Sunday, February 16, 2014

Jodoh

Mungkin beginilah analogi jodoh itu. Kau sama sekali merasa jauh darinya, secara jarak lahiriah dan batiniah. Sama sekali tak bisa memahami sedikitpun tentang ia. Merasa sangat bodoh jika disandingkan dengan intelejensianya. Ingin masuk ke dalam tanah jika tetiba harus berjumpa dengannya. Berkali-kali mencoba memahaminya, tapi tetap saja gagal.
Lalu sekian tahun setelah itu, kau berjumpa lagi dengannya. Kali itu, kau kembali diserang ragu. Bukan cuma ragu malah, melainkan kecemasan yang membuatmu tak bisa tidur. Atau kalaupun kautidur, kau sampai bermimpi berjumpa dengannya dalam keadaan perasaan inferior yang makin menjadi-jadi.
Tapi entah energi dari mana, kau mulai mencoba menghadapinya. Memerhatikannya baik-baik. Mempelajarinya siang dan malam. Lalu tetap berdiri dan tak lari jika mulai papasan dengannya, bahkan mencoba menawarkan senyum untuk pertama kali. Meski keringat terus mengalir. Meski debar-debar makin menjadi.
Dan kali ini, ia membalas senyummu. Ia menyambut uluran tanganmu. Ia membalas sapaanmu. Ia mendadak jelma matahari paling cerah, padahal selama sekian tahun ia hanya mendung tanpa disandingi hujan. Dan tanpa kausadari, kau sudah berjalan beriringan dengannya. Walaupun kau tak tahu pasti, apakah kebersamaan itu akan selamanya atau tidak, paling tidak untuk sejenak kau kembali percaya, bahwa jodoh tidak hanya tentang “ia” yang tepat, melainkan SAAT yang tepat juga.
———————————————————————————————
Alhamdulillah. Dulu saat kuliah dulu saya selalu cuma berakhir dengan nilai C untuk Kardiologi (Ilmu mengenai jantung dan pembuluh darah). Saya akui, saat itu, tak hanya karena saya memang tidak kunjung mengerti pelbagai konsep dan prinsip kejantungan, saya juga lebih tenggelam dalam berbagai kegiatan keorganisasian. Dua kali mengulang, saya cuma bisa naik tingkat jadi C+. betapa kontrasnya ia dibanding nilai-nilai lain. Dan saya selalu yakin, saya tak akan pernah bisa memahaminya dengan baik. Dan bahwa menjadi spesialis jantung dan pembuluh darah adalah bahkan opsi yang tak saya tempatkan di sudut manapun dalam pikiran saya.
Hingga lalu saya menjalani kepaniteraan (baca : koass) di bagian kardiologi di rumah sakit sekian tahun kemudian. Dan tetiba semuanya berubah 180 derajat. Semua ketakutan itu pelan-pelan bergeser dengan semangat ingin tahu yang saya tak tahu datang dari mana. Meski tidak menguasai semuanya secara benar-benar menyeluruh, tapi saya berani jamin, pengetahuan yang saya dapati kali ini JAUH LEBIH BANYAK dari yang saya cari ketika kuliah dulu.
Hanya kepaniteraan di bagian inilah yang saya bahkan lebih memilih membaca buku teks Penyakit Kardiovaskuler-nya Prof. Lily di pinggir pantai, tempat yang tak pernah gagal membuat saya euforia dan “gila” sesaat. Bahkan pantai pun kalah! Dan cuma di bagian ini jugalah, saya lebih memilih tidur jika ada waktu istirahat, dan bukan menonton film (yang memang saya jadikan rutinitas untuk memperkaya pengetahuan mengenai pembangunan karakter & plot dalam menulis). Bahkan saat kepaniteraan di bagian anestesi (bius) yang terkenal kesibukannya seantero jagad itu saja saya sempat menonton paling tidak 2 film dalam satu minggu!
Dan beberapa saat lalu saya dapat kabar bahwa saya dapat nilai A. Setelah 3 minggu yang membuat orang tua saya berkata, “Mama rindu sama kakak.”, sebab saya pulang dua hari (kira-kira 36-48 jam) sekali, itu pun malam dan biasanya saya akan langsung tumbang di kamar tanpa basa-basi, untuk lalu beberapa jenak pasca shalat subuh sudah berangkat lagi. Setelah mencoba menyelesaikan presentasi kasus ujian di minggu terakhir di tengah kondisi fisik yang mulai menurun. Setelah kemudian mempresentasikannya dalam Bahasa Inggris di luar 3 minggu yang sudah ditetapkan sebab konsulennya sibuk. Setelah berkali-kali menangis dalam diam sebab tidak mengerti apa yang sudah dibaca, ditambah lagi urusan keorganisasian di luar kepaniteraan yang sedang tidak kondusif kondisinya. Ya Rabb, baru di bagian ini saya benar-benar tidak bisa tertidur ketika berjaga, sebab begitu gelisahnya menjalani hari demi hari di bagian ini (dan jumlah pasien yang masuk yang ‘aduhai’ sementara saya jaga sendirian sebab jumlah dokter muda dalam kelompok saya cuma 3 orang). Setelah Allah mempertemukan saya kembali dengannya. Dengan sosok yang sama. Namun waktu dan kesiapan yang berbeda. Dan butuh bukti apa lagi, bahwa yang namanya jodoh itu adalah tidak hanya dengan “ia” yang tepat, tapi juga SAAT yang tepat. Sudah. Sesederhana begitu saja.
Lalu dari sama sekali benci dan tidak mau melirik sedikitpun karir di dunia kardiologi ini, saya jadi malah sebaliknya. Sesekali jadi berani membayangkan menjadi salah satu residen di SMF Kardiologi FK UI hehe, meski itu yet to be considered lagi lah. However, a new whole world has been unleashed. Itu saja sudah lebih dari sekedar bahagia.
"You should pursue specialty after this."
"Yes, Sir. I’m thinking of doing Cardiology."
"Dia mau ngambil Kardiologi ini! *sambil senyum ke rekan sejawat kosulen lain di ruangan*
"Sudah pantas, belum?", kata salah seorang sejawatnya.
Dan saya tidak peduli apakah nanti saya akan benar-benar bisa jadi spesialis jantung dan pembuluh darah atau tidak, apa saya pantas atau tidak. Saya cuma bahagia sebab kini saya tidak merasa takut lagi. Alhamdulillah.. :”)

Sunday, February 9, 2014

Es Campur yang Diberi Judul Sketsa Pelangi



Merujuk ke deskripsi bagi buku ini di situs resmi LeutikaPrio (penerbit indie yang menerbitkan kumpulan cerpen ini), kumpulan cerita pendek ini merupakan karya 25 penulis yang tergabung dalam grup ANTOLOGI ES CAMPUR. Dikatakan pula bahwa para penulis berasal dari beragam latar belakang, sehingga membawa gaya bercerita yang variatif. Keberagaman tersebut, disebut juga memberi kesegaran layaknya es campur dalam kumpulan cerita pendek Sketsa Pelangi ini. Menurut situs tersebut, buku ini layak dibaca karena mengupas segala sisi kehidupan manusia ini mengajari kita arti hidup tanpa harus menggurui. Tidak hanya tema cinta yang diangkat di sini, tetapi tentang keluarga, kehidupan di jalanan, fantasi, dan religi. Buku yang pas juga untuk koleksi, begitu kalimat terakhir di deskripsi mengenai buku tersebut.

Lantas, bagaimana pendapat saya mengenai buku ini? Well, sebagai buku pertama yang saya pilih dalam program #OneMonthOneBook, saya merasa salah pilih jodoh, eh, starting point. Buku perdana yang saya pilih, kira saya. Buku perdana ini, awalnya saya niatkan untuk membuat saya akhirnya berpikir, "Aha, see, udah lama banget ga baca hal-hal baru. Lihat tuh, keren banget kan cara orang membangun karakter, latar belakang. Oh, itu metafora baru! Oh, itu personifikasi yang lebih segar!", dan masih banyak harapan lain yang saya harap bisa kembali membakar semangat menulis fiksi saya yang mulai mendingin.

Tapi saya berakhir dengan sebuah tekad; kali kedua ini, saya harus menemukan sesuatu yang lebih dari buku yang saya baca. Meski tentu saja, dari buku Sketsa Pelangi ini (yang kebetulan merupakan hadiah dari seorang teman di Forum Lingkar Pena Wilayah Aceh, yang kini sudah pindah dan berdomisili di Pulau Jawa sana) tetap ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil. Berikut pelajaran-pelajaran itu.


  • Harusnya saya tidak pasang ekspektasi berlebihan mengenai kumcer ini, mengingat sejak awal saja kumcer ini sudah disebut dengan istilah ANTOLOGI ES CAMPUR. Benar-benar es campur cerita pendek dari 25 orang penulis berbeda! Meski dikatakan tidak hanya tentang cinta, saya justru menangkap kesan tema cinta masih merupakan tema dominan dalam berbagai cerpen dalam buku ini. Malah kalau mau saya ambil kesimpulan lebih kerucut lagi, lebih banyak tentang cinta yang tak berbalas, ditinggal pergi, dikecewakan dsb. Sama sekali bukan konsumsi yang baik bagi hati yang sedang bersedih; kemungkinan besar kegalauan akan meningkat pesat. Nah, masih "Es Campur"? Iya jika ditilik dari latar belakang semua penulisnya, tapi tidak dalam hal kekayaan jenis tema untuk ditelan.
  • Kemudian entah mengapa, saya merasa banyak cerpen di sini yang menggantung. Bukan, bukan question mark ending, tapi murni pemenggalan cerita begitu saja demi yang namanya cerita "pendek". Padahal, di situlah seninya sebuah cerpen; bagamana ceritanya bisa tetap memberi sebuah khasanah lengkap tentang konflik meski cuma pendek saja. Dipenggal bagaimana, mungkin begitu pertanyaan yang muncul dalam kepala teman-teman. Misalnya, cerpen diakhiri begitu saja dengan "hari sudah senja", atau "lamunan tentang masa lalu yang berakhir sambil menunggu kopi".
  • Saya menemukan bahwa lebih dari setengah dari cerpen-cerpen di sini menggunakan "cara lama" dalam memulai cerpen; dimulai dengan latar alam, baik pagi maupun senja. Ada matahari yang bersinar dengan gradasi yang berbeda; tapi intinya tetap ada matahari di paragraf pertama cerpen-cerpennya. Ada angin, awan, dsb. Boleh saja sih, memulai cerpen dengan cara seperti itu. Namun membaca lebih dari satu cerpen memulai ceritanya dengan cara yang mirip-mirip itu membuat saya cenderung "skip-reading" sebab bisa menebak dengan mudah maksudnya apa; padahal kan harusnya menikmati ya? Alangkah lebih baik, bagi seorang editor karya-karya yang bersifat antologi begini, untuk bisa jadi lebih jeli lagi menghindari faktor-faktor yang berpotensi menimbulkan kejenuhan pembaca begini. Menurut saya sih ya ini, bukan ahli sastra, cuma dari sudut pandang seorang pembaca saja. :)
  • Masih penasaran juga tentang buku ini? Well, jangan cuma baca pendapat saya saja ya, baca saja bukunya langsung. Mungkin bagi teman-teman, setelah membaca buku ini, semua pendapat saya di atas akan tertolak adanya. ;)
That's it for now, semoga tulisan ini membuat anda penasaran dan mencari buku yang saya paparkan di atas. Semoga jadi penasaran untuk membaca juga! ^^

Lamkeuneung, 8 Februari 201