Sunday, April 27, 2014

Topi Kerikil



Jika diberi kesempatan untuk menggunakan sebuah alat dari kantong Doraemon, saya selalu ingin meminjam topi kerikil. Pasti menenangkan sesekali kelana ke sana ke mari tanpa dianggap ada oleh siapapun di sekitar kita. Seperti sebuah kerikil. Ada tapi dianggap tidak ada..
..Lalu bebaslah rasa ingin menyanyi, menari, bercerita, berteriak, memandangi rumput yang tumbuh di tepi jalan, memperhatikan isi sungai di bawah jembatan lama-lama, duduk di tepi trotoar sambil makan es krim sambil melihat-lihat gelantungan anak sekolahan di bus-bus yang lewat, menggeletak di hamparan lapangan hijau stadion yang sedang tidak digunakan, berbaring di bawah bayangan pohon kelapa di pinggir pantai, merendam kaki ke dalam air sungai, menginjak kerikil-kerikil yang ada di dasarnya.
Ah ya. Kerikil. Jadinya seperti kerikil menginjak kerikil, ya? Bicara apa saya dari tadi, ya? Hehe.
Tak peduli seberapa tidak sukanya kita akan posisi kita bagi dunia di sekitar kita. Seberapa diperhatikan tiap langkah dan keputusan kita. Atau senantiasa dikagumi banyak jiwa-jiwa innocent yang tak tahu apa-apa, padahal kita tahu persis apa yang orang kagumi tidak sebenarnya ada.
Tak peduli.
Kita tetap saja akan manusia selamanya. Bukan kerikil yang bisa dianggap tak makna. Kita adalah manusia yang tiap tindakannya penuh konsekuensi. Dan kita tak punya pilihan kecuali berdiri dan menghadapinya. Toh pada akhirnya Nobita saja mati-matian menangis ingin topi itu dilepas dari kepalanya. Sebab setinggi-tingginya keinginan kita agar dibiarkan sendiri (alone), kita pasti tak pernah mau jadi sendirian (lonely)..















Poli Ilmu Kesehatan Mata RSUDZA,
24 April 2014.
Baru sadar.

No comments:

Post a Comment