Thursday, July 10, 2014

Gurindam Suram

Pada langit yang diam.
Menyembunyikan bintang dalam pelukannya yang hitam.
Di mana gelegak bundar purnama dipendam.

Jangan kautuduh ia tak ingin memberi pemandangan yang kaupuja; malam.

Karena bukankah sesekali hidup itu tak manis; malah asam?
Sebab bukankah hidup tak senantiasa gemerlap; melainkan suram?

Kadang, kita butuh sebungkus kelam untuk bisa jauh lebih menghargai sepotong bohlam.
Kadang, cinta memang harus diuji secebis klimaks agar hilang segala dendam.

Dan inilah, sayang, dariku untukmu; larik-larik mendemikan masa dalam gurindam.

Banda Aceh, November 2013.

No comments:

Post a Comment