Tuesday, January 28, 2014

Kita Bukan Tutup Botol

Been a while.
Dan hidup terus saja bergerak berlomba-lomba dengan rotasi bumi dan orbitnya matahari. Hari berganti hari dan tiba-tiba saja, ini sudah 2014. Ke mana semua waktu yang sudah lalu? Ya di situ. Di dalam kitab yang ditulis oleh dua malaikat yang memang tugasnya mencatat semua jenis perilaku; kalau bukan lebih banyak catatan di Raqib, ya lebih banyak catatan di Atid. Jangan tanya juga apa yang tidak dilakukan padahal sudah terpikirkan. Itu silakan introspeksi diri lagi. Selama ini cuma pintar berwacana atau sudah benar-benar berusaha memejamkan mata dan memaksakan diri melakukan semua kebaikan dengan segera.

Ah. Hidup.
Ia seperti sinetron di Indonesia. Episodenya tak putus-putus. Kali yang satu, wajah kita jadi fokus zooming in-nya. Kali yang lain, kita cuma debu di pinggir keset kaki di pojok stadion besar tempat di mana orang lain sedang menyanyikan lagu pamungkas dalam konser solonya. Lalu kita tidak berusaha keluar sama sekali dari situ. Sebab kita tahu, semua pemasukan kehidupan kita berasal dari apapun peran yang kita jalani setiap harinya di situ. Kecamuk? Jelas. Seperti tutup botol kecil di tengah samudera lepas. Gamang entah untuk apa ia muncul ke dunia. Suatu keberuntungan besar jika terdampar di sebuah pulau, lalu ditemukan oleh seorang manusia yang akan menjadikan tutup botol tersebut sebagai pin klub-nya; seperti yang diberikan Ellie pada Carl dalam film animasi Up.

Tapi kita bukan tutup botol.
Kita adalah kreasi sempurna dari Maha Sempurna. Yang dibekali berbagai organ yang sinkron satu sama lainnya. Yang konon punya "heart" dalam dua makna; jantung dan hati (perasaan). Yang kata Tuhan, akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akhir segala hari. Yang akan ditanyai atas setiap keputusan yang diambil; baik dengan sepenuh tekad atau cuma sambil lalu tanpa pikir panjang. Yang akan diperiksa tiap detak jantungnya; apakah untuk meresapi makna cinta hingga ke hakikatnya atau cuma untuk penghias lirik romansa picisan.

Dan kembali lagi ke catatan tentang apa yang sudah kita lakukan selama ini. 
Sungguh, semua terekam dengan baik. Oleh dua malaikat yang patuh menjalankan tugas sebagai juru rekam segala peradaban masing-masing anak Adam. Dan hendak berbohong bagaimana tentang waktu-waktu luang yang terlelang pada nafsu duniawi? Dan mau berkilah bagaimana lagi mengenai cinta yang dilukis menggunakan kuas yang salah, dengan cat yang tumpah? Dan mau sembunyi ke mana lagi, untuk setiap syak-sangka-buah pikir buruk nan busuk akan banyak perihal di muka bumi selama ini?

Sungguh.
Seharusnya tak bisa kita berdiri tiap pagi. Kecuali sudah memastikan sekrup-sekrup nurani dikuatkan secukupnya. Kecuali sudah memastikan terali-terali di jendela hati terlas dengan kokohnya. Sambil tetap membuka jendela dan pintunya lebar-lebar, agar cahaya-Nya terang-terang menerangi. Untuk kuman yang menggerayangi iman, mati. Agar bakteri yang mengunyah keteguhan, menguap dari diri. Supaya virus-virus yang mencampuri benih-benih bahagia murni meminggir dari tiap sudut yang tersembunyi.

Lalu.
Nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kau dustai?


Lamkeuneung, 28 Januari 2014, 11;41 PM

2 comments:

  1. Sebuah refleksi diri, muhasabah yang mengetuk pintu-pintu hati. Semoga bermanfaat bagi perbaikan dan kebaikan.

    ReplyDelete