Tuesday, January 28, 2014

Satu Buku Saja

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
 Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad saw

Coba kalau kita disodorkan selembar formulir sekarang, untuk kepentingan terserah apa saja. Lalu di kolom tertentu ada pertanyaan, "Apa hobi anda?", kira-kira kebanyakan kita biasanya jawab apa? Yep, MEMBACA. Pertanyaannya, seberapa benarkah jawaban kita itu? Ada berapa buku yang teman-teman bisa habis baca dalam sehari? Sebulan? Setahun? Atau yang dibaca berulang-ulang cuma buku tabungan saja? Ya mau bagaimana lagi, mau baca buku nikah, kadang belum punya, maklumlah. #eh

Tapi intinya adalah, mari kita biasakan diri kita membaca dalam makna yang sesungguhnya; menambah khasanah baru, lalu mulai membenahi diri dengan khasanah yang didapat itu. Tak perlu banyak jika hanya mampu sedikit. Satu buku saja. Habiskan dalam sebulan. Lalu bagikan inspirasi dari hasil membaca itu kepada orang lain. Buat orang lain penasaran dan mulai membaca juga. Begitu seterusnya. Wahai, betapa rantai kebaikan itu bisa menjadi panjang dari hal-hal sederhana, kan?

Anggap saja ini gerakan biasa khas anak muda. Biasa sekali. Tak ada yang perlu dibesar-besarkan sebab pada dasarnya yang kita ajak teman-teman lakukan bersama #OneMonthOneBook adalah membaca 1 buku setiap bulannya, lalu menyebarkan inspirasi yang didapat dari membaca buku tersebut melalui blog pribadi teman-teman. Sederhana, tidak? Sederhana, kan?


“We read to know that we are not alone.” 
― William Nicholson


Dan karena jika memulai kebiasaan baik sendirian itu kadang membuat tidak semangat, maka mari kita bergabung di #OneMonthOneBook agar bisa saling berbagi dan saling mengingatkan. Kita mulai dengan hal kecil. Dari diri sendiri. Sekarang juga. Sebab kebaikan yang sedikit tapi rutin itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Singkatnya, Satu Buku Saja. :)

Kita Bukan Tutup Botol

Been a while.
Dan hidup terus saja bergerak berlomba-lomba dengan rotasi bumi dan orbitnya matahari. Hari berganti hari dan tiba-tiba saja, ini sudah 2014. Ke mana semua waktu yang sudah lalu? Ya di situ. Di dalam kitab yang ditulis oleh dua malaikat yang memang tugasnya mencatat semua jenis perilaku; kalau bukan lebih banyak catatan di Raqib, ya lebih banyak catatan di Atid. Jangan tanya juga apa yang tidak dilakukan padahal sudah terpikirkan. Itu silakan introspeksi diri lagi. Selama ini cuma pintar berwacana atau sudah benar-benar berusaha memejamkan mata dan memaksakan diri melakukan semua kebaikan dengan segera.

Ah. Hidup.
Ia seperti sinetron di Indonesia. Episodenya tak putus-putus. Kali yang satu, wajah kita jadi fokus zooming in-nya. Kali yang lain, kita cuma debu di pinggir keset kaki di pojok stadion besar tempat di mana orang lain sedang menyanyikan lagu pamungkas dalam konser solonya. Lalu kita tidak berusaha keluar sama sekali dari situ. Sebab kita tahu, semua pemasukan kehidupan kita berasal dari apapun peran yang kita jalani setiap harinya di situ. Kecamuk? Jelas. Seperti tutup botol kecil di tengah samudera lepas. Gamang entah untuk apa ia muncul ke dunia. Suatu keberuntungan besar jika terdampar di sebuah pulau, lalu ditemukan oleh seorang manusia yang akan menjadikan tutup botol tersebut sebagai pin klub-nya; seperti yang diberikan Ellie pada Carl dalam film animasi Up.

Tapi kita bukan tutup botol.
Kita adalah kreasi sempurna dari Maha Sempurna. Yang dibekali berbagai organ yang sinkron satu sama lainnya. Yang konon punya "heart" dalam dua makna; jantung dan hati (perasaan). Yang kata Tuhan, akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akhir segala hari. Yang akan ditanyai atas setiap keputusan yang diambil; baik dengan sepenuh tekad atau cuma sambil lalu tanpa pikir panjang. Yang akan diperiksa tiap detak jantungnya; apakah untuk meresapi makna cinta hingga ke hakikatnya atau cuma untuk penghias lirik romansa picisan.

Dan kembali lagi ke catatan tentang apa yang sudah kita lakukan selama ini. 
Sungguh, semua terekam dengan baik. Oleh dua malaikat yang patuh menjalankan tugas sebagai juru rekam segala peradaban masing-masing anak Adam. Dan hendak berbohong bagaimana tentang waktu-waktu luang yang terlelang pada nafsu duniawi? Dan mau berkilah bagaimana lagi mengenai cinta yang dilukis menggunakan kuas yang salah, dengan cat yang tumpah? Dan mau sembunyi ke mana lagi, untuk setiap syak-sangka-buah pikir buruk nan busuk akan banyak perihal di muka bumi selama ini?

Sungguh.
Seharusnya tak bisa kita berdiri tiap pagi. Kecuali sudah memastikan sekrup-sekrup nurani dikuatkan secukupnya. Kecuali sudah memastikan terali-terali di jendela hati terlas dengan kokohnya. Sambil tetap membuka jendela dan pintunya lebar-lebar, agar cahaya-Nya terang-terang menerangi. Untuk kuman yang menggerayangi iman, mati. Agar bakteri yang mengunyah keteguhan, menguap dari diri. Supaya virus-virus yang mencampuri benih-benih bahagia murni meminggir dari tiap sudut yang tersembunyi.

Lalu.
Nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kau dustai?


Lamkeuneung, 28 Januari 2014, 11;41 PM