture yang rupanya, dalam Islam, justru harus lebih dikuasai dengan baik oleh sang ayah! Ini, belum banyak yang tahu juga, saya rasa. Jadi, kalau mau anak-anak yang cerdas, wahai kalian para perempuan yang merasa belum cerdas-cerdas amat, cerdaskan diri dulu dong. Baca yang banyak. Belajar, sekolah tinggi-tinggi. Kan ceritanya mau mewariskan genetika kecerdasan ke anak-anak toh? Ya kali aja genetikanya bisa altered sebab kita lebih banyak belajar sehingga gen yang altered oleh proses belajar kita itu yang akan diwariskan.

Dan yang paling penting, setelah mencerdaskan diri, jangan lupa pilih calon ayahnya anak-anak kita yang kira-kira punya modal untuk mendidik anak secara kognitif. Standar paling tingginya ya seperti Luqman (semoga Allah memberkahinya). Atau minimal, mendekati atau mau belajar ke arah sana. Baru deh, bisa berharap, anak-anak kita di masa depan nanti cerdas-cerdas. Clear?



Ibu Bekerja

Adalah suatu janji Allah bahwa untuk tiap kebaikan yang kita lakukan, ganjarannya adalah lebih baik dari apa yang dikerjakan, baik lelaki maupun perempuan.

"Barangsiapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya Kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik , dan Kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan."
(An Nahl , 16 : 97  , An Nisaa’ , 4 : 124)

Maka satu hal yang harus kita pahami, Islam datang tidak hanya datang untuk mengurusi hak dan kewajiban perempuan, tetapi juga lelaki. Menjadikan perempuan sebagai topik bahasan itu baik, terutama dalam hal rumah tangga dan mendidik anak. Wajar, naluri seorang perempuan, dengan adanya satu set sistem hormon yang dikaruniai Tuhan bernama Estrogen, Progesteron dan Oksitosin, adalah jauh lebih nurturing dibanding lelaki yang tidak punya hormon ini. Saya juga sedang belajar dari berbagai sumber tentang hal ini meskipun saya belum berkeluarga. Sebab pengetahuan adalah sesuatu yang diendapkan, bukan sekedar dibaca malam ini dan diuji esok di ruang ujian.

Tapi saya selalu melihat proses belajar sebagai seorang ibu sebagai suatu kesenangan dan keinginan untuk memperkaya khazanah dan wawasan, bukan semata-mata karena "kewajiban". Karena sekian lama terlibat banyak diskusi dan prahara di macam-macam organisasi, saya belajar bahwa setiap orang bisa saja mengemukakan suatu pendapat yang benar, tapi tidak semua bisa bijaksana dalam menyampaikannya. Termasuk dalam hal "peran ibu" di atas yang beredar di media sosial.

Entah, tak kah kita merasa terusik? Bagaimana perasaan Ibu Walikota Banda Aceh, Walikota Gaza Barat, Ibu Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Ibu-ibu Bidan di Puskesmas, Ibu-ibu Guru di sekolah-sekolah, Ibu-ibu Dokter PTT di berbagai daerah terpencil, Ibu-ibu Perawat yang berjaga di IGD Ibu-ibu pekerja sosial yang sibuk menangani kasus KDRT, dsb profesi yang mengharuskan mereka turun ke masyarakat, kadang, dari pagi hingga malam, bahkan ada yang sampai pagi lagi?

Maksud saya, apa lantas karena mereka bekerja di luar sana, mereka langsung masuk kategori "perempuan yang tidak memenuhi fitrahnya dalam mendidik anak-anaknya dengan baik"? Dan yang paling bikin saya terusik, bahwa kadang-kadang ada yang nyeletuk, bahwa seolah-olah alasan perempuan bekerja adalah karena faktor finansial. Bahwa seorang istri bekerja adalah karena ia ingin membantu penghasilan suaminya. Bahwa jika alasannya itu, biarlah sang suami saja yang bekerja lebih ekstra, karena memang itu kewajibannya. Jika alasan seorang istri bekerja "sedangkal" dan "cuma tentang uang dan materi" begitu, saya juga sepakat itu tidak pantas sama sekali!

Sebab seharusnya kita melihat perkara ini dengan pandangan yang lebih luas. Kalau perlu, posisikan diri kita seperti sedang duduk di bulan; terlihat bumi dengan seutuhnya. Secara logika saja, perbandingan populasi laki-laki dan perempuan di mana-mana sering adalah 1 : 3. Jika laki-laki saja yang kita andalkan untuk menjalankan pemerintahan, perdagangan, sosial budaya, sastra bahasa, kesehatan, pendidikan formal, vokasi, dan lain-lainnya yang penting agar kehidupan bermasyarakat tetap terjaga tatanannya (bahkan jika perlu, agar bisa Madani seperti tuntunan Islam), maka sudah pasti mereka tidak akan sanggup. Secara angka. Belum lagi secara kualitas dan kompetensi. Apakah jumlah lelaki yang terbatas itu semuanya memang memiliki kompetensi dan kualitas yang memadai untuk menjalankan sistem tatanan masyarakat (baik lokal maupun global) yang diharapkan? Atau dari jumlah yang sudah sedikit itu, masih banyak juga yang tidak (mau) sekolah, tidak (mau) bekerja, dsb yang menurunkan kompetensi dan kualitas mereka?

Izinkan saya mengutip status Facebook ketua umum Forum Lingkar Pena, Sinta Yudisia, pada tanggal 1 September 2014 yang lalu:

Kenapa Harus Ummi?

"Aku berterima kasih pada Ibu, karena telah mendidik lelaki, dan mengizinkan aku mendampingi seseorang seperti Hasan al Banna," demikianlah kurang lebih Lathifah as Shuli menghibur mertuanya, di hari bumi memeluk jasad terkoyak tubuh bersarang peluru-peluru.

Aku ingin mengucapkan itu juga pada abah ummi -mertua- yg telah menjadi bagian hidupku, menghantarkan seorang lelaki , Qowwam dakwahku.

Dihari tawaran ke Palestina itu datang padaku, pertanyaan yg muncul adalah, "kenapa harus Ummi? Banyak lelaki, wartawan, sudah kesana. Ummi bisa menuliskannya."

Kukatakan, mata dan jiwa perempuan akan berbeda dari sudut pandang lelaki. Aku ingin melihat, merasakan, meresapi, bagaimana para ibu menjadikan Quran sbg mata panah, mata kepala, mata pena bagi anak-anaknya. Dan, tak pernah kusesali perjalanan tandus menembus gurun Sinai. Melintasi el Arish. Bersabar di Rafah. Kuingat pesan suamiku.

"Jika itu perjalanan keimanan, maka berangkatlah."


Sejak saya baca status di atas, saya tambah doa pada Allah untuk seseorang yang suatu hari nanti akan menjadi imam saya dalm rumah tangga. Bahwa ia juga menjadikan landasan pemberian izin jika hendak pergi kemanapun dengan ruh yang sama; jika itu perjalanan keimanan, maka berangkatlah. Dan lihatlah alasan kenapa akhirnya Mbak Sinta berangkat ke Gaza; mata dan jiwa perempuan akan berbeda dari sudut pandang lelaki! Hal inilah yang sekiranya harus kita renungkan bersama-sama. Bahwa memang ada fungsi di tatanan masyarakat yang lebih baik dijalankan oleh seorang perempuan, karena sudut pandang yang tak bisa dipungkiri, akan berbeda! Tak heran, lebih banyak kita temui perawat perempuan daripada lelaki, sebab perempuan lebih punya naluri yang telaten dalam merawat. Tak heran pula, lebih banyak guru PAUD dan TK yang perempuan, karena perempuan lebih tahan terhadap tantrum dan teriakan anak-anak. Dan masih banyak profesi lain yang kadang-kadang, memang harus ditempati oleh perempuan sebab yang lelaki tidak/belum ada yang memenuhi kompetensi tersebut.

Lantas, jika saya bekerja, atau sekolah jauh-jauh, anak saya bagaimana? Buat apa saya sekolah tinggi-tinggi, tapi anak saya dijaga oleh seseorang yang bahkan tidak lulus SMA di rumah; dididik oleh seseorang yang tidak sekapasitas saya?

Buat yang bertanya seperti di atas, mari, kita bijaksanai.

Kalau memang profesimu memberi kontribusi kepada ummat dan bangsa, lanjutkan! Sekolah tinggi-tinggi hingga ke luar negeri, jalankan! Apapun itu untuk membenahi ummat dan bangsa ini, laksanakan! DENGAN CATATAN, bahwa anda tidak mengontradiksikannya dengan peran anda sebagai istri dan ibu!

"Jadi ibu rumah tangga itu kewajiban, bukan cita-cita. Cari cita-cita lain.", begitu kata seorang mentor spiritual sekaligus dosen saya di FK Unsyiah, dr. Rosaria Indah, M.Sc. Jelas, beliau mengajarkan untuk tidak meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga, namun juga jangan sampai tidak memberi kontribusi bagi bangkitnya peradaban dalam makna yang lebih luas.

Kalau yang kita khawatirkan adalah anak-anak kita, tak kah kita khawatir jika guru-guru TK, SD, SMP dan SMA mereka nanti habis semua atau tinggal sedikit (yang laki-laki saja); sebab semua memutuskan berhenti dan menjaga anaknya masing-masing di rumah saja?

Kalau yang kita khawatirkan adalah anak-anak kita, tak kah kita khawatir tentang anak-anak yang tak punya ibu seperhatian kita, sebab keluarganya terlibat kasus narkoba, perceraian, dan KDRT? Mereka yang harapannya tinggal pada ibu-ibu yang bekerja di Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, harus dibiarkan terlantar sebab ibu-ibu itu pun pulang ke rumah dan cuma menjaga anak-anaknya masing-masing saja?

Lalu jangan juga protes, jika semua dokter kandungan tinggal yang laki-laki, sebab semua dokter yang perempuan juga sudah di rumah, menjaga kesehatan anak-anaknya saja.

Saya rasa pendapat saya sudah bisa anda rasakan maksudnya bagaimana, bukan?

Jangan pernah membuat seolah-olah bekerja (demi ummat dan bangsa terutama) itu tidak bisa sejalan dengan mendidik anak-anak dengan baik. Bukankah kita sepakat, kualitas cinta itu lebih penting daripada kuantitas? Betapa banyak, maaf, ibu-ibu yang tinggal di rumah sepanjang hari namun anak-anaknya tetap saja tak mengalami perubahan apa-apa? Sementara sebagai contoh, dosen saya yang saya kutip ucapannya di atas, meski sibuk sebagai dosen dan dokter, anak-anaknya tetap cerdas, berani tampil ke depan, pintar baca puisi, menghafal Alquran secara rutin, dan beberapa prestasi lainnya. Padahal ibunya tidak "tinggal di rumah sepanjang hari".

Jangan samakan Indonesia dengan Jepang. Kalau saya tinggal di sana, saya juga mau jadi Kyoiku Mama. Di sana, tatanan masyarakatnya sudah lebih stabil dibanding Indonesia. Dan mereka yang ingin jadi Kyoiku Mama pun diberi dukungan oleh pemerintahnya. Di Kanada juga hampir mirip. Cuti melahirkan dan menyusui bisa sampai 6 bulan bahkan 2 tahun. Kalau perlu, suaminya juga diberi cuti. Kita? Saya rasa juga kita semua tahu jawabannya apa.

Maka menjadi moderat-lah, sebab Islam mengajarkan demikian. 

Aisyah ra., sebagaimana istri Rasulullah saw lainnya, harus selalu dalam keadaan bertabir dan tidak boleh dilihat oleh siapapun kecuali mahramnya. Tapi ketika kondisi membutuhkan, beliau juga muncul di medan Perang Jamal.

Khadijah ra., seorang perempuan dengan bisnis skala internasional. Berinteraksi dengan banyak pihak demi kepentingan bisnisnya. Namun ketika suaminya menggigil, ia tetap ada di sana menyelimutinya.

Dan masih banyak contoh lainnya. Tugas kita bukan membentrokkan hal-hal seperti di atas. Tugas kita adalah membuat segalanya mungkin. Dan kalaupun ada yang tetap ingin menjadi ibu rumah tangga saja setelah sekolah tinggi-tinggi, maka itu adalah haknya. Saya juga pun mengapresiasi keputusan itu. Sebab tidak perlu semua turun ke dunia di luar sana, sebagaimana tidak pula semua laki-laki juga turun ke ranah yang sama. Tapi jika kita sebagai perempuan merasa, bahwa ada  kompetensi tertentu sangat terbatas dan itu ada pada kita, semoga Allah memudahkan kita dalam menjalani peran ibu rumah tangga sebagai kewajiban, dan Allah mudahkan pula dalam peran kita bagi ummat dan bangsa ini. Agar purna fungsi kita; tak sekedar ibu dari anak-anak di rumah, tapi juga ibu bagi peradaban ummat dan bangsa di masa depan. Amin.


Lamkeuneung, 10 September 2014



Monday, September 1, 2014

Puisi; Aku Ingin Bertanya (Peringatan Hari Anak Nasional oleh Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Banda Aceh)


Aku Ingin Bertanya
Oleh : Nuril Annissa (28 Agustus 2014, 07:45 WIB)
*Puisi ini dibacakan dalam Peringatan Hari Anak Nasional 
 Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Banda Aceh



Apa itu layang-layang, Ayah?
Sepanjang hari di sekolah, si Ahmad terus-menerus bercerita tentang layang-layangKata ayahnya, membuatnya mudah
Cuma perlu bambu, pisau, kertas layang-layang, lem
Kucari-cari di Playstore dalam Tab yang ayah belikan, tak ada aplikasi yang namanya seperti itu

Apa itu nasi minyak, Bunda?
Di Kursus Bahasa Inggris yang Bunda daftarkan untukku, Aminah cerita
Katanya enak sekali, tiada taranya
Pakai telor ceplok, lagi luar biasa
Kucari-cari di Google menggunakan Wi-Fi yang Bunda pasang di rumah kita, tak paham juga aku, Bunda

Apa itu rumah pohon, Ayah?
Kata si Arif, anak pedagang siomay dekat sekolah, dia menyimpan mainannya di sana
Kalau pulang sekolah, dia sering di situ, tidur siang
Mana seimbang otak kiri dan otak kanannya, kan Yah?
Sebab agar sukses, kita harus sekolah dan les musik sampai malam, seperti kata Ayah kan, Yah?

Apa itu celengan ayam, Bunda?
Kata si Aisyah anak penjaga sekolah, dia sedang menabung di situ
Dia bilang, Maknya yang suruh
Biar nanti kalau sudah banyak, dia bisa naik pesawat seperti cita-citanya, begitu kata Maknya
Kalau kita, bagus menabung di tabungan anak-anak di bank saja, begitu kata Bunda, kan Nda?

Apa itu Eungkot Paya, Ayah?
Kata si Rahman, anak pembantu kita, dia sering ke sawah untuk mencarinya
Bersama ayahnya, dia akan kotor sekali kalau sudah dapat Eungkot Paya
Berkubang-kubang dalam lumpur, dari pagi sampai siang, kalau perlu sampai sore!
Apa tidak gatal-gatal ya? Air sawah itu kotor sekali kan, Yah?

Bunda, Ayah, dengarkah engkau akan pertanyaan-pertanyaanku?
Punyakah engkau jawaban-jawabannya?
Atau aku hanya harus tetap mencari jawabannya sendiri?
Atau paling jauh, aku tanyakan nanti pada guru di sekolah saja?
Tapi nanti pasti ditertawakan,
Pasti hanya akan dijawab, “Pulang ke rumah nanti, tanya sama orang tuamu saja ya.”
Tiap kali Bu Guru berkata begitu, aku rasanya ingin sekali menjawab,
“Ayah dan Bunda selalu pulang dalam keadaan kelelahan.
Mereka biasanya langsung tidur setiba di rumah.
Beberes dan lain-lain, memang sudah dilakukan oleh pembantu kami.
Aku tak berani mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaanku lagi.”

Meskipun sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengan mereka
Bertanya apapun yang aku mau
Mendapatkan semua jawaban yang aku inginkan
Kadang-kadang aku berkhayal,
Bisa tertawa-tawa seperti Ahmad, memamerkan layang-layang buatan Ayah di sekolah
Membanggakan nasi minyak buatan Bunda pada Aminah
Menceritakan rumah pohon hebat yang Ayah buatkan untukku
Memecahkan celengan bersama Bunda, lalu menghitung uangnya satu-satu
Dan kalau memungkinkan, membenamkan kaki ke dalam sawah sambil diajarkan Ayah mencari Eungkot Paya

Tiap hari setiap selesai shalat, aku berdoa seperti diajarkan ustadz yang Bunda datangkan ke rumah
Agar Ayah dan Bunda selalu sehat dan bahagia
Tapi diam-diam kutambah sendiri doanya
Aku mohon pada Allah,
Satu hari, satu hari saja,
Ayah dan Bunda tidak terlalu kelelahan
Tak apa tak tentang layang-layang
Tak apa bukan tentang nasi minyak
Ya sudah jika tak sempat bahas celengan ayam dan rumah pohon
Apalagi jika harus turun ke sawah mencari Eungkot Paya, tak apa
Aku hanya ingin bertanya
Bicara
Menceritakan khayalan-khayalanku pada Ayah dan Bunda
Cuma bicara, aku janji, sehari saja,
Lalu aku janji, tak akan ganggu Ayah dan Bunda lagi,
Sehari saja,
Kabulkan doaku ya Allah, Amin.






Pembacaan Puisi "Terima Kasih, Gaza" (Konser Amal Palestina Unsyiah feat. KNRP Aceh, 19 Juli 2014)

Terima Kasih, Gaza
Oleh : Nuril Annissa, 18 Juli 2014, 14:14 WIB
*Puisi ini dibacakan dalam konser amal Palestina oleh 
civitas akademika Universitas Syiah Kuala dan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Aceh


Sudah sekian dasa warsa
Kulihat kau terus menumpahkan air mata
Sahur dan berbuka dengan kekejaman tirani semata
Sepanjang hari dan malam
Kau berpuasa dari kelemahan akan lupa untuk memperjuangkan kemerdekaan

Tanahmu
Bioskop raya akan matinya hak asasi manusia
Layar tancap akan hewaninya suatu bangsa penjajah
Sebuah teater akan munafiknya beberapa pemimpin dunia
Suatu pertunjukan
Akan lenanya kita ummat sedunia
Akan lupanya kita tentang gulana yang harusnya tak dirasa sendiri
Akan alpanya kita tentang hadits dari Nabi
Bahwa sebenarnya kita ini satu badan tak terbagi
Kau terluka, aku yang sakit di sini

Dan masih saja kita mengeluh
Bahwa hari ini panas sekali
Bahwa uang jajan kurang selembar lagi
Bahwa lapar sekali berpuasa begini
Fitnah sana fitnah sini tentang siapa paling peduli
Bahwa dunia masih memenuhi tiap rongga dan sel yang ada di badan kita

Sementara kau terus bergerak tanpa banyak diliput media
Mereka sudah jual semua nyawa untuk Sang Pencipta
Mereka jadikan jiwa sebagai perisai dari pagi hingga pagi lagi
Tiap lelaki, wanita, dan anak-anaknya, bermandikan cahaya, bukan darah!
Syahdu berkah tumpah ruah dalam pasukan pembebasnya
Tiap nyawa yang kembali hanya akan semakin menginspirasi, bukan sekedar sejarah!
Sementara itu pula kita mengerdil tanpa daya

Padahal merekalah yang menggantikan kita melindungi Al-Aqsha
Padahal merekalah yang mengisahkan kita makna sesungguh taqwa
Padahal merekalah yang membuat kita meruntuhkan tembok ego menjulang
Padahal merekalah yang mencubit sisa-sisa kemanusiaan di diri kita

Terima kasih, Gaza
Terima kasih, Palestina
Terima kasih sudah membangunkan kami dari tidur panjang kami




Sunday, August 17, 2014

Nyak Loet ("Berarti Kita Belum Merdeka, ya Mak?")

“Kenapa harus merah, Mak?”

Mak Beid menggaruk-garuk kepala. Gerahnya udara siang ini membuatnya berkeringat ekstra. Selendang kuning lebar yang menutup kepalanya nampak acak-acakan akibat garukannya. Ditambah lagi pertanyaan si Nyak Loet yang rewel ini. “Ah, tak pernah berhenti bertanya aneuk manyak sidroe nyoe,” pikir Mak Beid.

“Kan kalau merah, hue. Terang. Coba kalau warnanya coklat. Nanti bisa saja orang pikir itu bak geureundong. Ya, kan?” Mak Beid meminta persetujuan anaknya meski ia sendiri tidak yakin jawaban tadi akan memuaskan si bungsu ceriwisnya itu. Benar saja, kening Nyak Loet masih berlipat-lipat. Matanya menatap mata Maknya mencari penjelasan lebih lanjut.

“Tapi kan Mak, warna putih nggak hue. Kok malah ikut-ikutan dipakai?” 

Mata bundarnya kini memandang lepas ke luar jendela. Anak rambut yang menyembul dari kerudung putih mungilnya menari seiring angin yang menerpa wajah ingin tahunya. Ia terus saja memandang ke luar meskipun debu-debu dari tepian jalan terus-menerus menampar wajahnya perih. 

Tiang-tiang di setiap pagar rumah yang mereka lewati dari tadi menghipnotisnya sempurna, terutama selembar kain dua warna yang dipasang di pucuk-pucuknya. Mak Beid tidak terlalu memperhatikan pertanyaan terakhir anaknya. Ia sibuk membenarkan letak selendangnya.


“Jadi kenapa, Mak? Kenapa warnanya merah dan putih seperti itu?” Nyak Loet mengulangi pertanyaannya, jaga-jaga jika Mak Beid lupa untuk menjawab. Mak kan sering lupa di mana meletakkan bleut tempat menjemur belimbingnya. Apalagi pertanyaanku, pikir Nyak Loet.

“Ah, Nyak, Mak ngantuk. Nanti kalau sudah sampai di Banda, bolehlah tanya lagi.” Mak Beid menumpukan berat badannya ke bahu kiri, sedikit membelakangi Nyak Loet. Matanya dipejam rapat-rapat demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Nyak Loet. Pundaknya bergoncang-goncang, mobil angkutan L300 yang mereka tumpangi mulai berjuang mendaki badan  Seulawah.

Nyak Loet melenguh pelan. Banda Aceh itu sendiri sudah cukup membuat dirinya penasaran dan kini kain merah-putih itu ikut-ikutan menanamkan kepenasaranan di hatinya.

Sejauh ingatannya, tahun lalu dan tahun sebelumnya orang-orang di gampong juga memasang kain merah-putih itu dan semuanya di waktu yang sama setiap tahun, yaitu saat pohon jemblang di pekarangan Tengku Him berbuah. Nyak Loet tak pernah merasa terusik dengan kain-kain itu. Ia lebih tertarik untuk jalan-jalan ke Kota Sigli dengan Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan yang setiap kali kain merah-putih itu dipasang, pasti libur dari sekolah. 

Tengku Him, ayah Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan, juga selalu akan mengantarkan dan membiarkan mereka tertawa-tawa sambil menikmati angin di bak mobil pick-upnya. Biasanya mereka akan ke alun-alun. Di sana Nyak Loet pasti akan membeli Mie Caluek kesenangannya dan menyantapnya di atas batu-batu besar di pinggir pantai dekat alun-alun. Kalau hari itu sebegitu menariknya, untuk apa Nyak Loet memikirkan tentang kain merah-putih?

Nyak Loet melempar pandangnya lagi ke luar jendela. Pemandangan rumah-rumah penduduk yang satu-satu terlihat dari sejak di Padang Tijie tadi mulai tergantikan dengan hijaunya panorama. Sang mentari yang pongah dan tinggi berada tepat di atas ubun-ubun manusia sekarang. 

Di sana-sini tubuh jalan compang-camping, membuat perjalanan tidak mulus sama sekali. Sang supir terdengar mengumpat di sela-sela lantunan musik sendu dan suara tiga orang bapak-bapak yang bernyanyi tentang hal yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nyak Loet.

Sekilas, Nyak Loet melihat ke setiap penjuru mobil L300 ini. Penumpang lain terlihat sama mengantuk dan membosankannya dengan Mak, pikirnya. Ia pun melipat tangannya, cemberut. Matanya kembali menggerayangi pemandangan di luar sana yang bergerak cepat bak komidi putar. Pandangannya setengah hampa. Pikirannya mengembara ke gampong. Saprida, Kak Desi dan Bang Hasan pasti sedang makan Mie Caluk di alun-alun kota Sigli.

Ayah juga pasti baru keluar dari ladang Yahwa Adnan dan langsung ke Meunasah untuk seumahyang leuhoo. Dari sana, Ayah akan pulang ke rumah dan membuka tudung saji dan mulai makan siang.

Kembara pikirannya tiba-tiba terhenti, Nyak Loet ingat sesuatu. Mak bersamanya sekarang. Berarti tidak ada yang akan memasak untuk Ayah. Ayah makan apa siang ini? mengapa Ayah tidak ikut serta saja ke Banda? Namun, dilihatnya Mak sudah terlelap.

*** 

Chit peut reubee ka jinoe, hai Mi.”

Mak Beid menggerutu. Tak urung dikeluarkannya juga empat lembar seribuan dari simpulan kecil–yang berfungsi sebagai subtitusi dompet– di ujung selendang kuningnya.

Tamah aneuk droen lom nyoe.”

Tampaknya Mak Beid sudah tiba di halte terakhir kemarahannya. Pipinya menggelembung merah jambu, lebih merah dari semburat senja di ujung Permukiman Tungkop itu.

“Dari tadi itu dia duduk di pangkuan saya! Mana labi-labimu penuh lagee aneuk boh peuteek masak! Masih mau minta tambahan ongkos untuk anak saya?” Sengit Mak Beid. Nyak Loet terlihat lunglai menggenggam erat tangan kanan Mak. Perjalanan ini begitu jauh dan melelahkan.

Kernek labi-labi itu pun akhirnya mengalah. Mak Beid dan wajah sangirnya tidak lebih mengerikan dari seringai para penumpang lain yang sudah ikut-ikutan kesal karena perjalanan mereka terhambat. Labi-labi itu pun menghilang ke tikungan menuju Lambaro Angan. 
Mak Beid dan Nyak Loet mulai menapaki jalan aspal yang berlubang di mana-mana, Desa Lamkeunung. Tas besar di tangan Mak Beid sesekali diletakkan di tanah sebelum akhirnya ditenteng lagi. Pelan sekali, karena Nyak Loet pun sudah terlalu lelah untuk berjalan. Pidie – Aceh Besar memang tidak terlalu jauh, tapi Nyak Loet benar-benar tidak terbiasa dengan perjalanan seperti ini.

“Supir L300 tadi benar-benar kejam. Sampoe hatee dia menurunkan kita di Jambotape begitu. Kasihan kau harus berdesak-desakan dalam labi-labi, Nyak,” Mak Beid membelai sayang kepala anaknya. Nyak Loet tidak menjawab, ia hanya ingin beristirahat sekarang.

Langkah-langkahnya masih terseret berat saat matanya kembali tertumbuk pada sebuah pemandangan yang tak asing lagi. Nyak Loet mendadak berhenti. Mak Beid yang memegang tangannya pun terhenti langkahnya.

“Mak, orang yang tinggal di rumah itu pasti orang Padang Tijie. Tuh, ada kain merah putih juga!”

Mak Beid tak mampu menahan senyum. Bungsunya ini memang lugu. Boh hatee terkasih ini tidak tahu rupanya bahwa hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia.

“Kain merah putih itu namanya bendera, meutuah. Dan orang yang tinggal di rumah itu belum tentu awak gampong kita. Mereka memasangnya karena hari ini tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan.” jelas Mak Beid.
Nyak Loet mengernyit namun tak urung melanjutkan langkahnya. “Kemerdekaan?” Kata itu seolah masih asing baginya. 

“Ya, merdeka,” ternyata belum cukup ‘jelas’ penjelasan tadi. “Merdeka itu artinya kita tidak lagi dijajah, diperintah-perintah oleh orang lain. Kita bebas menentukan apa yang ingin kita lakukan. Paham?” Mak Beid tak tahu bagaimana hendak menjelaskan lagi. Terlalu berbelit-belit nanti malah akan diserang balik dengan pertanyaan yang lebih banyak lagi.

Mulut Nyak Loet membundar menggemaskan. Tak lama kemudian keningnya berkerut lagi.

“Contohnya?”

Sia-sia Mak Beid berusaha meminimalisir kesempatan Nyak Loet bertanya. Ia melengos pelan. Namun demikian, Mak Beid sebenarnya senang anaknya tidak lagi terlihat sakit dan menyedihkan seperti di dalam labi-labi tadi.

“Misalnya, Tengku Him yang punya pohon jemblang. Kalau Tengku Him dijajah oleh orang lain, nanti Tengku Him akan disuruh-suruh membersihkan halamannya sendiri, mengurus pohon jemblangnya, tetapi nanti ketika berbuah, Tengku Him tak akan mendapatkan sedikit pun dari jemblangnya. Tapi karena Tengku Him merdeka, ia bisa makan buah jemblangnya sesuka hatinya. Bisa juga menjualnya, terserah Tengku Him lah.” Mak Beid sebisa mungkin menggunakan hal yang paling familiar dengan bungsunya.

Nyak Loet manggut-manggut. Beberapa ekor anak kambing berlarian di sawah-sawah kosong yang mengitari jalan setapak yang mereka lewati. Dari kejauhan lenguhan panjang lembu-lembu yang sedang merumput melatari.

“Memangnya dulu pohon jemblang Indonesia dijajah sama siapa, Mak?” Nyak Loet kembali bertanya.

Mak Beid tertawa kecil. Peluh yang bertengger di dahinya jatuh ke tanah. 

“Indonesia memang pernah dijajah, tapi bukan pohon jemblangnya. Semua yang ada di negara kita ini waktu itu dijajah oleh orang Belanda. Lautnya, tanahnya, buah-buahannya, rempah-rempahnya, kecuali satu daerah.” Mak Beid melirik Nyak Coet, mengharapkan kepenasaranannya.

“Kecuali satu daerah?”

“Daerah mana, Mak?”“
Nanggroe tanyoe nyoe, meutuah. Aceh.” 

Mak Beid menatap langit. Semburat jingganya sempurna. Lamkeunung memang sedang dipeluk senja.

“Jadi dari dulu Aceh ini sudah merdeka, ya Mak? Makanya kita dari dulu boleh makan buah jemblang Tengku Him, ya Mak?” Nyak Loet nyengir memamerkan ompongnya.

Mak Beid tersenyum geli kali ini. Ia hanya mengangguk membenarkan. Ah, Nyak Loet!

“Kita memang dari dulu sudah merdeka. Lalu kita bergabung dengan Indonesia,” Mak Beid meletakkan tas besarnya sesaat di tanah. “Dan karena kita sudah bersatu dengan Indonesia, kita juga memperingati hari kemerdekaannya. Jadi intinya, kita sudah tidak dijajah lagi. Semua yang kita punya di negara kita ini tidak lagi diambil oleh orang lain. Semua punya kita.”

Nyak Loet seperti merenung. Semua punya kita?

Mak Beid menangkap ketidakmengertian bungsunya. “Maksudnya, misalnya Indonesia punya banyak pohon jemblang, nanti buahnya dibagi-bagikan ke semua rakyatnya, yaitu kita. Jadi tidak diambil oleh orang lain, begitu.”

“Ooo,” ia berhenti sesaat, “Mak, memangnya Indonesia itu seperti apa sih? Tinggi besar seperti Tengku Him?”

Mak Beid terpingkal-pingkal. Untuk beberapa detik beban di tangan kanannya terasa sangat ringan.

“Kita memang harus pindah ke Banda.” Mak Beid tertawa-tawa kecil. Nyak Loet menguncupkan mulut, tidak mengerti.

Mak Beid tiba-tiba menghentikan langkah. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah berpagar sedada Mak Beid. Perlahan tapi pasti Mak Beid membuka gerbang pagar itu. Inilah tujuan akhir perjalanan ini.

Nyak Loet menatap takjub atap genteng merah tua rumah di depannya. Rumahnya jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan rumah mereka di gampong. Dindingnya berwarna putih, lantai terasnya berwarna hitam berkilau. Beda sekali dengan ubin di rumah Tengku Him. “Ini rumah kita yang baru ya, Mak?”

Mak Beid menggeleng sembari tersenyum kecut, “Iya.”

***

“Jalan di desa ini tidak begitu bagus, ya. Tidak menyangka bahwa yang tinggal di sini malah kebanyakan dosen.” Mak Beid membuka tutur setelah meneguk teh dinginnya sampai habis. Seorang wanita tambun setengah baya berkerudung putih yang duduk di depan Mak Beid tersenyum mengangguk. 

Nyak Loet terus-terusan menatap sang wanita nyaris tak berkedip. Tadi ia sempat menangkap kilau emas dari dalam mulutnya saat menyilakan mereka minum dan bercerita bahwa di daerah ini terdapat banyak orang yang bekerja seperti suaminya.

“Iya, Zubaidah, memang jelek jalannya. Kami sudah beberapa kali melapor ke kantor kecamatan tapi masih belum ada respon apa-apa. Hana peng, alasan mereka.” Sang wanita menjelaskan. Mata Nyak Loet membesar, kilau emas terlihat lagi dari dalam mulut sang wanita.

“Ah, alasan saja itu. Padahal mungkin sudah ‘ditelan’ semua uangnya, makanya tidak ada lagi.” Mak Beid memberikan pendapatnya.

Sang wanita terkekeh, kini Nyak Loet bisa mengobservasi dengan leluasa asal kilau emas tadi. Oh, rupanya giginya terlalu kuning, Nyak Loet berbisik dalam hati.

“Ngomong-ngomong, Ayah si Nyak Loet ini apa kabar? Masih mengurus ladang Abang lon?”

“Alhamdulillah sehat saja, Kak Mah. Ya, dia masih bekerja di situ. Tapi Kak Mah tahu sendiri, hasilnya cuma cukup untuk makan sehari-hari saja. Padahal, si Nyak Loet ini sudah harus sekolah.”

Nyak Loet yang sedari tadi memerhatikan wanita bergigi emas itu tiba-tiba terduduk tegak demi mendengar Ayahnya disebut-sebut. Lebih terkejut ketika namanya disebut dan dikait-kaitkan dengan sekolah. Kak Desi bilang kan di sekolah itu banyak PR!

“Nyanyak nggak mau sekolah. Kata Kak Desi di sekolah banyak PR!” tiba-tiba saja ia sudah menumpahkan kekhawatirannya.

“Memangnya Nyanyak tahu PR itu apa?” Mak Beid menggodanya.

“Hahaha, alahai Nyak Loet meutuah. Cek Hikmah dulu juga tidak mau sekolah. Tapi ketika sudah masuk sekolah, Cek Hikmah malah tidak ingin keluar, lho.”

Jadi, nama wanita ini Cek Hikmah!

Cek Hikmah pun terkekeh-kekeh lagi demi melihat Nyak Loet yang cengengesan sekarang.

“Baiklah, Beid. Kamarmu di sini ya.” Cek Hikmah menunjuk sebuah kamar di belakang pundaknya. “Untuk hari ini, jangan bekerja apa-apa dulu. Kasihan si Nyak Loet. Mantong hek that hie.” Cek Hikmah tersenyum sembari mengusap kepala Nyak Loet sayang. Yang kepalanya diusap tersenyum malu.

Di kamar mereka yang berisi satu ranjang dan lemari pakaian beserta cerminnya, Nyak Loet tiba-tiba ingat sesuatu, “Mak, kenapa Ayah tidak ikut ke Banda?”

Mak Beid yang sedang mengeluarkan isi tasnya ke dalam lemari tiba-tiba berhenti. Setelah meletakkan sepotong daster ke dalam lemari, Mak Beid duduk di sebelah Nyak Loet di atas ranjang. Sudah saatnya menjelaskan semua, pikir Mak Beid.

Tuloet lon sayang, masih ingat cerita Mak tentang Kak Phoenna kan?” Mak Beid menyebut kakak Nyak Loet yang sudah meninggal sebelum Nyak Loet lahir. Nyak Loet mengangguk.

“Saat umurnya sebaya denganmu sekarang, kakakmu kerap bermain-main dengan anak-anak gampong. Ah, seandainya saja kakakmu bersekolah, ia pasti tidak akan tertabrak mobil itu.” Mak Beid menghela nafas panjang. Dibelainya kepala berkuncir milik Nyak Loet. “Umurmu sekarang sudah enam tahun. Mulai tahun depan kau sudah harus bersekolah. Mak dan Ayah tidak akan membiarkanmu tidak sekolah seperti kak Phoenna.”

Nyak Loet menatap lantai keramik putih di bawahnya. “Tetapi kenapa harus ke Banda, Mak? Kak Desi saja bisa bersekolah di Kunyet.” Ia mengucapkannya tanpa mengangkat pandangannya dari lantai.

“Karena Mak dan Ayah tidak punya cukup uang, meutuah. Di sini, Mak akan bekerja jadi pembantu. Dengan gaji yang Mak dapatkan, mulai tahun depan Nyanyak akan Mak sekolahkan di sekolah Tungkop. Nanti di sekolah, Nyanyak tanyalah sama Bu Gurunya, kenapa warna bendera yang kita lihat hari ini merah putih. Tanya sejarah tentang Indonesia, tanya apa saja yang Nyanyak ingin tahu. Mak mau Nyak Loet bisa pintar, koen lagee Mak nyang hana jak sikula chit jameun. Ya?”

“Mmm… Maksudnya jadi pembantu itu apa, Mak?” Nyak Loet benar-benar bingung.

Mak Beid terlihat sedikit enggan menjawab. Tetapi Nyak Loet harus mengerti sejelas-jelasnya. “Kita akan membantu-bantu Cek Hikmah membersihkan rumahnya, memasak makanannya, yah, melakukan apa yang disuruhlah nanti.” Mak Beid mengusap sayang kening Nyak Loet yang masih terus berkerut.

“Mak…” Nyak Loet terlihat ragu-ragu berkata.

“Ya, meutuah. Ada apa?”

“Nanti pokoknya kita melakukan apa yang disuruh Cek Hikmah?”

Mak Beid mengangguk. Pahit kenyataan ini untuk dibicarakan memang.

“Mak…,” Nyak Loet masih ragu-ragu ingin berbicara. “Berarti kita belum merdeka ya?”



Lamkeuneung, 17 Agustus 2008
Cerpen ini diterbitkan bersama cerpen-cerpen anggota FLP Wilayah Aceh lainnya dalam antologi "Rumah Matahari Terbit" (Kamoe Publishing House, 2009)

                               

Keterangan :
Aneuk manyak sidroe nyoe : anak kecil seorang ini.
Hue : terang
Bak geureundong  : batang kuda-kuda, sering dijadikan pagar alami oleh orang Aceh
Chit peut reubee ka jinoe, hai Mi : memang sudah empat ribu (rupiah) sekarang lho, Bu
Tamah aneuk droen lom nyoe : tambah anak ibu seorang lagi.
lagee aneuk boh peuteek masak : seperti anak biji pepaya yang sudah masak.
Pan Boh hatee  : Buah hati, ungkapan sayang dalam Bahasa Aceh.
Meutuah : ungkapan sayang lain dalam Bahasa Aceh.
Nanggroe tanyoe nyoe : negeri kita ini.
Lon  : saya
Tuloet : bungsu, Nyak Loet : panggilan untuk anak bungsu
koen lagee Mak nyang hana jak sikula chit jameun  : tidak seperti ibu yang tidak sekolah.



Tuesday, July 15, 2014

Puisi Tentang Sebuah Negeri (Aksi Munasharah Palestina KNRP Aceh, 13 Juli 2014)

Saat sedang membacakan puisi. Puisi ini akhirnya selesai saya tulis setelah gelisah berjam-jam bingung hendak mulai dari mana. Gaza terlalu banyak memberikan pelajaran hingga saya bingung memilih diksi dan suasana..

Bersama ibu Illiza Sa'adduddin Djamal (Walikota Banda Aceh) yang turut berorasi untuk mengajak memperbanyak qunut nazilah, doa dan donasi untuk Palestina. Salut dan kagum dengan ibu yang satu ini; kebangaan warga Banda Aceh.

Jepretan personal seorang rekan dokter muda yang turut hadir.

Ahad (13 Juli 2014) lalu saya berkesempatan membacakan sebuah puisi dengan judul "Puisi Tentang Sebuah Negeri" di aksi penggalangan dana untuk Palestina yang diselenggarakan oleh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Aceh. Masih terngiang di kepala, bagaimana dikatakan oleh pembawa acara, ustadz Farid Nyak Umar bahwa ada seorang warga Banda Aceh yang memberikan donasi 5 juta rupiah sebagai tanda penghormatan terhadap puisi yang dibacakan. Alhamdulillah, semoga kebaikan terus menjalar dan menjadi kebaikan lainnya.
Dan terima kasih kepada cut kak Helvy Tiana Rosa sudah menjadi inspirasi dalam membaca puisi sebagai bagian dari mendemonstrasikan isi pikiran dan perasaan.
Perlu diketahui bahwa rekaman puisi ini baru dimulai di bait ketiga, dan ini pun saya dapatkan dari teman saya (terima kasih Khairun Amala, Allahu yubarik fik insya Allah!) yang secara spontan (tanpa saya minta) segera merekam setelah katanya sejenak "terhenyak". Dan ada beberapa kalimat dalam puisi ini yang "terimprovisasi" namun masih sesuai konteks dalam larik-larik yang ada. Termasuk, bait terakhir tak terbaca lagi sebab saya sudah kadung dikuasai emosi, maaf ya. Setelah menonton video ini, semoga kita makin terketuk untuk berdoa dan berdonasi ya. Untuk list nomor rekening donasi untuk Gaza yang bisa digunakan beserta lembaganya, klik link ini :https://www.facebook.com/nuril.annissa/posts/10203275773628746?notif_t=like
--------------------------------------
Puisi Tentang Sebuah Negeri 

Oleh : Nuril Annissa (13 Juli 2014 01:17 WIB)

Ini tentang negeri yang rakyatnya pantang mengemis

Ini tentang rakyat yang anak-anaknya pantang meringis

Adalah ia sebuah negeri

Yang akarnya tumbuh dalam hati kita
Yang getarnya gelayuti tiap sendi dan urat kita
Yang labuhnya membuai rindu akan sujud di tanahnya

Yang membuat kita mengirim doa

Yang membuat kita menumpahkan air mata
Yang membuat kita lupa akan siapa sebenarnya digdaya
Yang membuat kita merasa bukan siapa-siapa
Yang menampar iman kerdil tepat di ulu hatinya

Negeri yang membara

Negeri yang tetap tertawa meski langitnya koyak oleh nestapa
Negeri yang bersuara
Negeri yang tak pernah kurang cinta
Negeri yang mengajarkan kita makna membela bangsa
Negeri yang pemudanya menulis nama di tangannya agar tak sulit dicari jika sudah tiada
Negeri yang menanami bekas granat dengan tumbuh-tumbuhan
Negeri yang tetap terdengar azan meski bersahut-sahut rudal di atasnya
Negeri yang tetap belajar meski listrik lama tak masuk ke dalamnya
Negeri yang justru paling ramai cendekia-cendekia segala jenis sarjana
Negeri yang senjatanya batu dan perisai bernama rindu akan kesyahidan
Negeri yang anak-anaknya masyuk dengan kalam-kalam Tuhan
Negeri yang kirim uang untuk bencana nusantara sementara ia kekurangan makanan
Negeri yang kaum ibunya mengirim anaknya berjuang tanpa tangisan
Negeri yang gadis-gadisnya tak cengeng ala telenovela
Negeri yang bangunannya hancur lagi, bangun lagi, hancur lagi
Negeri yang nabi-nabi pernah bersemayam di atasnya
Negeri yang masjidnya kiblat pertama kita

Gaza

Palestina
Al aqsha
Sedarah kita
Sejantung kita

Gaza

Palestina 
Al aqsha
Semoga bukan kali ini pertama kali kau tahu tentangnya