Sunday, April 27, 2014

Bagaimana

Romansa jalan ini.
Kau selalu punya bangku berleyeh-leyeh nan syahdu di tepi-tepi tamannya.
Atau penjaja gula-gula oplosan dengan senyum segula dagangannya.
Dan pelangi yang bertengger di kaki pemandangan ini selamanya.
Lalu aku harus bagaimana, sayang?
Apa kujahit saja kelopak mataku; agar abadi kubutai semua fatamorgana?
Atau kubebat mati ikatan di tanganku; agar permanen kuborgoli semua huluran tangan yang merayu?
Terutama sebab langit semakin tak membiru.
Lalu ujung-ujung jari enggan memerah selalu.
Dan kau tak kunjung punya nama.
IGD RSUDZA, 29 Maret 2014

No comments:

Post a Comment