Saturday, June 28, 2014

Meugang; Antara Tradisi dan Cholesterol Party


“Ramadan tiba, Ramadan tiba. Marhaban ya Ramadan, marhaban ya Ramadan!”
-          Opick

Muslim mana tak riang hatinya ketika Ramadan tiba? Dengan berbukit-bukit keutamaan beribadah selama Ramadan dan suasana-suasana tertentu yang hanya bisa ditemui selama sebulan, rasanya secara jamak masyarakat muslim sedunia akan sumringah tanpa ragu. Tak ketinggalan muslim di Aceh yang tentu saja, jumlahnya adalah mayoritas sehingga ada banyak tradisi dan adat-istiadat yang berhubungan dengan Ramadan ini. Saya tak akan bahas tentang bid’ah dsb di sini ya. Itu silakan dengan yang lebih ahli. Yang jelas, saya penganut salah satu kaidah ushul fiqh di mana ‘uruf (adat) tertentu, selama tidak keluar dari koridor yang ada dalam agama, boleh dilangsungkan. Termasuk ke salah satu adat di Aceh menjelang Ramadan adalah Meugang atau Makmeugang atau Muegang atau Makmuegang, tergantung anda orang Aceh dengan lidah dari daerah mana. Di sini, saya akan menggunakan istilah yang digunakan oleh berbagai media nasional dalam memberitakan tentang adat ini di judul-judul beritanya; Meugang.

Apa itu Meugang? Silakan klik link-link di bawah ini.




Dan silakan lanjut Google sendiri jika ingin tahu lebih jauh lagi tentang Meugang itu apa. Tapi dari link-link di atas, saya rasa sudah cukup jelas bahwa Meugang ini identik dengan konsumsi daging merah berupa sapi atau kerbau dalam rangka menyambut Ramadan. Meskipun konsumsi daging ayam, bebek dan lain-lain juga kadang dijadikan tambahan, daging sapi adalah pahlawannya hari Meugang. Dengan olahan dalam berbagai cara, hari Meugang adalah hari di mana sekeluarga biasanya akan berkumpul dan makan bersama. Tak perlu diragu bagaimana makanan Aceh itu kaya akan rempah-rempah. Kegurihan masakannya terutama olahan dagingnya  merupakan bintang di hati banyak orang, dan tak ketinggalan, orang Aceh sendiri.

Pertanyaannya adalah, adakah hal-hal yang perlu diperhatikan selama Meugang begini? Biasanya, daging yang dimasak sehari menjelang Ramadan ini tak akan habis sekali santap dalam sehari, melainkan akan jadi menu sahur dan berbuka selama beberapa hari ke depan.

Dulu, di abad ke-14 saat pertama kali Meugang muncul berbarengan dengan penyebaran Islam di Aceh, prevalensi kolesterol mungkin masih rendah, ya? Belum ada internet, sehingga orang tahan berjam-jam online tanpa olahraga. Belum ada sepeda motor atau mobil, sehingga orang masih sering jalan kaki ke mana-mana. Belum ada kedai kopi ber-wifi sehingga orang tak bisa main Facebook dari pagi ke pagi lagi sehingga lupa atau tak tahu arah jalan pulang.

Tapi ini 2014, brosis! Prevalensi penyakit jantung untuk Indonesia, Aceh adalah nomor satu. Kebiasaan warganya yang tinggi perihal minum kopi dan merokok (apalagi ini, huh!) ditambah lagi kebiasaan tidak sehat berupa kurangnya olahraga atau exercise menjadi faktor risiko utama terjadinya penyakit jantung koroner. Di puskesmas tempat saya sekarang sedang belajar saja, stok obat simvastatin (untuk hiperkolesterolemia saja habis lho!) Jangan heran, inilah juga salah satu alasan mengapa di Aceh akhirnya didirikan fasilitas bedah hybrid jantung tercanggih di Indonesia. Parah pokoknya. Buktinya klik link di bawah ini :



Lalu, Meugang, bagaimana?
Ya memang ini Cuma sekali setahun, tapi bersikap moderate-lah. Jangan sampai ada pesta kolesterol kecil-kecilan di sirkulasi darah kita. Berikut tips-tipis agar Meugang tetap jalan dan kolesterol tidak pesta, terutama jika kita memang tahu bahwa kita memiliki kondisi hiperkolesterolemia.

1.       Pahami makna Meugang
Jangan cuma ingat daging dan masakannya. Ingat lagi kenapa dulu Meugang ini muncul. Resapi lagi makna Ramadan di depan mata kita. Google lagi sejarahnya Meugang. Diskusikan dengan keluarga nilai-nilai kebaikan dalam Meugang. Jadikan ajang silaturahim dengan keluarga. Jadi jangan makan sendiri-sendiri. Justru, baik sempat beli daging atau tidak, ngumpul-ngumpul dan saling mengingatkan akan target-target ibadah selama Ramadan misalnya, itu jauh lebih penting.

2.       Makannya jangan berlebihan.
Mau nyambut Ramadan sebab rindu Ramadan, kan? Dalam Ramadan kan kita dituntut untuk menguasai hawa nafsu. Ya kalau makan dagingnya kaya orang kesurupan, di mana dong nilai sacral menyambut Ramadan-nya? Jadikan Meugang sebagai pengingat bahwa menyambut Ramadan itu butuh bahagia yang tak hanya diukur dengan isi perut, tapi juga isi hati dan pikiran. Balik ke poin nomor satu sih.

3.       Bagi-bagi ke orang lain yang membutuhkan, terutama jomblo, anak kost, fakir miskin, dll.
Betapa tiap Meugang, update status atau twit orang-orang kadang bisa sedih-sedih sekali. Yang pengen rendang tapi tak ada yang masakkan lah. Yang pengen sop daging tapi sedang jaga di rumah sakitlah (pengalaman hihi). Yang Meugang tapi masih juga jomblo lah. Dan lain-lain. Nah, agar tak berlebihan makan sendirian, berbagilah kepada mereka!

4.       Siapkan “peredam” kolesterol anda
Kalau memang dari awal tahu kolesterolnya tinggi, ya sedia minimal simvastatin kek. Makannya juga jangan full daging. Sayur-mayur serta buah-buahan juag dikonsumsi dong. Dan masih banyak tips nurunin kolesterol lain, silakan cari di Google.

5.       Paling penting, ketahuilah kondisi diri sendiri
Medical check up, pernah? Jangan tiba-tiba saja sudah serangan jantung tanpa pernah tahu sudah lama kolesterol pesta di dalam darah kita. Terutama Meugang begini, seingat saya ada saja kasus yang masuk ke IGD. Sedia hasil medical check up sebelum sakit. Ukur lingkar perut. Kontrol berat badan. Jangan sampai kalau mau ruku’,sudah tak bisa lagi membentuk sudut 90o sebab terlalu banyak lemak yang menutup “six pack” di bagian depan perut.




Baiklah. Jadi, selamat menjalani tradisi Meugang tanpa membiarkan kolesterol pesta di darah kita, ya! Kalau sehat, yang senang kan kita juga, jadi ibadahnya lancar tanpa sakit. Karena bukanlah Allah lebih senang muslim yang kuat fisiknya? Ramadan kareem! ;)

Lamkeuneung, Meugang Ramadan 1435 H (28 Juni 2014)

Thursday, June 26, 2014

Satu Gambar Seribu Memori

Beberapa e-card amatir hasil editan dari koleksi foto-foto pribadi dari berbagai kondisi dan situasi. Ada banyak narasi yang bisa dijabarkan dari tiap gambar, tapi mengisahkannya pada kalian hanya akan merusak imajinasi kalian dalam menginterpretasikan setiap gambar yang ada. Well, selamat (semoga bisa) memetik hikmah! ;)












Wednesday, June 18, 2014

Memilih

Matanya gerayang lancang
Pinggang dikecak, lidah tak putus-putus berdecak
Keningnya terlalu kilap; polesan gemuk minyak pelumas kebenaran
- Yang mungkin tidak sebenar-benar tampakan

Maka pada berpulau-pulau rakyat
Kau sebenarnya memihak pada siapa, oh, engkau, yang melecuti koran-koran
Serta frekuensi publik
Dengan cambuk paling licin atas nama demokrasi

Para penduduk negeri butuh nasi
Bukan berita-berita yang dihiperbolai
Atau fakta-fakta yang disebut hitam dan menjatuhkan
Atau cerita-berita yang dibelaui demi tetap putih dan tidak lusuh dimakan ragu

Bahwa yang di bawah sini adalah akar-akar yang lapar
Hara-hara entah mogok massal sebab asap mobil terlalu pekat
Penuh di jalan-jalan yang lebih penuh lagi
Oleh papan-papan kampanye mengajak hidup-menghidupkan lingkungan

Jangan, Pak
Jangan bawa-bawa nama kami saat pasang badan
Sebab lambung kami perlu nasi dan pekerjaan untuk cari duit beli nasi lagi tiap hari
Bukan cuma ceramah lantang yang tak bisa kami kukus di dalam dandang

Jangan, Bu
Jangan coba bawa-bawa nama kami
Demi tumpeng yang katanya dibeli di luar negeri
Atau bangsa yang katanya belum terlalu hebat



Mei-Juni 2014,
Saat tiap Timeline dan Newsfeed penuh dengan puja-puji dan caci-maki.