Tuesday, July 15, 2014

Puisi Tentang Sebuah Negeri (Aksi Munasharah Palestina KNRP Aceh, 13 Juli 2014)

Saat sedang membacakan puisi. Puisi ini akhirnya selesai saya tulis setelah gelisah berjam-jam bingung hendak mulai dari mana. Gaza terlalu banyak memberikan pelajaran hingga saya bingung memilih diksi dan suasana..

Bersama ibu Illiza Sa'adduddin Djamal (Walikota Banda Aceh) yang turut berorasi untuk mengajak memperbanyak qunut nazilah, doa dan donasi untuk Palestina. Salut dan kagum dengan ibu yang satu ini; kebangaan warga Banda Aceh.

Jepretan personal seorang rekan dokter muda yang turut hadir.

Ahad (13 Juli 2014) lalu saya berkesempatan membacakan sebuah puisi dengan judul "Puisi Tentang Sebuah Negeri" di aksi penggalangan dana untuk Palestina yang diselenggarakan oleh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Aceh. Masih terngiang di kepala, bagaimana dikatakan oleh pembawa acara, ustadz Farid Nyak Umar bahwa ada seorang warga Banda Aceh yang memberikan donasi 5 juta rupiah sebagai tanda penghormatan terhadap puisi yang dibacakan. Alhamdulillah, semoga kebaikan terus menjalar dan menjadi kebaikan lainnya.
Dan terima kasih kepada cut kak Helvy Tiana Rosa sudah menjadi inspirasi dalam membaca puisi sebagai bagian dari mendemonstrasikan isi pikiran dan perasaan.
Perlu diketahui bahwa rekaman puisi ini baru dimulai di bait ketiga, dan ini pun saya dapatkan dari teman saya (terima kasih Khairun Amala, Allahu yubarik fik insya Allah!) yang secara spontan (tanpa saya minta) segera merekam setelah katanya sejenak "terhenyak". Dan ada beberapa kalimat dalam puisi ini yang "terimprovisasi" namun masih sesuai konteks dalam larik-larik yang ada. Termasuk, bait terakhir tak terbaca lagi sebab saya sudah kadung dikuasai emosi, maaf ya. Setelah menonton video ini, semoga kita makin terketuk untuk berdoa dan berdonasi ya. Untuk list nomor rekening donasi untuk Gaza yang bisa digunakan beserta lembaganya, klik link ini :https://www.facebook.com/nuril.annissa/posts/10203275773628746?notif_t=like
--------------------------------------
Puisi Tentang Sebuah Negeri 

Oleh : Nuril Annissa (13 Juli 2014 01:17 WIB)

Ini tentang negeri yang rakyatnya pantang mengemis

Ini tentang rakyat yang anak-anaknya pantang meringis

Adalah ia sebuah negeri

Yang akarnya tumbuh dalam hati kita
Yang getarnya gelayuti tiap sendi dan urat kita
Yang labuhnya membuai rindu akan sujud di tanahnya

Yang membuat kita mengirim doa

Yang membuat kita menumpahkan air mata
Yang membuat kita lupa akan siapa sebenarnya digdaya
Yang membuat kita merasa bukan siapa-siapa
Yang menampar iman kerdil tepat di ulu hatinya

Negeri yang membara

Negeri yang tetap tertawa meski langitnya koyak oleh nestapa
Negeri yang bersuara
Negeri yang tak pernah kurang cinta
Negeri yang mengajarkan kita makna membela bangsa
Negeri yang pemudanya menulis nama di tangannya agar tak sulit dicari jika sudah tiada
Negeri yang menanami bekas granat dengan tumbuh-tumbuhan
Negeri yang tetap terdengar azan meski bersahut-sahut rudal di atasnya
Negeri yang tetap belajar meski listrik lama tak masuk ke dalamnya
Negeri yang justru paling ramai cendekia-cendekia segala jenis sarjana
Negeri yang senjatanya batu dan perisai bernama rindu akan kesyahidan
Negeri yang anak-anaknya masyuk dengan kalam-kalam Tuhan
Negeri yang kirim uang untuk bencana nusantara sementara ia kekurangan makanan
Negeri yang kaum ibunya mengirim anaknya berjuang tanpa tangisan
Negeri yang gadis-gadisnya tak cengeng ala telenovela
Negeri yang bangunannya hancur lagi, bangun lagi, hancur lagi
Negeri yang nabi-nabi pernah bersemayam di atasnya
Negeri yang masjidnya kiblat pertama kita

Gaza

Palestina
Al aqsha
Sedarah kita
Sejantung kita

Gaza

Palestina 
Al aqsha
Semoga bukan kali ini pertama kali kau tahu tentangnya


Thursday, July 10, 2014

Kalsium Sayang Seorang Ibu


"Bayangkan, tiap kali seorang ibu melahirkan, ia harus menyumbangkan separuh simpanan Kalsiumnya bagi bayinya. Bagaimana jika ia punya 3, 4, atau 5 orang anak? Sudah berapa kali anaknya "merampok" jatah Kalsium sang ibu? Apalagi jika sang ibu tak punya asupan Kalsium yang cukup, itulah kenapa banyak ibu-ibu yang mengalami osteoporosis di usia tuanya."

Mama, Ummi, Ibu, Bunda; dengan panggilan apapun kaumemanggilnya, muliakanlah ia. Tak peduli ia hidup di kota, desa atau pinggiran kampung yang mungkin tak tertera di peta. Sungguh, lebih dari cuma Kalsium yang ia korbankan untuk kita, sehingga makin hari makin ia mengeluhkan "sakit pinggang", "bungkuk" (sementara kita cuma melirik sebentar lalu melenguh melenggang pergi). Ia mengorbankan kesehatannya dan dengan rela terancam berbagai komplikasi medis saat hamil. Demi siapa? Demi kita.

Jika dekat dan bisa sering berjumpa, bahagiakanlah dengan keberadaanmu dan berbagai cara.
Jika jauh dari pandangmu, kirimkan doa dan hubungi ia sesekali jika mudah.
Jika ia sudah tiada, duhai, bukankah tak ada lagi alasan untuk mempershalih diri lalu memperpanjang doa dalam tiap kesempatan baginya, bukan? Tak perlu menunggu tanggal 22 Desember tiap tahun lalu menyesal belum bisa membahagiakannya secara maksimal, kan?

Kamar Bersalin RSUDZA, 22 Desember 2012

Insting?


Hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat agar tidak turut menangis saat seorang kakek yang cuma bisa terbaring lemah di atas ranjangnya didorong dari satu bangsal ke bangsal lain (yang kebetulan merupakan tempat saya malam itu sedang jaga sebagai dokter muda ilmu penyakit dalam), untuk sekedar melihat dan memegangi tangan istrinya (yang kebetulan merupakan pasien yang saya tanggungjawabi) yang terbaring tak sadarkan diri. Kakek itu menangis. Emosi di matanya sendu dan pilu.

Ah. Siapa tak sembilu ketika yang dicinta sedang tak berdaya. Keesokan subuhnya, sang istri pun ternyata dipanggil "pulang" oleh Allah. Dan yang semalam itu, apakah insting? Cinta itu memang penuh misteri..

Bangsal IPD Perempuan RSUDZA, 12 Mei 2013

Generasi #MoveOn


Jadi muslim itu harus selalu bisa dan berani #MoveOn.

1. Berani #MoveOn kakinya, jika melihat shaf di depannya masih kosong/ muat satu orang lagi agar shaf tetap rapat dan rapi.

2. Berani #MoveOn tangannya jika melihat sampah/ duri di tengah jalan untuk dibuang di tempat sampah sebab ia tahu kebersihan sebagian dari iman.

3. Berani #MoveOn hatinya ketika melihat saudara-saudarinya seiman dan se-Islam terdzalimi/ tersakiti/ berjuang sendiri di negerinya memperjuangkan harga diri dan keimanannya; berani untuk memberikan harta dan doa terbaiknya bagi mereka.

4. Berani #MoveOn dirinya, untuk mengingatkan sekelilingnya agar lebih taqwa pada-Nya. Berani pula #MoveOn dirinya jika gagal, untuk tidak menenggelamkan diri ke dalam lingkungan yang menyesatkannya.

5. Berani #MoveOn jiwanya dari kekalutan duniawi dan malah mengedepankan seluruh kekuatan untuk menjadi bagian dari penyeru ke indahnya Islam. Bahkan sejak muda, ketika sebagian sebayanya masih masyuk dengan kisah kasih yang kadang banyak kesahnya.

6. Berani #MoveOn nuraninya dalam mengakui kesalahan dan berjanji secara ksatria untuk tidak mengulangi kesalahannya; minta maaf, baik pada-Nya maupun pada sesama manusia.

7. Masih banyak berani #MoveOn lainnya. Mau menambahkan? Semoga kita termasuk ke dalam generasi #MoveOn ini ya. Amin. 



Lamkeuneung, 3 Ramadhan 1434 H.

Gambar Berdarah-darah dari #EgyptMassacre


Gambar-gambar yang beredar terkait #AntiCoup #StopMasacreinEgypt#Egypt dsb memang tidak diblur. Ada darah di sana? Ada luka-luka yang menganga di sana? Iya.

Jika beberapa menganggap itu adalah sebuah "horror view" bagi pengguna internet di bawah umur, saya sarankan diblock saja untuk sementara semua sumber gambar tersebut jika mengganggu. Di dunia yang serba tanpa batas bernama internet ini, yang bisa kita lakukan adalah melindungi diri, sulit untuk mengharap orang lain mengikuti semua nilai-nilai dan prinsip yang kita anut.

Meski jika ditanya pada saya, secara pribadi tak akan menyamarkan semua gambar itu.

Dan jika suatu hari nanti saya punya anak, dan anak saya melihat gambar-gambar serupa itu, saya tak akan menutup matanya.
Saya justru akan berkata padanya,

"Nak, ini adalah saudara kita. Tidak seayah-ibu memang, tapi kita sama-sama muslim. Atas nama sama-sama muslim, kita adalah saudara. Yang berwarna merah itu adalah darah namanya, Nak. Kalau tangan kita teriris pisau, darah yang sama akan keluar dari tangan kita. Dan itu, adalah darah yang keluar dari badannya banyak sebab banyak tusukan/ irisannya. Kalau keluar terus seperti itu, darahnya akan habis, jadi lemas dan bisa meninggal. Kasihan ya Nak. Makanya kita sekarang wudhu', shalat, nanti setelah shalat kita berdoa buat mereka dan keluarganya agar diselamatkan oleh Allah. Bisa berkumpul dengan keluarganya seperti kamu berkumpul dengan Bunda, Ayah dan adik-adikmu."

Mengapa saya mengambil posisi begini? Tak takutkah saya anak-anak akan terkena dampak psikologis? Jawabannya, saya hanya akan takut jika anak saya terkondisikan oleh bahwa darah itu mengerikan oleh berbagai tayangan yang beredar. Justru menurut saya, anak-anak kita harus paham bahwa ada yang bernama ummat (tak hanya ia dan keluarganya dan teman-teman bermainnya saja) yang mendiami bumi ini sejak kecil. Saya belum berkeluarga, tapi saya pernah melihat seorang ibu melakukan hal tersebut pada anaknya, dan anaknya tidak pernah trauma, justru semakin mengembangkan empati pada ummat sejak kecil. Mudah sekali trenyuh dan mengeluarkan uang recehan jajannya ketika mendengar kata Palestina atau penggalangan dana.

Bagaimanapun juga, ini hanya pendapat pribadi saya yang belum begitu mumpuni di bidang tumbuh kembang anak. Yang punya pendapat berbeda, tak akan saya bantah juga. 


Yang di atas adalah status Facebook saat Ramadan tahun lalu, dan kini, #R4BIA masih saja diuji oleh Allah; tanggal 3 Agustus nanti, ratusan orang akan dijatuhi hukuman mati karena membela kebenaran dengan cara demo damai duduk di jalanan. Ah, dunia macam apa ini yang kita tempati..

Pesan Sponsor Lebaran dari Paramedik


Pesan sponsor dari paramedik dan calon-calon paramedik di seluruh pusat kesehatan di manapun anda merayakan Idul Fitri 1435 H;

1. Petasan dan kawan-kawannya hanya akan menimbulkan kemungkinan luka bakar, baik ringan, sedang, maupun berat. Anda mau, besok pagi, bukannya shalat id, melainkan nongkrong di IGD? Para dokter bedah sih akan lebih dari senang membantu operasi rekonstruksi kalau lukanya cukup parah.

2. Jilbab boleh oke. Rambut boleh kece. Tapi kalau tidak pakai helm lantas ikut konvoi takbiran, lalu ada terjadi kecelakaan. Kami tunggu di IGD, untuk kemudian kita lihat sama-sama di CT-Scan (kalau alatnya tidak rusak sebab dipakai berlebihan tanpa istirahat, tergantung angka kecelakaan), seberapa parah patah tulang tengkorak/ perdarahan dalam otak anda. Paling nanti nginap di ruang rawat saraf. Bicara meracau kalau cukup parah, atau hilang kesadaran sekian lama kalau lebih parah. Atau tidak sempat melalui itu semua karena sudah dipanggil Allah.

3. Memang Ramadhan sudah tiada. Puasa pun haram hukumnya di hari raya. Tapi jangan sampai pesta kolesterol. Atau kenduri tinggi gula dan lemak. Begini juga ditunggu di IGD. Untuk dirawat inap di bangsal IPD. Yakinlah, tak enak diambil darah melulu untuk dicek kadar gula dan lain-lain setiap hari.

4. Ayolah. Ketika Ramadhan begitu bisa kita kontrol emosi dan hawa nafsu. Masa baru sehari berpisah, kita kembali menjadi pribadi berlebih-lebihan dalam banyak hal. Ayo buktikan, kita keluar dari Ramadhan ini dalam keadaan jauh lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih bertaqwa. Kesehatan akan datang beriringan dengan sikap-sikap yang demikian. Wallahu a'lam. 



Pesan di atas pernah jadi status di Facebook di 1 Syawwal 1434 H, IGD dan Ruang Rawat Geulima 1 (Neurologi), RSUDZA, Banda Aceh. Kini, Ramadhan menjelang Syawwal 1435 H sudah..

Dek Koas Pernah Kecelakaan Juga


Dua hari "mendekam" di rumah tanpa "wajib hadir" dan atau "jaga", lalu kemudian saya merenung,

"Allah, terima kasih atas kesempatan untuk tidak Kau panggil dulu menghadap-Mu kemarin. Terima kasih telah membuatku ingat mengancingkan pengait helm sebelum berangkat sehingga benturan ke aspal terserap ke helm dan bukan calvaria-ku. Terima kasih telah membuatku memilih kaos kaki berbahan lebih tebal dari biasa ketika berpakaian paginya sehingga yang robek-robek kaos kaki dan (minimal saja lecet) di kakiku. Terima kasih telah membuat adik yang kubonceng terseret di atas ranselnya sehingga ranselnya yang rusak, bukan badannya. Terima kasih sudah menjawab kemelut pikiranku yang sempat ribut sejenak sebelum stang motorku tersenggol stang motor orang lain. Terima kasih atas tukang becak yang kebetulan lewat dan langsung menawarkan becaknya untuk membawaku ke IGD RSUZA. Terima kasih atas sahabat-sahabat terbaik yang membantu dan menghibur di IGD tanpa pamrih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Dan kini, aku sadar, ya Rabb, lebih baik lecet dan lebam di sekujur fisik, daripada berkelanjutan cedera di dalam hati.."

Lamkeuneung, 19 September 2013, dengan tangan kiri yang waktu itu sudah bisa ikut membantu tangan kanan mengetik, tapi belum bisa menggenggam sempurna.

Versi-versi tentang Seorang Dokter


Versi pasien yang duduk di depan meja dokter :
"Dokternya sibuk dengan handphone. Mana handphone-nya 3 buah lagi. Semua diladenin. Saya cerita panjang lebar didengerin apa ngga, saya juga kurang tau. Tetiba aja udah jadi resepnya. Dokternya ga care! Terus semua koas-koas masuk semua juga diladenin. Kenapa ga ngasih waktu buat saya konsultasi maksimal, sih? Pulang dari sini saya mau lapor gubernur Aceh, ah. Biar tau rasa dokter ini. Mentang-mentang saya cuma pasien JKA, saya diperlakukan kaya gini. Huh!"

Versi pasien di ujung telepon :
"Dokter ini ya, udah lama ngangkat teleponnya, jawab pertanyaannya pun singkat-singkat. Kenapa ga dengerin cerita lengkapnya sih? Anak saya udah bisulan sejak kemarin ini, bisa-bisa bahaya siapa tau, kan? Memangnya mau saya kalau saya ga bisa ke rumah sakit sekarang juga? Kalau saya punya mobil juga saya udah ke IGD biar cepat ditangani. Dokter macam apa ini, ga ada etikanya. Suaranya datar bilang, "Besok datang ke poliklinik anak saja ya, Bu.", memangnya dia kira anak saya bisa menunggu? Dia rewel ini! Ah, mending saya bawa ke klinik Tong Fang aja deh!"

Versi sang dokter :
"..."

Sang dokter tak sanggup lagi berpikir lurus. Pasien yang harus ditangani per hari di poliklinik tidak kurang dari 50'an pasien. Belum lagi pasien di bangsal, ada sekitar 6-7 pasien, dan beberapa pasien tambahan titipan pegawai RS yang diselip-selip di antara jam klinik, sementara pasiennya tidak dibawa serta, sehingga harus berpikir ekstra keras mau memberikan terapi seperti apa. Belum lagi ada yang menelponnya terus menerus menanyakan hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan tenang asal yang menelepon tidak panik, belum lagi ancaman akan dilaporkan kepada pejabat setempat dan bahwa akan dibuat dipecat/ dikeluarkan dari program pendidikan dokter spesialis. Lalu para dokter muda yang dilirik sebelah mata oleh pasien, sementara mereka juga butuh waktu dan bimbingan untuk memeriksa pasien. Belum lagi tugas-tugas mereka yang harus diperiksa segera sebab pihak fakultas sudah meminta nilai segera dirampungkan. Sudah 2 hari belum bisa pulang sebab jadwal jaga sambung-menyambung dan pasien berlimpah masuk IGD semalaman, sementara itu ada satu SMS masuk ke handphone yang nomornya dibuat pribadi khusus untuk keluarga,

"Pa, anak kita demam terus. Harus bagaimana?"

________________________________

The narration above is inspired by true events, udah itu aja.

Perempuan, Dokter, Cinta, Cita-cita & Ummat


"Perempuan. Sudah dokter saja, sudah banyak yang segan untuk melamar. Kalau tambah-tambah lagi jadi spesialis, atau sekolah S2, S3, ngga tanggung-tanggung lagi, ke luar negeri, atau pake pingin kerja di WHO atau lembaga internasional lagi, bagaimana? Mana berani orang mendekati. Mau, menjadi tua sendirian?"

"Jadi, harusnya seperti apa?"

"Ya, sekolah sih boleh. Secukupnya. Jangan terlalu meninggikan diri, tidak ada yang sanggup meraih ketinggian itu nanti.."

"Oh."

"Oh, apa?"

"Oh, ya sudah."

"Ya sudah, kamu sepakat? Untuk belajar secukupnya saja? Untuk akhirnya menyesuaikan derajat mimpi dengan realita?"

"Well, that depends."

"Depends on what?"

"Depends whether Islam has reached its highest civilization achievement. When that happens, then you can ask me to sit down and no longer dream high. Let alone some cheesy romanticism. If you love, you pursue. If you don't dare to pursue, it is not love. As simple as that. Kalau nanti rupanya saya cuma mengejar posisi, dan bukan prestasi yang memberikan kebaikan bagi ummat, yang mengikuti posisi tersebut, bolehlah saya ditegur. Tapi untuk berhenti bermimpi? I don't think so.."

------------------------------------------------

Kadang kita sering mengenyampingkan mimpi besar bernama "Ustadziyatul 'alam" dengan khayalan kebahagiaan pribadi. Kadang. Dan itu membuat sedih. Ketika kita merendahkan standar pencapaian kontribusi bagi kemajuan peradaban cuma karena alasan "cinta", ah, seolah "cinta" adalah penghalang. Seolah "cinta" adalah rintangan.

Menurut saya, "cinta" adalah kekuatan maha dahsyat yang membuat Ummu Salamah marah besar ketika anak-anaknya tak berangkat perang bersama Rasulullah. 

Menurut saya, "cinta" adalah keberanian Shafiyyah "mengkhianati" kaum sedarah-keturunan-nya, para Yahudi, untuk menikah dengan Rasulullah saw; menjadi bagian penting dalam sejarah shahabiyyah yang kita baca-baca sekarang.

Menurut saya, "cinta" adalah kejujuran sang gadis Anshar menyatakan penolakannya atas lamaran Salman Al-Farisi dan pengakuannya atas ketertarikannya yang malah jatuh pada Abu Darda', yang awalnya cuma menemani Salman Al-Farisi untuk melamar sang gadis. Suatu langkah besar untuk menghindari ketidaknyamanan hati yang berpotensi menimbulkan "perasaan yang tidak tuntas dengan orang lain" dalam kehidupan rumah tangganya nanti. Sementara berumahtangga adalah ibadah yang seharusnya membuahkan pahala dan kasih sayang, bukan penyesalan berupa "andai suamiku bukan yang ini". 

Tak kah kita melihat, bahwa mereka yang ada di sekitar Rasulullah saw di masanya itu begitu tegas dan jujur mendefinisikan cinta. Lebih mengedepankan keinginan meraih ridha Allah daripada berkumpul di rumah bersama seluruh anggota keluarga, mendapat tempat di suku asal geografis, atau ketidakenakan pada orang lain. Mereka begitu ada apa-apanya dalam berbagai keputusan. Bukan sekedar pasrah dan apa adanya. Apalagi sekedar takut "tak ada jodoh". Seakan-akan Allah bisa silap menentukan siapa jodoh untuk kita, dan kapan kita akan dipertemukan dengannya; sungguh bukan mental ummat yang mengaku beriman pada Allah beserta seluruh set qadha dan qadr-Nya.

But hei, ini IMHO sih. CMIIW.

"You Should Marry Him!"


Satu pelajaran mahal dari mewawancara pasien psikiatri :

Sabar itu tidak ada batasnya. Dan dalam mendengarkan dengan seksama itu ada suatu kedamaian yang bisa tiba-tiba menyeruak; bersyukur atas hidup yang mungkin kita anggap "terlalu biasa" selama ini. Sungguh, ada banyak yang mau menukar hidupnya dengan hidup yang kita anggap "terlalu biasa" ini.

Cuma kalau tetiba para pasien psikiatri ini merasa butuh memberi nasihat untuk hal-hal terkait kehidupan pribadi si dokter muda, harus banyak lapang dada meskipun masukan itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan si dokter muda yang sebenarnya. Misalnya jika di tengah wawancara, tanpa pendahuluan apapun, ia tiba-tiba berkomentar, "You should marry him, before he's taken by somebody else.", di sinilah ilmu manajemen tertawa dan muka anti pangling harus benar-benar digunakan. Really, who is "him", anyway? What a random sentence on a random day!

Dan ya. Pasien psikiatri banyak yang bisa berbicara bahasa Inggris. 


RSJ Aceh, 28 Januari 2014

"Not All Australians are Like That, Dear.."


"You're f****** muslim! Such a f****** immigrant! F*** your country! Go back to your f****** country!"

Saya ingat saat itu saya cuma bisa terdiam dan membatu di bagian dalam dekat pintu bus. Mendengar sumpah serapah dari pria putih tinggi besar dengan kaos tanpa lengan dan jeans yang berdiri tepat di tengah bus, saya henyak. Bau alkohol semerbak di udara, pun di tangannya masih tergenggam sebotol sementara tangan satunya lagi menunjuk-nunjuk ke arah saya. Kacamata hitam membuatnya semakin pongah bersama gaya rambut cepak. Saya sempat keder. Segera duduk di bangku terdekat. Seisi bus diam saja menyaksikan sumpah serapah sang pria. Saya cuma bisa menggenggam pegangan ransel dan ujung jilbab putih seragam sekolah saya. Erat-erat.

15 menit kemudian, sang pria pun akhirnya turun di tujuannya, meski masih dengan caci-makinya yang memudar seiring kembali melajunya bus di atas jalan.

Kemudian seorang ibu paruh baya dengan rambut putih mendekati. Menepuk bahu dengan lembut, lalu berkata,

"Not all Australians are like that, dear.."

Dan bukankah indah mengetahui, bahwa masih ada yang peduli? Kadang, cukup satu orang saja. Dan dunia bisa jadi lebih terasa terbuka. Dan kesedihan sirna. Dan seketika stereotip di pikiran bisa kami diskusikan dengan baik. Tanpa cacian. Justru dengan kebaikan.

Bukankah memang benar, bahwa hati hanya bisa dijangkau oleh hati?

Melbourne (Australia), suatu hari di 2007.

Tentang Seorang Wanita Berbedak Cemong di Rumah Sakit Kami


Saya selalu iri dengan seorang wanita paruh baya namun dengan kelainan mental yang sering wara-wiri di rumah sakit tempat saya kepaniteraan (baca: koass). Badannya kecil pendek, sering mengenakan kerudung putih, kemeja putih, dengan lipstik agak merah dan bedak yang cemong. Ia sering keliling dengan sebuah kursi roda yang didorongnya sendiri. Isi kursi roda tersebut biasanya buah-buah (entah dari mana) dengan jumlah sekedarnya yang dijual dari bangsal ke bangsal. 


Sesekali (sebenarnya sering kali), ia malah mengedukasi pasien setelah kami paramedis mengedukasi pasien. Dengan wejangan khas "pengalaman seorang pasien dengan penyakit yang sama/mirip", yang kadang malah bertolakbelakang dengan edukasi kami.

Di wajahnya tak pernah beban. Ia bahkan menyapa kami tanpa tekanan. Padahal jelas ada yang tidak sinkron antara "pelayanan" yang kami tawarkan dengan yang dia tawarkan.

Dan pada hal tersebutlah saya iri padanya. Ia berkeliling membagi apa yang ia bisa bagi tanpa pamrih. Pada keluarga pasien seantero rumah sakit. Berbicara sendiri sambil berjalan, tertawa dan menyampaikan informasi yang terkesan penting (padahal entah apa yang ia ceritakan) semena-mena pada sesiapa yang dijumpainya.

Ah. Kadang, mereka yang kita anggap sakit jiwanya, lebih bahagia dari yang kita kira. Sementara kita? Selalu ingin lari. Selalu ingin pergi. Khawatir sakit hati. Cemas ditusuk oleh teman sendiri.

Tak berani menjalani hidup dengan nafas panjang dan mata yang tajam memandang. Pengecut. Pengecut sejati yang mengaku waras ke sana-sini..


*don't worry, I'm talking about nobody, but someone I see in my mirror every morning*
26 Desember 2013

Cinta itu Sa(la)h

Cinta itu menggeli(sah)kan.
Cinta itu men(ye)jarah.
Cinta itu sa(la)h.
Cinta itu menera(wa)ngkan.
Cinta itu menyema(ngat)i.
Cinta itu ceri(t)a.
Cinta itu mat(ar)i.

Pada akhirnya, ia selalu punya dua sisi. Ialah pelangi, ialah cemeti. Ialah mawar, ialah halilintar. Ialah penenang, ialah pembangkang. Ialah bahagia, ialah air mata.

Maka berterimakasihlah pada Tuhan. Atas cinta-cinta yang tidak tiba bukan pada masanya. Lalu memohon ampunlah juga pada-Nya. Untuk cinta-cinta yang jatuh tidak pada tempatnya.


24 Desember 2013
Hasil "ngutip" dari status Facebook, waktu itu tak banyak sempat ngeblog.

Tawakkal dalam Mengapung


Saya ingat beberapa tahun lalu saya pernah diajarkan berenang oleh seorang saudari. Katanya, hal pertama yang harus saya pelajari adalah mengapung. Maka berusahalah saya mengikuti segala instruksinya. Meluruskan punggung. Merilekskan badan. Jangan panik. Dan di bagian "jangan panik" ini saya terus-terusan digerutui. 

Waktu itu saya protes padanya. Saya bilang, lepas dari segala arahan, dia tidak boleh lupa kalau saya juga punya faktor predisposisi yang bisa jadi menjadi penghambat dalam proses belajar berenang tersebut. Saya sampaikan masalah berat badan dan postur tubuh misalnya, bisa jadi sebagai salah satu faktor pemberat dalam proses berenang. Saya ditertawakan saat itu, saudari saya langsung menyerocosi saya dengan fakta tentang seorang saudari lain yang berat badannya hampir 100 kg namun sangat ligat dan cekatan dalam mengayunkan lengan dan kakinya di danau dalam yang kami tahu. Saya tidak menyerah. Saya terus saja menyecarinya dengan berbagai alibi dan argumen. Dan untuk setiap argumen, saya menerima ceramah panjang dan beberapa cubitan. Tentu saja, saya terus saja menghindari cubitannya dan terus saja bicara.

Saat itu kami tidak hanya berdua. Ada satu lagi saudari yang menyertai kami, juga sedang belajar, tapi jauh lebih kalem daripada saya. Dan akhirnya, ia pun angkat bicara dan membuat saya terdiam.

"Katanya, satu-satunya cara untuk bisa belajar mengapung itu adalah tawakkal. Berserah diri seutuhnya pada Allah."

Deg!

"Walaupun akan ada air yang masuk ke telinga kita? Walaupun batas air dengan lubang hidung cuma beberapa sentimeter saja?"

"Iya. Katanya gitu. Coba, yuk."

Deg lagi!

Tawakkal. Menyerahkan diri pada pengamanan Allah saja. Menyerahkan ujung cerita pada Allah saja. Seutuhnya yakin Dia akan melihat dan tak akan melepaskan pengawasan-Nya. Tidak panik..

Maka mulailah kami mencoba "tawakkal" untuk mengapung. Terus-terusan berkata pada diri sendiri bahwa semua akan tetap baik-baik saja. Bahwa membiarkan sesuatu yang asing masuk ke telinga itu tidak mengapa asal membrana timpani (gendang telinga) tidak pernah mengalami infeksi/pernah berlubang. Dan perlahan, seiring hari terus menyengat dengan matahari yang terus meninggi, kami pun pelan-pelan berhasil mengapung di salah satu ceruk yang sedikit lebih dalam di pantai tersebut.

Jika untuk mengapung di laut dunia saja kami harus tawakkal pada-Mu. Apalagi untuk "mengapung" di laut kehidupan-Mu yang jauh lebih luas dari itu.

Ah, Allah. Utuh. Yakinku kini utuh pada-Mu. Kau tahu isi hatiku. Kau tahu isi pikiranku. Kau tahu semua harapan dan doaku. Tapi aku juga perlu tahu, Kau lebih tahu tentang apa yang akan terjadi dan terbaik menurut-Mu..

Pantai Anoi Itam, Sabang, suatu hari.

Gurindam Suram

Pada langit yang diam.
Menyembunyikan bintang dalam pelukannya yang hitam.
Di mana gelegak bundar purnama dipendam.

Jangan kautuduh ia tak ingin memberi pemandangan yang kaupuja; malam.

Karena bukankah sesekali hidup itu tak manis; malah asam?
Sebab bukankah hidup tak senantiasa gemerlap; melainkan suram?

Kadang, kita butuh sebungkus kelam untuk bisa jauh lebih menghargai sepotong bohlam.
Kadang, cinta memang harus diuji secebis klimaks agar hilang segala dendam.

Dan inilah, sayang, dariku untukmu; larik-larik mendemikan masa dalam gurindam.

Banda Aceh, November 2013.

Kapal Tanpa Mesin


Kapal kita tanpa mesin, sayang.
Hanya layar. Yang terkembang.

Di atas samudera kita berdansa dengan gelombang.
Lalu surut dan pasang.
Sekali gelap sekali terang.



Maka aku sekali lagi melamarmu untuk bertualang.
Tanpa asuransi yang siap menalang.
Tanpa raja yang akan menobatkanmu sebagai ksatria pejuang.
Tanpa dijanjikan hidup tua berdayang-dayang.

Dan jika kau menerima ini peluang.
Maka tak ada lagi masa untuk berdendang.
Punah sudah semua waktu senggang.
Yang ada hanyalah nyeri dan panas yang memanggang.
Yang ada cuma badai dan topan yang menghadang.
Yang menanti cuma horizon tanpa batas pandang.

Maka sekali lagi kutanya, siapkah kau ikut bertualang?
Siap kau tak lagi bisa bebas di alun, pasar, dan tepi kota bergentayang?

Maka kemarilah, sayang.
Turut bersamaku, dan sejumput keluarga yang dulunya juga pernah merasa paling pecundang.

Teruntuk seluruh pejuang yang mulai takut kapalnya goyang, jangan sekali-kali keluar kata itu. Bimbang? Buang!

Di sela jam jaga di Ruang Rawat Seurunee 1 RSUDZA, 25 Oktober 2013.

Wednesday, July 9, 2014

List Rekening Donasi Gaza-Palestina Versi Sepengetahuan Saya

Banyak yang bertanya pada saya, lantas, kalau mau menyumbang untuk‪#‎Gaza‬, bagaimana caranya? Saya sudah menyodorkan opsi lembaga-lembaga dan bahkan bisa lewat yang menyalurkan bantuan melalui personal project tanpa lembaga. Tapi kiranya masih membingungkan jika harus klik sana-sini cari-cari informasi. Maka dengan itu, saya bantu dengan mengumpulkan informasi-informasi yang membuka channnel bantuan untuk Gaza di bawah ini.

Berikut juga galeri foto kecil-kecilan yang saya buat sendiri untuk spread the word dengan tagar ‪#‎SavePalestine‬ ‪#‎BenarBenarPeduli ‬‪#‎DukungPalestinaMerdeka‬. Mau menambah panjang pesan ini hingga sampai ke lebih banyak lagi orang lain? Upload fotomu yang memegang tanda dengan tagar yang sama lalu copas info di bawah ini sebagai caption-nya. Mungkin uang kita tak banyak untuk disumbangkan, tapi mengajak orang lain untuk turut menyumbang adalah upaya untuk memperbanyak "sumbangan" kita di rekening amal. Karena bukankah, tiap kali kita berhasil mengajak orang lain melakukan suatu kebaikan, maka pahala kebaikan itu akan di-copas ke buku amal kita tanpa mengurangi pahala amal di pelaksana?

Dan oh ya, saya tidak menerima komentar "Bangsa ini masih begitu banyak masalah, jadi ngapain urus bangsa orang lain!" ya. Orang-orang seperti ini tidak siap jadi bagian dari global society, ummat universal.

----------

Sahabat Al-Aqsha (http://www.sahabatalaqsha.com)
Donasi Palestina:
Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799800009 
an. Sahabat Al Aqsha Yayasan
atau email ke sahabat@sahabatalaqsha.com atau SMS ke 087700998009


No. Rek BSM : 701 836 2133
No. Rek BCA : 760 032 5099
an. Komnas untuk Rakyat Palestina
informasi lebih lanjut hubungi 021-7812311


No. Rek BSM : 101 000 5557
No. Rek BCA : 676 030 0860
No. Rek Mandiri : 128000 4593338
Konfirmasi donasi DM ke akun Twitter @ACTforHumanity atau email ke konfirmasi@act.or.id


Berbagi Ramadhan Gaza
"Berbagi kebahagiaan di bulan Ramadhan dengan donasi paket sembako untuk warga Gaza yang membutuhkan. Kapan lagi beramal di bulan suci. Ayo berbagi!"
1. Paket Rp. 350.000,- (11 jenis bahan pokok)
2. Paket Rp. 250.000,- (6 jenis bahan pokok)
No.Rek Muamalat : 0112827540 (utama)
No. Rek Mandiri : 122 000 562 5119
No. Rek BCA : 733 033 5399
No. Rek CIMB : 9030112564112
a.n. Dewi Lailatul Tri Susilo
Konfirmasi donasi ke 087884572852 (nama, paket/jumlah transfer dan alamat email untuk laporan). Kirim struk transfer melalui Whatsapp dan simpan bukti donasi. Yang mau tanya-tanya tentang program ini juga bisa langsung ke Pak Herriy Cahyadi. Sebab ini adalah program personal, ada banyak pertanyaan muncul mengenai program ini dan silakan baca FAQ (Frequently Asked Questions) program ini di sini :http://herricahyadi.tumblr.com/post/91043448281/q-a-mengenai-program-berbagi-ramadhan-gaza-2014


Medical Emergency Rescue Committee (http://www.mer-c.org)
Donasi untuk Alat Kesehatan RS Indonesia di Gaza
No. Rek BCA : 686.0153678
No. Rek BSM, 700.1352.061
No. Rek BNI SYARIAH : 08.111.929.73
No. Rek BRI : 033.501.0007.60308
No. Rek BMI : 301.00521.15
No. Rek Mandiri : 124.0008111925 
an. Medical Emergency Rescue Committee
Info : 0811990176


Pos Keadilan Peduli Ummat (Pkpu Aceh)
No. Rek BSM : 700 161 4414
an. PKPU NAD
Konfirmasi/ Layanan Jemput Donasi : 081360965984


Interpal (Lembaga sosial yang sudah 20 tahun bekerja di Palestina)
No. Rek BNI Syariah cabang Unpad Bandung : 0175 922 866
Konfirmasi via inbox langsung ke beliau.


Ada lagi yang tahu selain di atas? Share di komentar ya, nanti saya update!
Ayo, doa dan donasikan yang terbaik! 
Semoga Allah memberikan kemerdekaan itu secepat mungkin bagi Gaza, bagi Palestina, amin..

Thursday, July 3, 2014

#SavePalestine #BenarBenarPeduli #DukungPalestinaMerdeka

Hari Minggu yang lalu, berkesempatan hadir ke acara penggalangan dana untuk Palestina oleh Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP). Ada orasi oleh ustadzah Khawlah Ahmad. Acara ini khusus muslimah. Dan tahukah anda, berapa donasi yang terkumpul? 30 juta rupiah dan lebih. Padahal cuma satu masjid Baitul Musyahadah (Kupiah Meukeutop) saja jumlah muslimah yang hadir. Masya Allah, semoga Allah membalas derma mereka dengan rizki yang lebih baik.

Lalu saya pun tak mau ketinggalan merekam suasana. Dengan selembar kertas dan sebatang spidol (yang selalu saya bawa ke mana-mana), saya membuat sebuah kampanye peduli Palestina kecil-kecilan. Perhatikan tagarnya, ada #BenarBenarPeduli. Ya, ini respon saya bagi mereka yang cuma mengaku peduli sebab sudah dekat ke pilpres saja untuk mendulang suara ummat Islam di Indonesia. 

Tapi mungkin mereka lupa, makna peduli tidak hanya di kata-kata. Tapi peduli itu harusnya nyata, dalam kontribusi baik berupa donasi atau doa tak putus-putus sepanjang Palestina belum lagi merdeka. Semoga kita termasuk ke dalam gelombang yang #BenarBenarPeduli. Sebab untuk suatu hari bisa shalat di Masjidil Aqsha tanpa harus berusia di atas 45 tahun dan sudah renta serta hanya pada jam tertentu itu adalah mimpi kita semua. Karena bukankah Rasulullah saw pernah berkata dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang disanadkan dari Abu Hurairah R.A., bahwa "Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)".

Palestina dan Masjidil Aqsha adalah masalah ummat. Sepanjang masa. Bukan saat pilpres atau pemilu saja. Maka inilah sedikit kampanye kecil yang saya buat. Bagi sesiapa yang ingin donasi untuk Palestina melalui KNRP, silakan transfer ke:
701 836 2133 (Bank Syariah Mandiri)
760 032 5099 (Bank Central Asia)
Informasi lebih lanjut : 021 - 7812311