Thursday, July 10, 2014

Kapal Tanpa Mesin


Kapal kita tanpa mesin, sayang.
Hanya layar. Yang terkembang.

Di atas samudera kita berdansa dengan gelombang.
Lalu surut dan pasang.
Sekali gelap sekali terang.



Maka aku sekali lagi melamarmu untuk bertualang.
Tanpa asuransi yang siap menalang.
Tanpa raja yang akan menobatkanmu sebagai ksatria pejuang.
Tanpa dijanjikan hidup tua berdayang-dayang.

Dan jika kau menerima ini peluang.
Maka tak ada lagi masa untuk berdendang.
Punah sudah semua waktu senggang.
Yang ada hanyalah nyeri dan panas yang memanggang.
Yang ada cuma badai dan topan yang menghadang.
Yang menanti cuma horizon tanpa batas pandang.

Maka sekali lagi kutanya, siapkah kau ikut bertualang?
Siap kau tak lagi bisa bebas di alun, pasar, dan tepi kota bergentayang?

Maka kemarilah, sayang.
Turut bersamaku, dan sejumput keluarga yang dulunya juga pernah merasa paling pecundang.

Teruntuk seluruh pejuang yang mulai takut kapalnya goyang, jangan sekali-kali keluar kata itu. Bimbang? Buang!

Di sela jam jaga di Ruang Rawat Seurunee 1 RSUDZA, 25 Oktober 2013.

No comments:

Post a Comment