Wednesday, April 30, 2014

Jangan Cari Mie "Aceh" di Banda Aceh!




Siapa tak suka dimanja dengan makanan yang membuat lidah tak alpa mengecap dan mengucap "Enak!". Siapa pula tak cinta akan perasaan kenyang secara kuantitas maupun kualitas. Kuliner, dalam beberapa masa ini, mulai berkembang sebagai salah satu komoditas wisata yang tak pernah habis jika dikupas. Baik melalui media massa maupun media elektronik. Sebut saja Pak Bondan yang terkenal akan kata "maknyus"-nya di TV itu. Atau pelbagai lomba masak komersil yang menggunakan sistem eliminasi dari minggu ke minggu. Tak hanya masalah rasa, perkara komposisi atau kombinasi warna makanannya pun menjadi perhatian saat dikomentari atau penjurian. Hal ini menunjukkan bahwa isi dari sebuah piring menjadi lebih dari sekedar pengisi perut; ianya adalah pengisi bagi kantung cakrawala pengetahuan.

Tanpa meninggalkan kearifan lokal nusantara sebagai salah satu hasil budaya yang menggambarkan ciri bangsa, kuliner juga merupakan salah satu faktor utama yang bisa merepresentasikan suatu provinsi/daerah/suku tertentu. Sebut saja kata "rendang", maka anda otomatis langsung akan membayangkan Sumatera Barat. Atau jika ada yang mengatakan "pempek", sudah hampir pasti anda akan langsung teringat kota Palembang. Begitu seterusnya. Bukan suatu keanehan jika kita menandai suatu daerah dari makanan khasnya. Justru merupakan suatu titik ingat yang merangkum banyak hal; bahwa di daerah tersebut memang banyak rempah tertentu sehingga makanan khasnya punya rasa tertentu, atau bahwa ada banyak hasil tambak sehingga banyak makanan berbasis hasil tambak tersebut, dan lain-lain sebagainya.

Banda Aceh sendiri sebagai ibukota provinsi Aceh adalah daerah yang terkenal akan beberapa kuliner pilihannya. Sebagai jantung pemerintahan provinsi Aceh, Banda Aceh merupakan kota dengan warna-warni multikultural dari banyak suku yang ada di dalamnya. Kulinernya pun akhirnya ikut merefleksikan hal tersebut, di mana ada banyak ciri dari berbagai kabupaten lain yang menjadi juara cita rasa bagi lidah di kota yang juga terkenal dengan sebutan "Kota Para Raja" ini.

Tanyakan pada orang-orang yang tinggal di luar Aceh sana, apa yang pertama kali akan melintas di kepala mereka tiap kali disebutkan kata "Aceh". Selain kopi - dan warung kopi canggih berteknologikan wireless internet connection yang tersebar ke seantero kota Banda Aceh - yang masyhur namanya hingga ke banyak sudut dunia,  Mie Aceh tak akan luput dari kepala mereka juga. Meskipun mie bukan merupakan kuliner yang mula-mula berasal dari Aceh - melainkan dari Asia Timur seperti Cina, Jepang, dll - saya rasa sudah lebih dari sering Mie Aceh dijadikan sebagai objek utama di macam-macam acara kuliner atau liputan wisata ke Banda Aceh. Tak ketinggalan komentar bahwa Mie Aceh itu lain dari yang lain sebab rempahnya yang jelas kentara serta gurih-lezat-bikin nambah-nya yang tiada tara. Belum lagi bahan-bahan lain yang dicampurkan yang jelas menunjukkan hasil laut kota Banda Aceh yang segar nan menggiurkan seperti kepiting, cumi-cumi, udang, dan sebagainya.

Tapi silakan anda datang ke Banda Aceh hari ini. Dan saya tantang anda untuk mencari toko makanan yang menjual Mie Aceh seperti yang anda tahu dari berbagai liputan atau berita di media yang anda pernah baca/tonton tersebut. Saya akan lebih dari senang menemani anda untuk mencarinya. Sambil mencari, saya akan tunjukkan banyak sekali situs-situs penanda bencana tsunami, sejarah kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang berkorelasi langsung dengan Kekhilafahan Turki Utsmani di abad ke-16 dulu, dan masih banyak hal lain yang menarik dari kota kami selain makanannya. Dan jika nanti pun kita sudah selesai atau lelah berkeliling, saya yakin anda akan tetap tidak akan menemukan kata Mie Aceh di toko manapun.

Sebab memang tidak ada Mie Aceh di Banda Aceh!

Yang ada hanyalah berbagai jenis mie yang selama ini anda baca/tonton tersebut. Dengan berbagai rasa khas, bumbu berbeda, serta bahkan jenis mie khas Aceh lain yang mungkin tidak sering anda temui, anda sudah akan sekilas keliling Aceh merasakan berbagai ciri kuliner dari kabupaten lain. Berikut klasifikasi mie yang ada di kota Banda Aceh yang tak rugi anda cicipin untuk menambah koleksi khasanah cita rasa kuliner ke-Aceh-an anda.

1. Mie Goreng
Mie jenis inilah yang sering anda lihat di TV dan majalah itu. Jika di-Google, anda akan menemukan mie jenis ini sebagai definisi dari Mie Aceh. Sebut saja definisi dari Wikipedia berikut ini:
Mie Aceh adalah masakan mie pedas khas Aceh di Indonesia. Mie kuning tebal dengan irisan daging sapidaging kambing atau makanan laut (udang dan cumi) disajikan dalam sup sejenis kari yang gurih dan pedas. Mie Aceh tersedia dalam dua jenis, Mie Aceh Goreng (digoreng dan kering) dan Mie Aceh Kuah (sup). Biasanya ditaburi bawang goreng dan disajikan bersama emping, potongan bawang merah, mentimun, dan jeruk nipis.
Padahal, dalam prakteknya sehari-hari, tak pernah ada yang memesan dengan kalimat, "Bang, pesan Mie Aceh Goreng satu, ya!" atau "Kak, pesan Mie Aceh Kuah sepiring, ya!". Yang ada hanyalah Mie Goreng, dengan jenis Mie Goreng Kering atau Mie Goreng Basah! Aneh memang, mana ada sesuatu yang digoreng tapi hasil akhirnya basah. Tapi begitulah sudah menjadi kebiasaan di Banda Aceh. Maksudnya adalah, mie tetap 'digoreng' (baca: ditumis) namun dengan kuah yang banyak. Ada pula yang mengklasifikasikan jenis mie jenis ini dengan Mie Rebus, di mana kuahnya jauh lebih banyak dan mie semakin mengambang-ngambang di tengah kuah. Apapun, intinya ada Mie Goreng yang dengan atau tanpa kuah.

Kalau anda baru tiba di Banda Aceh dan ingin memesan Mie Aceh, jangan salah-salah dalam memesan ya. Kecuali anda ingin disenyumi atau digodai oleh pedagang atau pelanggan lain yang biasanya tak akan jauh-jauh dari penggorengan tempat mie dimasak. Ini juga sudah merupakan pemandangan lazim. Anda harus mau mengantri dekat-dekat si penjual mie yang biasanya akan memasak mie tersebut di depan anda, bukan di dapur tersembunyi di belakang bangunan. Silakan nikmati pula aroma rempah-rempah yang merekah ketika dituang ke dalam penggorengan lebar itu. Biasanya, di sinilah kita akan mulai mengeluarkan air liur pertanda rasa lapar ingin segera menyantap muncul.

Suasana salah satu warung yang menjual Mie Goreng. Tampak seorang pembeli menunggu di depan penggorengan.
Saya tak akan menunjukkan lagi alamat rumah makan atau restoran yang menjual mie tipe ini sebab hampir di serata kota, di manapun anda melihat ada toko makanan dengan "Mie Goreng" sebagai menu yang dikabarkan melalui stiker di etalasa kaca yang memamerkan mie kuning olahan dan bumbu serta sayur-mayurnya, di situlah anda akan selalu menemukan Mie Goreng. Sebagai referensi tambahan, saya menemukan sebuah tautan untuk tempat-tempat terkenal mencicipi "Mie Aceh" jenis ini, silakan klik di sini untuk meluncur ke sana. Ada Mie Razali, Mie Ayah, Mie Midi, Mie Lala, dsb. Rata-rata mereka punya "franchise" alias cabang di banyak sudut kota sehingga anda bisa menemui mereka dengan mudah. Tinggal pesan mau yang "kering" atau "basah" serta dengan varian tambahan apa anda ingin mie anda disajikan. Jangan lewatkan hasil laut kota kami yang dijamin akan membuat anda semakin ingin menambah porsi! Harga seporsi Mie Goreng rata-rata Rp.10,000 atau lebih jika ditambah dengan varian daging, cumi-cumi, kepiting dsb. Sejauh yang penulis tahu, tak sampai Rp.20,000, rata-rata lidah dan perut bisa puas sekalian oleh Mie Goreng di berbagai tempat di atas. :) 


Mie Goreng Basah, benar "basah" oleh kuah sup mie. Ada juga yang menyebut Mie Rebus untuk kuah sebanyak ini.
Mie Goreng Basah dengan varian daging sapi
Mie goreng basah dengan varian kepiting
Mie Goreng Kering, tanpa kuah
Mie Goreng varian cumi-cumi
                                 

2. Mie Caluek
This is the Spaghetti of Aceh! Mie jenis ini tak sering diliput media tapi merupakan kesayangan kebanyakan orang Aceh pada umumnya. Mie jenis ini lebih sering dikonsumsi sebagai jajanan sebab lebih mudah untuk disajikan dibanding Mie Goreng. Mie Caluek sendiri, jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia secara kasar, berarti Mie Rogoh, sebab melibatkan "perogohan" beberapa bahan yang sudah dipersiapkan secara terpisah untuk lalu diracik menjadi seporsi mie menggiurkan. Mie Caluek terdiri dari mie olahan sendiri yang sering disebut dengan "mie lidi" (sebab bentuknya panjang dan lurus seperti lidi), dituangi bumbu kacang mirip pecal (namun dengan bumbu rempah-rempah khas Aceh) serta serpihan kerupuk dan campuran sayur sesuai selera. Lebih spesifik, kerupuk yang sering digunakan, entah sengaja atau memang menjaga ciri yang sama di mana-mana, biasanya berwarna merah muda campuran putih. Mie jenis ini sering dijajakan di kaki lima, di sekolah-sekolah, kantor-kantor dan banyak tempat lainnya. Harganya pun cukup meriah untuk disebut murah. Menurut observasi penulis, dengan harga rata-rata per porsi Rp.5,000 saja kita bisa sudah kenyang dan tenggelam dalam syahdunya bumbu kacang bertemu mie lidi yang renyah dengan taburan kerupuk merah putihnya. Silakan bayar lebih untuk porsi yang lebih besar jika anda ingin tambah lagi! ;)
Sekilas, mirip spaghetti, kan?
Beginilah ketika mie jenis ini di-"caluek" alias dirogoh untuk diracik
Mie caluek dengan kerupuk merah putih khasnya
Asal-muasal mie jenis ini dikatakan adalah dari kabupaten Pidie. Hal ini sejalan dengan falsafah orang Pidie yang gemar merantau. Tak heran jika banyak penjaja Mie Caluek di Banda Aceh merupakan pendatang dari kabupaten Pidie atau paling tidak, belajar bagaimana memasak Mie Caluek dari seorang keturunan Pidie! Selain memang lebih mudah disiapkan dibanding Mie Goreng, syahdan katanya ini memang inovasi orang Pidie yang dikenal memiliki jiwa bisnis yang handal seperti kaum Tionghoa atau suku Minangkabau. Apapun alasan di balik munculnya Mie Caluek ini, yang jelas adalah satu hal. Sebab banyak yang menjual Mie Caluek ini di mana-mana, bisa lah kita paham bahwa populasi kota Banda Aceh ini banyak diisi oleh keturunan Pidie. Sebuah kearifan lokal yang bisa memberi gambaran geografis kepada yang memikirkannya.

Kanan : Mie Caluek yang sudah diaduk. Kiri : Spaghetti. Mirip kan? :D

3. Mie Kocok Geurugok
Jika disebutkan mie kocok, anda pasti langsung terpikir mie dengan kuah kaldu serta campuran tauge-taugean, perkedel, telur, bawang-bawang merah yang teriris serta pilihan kecap dan saos di pinggir piring. Mungkin begini kira-kira:

Mie kocok pada umumnya

Namun di Banda Aceh anda bisa menambah pengetahuan ke-mie kocok-an anda dengan satu lagi variannya; Mie Kocok Geurugok. Kuliner yang konon berasal dari Geurugok, sebuah daerah di kabupaten Aceh Utara ini memiliki ciri sendiri yang membedakannya dari kebanyakan mie kocok lainnya. Berdasarkan pengakuan seorang blogger yang berkesempatan mencicipi mie jenis ini, dikatakan bahwa mie ini memiliki kuah yang lebih kental dan anti-mainstream dibanding mie kocok lainnya! Ini jelas bisa diterima akal logis, sebab memang Aceh selalu punya nilai plus jika bicara masalah rempah-rempah, terutama di kabupaten-kabupaten lain di mana hasil perkebunan masih lebih banyak dibanding di kota-kota. Ada juga yang mengatakan ini adalah sebuah simbol bahwa orang Aceh tidak mudah menerima budaya luar, dan jika pun ingin menerimanya, ia akan tetap membuat perubahan terhadap budaya tersebut sehingga tetap sesuai dengan citarasanya sendiri. Dan itu berarti juga hal yang sama bagi makanannya. Syukurlah salah satu hasil assimilasi mie kocok dengan budaya Geurugok ini adalah salah satu hasil positifnya. Di Banda Aceh sendiri, mie jenis ini bisa dijumpai di dekat gerbang Simpang Galon, Darussalam (dekat kampus Universitas Syiah Kuala), di deretan penjaja makanan di sepanjang Jl. T. Umar, Seutui, dan masih banyak tempat lainnya. Berikut salah satu contoh Mie Kocok Geurugok yang dijual di Mie Kocok Cirasa di Seutui:

Sepiring Mie Kocok Geurugok a.k.a Cirasa
Kuah kental, tanpa irisan daging cincang melainkan suwiran daging ayam

Sedemikian sajalah dulu klasifikasi kuliner mie kita paparkan. Sebagai sebuah benang merah marilah kita renungi lagi bagaimana Banda Aceh bisa menjadi sebuah surga kecil bagi penikmat "Mie Aceh" tanpa harus keliling Aceh untuk mencicipinya. Adalah kota ini sebagai pemersatu bagi banyak latar belakang budaya yang berbeda di Aceh sendiri. Sudah seharusnya kita bisa merenungi kembali makna dari begitu berdampingannya semua kuliner ini dan justru membentuk harmoni wisata yang syahdu; mengapa kita tak bisa lebih syahdu lagi dalam menjaga perdamaian serta menjauhi segala bentuk pertikaian atas nama beda latar belakang asal daerah, apatah lagi jika terkait pilihan partai politik belaka. Sudah sepatutnyalah kita menjadi semenyatunya kepiting dan mie dalam Mie Goreng Basah; indah secara dipandang maupun secara indera pengecap. Atau jadilah persaudaraan kita bak kuah Mie Kocok Geurugok; kental dan menyatu tanpa pisah-pisah apalagi marah-marah. Dan sedikitnya kita bisa meniru bumbu kacang pada Mie Caluek; meski berbeda dan tak mungkin menyatu dengan kerupuk merah putih, paling tidak kita bisa menjadi penyemangat bagi yang berinteraksi dan memberi rasa yang sesuai dengan komponen-komponen lain di dalam piring. Jika makanan saja bisa duduk bersampingan dan membuat Banda Aceh bangga, mengapa kita tidak? :)


Selamat Ulang Tahun, Banda Aceh yang ke-809
Terima kasih sudah menjadi rumah bagi hati-hati yang selalu rindu untuk kembali..

14 comments:

  1. Replies
    1. kalau soal makanan aja, keren, hehe, makasii :3

      Delete
  2. kak traktir doong sepiring :3 *drooling

    ReplyDelete
  3. ngiler.. :3
    mie geurogok itu mie kocok kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya sih gitu, meski secara penampakan ga kaya mie kocok lazimnya hehe :D

      Delete
  4. Makan segitu banyak, awass Ndutt rilll...

    ReplyDelete
  5. mie aceh oh mie aceh, kenapa kau begitu mahal ketika di jual di luar aceh :D

    ReplyDelete
  6. Mie Aceh sudah menjamur di jakarta.. Byk Perantau Aceh melepas kerinduan dg menikmati kuliner mie aceh. Lazies :g

    ReplyDelete
  7. Wah mantap nih, baru tau klo ada mie aceh varian lain :9 Yg byk beredar d luar Aceh biasanya hanya mie goreng nya. Saya suka makan juga di mie aceh jalyjaly, tp pedasnya kadang ga tahan :D
    Salam kenal:)
    ririfoodtraveler.blogspot.com

    ReplyDelete