Thursday, July 10, 2014

Gambar Berdarah-darah dari #EgyptMassacre


Gambar-gambar yang beredar terkait #AntiCoup #StopMasacreinEgypt#Egypt dsb memang tidak diblur. Ada darah di sana? Ada luka-luka yang menganga di sana? Iya.

Jika beberapa menganggap itu adalah sebuah "horror view" bagi pengguna internet di bawah umur, saya sarankan diblock saja untuk sementara semua sumber gambar tersebut jika mengganggu. Di dunia yang serba tanpa batas bernama internet ini, yang bisa kita lakukan adalah melindungi diri, sulit untuk mengharap orang lain mengikuti semua nilai-nilai dan prinsip yang kita anut.

Meski jika ditanya pada saya, secara pribadi tak akan menyamarkan semua gambar itu.

Dan jika suatu hari nanti saya punya anak, dan anak saya melihat gambar-gambar serupa itu, saya tak akan menutup matanya.
Saya justru akan berkata padanya,

"Nak, ini adalah saudara kita. Tidak seayah-ibu memang, tapi kita sama-sama muslim. Atas nama sama-sama muslim, kita adalah saudara. Yang berwarna merah itu adalah darah namanya, Nak. Kalau tangan kita teriris pisau, darah yang sama akan keluar dari tangan kita. Dan itu, adalah darah yang keluar dari badannya banyak sebab banyak tusukan/ irisannya. Kalau keluar terus seperti itu, darahnya akan habis, jadi lemas dan bisa meninggal. Kasihan ya Nak. Makanya kita sekarang wudhu', shalat, nanti setelah shalat kita berdoa buat mereka dan keluarganya agar diselamatkan oleh Allah. Bisa berkumpul dengan keluarganya seperti kamu berkumpul dengan Bunda, Ayah dan adik-adikmu."

Mengapa saya mengambil posisi begini? Tak takutkah saya anak-anak akan terkena dampak psikologis? Jawabannya, saya hanya akan takut jika anak saya terkondisikan oleh bahwa darah itu mengerikan oleh berbagai tayangan yang beredar. Justru menurut saya, anak-anak kita harus paham bahwa ada yang bernama ummat (tak hanya ia dan keluarganya dan teman-teman bermainnya saja) yang mendiami bumi ini sejak kecil. Saya belum berkeluarga, tapi saya pernah melihat seorang ibu melakukan hal tersebut pada anaknya, dan anaknya tidak pernah trauma, justru semakin mengembangkan empati pada ummat sejak kecil. Mudah sekali trenyuh dan mengeluarkan uang recehan jajannya ketika mendengar kata Palestina atau penggalangan dana.

Bagaimanapun juga, ini hanya pendapat pribadi saya yang belum begitu mumpuni di bidang tumbuh kembang anak. Yang punya pendapat berbeda, tak akan saya bantah juga. 


Yang di atas adalah status Facebook saat Ramadan tahun lalu, dan kini, #R4BIA masih saja diuji oleh Allah; tanggal 3 Agustus nanti, ratusan orang akan dijatuhi hukuman mati karena membela kebenaran dengan cara demo damai duduk di jalanan. Ah, dunia macam apa ini yang kita tempati..

No comments:

Post a Comment